
"Apa! jadi anda ini istrinya Pak Fabian?"
Syanum mengangguk.
"Iya. Saya ke sini mau ketemu sama suami saya. Saya mau ngantar makan siang untuk suami saya."
"Duh Bu. Maafkan saya. Saya tidak tahu kalau ibu itu istrinya Pak Fabian. Kalau begitu, saya antar ke ruangan Pak Fabian sekarang ya Bu. Ayo Bu, ikut saya."
Syanum tersenyum.
"Makasih Mbak."
Wanita itu kemudian mengantar Syanum ke ruangan Fabian. Sesampai di depan ruangan Fabian, wanita itu mengetuk pintu ruangan Fabian.
Tok tok tok...
Tidak ada sahutan dari dalam ruangan itu.
"Suami saya ada di dalam kan Mbak?"
"Nggak tahu. Sepertinya dia masih di dalam. Soalnya saya belum melihatnya pergi ke luar. Dan mobil Pak Fabian juga masih ada di luar."
Beberapa saat kemudian, Fabian membuka pintu ruangan itu. Dia terkejut saat melihat Syanum.
"Syanum. Mau ngapain ke sini?" tanya Fabian.
"Pak Fabian. Ini istri bapak ya?maaf ya Pak. Saya baru tahu. Saya cuma mau ngantar istri bapak ke ruangan bapak. Kalau begitu saya permisi dulu."
Fabian mengangguk. Setelah itu wanita itu pergi meninggalkan ruangan Fabian.
"Syanum. Sini ikut aku...!"
Fabian mencekal pergelangan tangan Syanum dan menarik Syanum masuk ke dalam. Dia kemudian menutup pintu ruangannya kembali.
"Syanum. Mau ngapain sih kamu ke sini?" tanya Fabian.
"Aku cuma mau ngantar makanan aja Tuan muda."
"Siapa yang nyuruh kamu ke sini dan ngantar makanan. Pasti Kak Dila ya, atau mama?"
Syanum menggeleng.
"Bukan Tuan muda. Tapi ini memang inisiatif aku sendiri."
"Ah, Syanum. Kenapa kamu nekat ke sini sih. Bagaimana kalau semua karyawan di kantor ini tahu kalau kamu ini istriku. Malu aku Syanum."
"Malu? untuk apa kamu malu? kan kita udah sah menjadi suami istri."
"Hei. Syanum. Kamu punya kaca kan di rumah? kamu sering ngaca ngga sih?"
"Kenapa emang?"
"Lihat saja penampilan kamu. Kamu itu kampungan. Berapa kali aku bilang, kalau aku itu malu punya istri anak seorang sopir seperti kamu."
Syanum diam. Sebenarnya dia juga tersinggung saat Fabian selalu memakinya. Tapi makian itu, sudah menjadi makanan Syanum sehari-hari. Karena Fabian setiap hari, tidak pernah melupakan ucapan itu. Entah itu di rumah, atau di kantor. Dia selalu bilang kalau Syanum itu kampungan.
"Sebenarnya, aku ke sini cuma mau ngantar makan siang untuk Papa dan Ayah. Tapi aku takut Tuan muda ngiri, jadi aku bawakan sekalian. Tapi ternyata, Tuan muda nggak mau Nerima makanan dari aku. Papa dan ayah juga nggak ada di kantor. Ya udah kalau begitu. Aku akan kasih aja makanan ini ke satpam di depan."
Syanum memutar tubuhnya untuk melangkah ke luar dari ruangan suaminya.
__ADS_1
"Tunggu. Kamu mau ke mana?" tanya Fabian.
Syanum menoleh ke arah Fabian.
"Aku mau pulanglah. Bukannya Tuan muda nggak suka aku ada di sini. Lalu, untuk apa aku ada di sini. Tuan muda aja nggak mau nerima makanan dari aku," ucap Syanum tampak sedih.
Fabian mendekat ke arah Syanum berdiri.
"Siapa yang bilang aku nolak makanan kamu. Aku nggak bilang begitu kok. Sini makanannya!" Fabian meraih rantang yang ada di tangan Syanum.
Setelah itu dia membawanya dan meletakkannya di atas meja.
Fabian tahu kalau masakan Syanum itu enak. Karena dia sering sekali melihat Syanum memasak di dapur bersama Mbak Asih. Dan Fabian tidak mungkin menyia-nyiakan makanan itu.
Fabian duduk di sofa. Dia kemudian membuka rantang yang berisi makanan masakan Syanum.
'Hem, aku tahu, masakan Syanum itu enak. Dia itu memang jago masak. Sayang sekali kalau makanan ini mau diberikan untuk satpam depan. Aku juga lagi lapar banget. Mau makan di luar lagi malas,' batin Fabian.
