
Setelah berpamitan kepada Ibu pemilik toko, Nazia segera mengayuh sepedanya. Hari ini dia pulang lebih awal dari biasanya karena Ibu pemilik toko ada urusan mendadak yang tidak bisa ia tunda.
Setelah beberapa menit kemudian, Nazia pun tiba di depan gang menuju rumah sederhana miliknya. Ia terus mengayuh sepedanya dan melewati perkumpulan Ibu-ibu yang sedang berkumpul disalah satu teras rumah tetangganya.
"Ciee, yang bentar lagi kawin."
Nazia menghentikan laju sepedanya kemudian menatap Ibu-ibu tersebut sembari menautkan kedua alisnya. Selama ini dia tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang rencana pernikahannya dengan Aditya. Ia merasa bingung dari mana Ibu-ibu tersebut mengetahui berita tentang pernikahannya.
"Maksud Ibu?"
"Ceileh, Nazia." Ibu itu tersenyum menggodanya.
"Selamat ya, Zia. Bentar lagi bakal jadi Nyonya besar," timpal Ibu yang lainnya.
"Iya, benar. Kan, calonnya anak orang kaya."
Nazia tersenyum sambil tersenyum kecut. "Ehm, saya permisi dulu ya, Bu. Soalnya Bi Narti sudah mengunggu," sahut Nazia.
"Dari mana mereka tahu tentang itu? Apa Bi Narti yang bicara sama mereka?" gumam Nazia sembari mengayuh sepedanya kembali.
Tidak berselang lama, ia pun tiba di depan rumahnya. Ia kembali kebingungan melihat tumpukan beras, air mineral, serta berbagai macam bahan pokok lainnya di dalam rumah. Setelah memarkirkan sepedanya dengan aman, Nazia pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui Bi Narti.
"Bi, Bibi?!" panggil Nazia.
Ternyata saat itu Bi Narti sedang sibuk merapikan rumahnya yang terlihat berantakan.
"Ya, Zia. Bibi di sini!"
Nazia segera menyusul ke arah asal suara. Ia melihat Bi Narti tengah sibuk menyusun barang-barang itu di dapur.
"Bi, barang-barang yang tersusun di depan rumah itu milik siapa?" tanya Nazia kebingungan.
Bi Nazia menghembuskan napas panjang dan menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia menatap wajah Nazia dengan tatapan sendu kemudian mengelus pipi gadis itu dengan lembut.
__ADS_1
"Ini semua barang-barang kiriman dari keluarga Pak Dodi. Sebaiknya kamu tunggu saja kedatangan mereka malam ini. Ada hal penting yang ingin mereka bicarakan padamu," tutur Bi Narti.
"Tentang apa, Bi? Pernikahan itu?!" tanya Nazia penasaran.
Bi Narti menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya, tapi sebaiknya kamu dengar sendiri penuturan dari mereka."
Nazia terdiam. Ia yakin ada sesuatu yang mengejutkan malam ini.
Sementara itu, di kediaman Pak Dodi.
"Oh, Tuhan! Kalian benar-benar sudah keterlaluan! Tidakkah kalian memikirkan bagaimana pendapatku tentang ini, sebelum memutuskannya? Ini tentang kehidupanku, masa depanku!" teriak Aditya dengan wajah memerah menatap kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di ruang utama.
"Kami tidak perlu mendengarkan pendapatmu pendapatmu, Aditya. Lagipula kami sudah tahu apa jawabanmu," sahut Pak Dodi.
Aditya mendengus kesal kemudian melenggang pergi dari tempat itu menuju kamarnya. Di dalam kamar, Aditya terus mengumpat kasar. Ia benar-benar shok mendengar keputusan orang tuanya yang begitu mengejutkan.
Malam pun tiba.
Pak Dodi dan Bu Radia bersiap menuju kediaman Nazia. Di saat mereka melewati ruang utama, ternyata Aditya sedang duduk di sofa sambil berchatting ria bersama sang kekasih, Helen.
Aditya tidak menjawab pertanyaan Bu Radia, ia tetap fokus pada layar ponselnya dengan wajah menekuk.
"Dit?!"
"Sudahlah, Bu. Biarkan saja dia," ucap Pak Dodi sembari meraih tangan Bu Radia dan menuntunnya hingga masuk kedalam mobil.
Di sepanjang perjalanan, wajah Bu Radia terlihat cemas. Pak Dodi yang sejak tadi memperhatikan Bu Radia, begitu penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh istrinya itu.
"Kenapa, Bu?" tanya Pak Dodi sembari mengelus punggungnya.
"Ibu khawatir, Pak. Bagaimana jika Aditya melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan di hari pernikahannya nanti," tutur Bu Radia sambil menatap wajah sang suami.
"Hush, kenapa Ibu berkata seperti itu?! Tidak mungkin Aditya melakukan hal-hal seperti itu, Bu. Senakal-nakalnya Aditya, dia tidak berani membantah keinginan Ayah."
__ADS_1
Bu Radia menghembuskan napas panjang kemudian bersandar di bahu sang suami. "Semoga saja ya, Pak."
Tidak berselang lama, merekapun tiba di depan rumah sederhana milik Bi Narti. Perlahan Bu Radia mengetuk pintu rumah tersebut.
Tok ... tok ... tok ...
"Ya, sebentar," teriak Bi Narti dari dalam rumah.
Saat itu Bi Narti masih berberes-beres rumahnya untuk menyambut hari pernikahan Nazia yang katanya akan dipercepat oleh Pak Dodi. Namun, ia belum tahu pasti kapan pernikahan itu akan dilaksanakan.
"Zia, buka pintunya, gih! Sepertinya itu keluarga Pak Dodi," ucap Bi Narti.
"Baik, Bi."
Perlahan, Nazia membuka pintu rumahnya dan benar, Pak Dodi beserta Bu Radia sedang berdiri tepat di depan pintu rumahnya.
"Pak, Bu." sapa Nazia sambil tersenyum hangat. Ia meraih tangan kedua orang itu kemudian mencium punggung tangan mereka.
"Mari, Pak, Bu. Silakan masuk," ajak Nazia.
Kedua orang itupun segera duduk di kursi kayu milik Bi Narti. Begitupula Nazia, gadis itu turut duduk di salah saru kursi tersebut.
"Nak, kamu sudah tahu 'kan maksud kedalam Ibu Dan Ayah kesini?" tanya Bu Radia.
Nazia menggelengkan kepalanya pelan. Ia benar-benar tidak tahu dan Bi Narti pun tidak memberitahukan masalah itu kepadanya.
"Maafkan saya, Bu. Tetapi, saya benar-benar tidak tahu," sahut Nazia.
"Sebenarnya kami ingin mempercepat perayaan pernikahan kalian, itulah sebabnya Ibu mengirimkan barang-barang ini untuk keperluan hari H-nya nanti," tutur Bu Radia.
Nazia tidak kalah shok mendengarnya. Ia menatap wajah kedua orang tua Aditya dengan tatapan serius. "Dipercepat? Kapan, Bu?" tanya Nazia.
"Minggu depan," sahut Bu Radi mantap.
__ADS_1
Mata Nazia membulat setelah mendengar penuturan Bu Radia. Ia tidak menyangka bahwa pernikahannya akan dilaksanakan secepat itu.
...***...