Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 74


__ADS_3

Adriela meraih tangan Ardhan kemudian menggenggamnya dengan erat sembari menatap saudara laki-lakinya itu lekat.


"Kak Ardhan. Kak Aditya sudah menceritakan tentang masa lalunya kepadaku. Tak ada rahasia di antara kami dan aku percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Kak Aditya itu benar," tutur Adriela sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat kepada lelaki itu.


Ardhan menghembuskan napas berat dan membalas genggaman tangan Adriela.


"Kalau menurutmu seperti itu, Kakak tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Driel. Tetapi jika apa yang kamu pikirkan salah dan ternyata yang di ucapkan oleh wanita hamil itu benar, kamu jangan pernah datang padaku dan berkata kalau kamu menyesal!"


"Ardhan!" Keyla kesal dan memukul pundak lelaki itu sambil memasang wajah masam. 


"Habisnya aku kesal!" gumam Ardhan sembari mengelus pundaknya yang baru saja kena pukul oleh gadis tomboy itu.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan untuk membuktikan bahwa dirimu benar?" tanya Ardhan sembari menatap Aditya.


"Aku akan mengajak Helen melakukan tes DNA," jawab Aditya singkat.


Ardhan menyeringai licik. "Bagaimana jika hasil tes DNA tersebut mengatakan bahwa kamu adalah Ayah biologis dari janin yang sedang dikandung oleh wanita itu?"


"Aku akan bertanggung jawab terhadap bayi itu dan untuk Adriela, aku akan pergi jauh darinya. Aku berjanji tidak akan pernah mengganggu kehidupan kalian lagi," lirih Aditya sembari menatap wajah sendu Adriela.


"Kakak ... jangan berkata seperti itu," ucap Adriela dengan mata berkaca-kaca membalas tatapan Aditya.


. . .


Keesokan harinya di kantor Danish.

__ADS_1


Danish dan Aditya baru saja menyelesaikan meeting dengan beberapa rekan kerja mereka. Jika Danish memilih kembali ke kantor, Aditya malah meminta izin kepada Big Bossnya itu untuk keluar sebentar. Setelah mendapatkan izin, Aditya pun segera pamit dan berjanji akan secepatnya kembali ke kantor.


Dengan tergesa-gesa, Aditya melangkahkan kakinya menuju tempat parkir. Ia ingin menemui seseorang yang mencuri perhatiannya ketika berada di ruang meeting. Seorang lelaki dewasa, bertubuh besar dengan kepala plontos.


Ketika Aditya tiba di tempat parkir, ternyata lelaki itu sudah memasuki mobil mewahnya. Aditya tidak ingin kehilangan jejak lelaki itu dan segera berlari menyusulnya.


"Tuan! Tuan! Boleh saya minta waktunya sebentar?" ucap Aditya ketika ia sudah berada di samping mobil mewah lelaki itu.


Lelaki dewasa itu memperhatikan Aditya dengan seksama melalui kaca mobil. Setelah mengenali sosok Aditya, lelaki itupun segera membuka kaca pintu mobil yang berada di samping tubuhnya.


"Bukankah kamu Asisten Tuan Danish? Ada yang bisa aku bantu?" tanya lelaki itu sambil menatap Aditya.


"Ehm ya, Tuan. Saya Aditya, Asisten Tuan Danish Armani Putra. Boleh saya minta waktunya sebentar? Ada sesuatu hal yang penting, yang ingin saya bicarakan bersama Anda."


Lelaki itu nampak berpikir sejenak sebelum ia menjawab ucapan Aditya barusan. "Hal penting? Apa ini ada hubungannya dengan meeting tadi?" tanya lelaki itu nampak kebingungan.


Ekspresi wajah lelaki itu nampak berubah setelah mendengar nama Helen disebutkan. "Helen? Maaf, aku sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi bersama wanita murahann itu," jawabnya ketus.


"Saya mohon, Tuan! Sebentar saja," lirih Aditya dengan wajah penuh harap menatap lelaki berperut buncit itu.


Setelah melihat ekspresi wajah Aditya saat itu, lelaki itupun akhirnya setuju. "Baiklah," jawabnya singkat.


"Terima kasih atas waktunya, Tuan. Ehm, bagaimana jika kita bicara disana?" Aditya menujuk sebuah kantin yang berada tak jauh dari tempat itu.


Lelaki itupun menyetujuinya dan segera keluar dari mobil kemudian mengikuti langkah kaki Aditya.

__ADS_1


"Silakan duduk, Tuan."


Aditya menarik sebuah kursi kemudian mempersilakan lelaki itu untuk duduk disana.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya lelaki itu sambil menatap lekat wajah Aditya.


"Ehm, sebelumnya saya ingin minta maaf jika perkataan saya menyinggung perasaan Anda. Begini, saya pernah menjalin hubungan dengan wanita itu sebelum saya melihat dirinya jalan bersama Anda. Dan sekarang dia malah mengaku-ngaku bahwa dirinya telah mengandung anak saya," tutur Aditya.


Lelaki itu terbahak setelah mendengar pengakuan Aditya. "Lalu, apa kamu percaya begitu saja dengan ucapannya?"


Aditya terdiam sambil memperhatikan ekspresi wajah lelaki itu.


"Wanita itu tidak lebih dari seorang jalangg. Kamu tidak perlu mempercayai kata-katanya, Aditya. Sebab ia juga mengatakan hal yang sama kepadaku. Aku tidak sebodoh itu mempercayai kata-katanya. Dan setelah aku selidiki, ternyata dia memiliki lelaki lain di belakangku," tutur lelaki itu di sela gelak tawanya.


"Tapi, jika kamu masih ragu, ajak saja dia melakukan tes DNA," sambung lelaki itu.


"Ya, Tuan. Sebenarnya saya memang ingin melakukan tes DNA terhadap janin yang ada di dalam kandungannya karena saya sangat yakin bahwa anak itu bukanlah anak saya."


"Sebaiknya cepat, sebelum wanita itu semakin berulah. Kamu tahu 'kan bagaimana sifat Helen? Dia begitu terobsesi akan uang dan dia rela melakukan apapun demi menggapai keinginannya," sahut lelaki itu.


Lelaki itu bercerita banyak tentang kisahnya bersama Helen kepada Aditya. Dan setelah mendengar cerita lelaki itu, Aditya pun semakin yakin bahwa anak yang dikandung oleh Helen bukanlah anaknya.


"Terima kasih atas waktunya, Tuan. Setelah mendengar cerita Anda, sekarang saya merasa sedikit lebih tenang dan besok saya akan mengajaknya melakukan tes itu," ucap Aditya saat lelaki berkepala plontos itu ingin beranjak dari sana.


"Ya, lebih cepat lebih baik."

__ADS_1


...***...


__ADS_2