
Hiks hiks hiks...
"Mama... Mama... sakit." Sejak tadi, Dimas masih merintih kesakitan. Dia masih berada di atas ranjang rumah sakit, dengan penuh perban luka di kepala dan tubuhnya.
Omanya sejak tadi, masih menemaninya.
"Sayang, sabar ya. Dimas mau apa? mau makan? atau mau minum?" tanya Bu Reva.
Dimas hanya menggeleng lemah. Tubuhnya terasa sangat sakit. Kepalanya, tulang dan seluruh persendiannya merasakan sakit. Dimas sejak tadi masih merintih sembari memanggil-manggil ayah dan ibunya.
"Terus Dimas mau apa?"
"Di mana papa dan mama? Dimas mau sama papa dan mama hu hu hu..." tangis Dimas semakin kencang saja.
"Sabar ya sayang. Om Abi, dan Tante Syanum sebentar lagi akan ke sini."
Bu Reva benar-benar bingung sekarang. Cucunya rewel dan tidak mau diam. Dia selalu memanggil-manggil orang tuanya. Dimas sama sekali tidak tahu, kalau ayahnya itu sudah meninggal dan ibunya juga sedang kritis dan masih berada di ruang ICU.
Bagaimana caranya aku mengatakan sama Dimas kalau sekarang ayahnya sudah meninggal. Dan ibunya sedang kritis. Ya Allah, lindungilah Dila juga ya Allah. Engkau sudah mengambil menantu dan calon cucuku, jangan ambil anakku juga ya Allah. Aku benar-benar nggak sanggup, batin Bu Reva.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan Dimas terbuka lebar. Fabian dan Syanum tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Dimas.
"Ma, bagaimana keadaan Dimas?" tanya Fabian.
Fabian dan Syanum kemudian mendekat ke arah Dimas.
"Dimas sejak tadi rewel. Dia nggak mau makan dan minum obat. Bi, bisa kamu temani Dimas? Entah kenapa, mama merasa lelah sekali. Semalam mama belum tidur," jelas Bu Reva.
"Iya Ma. Mama tiduran aja di sofa. Biar aku yang temani Dimas," ucap Fabian.
Bu Reva menatap Dimas lekat.
"Dimas. Ini ada Om Abi. Kamu sama Om Abi dulu ya. Oma pengin istirahat dulu di sana," Bu Reva menunjuk ke arah sofa yang ada di ruangan Dimas.
"Iya Oma," ucap Dimas.
Bu Reva kemudian melangkah ke Sofa dan berbaring di sana.
"Tuan muda, kenapa mama tidak di suruh pulang aja? kasihan dia. Biar kita aja, yang nungguin Dimas di sini." Syanum mengusulkan.
Fabian menatap ibunya. "Iya, kasihan mama."
Fabian kemudian mendekat ke arah ibunya. "Mama. Mama nggak mau pulang aja? di sini kan sudah ada Abi dan Syanum. Biar kita aja yang nungguin Dimas."
"Kamu yakin mau nungguin Dimas Bi?"
"Iya. Dari semalam pasti mama kan nggak tidur. Kalau mama ngantuk, mending mama tidur di rumah aja. Aku antar mama pulang ya."
__ADS_1
"Nggak usah Nak. Mama pulangnya nanti saja. Nunggu papa kamu ke sini."
"Ya udah. Terserah mama aja."
Syanum mendekat ke arah suaminya.
"Lebih baik mama pulang aja. Biar Tuan muda yang mengantar mama pulang," ucap Syanum.
Bu Reva menatap Syanum.
"Tuan muda? kamu masih memanggil suamimu dengan sebutan Tuan muda Syanum?"
Bu Reva hanya senyam-senyum sendiri sejak tadi. Merasa lucu dengan menantunya.
"Lalu, aku harus panggil apa? aku sudah terbiasa memanggil dengan sebutan itu," ucap Syanum.
"Ya udahlah, terserah kamu aja Syanum. Mama nggak akan maksa kamu untuk panggil Abi dengan sebutan apa. Yang harus kalian ingat, kalian itu sekarang suami istri."
Fabian sejak tadi hanya diam. Dia malas sekali sebenarnya untuk mengajak Syanum. Tapi, Fabian tidak mau ayahnya marah lagi padanya.
"Benar apa kata Syanum. Aku antar mama pulang ya," ucap Fabian.
