Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Melisa Melahirkan


__ADS_3

"Mel, Melisa! Kamu kenapa, Nak?!" Nyonya Rita panik sembari menghampiri Melisa yang sedang meringis kesakitan.


"Perutku sakit, Bu! Sakit sekali ..." rintih Melisa.


Tuan Rendra pun tidak kalah panik, ia segera menghampiri Melisa kemudian mengangkat tubuhnya.


"Ayo, Rita! Kita bawa Melisa ke Rumah Sakit!" seru Tuan Rendra, dengan susah payah mengangkat tubub Melisa.


Tuan Rendra panik, dengan napas terengah-engah, ia meminta bantuan kepada warga sekitar rumahnya untuk membawa Melisa ke Rumah Sakit. Beruntung banyak warga yang bersedia membantu mereka dan segera mengantar Melisa ke Rumah Sakit.


"Bagaimana ini, Yah! Kita bahkan tidak punya uang untuk biaya Rumah Sakit," ucap Nyonya Rita dengan setengah berbisik kepada Tuan Rendra.


Wajah Tuan Rendra pun terlihat kusut. Iapun sebenarnya bingung, kemana harus meminta bantuan. "Kamu tenang saja, nanti aku coba pinjam sama teman-temanku," ucap Tuan Rendra sembari menepuk pundak sang Istri.


Setibanya di Rumah Sakit, Melisa segera diperiksa oleh Dokter. Sedangkan Tuan Rendra dan Nyonya Rita menunggu diluar.


Tuan Rendra sejak tadi hanya mengotak-atik ponselnya dan mencoba menghubungi beberapa rekan bisnisnya dulu. Namun, tak satupun diantara mereka bersedia membantunya.


"Bagaimana, Yah? Sudah dapat pinjamannya?" tanya Nyonya Rita dengan wajah cemas.


Tuan Rendra mengusap wajahnya dengan kasar. Matanya terlihat berkaca-kaca dan dengan tangan gemetar memengang ponselnya.


"Mereka tidak bersedia membantu kita, Rita. Mereka takut aku tidak bisa mengembalikannya," ucap Tuan Rendra terbata-bata.


Nyonya Rita tidak bisa menahan tangisnya. Ia menangis histeris sembari memeluk suaminya. "Bagaimana nasib kita, Yah?!"


Tuan Rendra tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa mengelus punggung Nyonya Rita agar istrinya itu bisa lebih tenang.


"Bagaimana jika kita minta bantuan keanu, Yah?" ucap Nyonya Rita


Tuan Rendra menggelengkan kepalanya. "Aku malu, Rita. Melisa sudah cukup mempermalukan kita di hadapannya. Aku tidak sanggup jika harus meminta bantuan kepada Ke," sahut Tuan Rendra.


Tepat disaat itu, Dokter yang memeriksa Melisa pun keluar. Dokter itu segera menghampiri Tuan Rendra dan Nyonya Rita yang menatapnya dengan tatapan cemas.


"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Nyonya Rita dengan airmata mengucur dikedua sudut matanya.


Dokter itu menghembuskan napas berat kemudian secara bergantian menatap Nyonya Rita dan Tuan Rendra.

__ADS_1


"Anak anda harus segera di operasi, Bu. Karena kondisi bayinya sudah sangat lemah. Begitupula kondisi Ibunya," tutur Dokter itu.


"I-itu artinya cucu saya harus lahir prematur kah, Dok?!" tanya Nyonya Rita lagi.


Dokter itupun menganggukkan kepalanya pelan.


Tangis Nyonya Rita kembali pecah, bukan hanya mencemaskan keselamatan Melisa beserta cucunya, ia juga bingung kemana harus mencari uang untuk biaya operasi dan pengobatan Melisa.


"Lakukan yang terbaik, Dok. Kami percayakan semuanya kepada kalian," ucap Tuan Rendra pasrah.


"Baiklah, Tuan. Saya permisi dulu," sahut Dokter.


Sepeninggal Dokter, Nyonya Rita segera menghampiri Tuan Rendra. "Ayah, aku ingin ke kamar kecil sebentar," ucap Nyonya Rita.


Tuan Rendra pun mengangguk. Dan tanpa sepengetahuan Tuan Rendra, ternyata Nyonya Rita menghubungi Keanu.


"Keanu, tolong Ibu, Nak! Ibu tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi!" ucap Tante Mira


"Katakankah, Nyonya Rita. Apa yang bisa saya bantu," sahut Keanu dari seberang telepon.


