
Seminggu kemudian.
"Sayang, seminggu yang lalu Aditya meminta maaf kepada Mas. Sepertinya dia benar-benar menyesali perbuatannya selama ini," ucap Danish sambil mengelus puncak kepala Nazia yang sedang berada didalam pelukannya.
Danish sengaja baru sekarang menceritakan soal Aditya kepada Nazia karena saat Aditya meminta maaf kepadanya, ia dan sang Istri masih dalam suasana bahagia dan tidak ingin merusak kebahagiaan mereka dengan kembali menyebut nama Aditya di hadapan Nazia.
"Benarkah? Apa Mas memaafkannya?" tanya Nazia sembari mendongakkan kepalanya, menghadap Danish.
"Tentu saja, kenapa tidak? Tuhan saja maha pemaaf, Nazia sayang. Masa Mas yang cuma manusia biasa tidak dapat memaafkan kesalahannya?" sahut Danish sambil tersenyum menatap wajah Nazia.
Nazia terdiam sejenak sambil memikirkan perilaku Aditya yang tidak mengenakkan selama ini. Melihat istrinya terdiam, Danish kembali buka suara.
"Bagaimana jika ia ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf atas semua kesalahannya selama ini padamu? Apa kamu bersedia menemuinya dan memaafkan semua kesalahannya, Nazia?" tanya Danish.
"Nazia tidak tahu, Mas. Nazia masih sakit hati apalagi jika Nazia ingat, dimana dia meninggalkan Nazia sendirian di pelaminan," jawab Nazia.
Danish kembali tersenyum. Ia mempererat pelukannya ke tubuh istrinya.
"Begini ya, sayang. Kalau menurut Mas, ini memang sudah garis takdir yang dituliskan untukmu. Kita dipersatukan dengan cara yang unik, dengan cara yang tidak biasa. Andai saja saat itu Aditya tiba dan bersedia menikahimu, mungkinkah kita bisa bersatu? Mungkinkah kamu hidup bahagia saat bersamanya, atau malah semakin menderita karena pada dasarnya Aditya memang mencintai wanita lain. Lalu aku? Aku akan kembali menjadi laki-laki bodoh yang hanya bisa menatapmu dari kejauhan, sama seperti yang biasa aku lakukan," tutur Danish.
Nazia kembali mendongak ke wajah suaminya. "Mas benar." Nazia menjeda ucapannya. "Jadi yang dikatakan oleh Pak Ahmad itu benar ya, Mas? Mas beneran sering memperhatikan Nazia dari kejauhan?" tanya Nazia.
Danish terkekeh, ia merasa lucu sekaligus malu. "Ya, Nazia. Itu benar. Setiap hari aku seperti orang bodoh memperhatikan dirimu bekerja dari dalam mobil."
Nazia menundukkan kepalanya, wajahnya merona karena tersipu malu. "Aku jadi malu," gumamnya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana? Apa kamu bersedia memaafkan Aditya?" tanya Danish mencoba menyakinkan.
"Mungkin, ya."
. . .
Nazia terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam yang menggantung di dinding kamar. Ternyata masih pukul 03.00 pagi. Barusan Nazia mimpi sedang meminum es kelapa muda dengan ditambah sirup kental dan juga susu yang banyak. Didalam mimpinya, rasa es kelapa muda tersebut benar-benar nikmat dan seakan nyata.
Dan sekarang ia sangat menginginkan es kelapa muda tersebut. "Ya Tuhan, di jam-jam seperti ini, dimana bisa mendapatkan es kelapa muda?!" gumamnya sambil meneguk air liurnya berkali-kali.
Nazia menoleh suaminya yang masih terbuai mimpi sambil memeluk tubuhnya. Ia ingin membangunkan sang suami tetapi tidak tega. Perlahan, Nazia memindahkan tangan Danish yang melingkar di perutnya kemudian melangkah keluar dari kamarnya.
Dengan mengendap-endap, Nazia melangkah menuju dapur. Ia ingin mencari kelapa muda disana, siapa tahu ada yang menyimpan. Setibanya di dapur, Nazia segera menggeledah isi lemari pendingin dan juga lemari penyimpanan. Namun, ia tidak dapat menemukan benda yang ia cari dimana pun.
Nazia bersandar didepan pintu lemari penyimpanan dengan mata berkaca-kaca. Entah mengapa perasaannya begitu sensitif. Ia ingin menangis hanya karena es kelapa muda yang barusan ia impikan tidak menjadi kenyataan.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Keanu sambil mengucek matanya, menatap sang istri yang sedang membuka pintu kamar mereka.
"Mau minum. Memangnya kenapa, Hubby mau juga?" tanya Naila balik.
Keanu tersenyum sambil memejamkan matanya kembali. "Jangan lama-lama, nanti aku kesepian,"
Naila terkekeh, sejak dulu hingga sekarang Keanu tidak ada ubahnya. Walaupun lelaki itu sudah tua, Ia tetap menjadi lelaki manja yang selalu minta ditemani ketika tidur. "Baiklah, tunggu aku dua jam lagi,"
"Eh, jangan!" celetuk Keanu dengan mata membulat.
__ADS_1
Naila tidak menjawab ucapan suaminya lagi. Ia terus melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum. Namun, betapa terkejutnya Naila ketika menemukan Nazia yang tengah terisak di dapur.
"Loh, Nak? Kamu kenapa?" tanya Naila sembari menghampiri Nazia yang masih terisak.
"Nazia tidak apa-apa kok, Mih," jawab Nazia sambil menyeka air matanya. Ia mencoba tersenyum walaupun sebenarnya ia masih sedih karena keinginannya tidak terkabul.
"Kamu sama Danish lagi bertengkar, ya? Huh, dasar Danish!" gerutu Naila seraya membantu Nazia bangkit dari posisi duduknya.
"Ehm, bukan begitu, Mih!" Nazia panik karena Ibu mertuanya sudah salah paham.
"Sudah jangan ditutupi. Sini, biar Mami kasih pelajaran si Danish."
Naila menuntun Nazia menuju kamar mereka. Setibanya di dalam kamar, Naila semakin kesal karena Danish malah asik tiduran dengan nyenyaknya. Sedangkan istrinya malah menangis di pojokan dapur sendirian.
Naila menarik selimut Danish dengan kasar sambil menggerutui anak sulungnya itu.
"Danish, bangun! Kamu ini bagaimana, sih? Istri lagi nangis di pojokan dapur, kamunya malah enak-enakan tidur disini!" kesal Naila sambil menekuk wajahnya menatap sang anak.
Danish tersentak kaget. Ia segera bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Nazia. Apalagi setelah mendengar bahwa istri kesayangannya habis menangis.
"Benarkah itu, Nazia? Kamu menangis? Tapi kenapa, apa aku sudah menyinggung perasaanmu?" tanya Danish panik sambil memegang kedua pipi istrinya.
"Eem, sebenarnya--"
Nazia bingung harus bagaimana menceritakan yang sebenarnya bahwa ua menangis hanya karena mimpinya tidak menjadi kenyataan.
__ADS_1
...***...