
Danisha yang begitu penasaran, akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke kediaman Adriela dan Aditya. Adriela begitu senang menyambut kedatangan Danisha karena bagi Adriela ini merupakan moment langka baginya.
Seorang Danisha yang super duper sibuk dengan bisnisnya, ternyata rela meluangkan waktu hanya untuk menjenguknya.
"Mari, Kak Nisha. Silakan duduk," ucap Adriela sambil tersenyum hangat.
"Terima kasih, Driel."
Danisha duduk sembari memperhatikan sekeliling ruangan itu. Dan kini tatapannya terhenti pada sosok Aditya yang datang menghampiri Adriela sambil menggendong seorang bayi mungil. Seorang bayi perempuan cantik yang nampak anteng dalam balutan kain bedong.
"Ini bayi yang kemarin aku ceritakan kepadamu, Kak. Dimana Ibunya meninggal, sehari setelah melahirkannya," tutur Adriela dengan wajah sedih menatap bayi mungil tersebut.
Danisha mengulur tangannya kepada Adriela. Ia meminta izin kepadanya untuk menggendong bayi mungil itu.
"Bolehkah aku menggendongnya, Driel?"
"Tentu saja, Kak."
Adriela menyerahkan bayi mungil itu kepada Danisha dan segera disambut oleh wanita itu. Danisha memperhatikan wajah bayi mungil tersebut dengan seksama kemudian membawanya ke dalam pelukannya.
"Ya, Tuhan. Beruntung kamu masih dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Mama Adriela dan Papa Aditya, Nak," gumam Danisha dengan mata berkaca-kaca menatap wajah mungil yang masih terlelap di dalam pelukannya.
"Driel,"
"Ya, Kak?"
Kini Danisha menatap lekat wajah Adriela dengan tatapan penuh harap.
"Bolehkah aku merawat bayi ini?"
Adriela sontak terkejut setelah mendengar permintaan Danisha saat itu. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena Adriela sudah jatuh cinta pada bayi mungil yang bahkan belum di kasih nama tersebut.
__ADS_1
"Driel?"
"Ehm, bagaimana ya? Aku bingung, Kak," lirih Adriela dengan wajah sendu menatap Danisha.
"Driel."
Danisha menyentuh tangan Adriela kemudian mengelusnya dengan lembut. Mata Danisha terlihat berkaca-kaca, cairan bening itu hampir saja luruh dari pelupuk matanya.
"Kamu akan memiliki bayimu sendiri, Adriela. Tapi aku--" Danisha menarik napas dalam kemudian mengembuskannya dengan perlahan.
"Kenapa, Kak?" tanya Adriela penasaran.
"Aku sudah pernah memeriksakan kesehatanku dan juga Mas Rey ke Dokter ahli reproduksi dan ternyata hasilnya--"
Danisha kembali terdiam dan cairan bening itu akhirnya meluncur dari kedua sudut matanya. Namun, dengan cepat Danisha menyekanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain, termasuk Adriela.
"Kak?" Adriela mulai penasaran.
"Kata Dokter, rahimku memiliki masalah dan tidak memungkinkan aku hamil. Aku hancur, Driel. Aku merasa duniaku sirna setelah mendengar penuturan dari Dokter tersebut. Beruntung Mas Rey selalu mendukungku bahkan hingga saat ini. Kamu adalah orang pertama yang tahu tentang masalah ini, Driel dan kuharap kamu tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun, termasuk kedua orang tuaku," tutur Danisha sambil terisak.
"Ya, Kak. Aku berjanji."
Adriela kembali berpikir keras. Ia memikirkan soal Danisha yang meminta bayi Helen untuk di rawat olehnya.
"Bagaimana, Driel? Bersediakah kamu memberikan bayi ini kepadaku?"
"Bolehkan aku membicarakannya dulu kepada Mas Aditya, Kak?"
"Baiklah," sahut Danisha.
Sehabis dari kediaman Aditya dan Adriela, Danisha pun kembali ke rumahnya. Ternyata Dokter Reyhan sudah berada di rumah karena pada saat itu, mobil milik Rey sudah terparkir rapi di halaman depan rumahnya.
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobilnya di samping mobil Rey, Danisha bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan sang suami. Ia menyusuri ruangan demi ruangan di rumah mewah tersebut hingga akhirnya ia menemukan sosok Rey sedang berada di dalam kamar mereka.
Lelaki itu terlihat sibuk bicara dengan seseorang melalui ponsel yang ia apit antara telinga dan pundaknya. Perlahan Danisha menghampirinya kemudian memeluk lelaki itu dari belakang.
"Mas Rey."
"Eh, Nisha. Sudah pulang?"
Rey segera meraih ponsel yang ia apit kemudian mengakhiri panggilan tersebut. Ia segera berbalik dan menghadap ke arah Danisha.
"Ya," sahut Danisha sambil menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kabar Mommy dan Daddy? Mereka baik-baik saja, 'kan? Maaf, aku tidak bisa ikut." Rey tersenyum sambil merapikan rambut Danisha yang terlihat berantakan ke samping telinganya.
"Mereka baik-baik saja. Ehm, Mas ... ada yang ingin aku bicarakan kepadamu."
Perlahan, Danisha menarik tangan Rey kemudian membawanya duduk ke tepian tempat tidur. Rey menurut saja, ia mengikuti kemana Danisha menuntunnya.
"Ada apa, Nisha?"
"Begini, Mas. Adriela, masih ingat 'kan sama dia?"
Rey menganggukkan kepalanya. "Ya, aku ingat. Memangnya kenapa?"
"Sekarang Adriela punya Bayi, Mas. Ia mengadopsi seorang bayi mungil yang Ibunya meninggal setelah melahirkan bayi itu."
"Lalu?" Rey nampak bingung dengan pembicaraan Danisha saat itu.
"Aku ingin bayi itu, Mas. Aku ingin merawatnya sebagai anakku sendiri."
Rey menghembuskan napas berat kemudian menyentuh pipi Danisha. "Apa kamu benar-benar sudah yakin, Nis? Lagipula bagaimana dengan Adriela dan suaminya? Apa mereka mengizinkannya?"
__ADS_1
"Sebenarnya masih belum, tapi aku yakin Adriela pasti bersedia memberikan bayi itu padaku," jawab Danisha.
...***...