
Tok ... tok ... tok ...
"Nah, Zia. Itu pasti mereka," ucap Bi Narti.
Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri pintu kemudian membuka pintu tersebut. Nampak keluarga Pak Dodi sedang berdiri didepan rumahnya.
Bi Narti tersenyum hangat menyambut keluarga Pak Dodi dan mempersilakan mereka untuk masuk.
"Mari, Pak. Silakan masuk," ucap Bi Narti sembari membuka pintu rumahnya lebih lebar lagi.
Pak Dodi bersama sang istri dan juga Aditya segera masuk kedalam ruangan sederhana tersebut. Tak lupa, Bi Narti pun mempersilakan mereka untuk duduk di kursi kayu yang ada disana.
"Tunggu sebentar ya, Pak, Bu. Saya panggilkan Nazia nya dulu," ucap Bi Narti.
"Ya, Bu. Silakan ..."
Bi Narti segera masuk kedalam kamar Nazia dan mengajak gadis itu untuk ikut bersamanya ke ruang depan.
"Nak, keluarga Pak Dodi sudah menunggumu. Yukk, kita menemui mereka!"
Nazia pun menganggukkan kepalanya kemudian bangkit dari posisi duduknya. Ia dan Bi Narti berjalan menuju ruangan depan bersama-sama.
"Ya Tuhan, aku pasrahkan hidupku padamu dan semoga ini adalah pilihan yang terbaik untukku," ucap Nazia dalam hati.
Sementara itu, Aditya terlihat gelisah. Sebenarnya ia sudah berjanji kepada Helen bahwa malam ini ia akan mengajak wanita itu makan malam disebuah restoran ternama (Restoran milik Tante Mira). Namun, rencananya makan malamnya harus gagal karena permintaan aneh sang Ayah.
Sang Ibu terus memperhatikan Aditya yang yang nampak tidak tenang. Ia mengelus pundak Aditya dengan lembut sambil tersenyum hangat.
"Nak, hanya sebentar saja. Setelah semuanya beres, kamu bisa pergi, kok!" ucap Sang Ibu.
__ADS_1
Aditya tidak menjawab. Wajahnya masih terlihat masam, bahkan ia tidak ingin membalas senyuman yang dilemparkan oleh Ibunya.
Tidak berselang lama, Nazia dan Bi Narti tiba diruangan itu. Nazia menghampiri mereka dan duduk disalah satu kursi, begitupula Bi Narti.
"Lihat, Aditya! Itu dia Nazia. Dia cantik, 'kan?!" ucap Ibunya Aditya sembari menepuk pundak anaknya itu.
Aditya memperhatikan Nazia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia mengangkat sebelah alisnya saat melihat penampilan gadis itu. Ia sudah menduga sebelumnya, bahwa gadis yang bernama Nazia itu adalah gadis culun dan juga kampungan.
"Hmmm, benar 'kan dugaanku! Dia hanya gadis culun dan kampungan," gumam Aditya.
"Hush, Aditya! Tidak boleh berkata seperti itu. Nazia itu cantik! Hanya saja keadaan tidak memungkinkan dirinya untuk bisa tampil seperti wanita-wanita yang sering kamu ajak main kerumah," tutur Sang Ibu dengan setengah berbisik.
Aditya kembali memasang wajah malas apalagi ketika ia dan Nazia saling bertatap mata. Walaupun Aditya mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Ibunya adalah benar, tetapi ia tetap tidak bisa menerima Nazia sebagai pendamping hidupnya.
"Dia kuno!" ucapnya lagi.
"Ayolah, Aditya!" bujuk sang Ibu.
"Nak Zia, ini anak Om, namanya Aditya. Dialah yang akan menjadi calon suamimu nanti," ucap Pak Dodi.
Dengan gemetar, Nazia mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh lelaki itu.
"Nazia," ucapnya.
"Adit!" sahut Aditya acuh.
"Bagaimana, Nak Zia? Apa kamu bersedia menjadi calon istri untuk Aditya? Om harap kamu bersedia, karena ini adalah janji Om kepada Ayahmu, Pak Yusuf, sebelum Ayahmu meninggal dunia." tutur Pak Dodi.
Nazia terdiam sambil menundukkan kepalanya. Ia masih ragu harus menerima atau menolak perjodohan ini. Jika ia menolak perjodohan ini, itu sama artinya ia menolak keinginan almarhum Ayahnya.
__ADS_1
"Bagaimana, Nak Zia?" tanya Pak Dodi sekali lagi, karena Nazia tidak juga membuka suaranya.
Nazia menghembuskan napas panjang kemudian menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "Baiklah, Om. Nazia menerimanya," ucapnya.
Aditya hanya diam. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya dan ia tetap memasang wajah masam ketika memperhatikan orang-orang diruangan itu, termasuk kedua orang tuanya.
"Bagus! Cerita baru akan segera dimulai. Sekarang kita lihat saja, sampai sejauh mana cerita kita akan berlanjut, Nazia!" batin Aditya.
Sementara Pak Dodi dan sang Istri sedang membicarakan persiapan hari pernikahan mereka, Aditya malah bangkit dan meminta izin untuk pulang lebih dulu kepada Ayah dan Ibunya.
"Ayah, Ibu, Adit ingin pulang lebih dulu,"
"Loh, Dit. Kita belum selesai membicarakan masalah pernikahan kalian, kamu sudah mau kabur aja!" kesal Ibunya.
"Adit serahkan semuanya kepada kalian, Adit ngikut aja."
"Tapi,"
Belum habis Ibunya Aditya berkata, anak lelakinya itu sudah pergi meninggalkan ruangan itu dan melaju bersama mobilnya.
Mendadak ruangan itu menjadi hening setelah kepergian Aditya. Pak Dodi dan Istrinya menatap sendu kepada Nazia dan Bi Narti.
"Maafkan Aditya ya, Nak Zia. Mungkin dia sedang ada janji yang tidak bisa ia tinggalkan," tutur Pak Dodi dengan wajah memerah karena malu.
"Tidak apa-apa kok, Om. Nazia mengerti," sahut Nazia sambil tersenyum hangat.
Sementara itu,
Aditya terus mengumpat kasar didalam mobilnya. Ia benar-benar kesal kepada kedua orang tuanya yang menjodohkannya dengan gadis seperti Nazia. Culun, kampungan dan tidak modis sama sekali.
__ADS_1
"Gadis seperti itu menjadi jodohku? Ya Tuha, mau ditaruh dimana wajahku punya istri kampungan seperti dia!" umpatnya.
...***...