Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kepulangan Dila dari rumah sakit


__ADS_3

Kenapa dari kemarin aku tidak pernah melihat Mas Ridho. Kenapa Mas Ridho tidak ke sini menemaniku. Aku telpon juga hapenya nggak aktif. Kemana sebenarnya dia. Apakah dia baik-baik saja.


Sejak tadi, Dila masih menatap ponsel yang ada di tangannya. Sejak dia siuman, dia tidak pernah melihat suaminya. Dia hanya melihat Dimas saja, yang sekarang sedang berbaring di sisinya.


Dila masih menatap Dimas yang saat ini, masih terlelap di ranjang rumah sakit.


"Sa... sayang..." ucap Dila.


Dila tidak bisa menghampiri Dimas. Karena tubuhnya masih sangat lemah. Untuk duduk saja, masih susah.


"Kak Dila." Syanum melangkah menghampiri Dila.


"Kak Dila mau apa? kak Dila jangan banyak bergerak dulu. Kak Dila mau duduk? mau minum, atau mau makan?" tanya Syanum.


"Dimas. Aku pengin peluk Dimas," ucap Dila yang masih menatap anak lelakinya.


Syanum menatap Dimas.


"Kak Dila. Kak Dila masih sakit. Kak Dila tidak boleh banyak bergerak."


Sejak Dila dan Dimas di rawat di rumah sakit, Syanum yang selalu bolak-balik ke rumah sakit. Karena Pak Damar dan Fabian sibuk di kantor. Sementara Bu Reva, sakit dan tidak bisa menjaga Dila.


"Aku, pengin pulang ke rumah Syanum. Aku udah nggak betah tinggal lama-lama di rumah sakit," ucap Dila.


"Iya. Sore ini, kita akan pulang Kak. Kakak tenang aja ya."


Dila mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Dia masih bingung dengan keberadaan suami dan mertuanya. Kenapa dari keluarga suami, tidak ada yang menjenguknya sama sekali.


"Kak Dila lagi mikirin apa?" tanya Syanum.


Dila menatap Syanum lekat.


"Sebenarnya, di mana Mas Ridho Syanum? bagaimana keadaan dia?"


"Kakak nggak usah khawatirkan Kak Ridho. Kak Ridho baik-baik aja."


Syanum terpaksa berbohong untuk kesembuhan Dila. Karena mertua dan suaminya tidak membolehkan Syanum untuk bicara dengan keadaan suami Dila yang sebenarnya. Mereka tidak mau membuat Dila tambah Syok dan bisa mempengaruhi kesehatannya.


"Terus, di mana dia sekarang Syanum?"


"Dia ada di rumah Kak."


Dila kembali menatap anaknya dan tersenyum.


"Dimas hari ini juga udah boleh pulang Kak. Papa akan ke sini nanti sore setelah pulang kantor. Mau ngurus administrasi juga," Syanum menjelaskan.


"Iya. Aku udah nggak betah di sini Syanum. Aku pengin ketemu suamiku."

__ADS_1


Syanum tersenyum kecut. Sampai kapan dia akan terus berbohong pada Dila. Dila juga harus tahu yang sebenarnya kalau suami dan calon anaknya itu sudah meninggal sewaktu mereka kecelakaan.


Maafkan aku Kak Dila. Aku tidak bisa memberi tahu kakak sekarang. Kondisi Kaka masih lemah. Bagaimana nanti kalau kakak ngedrop lagi. Aku nggak mau sampai hal itu terjadi. Aku nggak mau di salahkan sama papa dan mama kamu, juga tuan muda suamiku.


****


Sore ini, Dimas, Dila, dan Syanum masih berada di rumah sakit. Sejak tadi, Syanum masih menyuapi Dimas.


Sementara Dila, hanya bisa memperhatikan mereka.


"Syanum. Makasih banyak, karena kamu sudah mau menjaga dan merawat anakku saat dia sakit."


"Iya Kak."


"Tapi, kenapa nggak ada yang datang ke sini Syanum? apakah mereka semua pada sibuk?"


Sebenarnya mertua Dila, juga sudah pernah datang ke rumah sakit, waktu Dila masih di ICU. Mungkin mertua Dila masih sibuk, karena mereka harus mengurus pemakaman Ridho dan menggelar doa bersama di rumah mereka.


"Siapa Kak?"


"Mertuaku, dan saudara-saudara suamiku."


