Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 75


__ADS_3

Dengan wajah semringah, Helen menunggu kedatangan Aditya yang berjanji akan mengajaknya jalan-jalan.


"Benar 'kan kataku, lelaki itu tidak mungkin bisa berpaling dariku. Dia itu tergila-gila padaku dan akan terus seperti itu," ucap Helen sembari menghias bibirnya dengan lipstik berwarna merah.


Setelah ia terlihat cantik seperti biasanya, Helen pun bergegas menuju halaman depan kontrakannya. Ya, sekarang Helen tidak lagi tinggal di Apartemen mewah. Kini ia tinggal di sebuah kontrakan karena keuangannya tidak lagi seperti dulu. Bos-bos tajir yang dulu mengejarnya, kini sudah pergi meninggalkannya sedangkan dia sendiri sudah tidak bisa lagi bekerja karena kondisi perutnya yang membuncit.


Tidak berselang lama, mobil mewah milik Aditya tiba di depan kontrakan Helen. Dengan wajah semringah, Helen menghampiri mobil tersebut sambil menyapa sang pemilik mobil.


"Hai, Dit."


"Hai! Bagaimana kabarmu, Helen? By the way, kamu terlihat cantik sekali, sama seperti dulu," puji Aditya sambil tersenyum hangat menatap Helen.


"Benarkah? Wah, terima kasih. Kabarku baik. Apalagi setelah bersamamu, kabarku semakin baik," jawabnya sembari membalas senyuman Aditya.


"Ayo, kita berangkat."


Aditya membuka pintu mobil dan mempersilakan wanita itu masuk ke dalam mobilnya.


"Terima kasih."


Helen pun masuk dan duduk di samping kursi Aditya. Setelah wanita itu duduk dengan tenang disana, Aditya pun segera melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


"Kita mau kemana sih, Dit?" tanya Helen sambil melemparkan senyuman hangatnya kepada Aditya.


"Kejutan," jawab Aditya.


"Ih, kamu suka begitu!" balas Helen sembari memukul pelan pundak Aditya.

__ADS_1


Sementara itu.


Di belakang mobil yang sedang dikemudikan oleh Aditya, sebuah mobil berwarna hitam milik Ardhan sedang melaju mengikuti mobil mereka.


"Tahan sebentar ya, Driel," goda Keyla sambil terkekeh pelan memperhatikan ekspresi wajah Adriela yang sepertinya tidak rela sang kekasih bersama wanita lain.


"Hhhh," balas Adriela.


Ardhan pun ikut terkekeh karena ini pertama kalinya ia melihat ekspresi wajah Adriela yang seperti itu.


"Hanya sebentar kok, Driel. Setelah semuanya jelas, Aditya akan jadi milikmu seutuhnya," lanjut Ardhan.


"Ya, ya. Terserah kalian mau ngomong apa."


Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Aditya berhenti tepat di depan sebuah Rumah Sakit. Helen membulatkan matanya dengan sempurna saat bersitatap mata bersama Aditya.


"Ngapain kita kesini, Dit?"


"Memeriksakan kandunganmu, Helen. Bukankah bayi itu milikku?"


Wajah Helen memucat. Ia terlihat gelisah dan tak ingin beranjak dari dalam mobil Aditya. Aditya mengulurkan tangannya kepada Helen agar wanita itu bersedia mengikutinya memasuki Rumah Sakit tersebut. Namun, untuk beberapa saat Helen masih terdiam dengan tatapan nanar ke depan.


"Mari, Helen. Kamu tidak usah takut, aku berjanji tidak akan menyakitimu," ucap Aditya.


Dengan ragu-ragu, Helen menyambut uluran tangan Aditya kemudian melangkah bersama lelaki itu memasuki Rumah Sakit tersebut.


Aditya menuntun Helen menuju sebuah ruangan dimana Dokter yang akan memeriksa Helen sudah menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu mau apa, Dit?!" tanya Helen dengan wajah cemas.


"Baiklah, aku mau jujur sekarang. Sebenarnya aku ingin melakukan tes DNA terhadap janin yang sedang berada di kandunganmu."


"Apa?!" pekik Helen dengan mata membulat.


"Kamu jahat, Dit!"


Helen berusaha kabur dari ruangan itu, tetapi Aditya menahannya. Ia mencoba menenangkan wanita itu dan mengajaknya duduk di sebuah kursi yang sudah tersedia disana.


"Helen, dengarkan aku. Aku hanya ingin memastikan bahwa bayi itu adalah milikku dan jika benar bayi itu adalah anak kandungku, maka aku berjanji akan bertanggung jawab pada kalian berdua," ucap Aditya mencoba meyakinkan Helen.


"Kamu jahat, Dit." Helen menyeka air mata yang kini mulai merembes di kedua pipinya.


"Aku tidak jahat, Helen. Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya. Tidak salah, 'kan?" sahut Aditya sembari mengelus pundak Helen.


Tidak berselang lama, Adriela, Keyla dan Ardhan tiba di depan ruangan, dimana Helen sedang melakukan tes tersebut. Mau tidak mau, Helen pun terpaksa melakukannya. Ia sangat gugup saat melakukan tes tersebut. Bagaimana tidak, ia sendiri tidak yakin siapa Ayah dari bayi yang sedang ia kandung.


Setelah beberapa saat, pemeriksaan itupun selesai dan tinggal menunggu hasilnya keluar. Helen kembali shok setelah melihat Adriela, Keyla dan Ardhan yang juga berada di tempat itu.


"Apa-apaan ini? Kalian bersekongkol, ya?!" kesal Helen sambil memperhatikan mereka secara bergantian.


"Helen ...." Adriela mencoba menghampiri Helen, tetapi wanita itu menolaknya.


"Jangan dekati aku!" ketusnya dengan mata berkaca-kaca.


Adriela pun menghentikan langkahnya dan terdiam di tempatnya berdiri sambil memperhatikan ekspresi Helen saat itu.

__ADS_1


"Kami hanya ingin tahu kebenarannya, Helen. Jika benar anak yang sedang kamu kandung adalah milik Kak Aditya, maka aku akan mundur dan menyerahkannya kembali padamu," ucap Adriela dengan wajah sendu menatap Helen.


...***...


__ADS_2