
"Abi ke mana? dia kok belum turun?" tanya Bu Reva.
"Nggak tahu dia ke mana," jawab Dila.
"Coba sana Dil. Lihat Abi ada di mana!"
"Iya Ma."
Dila kemudian melangkah pergi ke kamar adiknya.
Dila mengetuk pintu kamar Fabian setelah dia berada di depan kamar Fabian.
Tok tok tok ...
"Abi...! Abi..! udah di tungguin Mama di bawah Bi..." seru Dila.
Tidak ada seruan dari dalam kamar Fabian.
Dila yang penasaran, segera membuka pintu kamar Fabian. Namun rupanya, tidak ada Fabian di dalam.
Dila buru-buru melangkah masuk ke dalam kamar Fabian. Dia melangkah ke kamar mandi. Fabian juga tidak ada di dalam kamar mandi.
"Abi ke mana sih. Kok nggak ada. Apa dia udah berangkat ke kantor," gumam Dila.
Dila kemudian menutup pintu kamar Fabian kembali. Dila turun untuk menemui ibunya yang ada di ruang makan.
"Mana Abi? dia mau makan bareng kita nggak?" tanya Bu Reva.
"Abi nggak ada di kamarnya Ma." Dila menghempaskan tubuhnya di atas kursi.
"Ke mana dia?"
"Aku nggak tahu Ma. Coba aja mama telpon. Barangkali dia udah nyampe ke kantor."
"Iya deh."
Bu Reva kemudian mengambil ponselnya dan menelpon nomer Fabian.
"Gimana Ma?" tanya Dila.
"Nomernya nggak aktif Dil," ucap Bu Reva.
"Ke mana ya itu anak."
Beberapa saat kemudian, Pak Damar menghampiri ruang makan.
"Lho. Mana Dimas dan Abi?" Pak Damar menyeret kursi dan duduk berbaur bersama Dila dan Bu Reva.
"Abi nggak ada di kamarnya Pa. Sepertinya Abi pergi. Dan kita nggak ada yang tahu Abi pergi ke mana,"jelas Dila.
"Emang dia nggak bilang mau ke mana? biasanya dia juga minta izin dulu kalau mau pergi. Atau mungkin, dia sudah sampai kantor duluan," ucap Pak Damar.
__ADS_1
"Dari tadi di telpon juga nggak di angkat Pa," ucap Bu Reva.
"Kalau Dimas ke mana?" tanya Pak Damar yang tidak melihat Dimas ada di ruang makan.
"Belum bangun Pa. Tadi di bangunin nggak mau," jawab Dila.
"Emang Dimas nggak mau sekolah?" tanya Pak Damar.
"Nggak tahu Pa. Nanti Dila bangunin lagi dia."
Beberapa saat kemudian, Mbak Fani mendekat ke arah meja makan. Dia membawa makanan dan menyajikannya di meja makan.
"Mbak. Kamu nggak lihat Fabian?" tanya Dila.
"Em..."
"Mbak. Kenapa?" Dila menatap Mbak Fani yang tampak masih ragu untuk berkata.
"Saya lihat Tuan muda semalam pergi," jelas Mbak Fani.
"Pergi ke mana?" tanya Bu Reva.
"Saya juga kurang tahu Nya. Tapi dia bilang mau sebentar. Katanya ada urusan sebentar di luar."
"Hem, ke mana ya si Abi. Ada urusan apa dia pergi malam-malam. Kenapa dia nggak bilang-bilang dulu kalau mau pergi. Nggak seperti biasanya dia begitu," ucap Bu Reva.
"Jadi semalam,Abi nggak pulang ke rumahnya?" tanya Pak Damar.
"Ke mana ya dia," ucap Pak Damar."Nggak biasanya dia seperti itu. Pergi tanpa pamitan dulu."
"Biarin lah Pa. Abi itu udah gede. Nggak perlu di khawatirkan lagi. Mungkin dia semalam nginep di rumah temannya," ucap Dila.
***
Pagi ini, Luna sengaja tidak pergi ke butik karena dia akan mengantar Syanum periksa ke rumah sakit. Usia kandungan Syanum sekarang sudah lebih dari tiga bulan dan akan memasuki usia empat bulan.
Biasanya Syanum periksa ke dokter dengan Ryan. Tapi kali ini, Ryan sibuk. Dia harus berangkat pagi-pagi sekali ke kantor. Jadi Luna yang mengalah untuk tidak ke butik.
