
"Kamu dengar itu, Sayang?!" pekik Rey.
Rey menghampiri tempat tidur pasien, dimana Danisha sedang terbaring. Rey meraih tangan Danisha dengan mata berkaca-kaca kemudian menggenggamnya dengan erat. Begitupula Danisha, wanita itu bahkan sudah terisak sejak tadi karena saking terharunya.
"Syukurlah, akhirnya Tuhan menjawab semua doa-doa kita!" ucap Danisha sambil menyeka air matanya.
"Ya. Anda benar, Nona Danisha. Akhirnya Tuhan memberikan sebuah keajaiban yang sangat luar biasa kepada keluarga kecil Anda," sela Dokter yang juga tidak kalah bahagianya.
"Aku benar-benar masih tidak percaya, Dok. Selama ini aku sudah pasrah dan mencoba ikhlas menerima apapun keadaanku. Tapi, ternyata Tuhan berkata lain. Sekarang aku diberikan kesempatan oleh-Nya untuk menjadi seorang Ibu."
"Ya, Nona Danisha. Anda sangat beruntung," sahut Dokter itu.
Kunjungan penuh haru itupun akhirnya berakhir, Danisha dan Rey bersiap kembali ke kediamannya dengan hati yang sangat bahagia.
"Terima kasih banyak, Dokter." Rey mengulurkan tangannya kepada Dokter kemudian segera disambut olehnya.
"Sama-sama, Tuan Rey. Ingatkan Istri Anda untuk selalu menjaga kesehatannya. Karena sekarang di dalam tubuh Nona Danisha sudah ada mahluk kecil yang bergantung hidup kepadanya."
"Pasti, Dok! Tentu saja," jawab Rey dengan penuh semangat.
Setelah berpamitan kepada Dokter itu, Rey pun segera melajukan mobilnya kembali ke kediaman mereka.
"Ibu pasti akan sangat senang mendengarnya. Ya 'kan, Mas?" ucap Danisha sambil mengelus perutnya.
Rey menghembuskan napas berat kemudian tersenyum kecut menatap Danisha.
"Ya, semoga saja dan aku harap Ibu menyesali setiap kata-kata menyakitkan yang pernah keluar dari mulutnya."
"Sudah, Mas. Jangan berkata seperti itu." Danisha mengelus lembut puncak Rey.
Setibanya di kediaman mereka, Danisha segera beristirahat setelah ia membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya.
"Istirahatlah, Nisha sayang. Mulai malam ini aku tidak akan mengganggumu lagi, walaupun sebenarnya aku ingin," goda Rey.
__ADS_1
Danisha tertawa pelan. "Bersabarlah, Dokter Rey. Demi calon bayimu," sahut Danisha.
"Ya, kamu benar."
Sementara itu di kamar Ibunda Rey.
"Kenapa itu si Danisha, apa dia benar-benar sakit atau hanya pura-pura sakit demi mendapatkan perhatian dari Rey?" tanya Ibunda Rey kepada salah satu Pelayan yang sedang membantunya berbaring ke atas tempat tidur empuknya.
"Sepertinya Nona Danisha memang sedang sakit, Bu. Kemarin wajah Nona Danisha memang terlihat sangat pucat," sahut Pelayan.
"Heh, aku tidak percaya. Dia pasti mengada-ada saja," ketusnya sambil memalingkan wajah dari Pelayan.
Pelayan sempat menggelengkan kepalanya. Ia tidak mengerti kenapa Bu Wijaya begitu membenci majikannya. Padahal selama ini Danisha selalu bersikap baik kepada Bu Wijaya.
Keesokan harinya.
"Ibu sudah sarapan?" tanya Rey.
"Sudah, Rey." Ibunda Rey tersenyum ketika Rey datang menghampirinya. "ngomong-ngomong, dimana Istrimu? Tumben dia tidak menjengukku, padahal 'kan biasanya dia selalu datang lebih awal. Apa dia sudah mulai bosan merawatku?" lanjut Ibunda Rey sambil melihat ke depan pintu kamarnya, mencari-cari keberadaan Danisha.
