
Setelah kembali dari kediaman Tante Mira, Keanu tidak langsung pulang. Ia lebih memilih menghabiskan waktunya di kantor bersama Sid yang selalu setia menemaninya.
"Sid, malam ini antar aku ke club malam terkenal di kota ini. Aku ingin menghabiskan malamku ditempat itu," ucap Keanu. Lelaki itu bersandar di sandaran kursi kerjanya dengan tatapan kosong menatap langit-langit ruangan.
Sid terkejut. Ia bahkan mengerutkan keningnya setelah mendengar permintaan aneh Tuan Keanu. Ini pertama kalinya Tuan Keanu meminta untuk diantar ketempat yang seperti itu.
"Anda serius, Tuan? Atau saya yang salah dengar?" tanya Sid.
Keanu menghembuskan napas berat. "Sepertinya tidak perlu kuperjelas lagi, Sid!" sahutnya.
"Baik! Maafkan saya, Tuan."
Malam pun menjelang. Keanu dan Sid bersiap-siap berangkat menuju Club Malam terbesar di kota XX. Keanu melangkahkan kakinya menuju halaman depan, dimana mobilnya terparkir. Begitupula Sid, lelaki itu sudah seperti bayangan Keanu. Dia selalu ada dimana Keanu berada, terkecuali di kediamannya.
Sid melajukan mobilnya menuju Club tersebut. Dan setelah beberapa saat, akhirnya merekapun tiba didepan Club. Tanpa ragu-ragu, Keanu melangkah masuk kedalam ruangan itu.
Ini pertama kalinya ia menjejakkan kakinya di Club malam, setelah beberapa tahun yang lalu. Terakhir, ketika ia masih single, dimana ia dan teman-temannya sering menghabiskan waktunya ditempat seperti ini hanya untuk bersenang-senang.
Keanu duduk disebuah meja yang sudah ia pesan sebelumnya. Dengan ditemani dua orang wanita cantik yang akan menemaninya melewati malam.
Wanita-wanita cantik itu menemani Keanu minum dan sesekali menggodanya. Namun, lelaki itu sama sekali tidak menggubrisnya. Ia hanya ingin minum dan berharap dengan begitu ia bisa melupakan masalahnya untuk sejenak.
"Tuan Keanu, sudahlah. Berhentilah minum, anda sudah mabuk," ucap Sid seraya mencoba menghentikan Keanu yang terus menenggak minumannya.
Keanu terkekeh kemudian menyerahkan gelas yang berisi minuman memabukkan itu kepada Sid. "Cobalah, Sid! Aku jamin kamu bisa melupakan semua masalahmu walaupun hanya untuk sementara," sahut Keanu sambil tersenyum kepada Assistennya itu.
Sid tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Terimakasih, Tuan. Tapi saya tidak bisa meminumnya. Karena jika nanti kita sama-sama mabuk, terus siapa yang akan mengantarkan anda pulang?" tutur Sid.
Keanu terbahak sambil menepuk pundak Sid. "Kita bisa tidur disini, Sid!" sahut Keanu tanpa beban.
__ADS_1
.
.
.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Keanu sudah sangat mabuk, hingga akhirnya Sid dengan terpaksa memanggil beberapa orang untuk membantunya menuntun Tuan Keanu hingga memasuki mobilnya.
Setelah mereka berhasil memasukkan tubuh Keanu yang sudah tidak berdaya kedalam mobilnya, Sid pun segera melajukan mobilnya sambil sesekali memperhatikan Tuan Keanu yang nampak konyol dari balik kaca spion. Kadang ia tertawa terbahak-bahak, kadang menangis tersedu-sedu sambil menyebut nama Naila dan terus menyebutkan kata 'Maaf' kepada gadis itu.
Kehidupan Keanu yang rumit membuat lelaki itu tidak bisa mengambil keputusan dengan mudah. Ia bahkan tidak bisa memutuskan siapa yang lebih penting dari kedua wanita yang kini hadir dalam hidupnya dengan membawa generasi penerus untuknya.
Setibanya di kediaman Keanu, Big Bossnya itu sudah disambut oleh para penjaga keamanan yang bekerja di rumahnya. Mereka membantu Sid memboyong tubuh Keanu hingga kedalam kamar.
"Sid, ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" tanya Melisa sambil menautkan kedua alisnya.