Tanpa banyak basa-basi, Fabian kemudian makan. Dia makan tanpa menggunakan sendok. Fabian tampak lahap sekali makannya. Dia makan, tanpa lagi memperdulikan Syanum yang masih berdiri di depannya.
'Duh, suamiku makannya kok lahap banget. Apa mungkin dia itu lagi lapar banget," batin Syanum.
Sebenarnya Syanum juga lapar. Karena sebelum ke kantor dia lupa untuk makan dulu.
"Lapar banget ya Tuan muda?" tanya Syanum.
"Kenapa kamu masih berdiri di situ? nggak pegal tuh kaki?" tanya Fabian di sela-sela kunyahannya.
Syanum menggeleng.
"Nggak."
Tiba-tiba saja, cacing yang ada di perut Syanum berbunyi. Membuat Fabian menghentikan makan dan menatapnya.
"Kamu udah makan?"
Syanum menggeleng.
" Jadi kamu belum makan? terus kamu lapar? apa kamu makan bersamaku?" tanya Fabian. Sepertinya dia iba juga saat melihat istrinya.
"Emang boleh aku makan bersama Tuan muda?"
"Duduk saja di sini!" Fabian menepuk sofa yang ada di sampingnya duduk.
Dengan takut-takut, Syanum melangkah ke arah Fabian dan duduk di sisinya.
Syanum masih terdiam.
"Kenapa diam? ambil aja. Kita makan bareng. Yah, walaupun cuma tinggal sedikit sih."
Syanum tersenyum.
"Aku senang lihat Tuan muda lahap makan. Masakan aku enak kan Tuan muda?"
Fabian menghentikan kunyahannya. Dia kemudian menatap Syanum.
"Lebih enak masakan Mbak Asih. Masakan kamu rasanya biasa aja. Sama masakan Kak Dila dan Mama aja, rasanya masih enak masakan mereka."
Syanum hanya bisa menghela nafas dalam menghadapi sikap suaminya. Dia benar-benar kesal dengan sikap suaminya.
__ADS_1
"Kalau masakan aku nggak enak. Lalu, kenapa kamu makan sampai habis," ucap Syanum.
"Karena aku lagi lapar. Dan nggak ada pilihan lagi. Jadi terpaksa aku makan masakan kamu yang rasanya biasa aja. Tapi aku nggak bilang masakan kamu itu nggak enak lho."
Fabian terkejut saat tiba-tiba saja Syanum membereskan semua rantangnya.
"Lho. Kok diberesin. Kamu mau ke mana?" tanya Fabian.
"Aku mau pulang. Kamu udah kan makannya?"
"Katanya kamu mau makan di sini bersamaku."
Syanum menatap tajam suaminya.
"Maaf. Aku jadi nggak lapar. Dan aku nggak selera makan di samping kamu," ucap Syanum dengan ketus.
Setelah membereskan semua makanan yang ada di atas meja, tanpa banyak basa-basi lagi, Syanum kemudian pergi meninggalkan ruangan Fabian.
Fabian mengernyitkan alisnya bingung.
"Kenapa dia itu, kok main pergi aja begitu. Dasar cewek aneh."
Syanum melangkah pergi ke luar dari kantor. Dia melangkah ke arah parkiran. Dia melihat ayahnya sedang ngobrol dengan dua orang satpam.
"Ayah ternyata sudah kembali," ucap Syanum.
Syanum kemudian buru-buru melangkah ke arah ayahnya.
"Ayah," ucap Syanum.
"Syanum. Kamu ada di sini?" tanya Pak Herman.
"Iya ayah. Aku dari ruangan suamiku."
"Kamu dari ruangan Fabian?"
Syanum mengangguk.
"Non Syanum bawa apa?" tanya Hendro salah satu satpam yang ada di samping Pak Herman.
"Ini rantang kosong. Isinya sudah di makan Tuan muda."
Pak Hendro mengernyitkan alisnya bingung.Dia bingung dengan panggilan Syanum pada Fabian.
"Em, maksud aku. Makanan ini sudah aku habiskan bersama Pak Fabian," jelas Syanum.
"Oh."
"Tapi, aku bawa lagi kok. Untuk ayah sama papa."
"Syanum. Ayah dan papa mertua kamu sudah makan. Jadi, kamu bawa pulang aja makanannya ya."
"Yah sayang banget."
"Buat saya aja Non. Nanti saya bawa pulang deh makanannya, kalau lebih. Masakan Non Syanum kan enak. Sayang kalau di buang-buang."
"Pak Hendro mau? baiklah nanti aku ambilkan."
Syanum kemudian mengambil rantang yang masih berada di ranjang sepedanya. Setelah itu dia kembali ke arah Pak Hendro dan ayahnya dan menyerahkan makanan itu untuk Pak Hendro.
__ADS_1