"Ya udah deh."
Setelah Bu Reva dan Fabian pergi, Syanum mendekat ke arah Dimas.
Dimas yang di tanya diam saja.
"Dimas, kenapa diam aja?"
Dimas menatap Syanum lekat. "Aku pengin ketemu mama dan papa."
Syanum bingung, apa yang harus dikatakannya sekarang.
"Kamu mau ketemu mama ya? kalau kamu mau ketemu mama, kamu harus mau makan dan minum obat. Kalau keadaan kamu masih lemah begini, bagaimana caranya kamu bisa ketemu mama? sekarang aja, Dimas belum kuat untuk duduk. Iya kan?"
"Sebenarnya, mama dan papa aku ada di mana? kenapa mereka tidak jenguk aku di sini?"
Syanum tersenyum. Sejak tadi, dia masih mencoba untuk menghibur Dimas. Syanum benar-benar tidak tega melihat anak kecil itu.
Syanum tahu, bagaimana rasanya di tinggal seorang ibu. Dia pernah merasakan berada di posisi Dimas. Kehilangan orang tua yang dia sayangi, yaitu ibunya. Dan Dimas sudah kehilangan ayahnya. Dia sekarang sudah menjadi anak yatim.
"Mama dan papa kamu lagi sibuk sayang. Mereka pesan sama Tante, untuk jaga kamu di sini. Mereka juga pesan ke Tante, kata mama dan papa kamu, kamu harus mau minum obat dan makan yang banyak. Agar kamu cepat sembuh, dan bisa ketemu lagi dengan mereka."
"Benarkah begitu?"
"Iya sayang."
__ADS_1
****
Dalam ruangan ICU, Dila masih terbaring lemah. Selang infus sudah menempel di tangan Dila. Begitu juga dengan alat bantu pernafasan. Dila masih belum sadarkan diri.
Seorang suster masuk ke dalam ruangan ICU untuk memeriksa kondisi Dila. Suster terkejut saat dia melihat pergerakan jari jemari pasiennya.
"Jarinya Mbak Dila bergerak, itu artinya sudah ada kemajuan dengan kondisinya," ucap Suster itu ikut bahagia.
Suster kemudian keluar dari ruangan Dila untuk memanggil dokter.
Setelah suster pergi, Dila mengerjapkan matanya perlahan. Penglihatan matanya masih kabur. Dila juga belum bisa bicara.
Beberapa saat kemudian, dua orang suster dan seorang dokter masuk ke dalam ruang ICU. Dokter kemudian memeriksa kondisi pasien.
Dokter menatap dua susternya.
"Ini benar-benar keajaiban Sus. Saya fikir, pasien Dila ini tidak akan bisa di selamatkan. Karena denyut jantungnya saja semakin melemah. Tapi, sekarang dia sudah sadar."
"Di-mas..." ucap Dila dengan suara yang tidak bisa di dengar oleh orang di dekatnya.
Suster dan dokter saling menatap.
"Dia bicara apa?" tanya suster.
"Kalian panggil keluarga pasien ke sini," ucap dokter.
"Baiklah."
Salah satu suster ke luar ruangan. Dia kemudian melangkah menuju ruangan Dimas.
"Suster, ada apa?" tanya Syanum.
"Apa ada orang tuanya Mbak Dila?" tanya suster.
"Mereka sudah pulang Sus. Dan suami saya juga belum kembali. Ada apa Sus? saya iparnya Kak Dila."
"Mbak Dila sudah siuman. Dan dia sudah melewati masa kritisnya. Tolong kabarkan ke orang tua dan adiknya. Biar mereka ke sini. Mbak Dila sepertinya sedang sangat membutuhkan orang-orang terdekatnya," ucap suster menjelaskan.
"Baiklah. Saya akan segera hubungi suami saya."
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu."
Syanum mengangguk. Setelah itu suster pun pergi meninggalkan Syanum.
Syanum menatap Dimas yang sudah terlelap.
"Dimas tunggu di sini dulu ya, Tante Syanum mau telpon dulu di luar. Selamat istirahat ya sayang."
__ADS_1
Sebelum pergi ke luar, Syanum mengecup puncak kepala Dimas. Setelah itu dia pergi ke luar untuk menghubungi suami dan mertuanya. Syanum ingin memberi tahu pada mereka, kalau Dila sekarang sudah siuman.