"Melisa masuk Rumah Sakit, Keanu. Dia harus segera di operasi karena kondisinya dan juga bayinya sudah sangat lemah. Ibu dan Ayah sudah tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Semua orang sudah enggan berhubungan dengan kami, karena kami sudah jatuh miskin," tutur Nyonya Rita sambil terisak.


Setelah panggilan Nyonya Rita terputus, Keanu bergegas mengajak Sid menuju Rumah Sakit dimana Melisa tengah dirawat.


"Sid, sebaiknya kamu hubungi Andre. Biar bagaimanapun, Andre adalah Ayahnya dan ia harus tahu bahwa anaknya akan segera lahir," ucap Keanu.


"Baik, Tuan."


Setibanya di Rumah Sakit, Keanu bergegas menuju ruangan dimana Melisa dirawat. Tuan Rendra sangat terkejut ketika melihat Keanu menghampiri mereka.


"Keanu, kamu ..." Ucapan Tuan Rendra tertahan dan sekarang ia menatap sang Istri yang terus membuang pandangannya kearah lain. Ia tahu, Istrinya lah yang memberitahukan semuanya kepada Keanu.


"Maaf, saya terlambat, Tuan Rendra." Keanu mengulurkan tangannya kepada Tuan Rendra dan disambut dengan cepat oleh lelaki itu.


"Terimakasih, Nak! Aku tidak tahu harus berkata apalagi sekarang. Kamu memang lelaki yang baik, setelah anakku membohongi mu sedemikian rupa, kamu masih bersedia membantu kami," ucap Tuan Rendra dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak apa, Tuan Rendra. Jika anda membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya kepada saya ataupun Sid." Keanu menepuk pundak Tuan Rendra dengan lembut sembari tersenyum hangat.

__ADS_1


Tepat disaat itu, Andre juga tiba di ruangan itu. Ia menghampiri Keanu dengan wajah cemas. "Bagaimana keadaan Melisa dan Bayinya?" tanya Andre


"Dokter masih melakukan operasi. Kita berdoa saja, Nak, semoga Melisa dan Bayinya baik-baik saja," sahut Tuan Rendra.


Setelah beberapa saat, salah seorang Dokter yang sedang menangani Melisa, keluar dari ruang operasi sambil tersenyum hangat.


"Selamat Tuan, cucu perempuan anda sudah lahir dengan selamat. Walaupun kondisinya masih lemah, tetapi peluang hidupnya masih sangat besar. Begitupula dengan Ibunya," ucap Dokter


Tuan Rendra dan Nyonya Rita pun akhirnya bisa tersenyum lega setelah mendengar penuturan Dokter. Begitupula Keanu dan Andre.


"Selamat Andre, bayi perempuanmu sudah lahir dengan selamat," ucap Keanu sembari menepuk pundak Andre yang terlihat semringah.


"Terimakasih, Tuan Keanu. Nanti jika saya punya rejeki lebih, saya pasti akan mengembalikan uang anda," sahut Andre.


Keanu tersenyum hangat setelah mendengar penuturan Andre. "Tidak perlu, Andre. Aku ikhlas membantu mereka," sahut Keanu.


Setelah semuanya beres, Keanu pun segera pamit kepada Tuan Rendra.


.


.


.


Dua hari kemudian,


Seorang Perawat masuk kedalam ruangan Melisa sambil menggendong bayi perempuan mungil yang sangat cantik. Wanita itu masih tergolek lemah diatas tempat tidur pasien. Sedangkan Nyonya Rita masih setia duduk disampingnya.


Perawat itu menghampiri Nyonya Rita sembari menyerahkan bayi mungil itu. "Lihatlah Sayang, bayimu cantik sekali!!!" seru Nyonya Rita ketika menyambut bayi mungil itu.


Nyonya Rita meletakkan bayi mungil itu disamping tubuh Melisa. Namun, bukannya bahagia ketika melihat bayi mungilnya, Melisa malah memalingkan wajahnya dan membuang pandangannya kearah lain.


Hati Nyonya Rita hancur, ia tidak menyangka ternyata Melisa sama sekali tidak mempedulikan bayinya.


"Mel, jangan seperti itu. Biar bagaimanapun dia adalah anakmu, darah dagingmu," tutur Nyonya Rita dengan mata berkaca-kaca.


Melisa tetap membuang mukanya, ia sama sekali tidak ingin melihat kearah bayi itu. Sedangkan Bayi mungil itu seolah mengerti ketika sang Ibu tidak menginginkan dirinya. Ia menangis histeris disana.

__ADS_1


Nyonya Rita tidak tega, ia kembali meraih bayi itu kemudian membawanya menjauh dari Melisa.


__ADS_2