"Mereka ke sini waktu Kak Dila koma, tapi sekarang mungkin mereka masih sibuk dengan urusannya masing-masing."


"Begitu ya?"


Syanum mengangguk.


Syanum tersenyum. Setelah itu dia bangkit berdiri dan meletakkan mangkuk di atas meja


"Kamu mau minum?" tanya Syanum.


Dimas hanya mengangguk. Setelah itu Syanum mengambil gelas yang ada di atas meja.


"Ini, minum dulu," ucap Syanum.


Beberapa saat kemudian, Pak Damar dan Fabian melangkah masuk ke dalam ruangan Dila.


"Dila, papa sudah melunasi semua biaya administrasi rumah sakit. Dan sekarang kamu sudah boleh pulang Nak," ucap Pak Damar.


Dila tersenyum.


"Iya Pa. Aku mau pulang sekarang."


"Ya udah. Syanum, kamu beresin semua barang-barang Dila ya."


Syanum mengangguk. Setelah itu, Syanum membereskan semua barang-barang Dila dan Dimas seperti baju-baju, dan keperluan lainnya.

__ADS_1


Syanum mengepaki baju-baju Dimas dan Dila ke dalam tas.


"Jangan sampai ada yang ketinggalan ya Syanum," ucap Pak Damar.


"Iya Pa."


Setelah semua sudah siap, Fabian melangkah menghampiri kakanya.


"Ayo Kak. Aku bantu kakak untuk naik ke kursi roda."


Dila mengangguk. Setelah itu Fabian mengangkat tubuh Dila dan mendudukan tubuh kakaknya di atas kursi roda.


Fabian kemudian menatap Dimas.


"Dimas gendong Om ya, kita akan pulang ke rumah," ucap Fabian.


Dimas mengangguk. Setelah itu Fabian mengangkat tubuh Dimas, sementara Syanum mendorong kursi roda Dila dan Pak Damar membawa tas Dila. Mereka keluar dari ruangan itu dan menuju ke tempat parkir di mana mobil Pak Damar di parkikan.


Sesampai di parkiran, Fabian memasukan Dimas di jok paling belakang. Setelah itu dia juga membantu Dila untuk duduk di dekat Dimas.


"Syanum. Kamu duduk di depan sama Fabian. Biar papa duduk di belakang sama Dila dan Dimas."


"Pa. Kenapa Syanum yang duduk di depan. Kenapa nggak papa aja," protes Fabian.


"Fabian. Syanum itu istri kamu. Nggak apa dong kalau dia duduk di samping kamu."


"Kalau gitu, papa aja yang nyetir dan duduk di depan. Biar aku duduk di belakang sama Kak Dila dan Dimas."


"Fabian. Kenapa kamu malah nyuruh papa yang nyetir sih." Pak Damar tampak kesal dengan anaknya. Padahal, niat Pak Damar itu baik. Dia ingin anaknya dekat dengan Syanum. Agar mereka bisa saling menerima dan bisa saling mencintai. Tapi namanya Fabian memang anak yang susah untuk di atur.


"Baiklah, Syanum. Kamu duduk dengan Dila ya di belakang. Papa duduk di depan aja."


Pak Damar tidak mau berdebat terlalu lama dengan anaknya. Dia akhirnya mengalah juga dengan Fabian, dan menyuruh Syanum duduk di belakang bersama Dila dan Dimas.


"Kita mau langsung pulang Pa?" tanya Fabian di sela-sela menyetirnya.


"Iya. Lalu kita mau ke mana lagi? Papa juga udah capek Fabian."


"Ya udah."


Fabian kemudian menyetir mobilnya sampai rumah. Tidak ada sepatah katapun yang di ucapkan oleh Fabian. Dia sebenarnya malas jika harus ada Syanum di dekatnya. Entah kenapa, semakin hari justru dia semakin membenci wanita itu.


Dia selalu saja menyalahkan Syanum, dan tidak pernah mau berdamai dengan istrinya itu.


Sesampai di depan rumah, Mbak Asih sudah berdiri di teras depan. Mbak Asih buru-buru melangkah menghampiri mobil Fabian. Dia ikut membantu majikanya itu.


Setelah semua keluar dari mobil, Mbak Asih membawakan tas Dila. Sementara Syanum mendorong kursi Dila dan Fabian kembali menggendong Dimas untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2