"Kakak udah siap?" tanya Luna.
"Udah."
"Ya udah. Kita berangkat yuk!" ajak Luna.
Syanum mengangguk. Setelah itu, dia dan Luna berangkat pergi ke rumah sakit dengan mobil Luna.
"Kak, gimana mual-mualnya sekarang. Udah mendingan kan?" tanya Luna.
"Udah mendingan Lun. Dan aku juga udah nggak ngerasa sering pusing lagi. Nafsu makan pun sekarang sudah semakin bertambah. Nggak kayak waktu baru satu atau dua bulan."
"Syukurlah kalau begitu. Aku seneng deh lihat Kak Syanum seperti ini. Walau jauh dari Kak Abi. Tapi Kaka kelihatan bahagia terus."
__ADS_1
"Iya. Mungkin lebih baik seperti ini kali ya Lun dari pada bersama."
"Tapi apa kakak yakin, dengan keputusan Kakak itu. Kakak akan gugat Kak Abi nanti setelah anak itu lahir?" Luna sudah mulai serius .
"Iya Lun. Kecuali, kalau Mas Fabian mau menemui aku dan minta maaf sama aku. Dan dia juga mengakui kalau dia cinta sama aku. Tapi selama belum ada pengakuan dari dia, aku akan tetap pada keputusanku."
"Iya Kak. Aku tahu. Emang nggak mudah Kak, menjalani rumah tangga tanpa cinta. Seandainya aku jadi Kak Syanum pun, aku yakin kalau aku nggak akan sekuat Kakak."
Syanum tersenyum. Dia selalu mencoba bahagia walau tanpa Fabian. Karena sumber kebahagiaan Syanum itu sekarang adalah calon bayinya. Dia yang menjadikan Syanum semangat sampai sekarang.
Beberapa saat kemudian, Luna dan Syanum turun dari mobilnya setelah Luna memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit.
Luna dan Syanum kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Luna menghentikan langkahnya. Saat tatapannya terfokus pada dua orang yang sedang duduk bersama di ruang rawat ruang sakit.
'Astaga, itu kan Kak Abi sama Mentari. Kenapa mereka harus ada di sini sih. Lagian, Kak Abi. Kenapa istrinya menghilang dia malah dekat lagi dengan Mentari. Bukannya di cariin. Apa mau dia sebenarnya sih.' geram Luna dalam hati.
Luna buru-buru memutar balik tubuhnya. Dia ingin cepat-cepat membawa Syanum ke luar dari rumah sakit. Agar Syanum tidak melihat Fabian di sana.
"Ada apa Lun? kenapa kita ke luar?" tanya Syanum.
"Kita jangan lewat sana deh Kak."
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Aku cuma pengin lewat samping aja Kak. Biar lebih cepat sampai ke ruangan dokter Anita."
"Oh gitu ya. Tapi aku sama Ryan, biasa lewat depan.
"Sudah deh. Nurut aja."
Syanum akhirnya menurut juga dengan Luna. Mereka melangkah ke lain arah untuk sampai ke ruangan dokter Anita.
Sesampai di depan ruangan Dokter, Syanum dan Luna masuk ke dalam ruangan Dokter untuk periksa kandungannya
"Kak Syanum. Tunggu di sini dulu ya. Aku mau tunggu di depan aja," ucap Luna.
"Oh. Iya Lun."
Luna kemudian melangkah pergi meninggalkan Syanum. Dia melangkah menuju ke ruangan di mana tadi dia melihat Fabian dan Mentari.
"Ke mana ya, Kak Abi sama Mentari tadi. Perasaan tadi ada di sini."
Luna mencari Mentari dan Fabian. Namun dia tidak menemukan mereka.
Luna penasaran juga sama keberadaan mereka. Luna kemudian mencari di setiap ruang rawat keberadaan Mentari dan Fabian.
Luna terkejut, saat melihat Mentari dan Fabian ada di sebuah ruang rawat yang ada Pak Riko di dalamnya.
"Jadi Kak Abi, nggak ke kantor. Dia menemani Mentari di sini. Ayah Mentari ternyata lagi sakit. Nggak bisa di diamin. Aku harus laporkan ini ke Tante Reva."
__ADS_1
Luna kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.