"Dan satu lagi, Bu. Untuk sekarang berhentilah berkata yang tidak-tidak kepada Nisha. Rey juga memohon kepada Ibu untuk tidak lagi menyakiti perasaannya karena saat ini kondisi Nisha sedang lemah, dia butuh semangat dan dukungan dari kita semua, terutama Ibu!"
"Memangnya dia kenapa?" jawab Ibunda Rey dengan ekspresi wajah malas.
"Karena saat ini Danisha tengah mengandung, Bu! Dia sedang mengandung calon generasiku," jawab Rey dengan sedikit kesal karena Ibunya masih saja meremehkan Danisha.
Mata Ibunda Rey membulat sempurna. Mulutnya pun bahkan sampai terbuka lebar setelah mendengar penuturan Rey saat itu.
"Ka-kamu serius, Rey?!" pekiknya sambil menutup mulutnya yang masih terbuka lebar dengan kedua tangan.
Rey menganggukkan kepalanya pelan kemudian mencoba tersenyum kepada wanita yang sudah melahirkannya tersebut.
"Ya Bu, itu benar. Jadi, Rey mohon sekali lagi kepada Ibu, tolong berhentilah mengucapkan kata-kata yang bisa menyakiti perasaan Nisha. Ibu pasti tahu 'kan perasaan seorang Ibu hamil bisa mempengaruhi kondisi janinnya? Apalagi Dokter sudah mewanti-wanti bahwa kondisi kandungan Danisha masih sangat lemah."
__ADS_1
"Ta-tapi ba-bagaimana bisa? Bukankah Danisha sudah dinyatakan tidak bisa memiliki keturunan oleh Dokter?" Ibunda Rey masih terlihat tidak percaya dengan berita kehamilan Danisha.
"Jika Tuhan sudah berkehendak, apapun bisa terjadi dalam sekedip mata, Bu. Apa Ibu tidak percaya akan hal itu?"
Ibunda Rey terdiam. Kepalanya tertunduk menghadap lantai dengan wajah penuh penyesalan.
"Rey kembali ke kamar dulu. Hari ini Raisha lagi rewel, dia maunya sama Danisha terus."
Rey melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu dan kembali ke kamarnya untuk menemui Danisha yang masih terbaring lemah bersama Raisha yang selalu menemaninya.
"Bagaimana kepalamu, masih terasa pusing?" tanya Rey sembari duduk disamping Danisha yang sedang bersandar di sandaran tempat tidurnya.
"Sudah mulai berkurang. Beruntung Raisha anteng disini bersamaku."
Walaupun tempat tidurnya sudah terlihat seperti tempat bermain bagi Raisha. Namun, Danisha tetap senang dan membiarkan apapun yang dilakukan oleh bocah kecilnya itu.
Rey mengelus lembut perut Danisha yang masih rata sambil melabuhkan sebuah kecupan hangat di keningnya.
"Terima kasih, Sha."
"Sama-sama, Mas."
Tanpa mereka sadari, Ibunda Rey sedang mengintip dari balik pintu kamar yang memang tidak tertutup rapat. Rupanya wanita paruh baya itu mengikuti Rey ketika Rey keluar dari kamarnya.
"Ibu kenapa disini? Apa Ibu butuh bantuan?" pekik Babysitter yang memergoki Ibunda Rey yang sedang memperhatikan ke dalam ruangan kamar majikannya.
"Ah, ti-tidak. Aku hanya bosan dan ingin berkeliling saja."
Ibunda Rey segera pergi dari tempat itu dan meninggalkan Babysitter yang masih kebingungan.
"Ehm, Bu ... biar saya bantu," ucap Babysitter sembari menghampiri kursi roda Bu Wijaya kemudian membantu mendorongnya.
"Antar aku ke kamar saja,"
__ADS_1
"Baik, Bu."
...***...