Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 18


__ADS_3

"Maafkan Ibu ya, Nak."


Sudah puluhan kali Bu Radia mengucapkan kata Maaf. Namun, Nazia masih tetap diam. Ia masih terpukul dengan kejadian ini. Walaupun sebenarnya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sudah memaafkan kesalahan mereka.


Bu Radia akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia tidak sanggup berlama-lama menatap wajah gadis malang itu. Bu Radia menghampiri Nazia kemudian melabuhkan sebuah kecupan hangat di puncak kepala gadis itu.


"Ibu sayang kamu, Zia. Maafkan Ibu," ucap Bu Radia disela isak tangisnya. "sebaiknya Ibu pulang dulu ya, Nak. Ibu dan Ayah ingin mencari keberadaan Aditya yang pergi entah kemana."


Setelah mengucapkan hal itu, Bu Radia pun segera pamit. Ketika Danish menghampiri rumah sederhana Nazia, Bu Radia dan Pak Dodi sudah melenggang pergi dan mereka tidak sempat bertatap muka.


"Permisi, Bu. Bolehkah saya bertemu Nazia?" tanya Danish kepada Bi Narti yang sedang duduk termenung di dalam rumahnya.


Bi Narti mengangkat kepalanya kemudian menatap lelaki tampan yang sedang tersenyum di sampingnya. Ia memperhatikan lelaki itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.


"Kamu siapa, Nak? Temannya Nazia?" tanya Bi Narti sambil menyeka air matanya yang sempat mengalir dikedua pipinya yang sudah keriput.


"Kenalkan, nama saya Danish. Saya temannya Nazia, Bu." Danish mengulurkan tangannya kepada Bi Narti.


Bi Narti menyambut uluran tangan Danish. "Kamu sudah tahu 'kan yang baru saja terjadi kepada Zia? Dia sedang sedih, Nak. Bibi tidak tahu, apakah Nazia bersedia menerima tamu untuk saat ini," ucap Bi Narti dengan mata berkaca-kaca menatap Danish.


"Saya mohon, Bu. Sebentar saja. Saya berjanji akan segera pergi jika Nazia merasa terganggu dengan kehadiran saya," ucap Danish.


Bi Narti nampak berpikir sejenak dan setelah beberapa saat, ia pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Nak. Mari, Bibi antar ke kamarnya."


Danish membantu wanita paruh baya itu bangkit dari tempat duduknya kemudian mengikuti langkah kaki Bi Narti menuju kamar Nazia.


"Itu dia, Nak."


Bi Narti menunjuk ke arah Nazia yang masih duduk termenung di tepian tempat tidurnya.


"Temuilah dia. Mungkin saja dengan itu, bisa mengurangi sedikit beban di hatinya." Setelah mengucapkan hal itu, Bi Narti segera menjauh.


Kini tinggal Danish yang berdiri di depan pintu kamar Nazia. Ia menatap gadis berkebaya pengantin tersebut dengan tatapan iba. Ia tidak menyangka bahwa nasib gadis itu begitu tragis, ditinggalkan calon suami di hari pernikahannya.


Tok ... tok ... tok!!!


"Boleh aku masuk?"

__ADS_1


Danish mengetuk daun pintu yang sejak tadi memang sudah terbuka. Perlahan Nazia menoleh dan ia sempat terkejut ketika mendapati sosok Danish di depan pintu kamarnya.


"Tuan Danish? Sedang apa Anda disini?" tanya Nazia keheranan sambil menyeka air matanya.


Ia mencoba mengingat-ingat apakah dirinya pernah mengundang lelaki itu ke acara pernikahannya. Namun, setelah di ingat-ingat, ia memang tidak pernah memberitahu tentang pernikahan ini apalagi mengundang Danish ke acara pesta pernikahan sederhananya.


Bolehkah aku masuk?!" tanya Danish lagi, karena gadis itu tidak mempersilakan dirinya masuk kedalam kamarnya.


"Tentu saja, Tuan. Masuklah," jawab Nazia.


Danish menghampiri gadis itu kemudian meraih kursi kayu yang terletak di depan cermin. Kursi yang digunakan Nazia ketika berhias bersama MUA tadi pagi. Danish duduk di kursi tersebut sambil tersenyum menatap wajah kusut Nazia.


"Maafkan kedatanganku yang mendadak ini, Nazia. Aku sama sekali tidak tahu bahwa hari ini adalah hari pernikahanmu," tutur Danish.