"Tuan Keanu sedang mabuk, Nona," sahut Sid
"Assisten macam apa kamu ini? Boss mabuk-mabukan bukannya dilarang, malah dibiarkan!" hardik Melisa dengan wajah memerah karena marah.
Sid membungkuk hormat seraya meminta maaf kepada Melisa. "Maafkan saya, Nona Melisa. Saya sudah mencoba melarang Tuan Keanu dengan berbagai cara. Namun, dia tidak mempedulikan omongan saya," sahut Sid.
"Cih! Alasan! Sekarang pergilah, sebelum aku muak melihat wajahmu dan memecatmu malam ini juga!" ketus Melisa seraya mengibas-ngibaskan tangannya. Memerintahkan Sid agar segera pergi dari hadapannya.
"Baik, Nona. Saya permisi." Sid pun segera melangkah keluar dari rumah itu sambil tersenyum sinis. "Memecatku? Yang benar saja! Hidup Tuan Keanu bahkan masih tergantung denganku," gumam Sid sambil melangkah pergi.
Sementara itu,
Melisa memperhatikan Keanu yang sudah tidak berdaya diatas tempat tidurnya. Ia melipat tangannya ke dada dan wajahnya terlihat sangat kesal.
__ADS_1
"Dasar suami tidak berguna!" hardiknya.
Melisa menghampiri Keanu kemudian melepaskan pakaiannya satu persatu sambil terus menggerutu. Mulai dari sepatunya, celananya kemudian kemejanya.
"Uh, bau sekali!" Melisa menutup hidungnya karena tidak tahan mencium aroma mulut Keanu yang berbau minuman keras.
Dan ketika Melisa melepaskan kemeja berwarna putih itu, matanya terbelalak saat mendapati ada noda lipstik di kerah kemejanya. Melisa meradang, ia bahkan memukul tubuh Keanu yang tidak berdaya sambil menghardiknya dengan kata-kata kasar.
"Kurang ajar! Bisa-bisanya kamu bermain di belakangku, Keanu! Awas saja, tunggu pembalasan ku!" ucapnya kesal.
Setelah selesai melepaskan pakaian Keanu, Melisa pun kembali berbaring dengan posisi membelakangi tubuh suaminya. Ia masih sangat kesal, terlebih ketika ia mengingat noda lipstik itu.
Melisa terus bergumam sambil memaki-maki Keanu. Ia sangat kecewa karena Keanu sudah mengkhianatinya. Setelah beberapa saat, akhirnya Melisa pun merasa ngantuk. Ia mulai memejamkan matanya. Namun, ia kembali dikejutkan dengan sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Keanu tiba-tiba berbalik kemudian memeluk Melisa dari belakang dengan sangat erat. "Naila, Naila! Kumohon maafkan aku! Kembalilah padaku dan kita akan memulai hidup baru bersama anak kita!" gumam Keanu yang masih tidak sadarkan diri.
Melisa yang tadinya sudah mengantuk, tiba-tiba saja rasa kantuk itu menghilang. Dadanya berdegub kencang ketika mendengar Keanu menyebutkan nama Naila dialam bawah sadarnya.
"Naila?!" seru Melisa.
Melisa bangkit dan kini ia duduk ditempat tidurnya sambil menatap wajah Keanu yang nampak menyedihkan dan masih tidak sadarkan diri.
"Naila? Jangan-jangan noda lipstik itu adalah milik gadis dungu itu? Tidak, ini tidak bisa dibiarkan! Aku tidak rela jika harus kembali satu atap bersama gadis dungu itu!" ucap Melisa panik.
"Aku harus memikirkan sesuatu! Harus!!! Keanu tidak boleh kembali bersama gadis itu! Aku tidak mau," gumamnya sambil mengacak rambut indahnya.
Keanu masih saja memanggil-manggil nama Naila didalam tidurnya. Dan hal itu membuat Melisa tidak dapat menahan amarahnya lagi. Ia mengguncang-guncang tubuh Keanu dan berharap lelaki itu sadar dan berhenti memanggil-manggil nama gadis itu.
"Keanu, bangun!!!" kesal Melisa.
__ADS_1
Ia meraih bantal miliknya kemudian memukul-mukulkan benda itu ke tubuh Keanu. "Bangun, Keanu! Aku bilang bangun dan berhentilah memanggil nama gadis dungu itu!" geram Melisa tanpa menghentikan pukulannya.
...***...