
"Sudah cukup, Bu. Sebaiknya kami pulang sekarang."
Rey bangkit dari tempat duduknya sembari menarik tangan Danisha agar mengikutinya.
"Tidak bisa begitu, Reyhan! Pembicaraan kita belum selesai," protes Ibunda Rey.
"Kami rasa sudah cukup, Bu. Sekarang Ayah dan Ibu sudah tahu bagaimana keadaan Danisha yang sebenarnya. Jadi, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan," ucap Rey tanpa mempedulikan ekspresi Ibundanya.
Wanita itu benar-benar kesal karena Reyhan mencoba menghindari masalah. Sedangkan Ibundanya sendiri menginginkan segera menyelesaikan masalah ini.
"Kamu benar-benar tega, Rey! Apa kamu tidak berpikir, bagaimana jika Danisha benar-benar tidak bisa hamil? Itu artinya tidak ada satupun generasi penerus keluarga kita. Semuanya berakhir di kamu, Rey? Atau kamu memang menginginkan hal itu?" sambung Ibu mertua Danisha sambil terisak karena Rey tidak mau mengerti bagaimana perasaannya.
Danisha memejamkan mata dan mencoba menahan rasa sesak yang amat sangat, yang ia rasakan di dadanya.
"Kami sudah memiliki Baby Raisha, Bu. Kami sudah menganggapnya seperti anak kami sendiri. Jadi ku mohon, Bu. Terimalah Baby Raisha sama seperti cucumu sendiri."
Ibunda Rey terisak di pelukan sang suami sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
"Walaupun Ibu bisa menerima anak adopsi kalian seperti cucu Ibu sendiri, tetapi tidak bisa kamu pungkiri bahwa anak itu tidak ada hubungan darah dengan kita, Rey!" kesal Ibunda Rey.
Rey membuang napas panjang dan sekarang wajahnya terlihat sendu saat bertatap mata dengan Sang Ibu.
__ADS_1
"Maafkan kami, Bu. Kami harus segera pulang."
Rey kembali menuntun Danisha menuju pintu keluar. Namun, baru beberapa langkah Rey melangkahkan kakinya, Danisha menarik kembali tangannya dari genggaman Reyhan. Ia menghampiri kedua orang tua Rey yang nampak sangat kecewa kemudian mengajaknya bicara.
"Bu."
Danisha ingin meraih tangan Ibunda Rey, tetapi wanita paruh baya itu menarik tangannya dengan cepat sehingga Danisha tidak sempat menyentuh tangannya. Ia membuang muka dan tidak ingin bertatap mata dengan Danisha karena ia masih sangat kesal dan juga merasa kecewa.
"Maafkan karena Nisha sudah mengecewakan Ibu dan Ayah. Memang tidak seharusnya kami menyembunyikan hal sepenting ini dari kalian. Namun, saat ini Nisha masih berjuang untuk kesembuhan rahim Nisha, Bu. Nisha juga ingin merasakan hamil dan punya anak sama seperti wanita lainnya. Doakan Nisha, Bu. Saat ini Nisha sangat membutuhkan support dan doa dari kalian," tutur Danisha sambil tersenyum getir menatap kedua mertuanya secara bergantian.
Namun, tak sepatah katapun keluar dari bibir kedua orang tua Rey. Hanya isak tangis Ibunda Rey yang masih terdengar jelas di telinga mereka.
"Sudahlah, Nisha. Sebaiknya kita pulang. Saat ini tidak ada yang bisa kita bicarakan."
Rey dan Danisha pamit kepada seluruh keluarga besarnya dengan alasan bahwa Rey harus segera ke Rumah Sakit. Ada pasien mendadak yang harus ia tangani. Mereka pun percaya saja dan membiarkan Rey pulang bersama keluarga kecilnya.
Setibanya di halaman depan rumah orang tuanya, Rey segera membukakan pintu untuk Danisha dan juga Babysitter. Setelah memasukkan semua barang keperluan Baby Raisha ke dalam, Rey pun segera melajukan mobil tersebut meninggalkan kediaman orang tuanya.
Ibunda Rey mengintip dari balik tirai jendela di lantai dua. Ia memperhatikan Rey dan keluarga kecilnya sambil terisak.
"Bagaimana nasib kita, Yah? Apakah generasi kita akan berakhir di Reyhan? Seandainya kita punya dua atau tiga anak, mungkin Ibu tidak akan sesakit ini. Hati Ibu sakit, Yah. Harapan kita hanya Reyhan dan jika ia tetap bersikeras mempertahankan pendiriannya yang seperti itu, maka tamatlah sudah keluarga kita."
__ADS_1
Sementara itu di perjalanan menuju kediaman mereka.
Danisha terdiam seribu bahasa sambil memeluk tubuh mungil Baby Raisha yang sedang berada di pelukannya.
"Nisha, kamu baik-baik saja?" Rey beberapa kali melirik wajah Danisha yang terlihat datar, tanpa ekspresi apapun.
"Aku baik-baik saja, Mas. Kamu tenang saja, aku sudah mempersiapkan hatiku untuk segala sesuatu yang akan aku terima setelah ini,"
"Nisha, jangan berkata seperti itu."
Reyhan mengusap puncak kepala Danisha dengan lembut.
"Mas?"
"Ya?"
"Bagaimana jika suatu saat nanti Ibu dan Ayah meminta sesuatu padamu. Misalnya, meminta seorang anak darimu?" Danisha menoleh kepada Rey sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat kepada lelaki itu.
"Jangan ngawur, Sha!" kesal Rey.
"Sebenarnya, Mas. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan Ayah dan Ibumu saat ini. Bagiku wajar mereka bersikap seperti itu karena kamu adalah satu-satunya harapan mereka," tutur Danisha.
__ADS_1
"Tidak usah terlalu memikirkan mereka untuk saat ini, Danisha. Sebaiknya kita fokus pada pengobatanmu dan juga bayi mungil kita, Raisha."