Nazia menundukkan kepalanya. Perasaan sedih itu kembali menghampirinya. "Aku benar-benar malu, Tuan Danish. Pernikahan ini gagal karena lelaki itu pergi entah kemana," lirih Nazia.


Danish meraih lengan Nazia yang basah karena keringat dingin serta air mata yang sejak tadi jatuh ke tangan gadis itu.


"Nazia, ikutlah denganku." Danish bangkit dari tempat duduknya sambil menggenggam tangan Nazia.


"Menemui Pak Penghulu," ajak Danish.


"Untuk apa?!" tanya Nazia yang semakin heran.


"Menikahimu," jawabnya singkat dan jelas.


Bibir Nazia kelu. Ia tidak mampu berkata-kata lagi. Apalagi saat ini Danish benar-benar menuntunnya keluar dari kamar dan menemui Bi Narti. Nazia menatap punggung lebar itu dari belakang. Entah mengapa hatinya terasa nyaman dan lebih tenang ketika Danish menggenggam tangannya.


Bi Narti terbengong-bengong melihat Danish yang sedang menggandeng tangan Nazia. Lelaki itu menghampirinya sambil tersenyum hangat.


"Bu, dimana Pak Penghulunya? Saya bersedia menikahi Nazia."


"Benarkah itu, Nak?" tanya Bi Narti dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak percaya bahwa Danish bersedia menikahi keponakannya yang malang itu.


"Saya serius, Bu. Dan saya berjanji akan membahagiakan Nazia," ucapnya sembari menarik tangan Nazia hingga gadis itu berdiri di sampingnya dengan sangat dekat.


"Baiklah, baiklah." Dengan tergesa-gesa Bi Narti berlari keluar rumah dan mencari keberadaan Pak Penghulu yang sejak tadi sudah gelisah ingin kembali ke kediamannya.

__ADS_1


"Dimana Pak Penghulu tadi?" tanya Bi Narti kepada salah satu tetangganya yang masih bersedia membantu melayani sisa-sisa tamu undangan.


"Disana, Bu! Ayo, cepat kejar. Pak Penghulunya sudah bersiap pulang!" seru wanita itu.


Bi Narti pun kembali berlari kecil mengejar Pak Penghulu yang sudah bersiap untuk melangkahkan kakinya meninggalkan pesta itu.


"Pak, Pak penghulu!" teriak Bi Narti.


Pak Penghulu tersebut berbalik dan menatap Bi Narti yang kini menghampirinya.


"Pak, pengantin laki-lakinya sudah tiba. Sekarang kita laksanakan saja pernikahannya, Pak. Saya mohon," lirih Bi Narti dengan napas terengah-engah.


"Baiklah kalau begitu."


Bi Narti dan Pak Penghulu bergegas menuju pelaminan karena Nazia dan Danish sudah duduk di sana sambil menunggu kedatangan mereka.


Berita itupun tersebar dengan sangat cepat. Para tamu undangan yang tadinya pulang, kini kembali lagi karena mereka penasaran dengan sosok lelaki yang akan menjadi calon suami Nazia.


Mereka kembali berkumpul dan menyaksikan pernikahan Nazia dan Danish yang akan segera dimulai. Setelah melakukan berbagai rangkaian acara dan doa, akhirnya tiba saatnya Danish mengesahkan Nazia sebagai istrinya.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Danish Armani Putra bin Keanu Armani Putra dengan Nazia Anastasya binti Yusuf Maulana dengan maskawinnya berupa uang tunai senilai satu juta rupiah, dibayar tunai.”


Saya terima nikahnya dan kawinnya Nazia Anastasya binti Yusuf Maulana dengan maskawinnya yang tersebut, dibayar tunai.”


"Bagaimana saksi, Sah?"


"Sah!"


Serempak para tamu undangan pun bertepuk tangan. Mereka turut bahagia menyaksikan pernikahan Nazia yang sempat tertunda dan di kira batal oleh semua orang.


Nazia meraih tangan Danish kemudian menciumnya. Sedangkan Danish melabuhkan ciuman hangat di kening gadis yang kini sah menjadi istrinya itu.


"Terima kasih, Tuan. Tuan sudah menyelamatkan aku dari rasa malu yang akan ku tanggung seumur hidup. Dan aku berjanji akan mengabdikan diriku untuk Anda, Tuan." lirih Nazia dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak perlu bicara seperti itu, Nazia. Aku ikhlas melakukannya dan aku tidak menginginkan apapun darimu sebagai balasannya. Cukuplah menjadi istriku," Danish meraih wajah Nazia kemudian tersenyum kepada gadis itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2