
"Eh, calon suaminya mana? Udah jam segini, masa belum datang juga?!" bisik para tetangga.
"Jangan-jangan Nazia hanya dipermainkan? Kasihan gadis itu," sahut yang lainnya.
Berbagai macam omongan tetangga terdengar dengan jelas hingga ke telinganya. Tangan Nazia bergetar, keringat dingin keluar dari telapak tangannya dan dadanya pun terasa sesak.
Berkali-kali, Nazia melirik ponsel bututnya berharap Bu Radia ataupun Pak Dodi memberi tahu prihal keterlambatan mereka. Namun, hingga berjam-jam ia menunggu, tak satupun notifikasi pesan masuk.
"Ya, Tuhan. Cobaan apalagi ini?" lirih Nazia sambil menatap banyak pasang mata yang sedang memperhatikan dirinya.
Satu persatu tamu undangan mulai berpamitan. Namun, masih belum ada tanda-tanda kedatangan Aditya beserta kedua orang tuanya.
"Bagaimana ini, Bu?" tanya Pak Penghulu kepada Bi Narti yang wajahnya sudah mulai memucat.
Bi Narti menangkupkan kedua tangannya dan memohon kepada Pak Penghulu tersebut. "Saya mohon, Pak. Tunggulah sebentar lagi. Saya yakin mereka hanya terlambat saja."
Pak Penghulu melirik jam tangannya kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. "Baiklah, Bu. Saya akan tunggu beberapa jam lagi."
"Terima kasih, Pak, atas pengertiannya."
Bi Narti menghampiri Nazia di pelaminan, kemudian berjongkok di samping gadis itu. "Nazia sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu, ya! Wajahmu terlihat memucat, Nak."
Perlahan Nazia menganggukkan kepala. Ia segera bangkit dari pelaminan dan dituntun oleh Bi Narti menuju kamarnya. Nazia sudah tidak sanggup duduk berlama-lama di pelaminan itu. Apalagi saat ia melihat orang-orang menatapnya dengan tatapan iba.
"Bi, firasatku sepertinya benar. Aditya tidak akan pernah datang ke pesta pernikahan ini," lirih Nazia dengan kepala tertunduk menatap lantai.
Bi Narti mendudukkan Nazia di tepian ranjang milik gadis itu. Kemudian, ia pun duduk di samping gadis itu sambil mengelus punggungnya dengan lembut.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu, Nak. Kita berdoa saja, semoga mereka hanya terlambat, siapa tahu 'kan mereka terjebak macet atau ada sesuatu yang mengganggu perjalanan mereka," tutur Bi Narti.
Nazia menggelengkan kepalanya kemudian berucap, "Sepertinya tidak mungkin. Jika itu benar-benar terjadi, mereka pasti memberitahu Nazia, Bi."
Sementara itu di kediaman Pak Dodi.
Bu Radia sedang duduk di sofa mewahnya sambil terisak. Ia tidak menyangka bahwa Aditya memilih menghilang di hari pernikahannya. Sedangkan Pak Dodi, lelaki paruh baya itu mondar-mandir di depan Istrinya sambil mencoba menghubungi nomor ponsel Aditya yang sejak tadi tidak aktiv.
"Benar-benar anak tidak tau di untung! Kamu lihat dia, Radia! Dia mempermalukan kita, terlebih Nazia dan bu Narti! Aku tidak sanggup harus menampakkan wajahku ke hadapan gadis malang itu, begitupula bu Narti!" kesal Pak Dodi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apalagi Ibu, Pak. Tapi, harus bagaimana lagi. Anak kita sudah mempermalukan keluarga mereka dan kita harus segera meminta maaf kepada Nazia dan Bu Narti walaupun mereka tidak akan pernah memaafkan kita," tutur Bu Radia sambil menyeka air matanya. Wajah cantik terbalut make up itu kini terlihat berantakan dan meluber kemana-mana.
"Baiklah, Bu. Sebaiknya kita segera menemui Nazia dan meminta maaf kepada gadis itu serta Bu Narti."
Pak Dodi membantu Bu Radia bangkit dari posisi duduknya kemudian membawa Istrinya itu menuju mobilnya.
Dengan mengesampingkan rasa malunya, Pak Dodi dan Bu Radia melangkahkan kakinya menghampiri Bu Narti yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan mereka.
"Bu," sapa Bu Radia dengan mata sembab menatap Bi Narti.
"Sebaiknya kalian temui Nazia di kamarnya dan bicarakan baik-baik kepada kepada gadis itu. Aku sudah tidak sanggup lagi melihat keadaannya!" kesal Bi Narti.
Bu Radia pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar gadis itu. Ketika ia berada diambang pintu kamar tersebut, ia melihat Nazia sedang duduk di tepian tempat tidurnya dengan wajah memucat. Perlahan Bu Radia menghampiri gadis itu kemudian duduk di sampingnya.
"Nazia, maafkan kami." Bu Radia kembali terisak. Ia menangis sambil memeluk tubuh mungil Nazia. Gadis itu hanya diam, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Hanya air mata yang menjadi bukti bahwa saat ini hatinya sedang hancur, sehancur-hancurnya.
"Kami tidak bermaksud untuk mempermalukan kalian, Nazia. Tetapi, Aditya ...." Bibir Bu Radia bergetar, ia tidak sanggup meneruskan ucapannya apalagi saat ia menatap wajah cantik gadis malang itu.
__ADS_1
Tepat di saat Bu Radia masih mencoba meminta maaf kepada Nazia, Danish tiba didepan kediaman gadis itu. Ia bingung ketika melihat ada pelaminan yang masih terpajang di depan rumah Nazia. Apalagi saat itu rumah sederhana milik bi Narti di hias sedemikian rupa hingga terlihat lebih cantik.
Danish menghampiri beberapa Ibu-Ibu yang masih asik membicarakan tentang pernikahan Nazia yang gagal. Sepintas, Danish mendengar mereka mengucapkan nama gadis itu dan membuat ia menjadi penasaran.
"Maaf, Bu. Boleh bertanya? Kalau boleh tau, ini acara pernikahan siapa ya, Bu?" tanya Danish sembari memperhatikan sisa-sisa pesta.
Para Ibu-Ibu tersebut memperhatikan Danish dari atas kepala hingga ujung kaki. Mereka membulatkan mata ketika menyaksikan berondong tampan yang sedang berdiri di hadapan mereka.
"Pernikahan keponakan Bi Narti, Nazia namanya," tutur salah satu dari mereka.
"Nazia?!" pekik Danish.
Seketika tubuhnya melemah. Ia tidak menyangka bahwa hari ini adalah hari pernikahan gadis kesayangannya itu.
"Ya, Nak. Tapi sayang, pernikahan Nazia gagal karena calon suaminya menghilang entah kemana," lanjut Ibu-ibu tersebut.
"Benarkah?! Lalu bagaimana keadaan gadis itu?" Danish benar-benar panik dan ingin sekali rasanya ia menemui gadis itu.
"Ya, sedihlah, Nak. Kasihan dia, dia pasti sangat terpukul."
Danish kembali menatap kediaman Bi Narti sambil berpikir keras, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menemui gadis itu.
"Ya, sudah. Terima kasih atas informasinya, Bu. Saya permisi dulu," ucap Danish sembari berpamitan kemudian melangkahkan kakinya menuju kediaman Bi Narti.
...***...
Nikahan Babang Danish besok aja ya, Readers kita lanjutinnya, See you! 😘😘😘
__ADS_1