
Fabian diam. Dia mulai berfikir.
'Apakah benar, apa yang di bilang Syanum. Apakah aku udah egois?'
Fabian tiba-tiba saja melepaskan tangan istrinya. Syanum buru-buru melangkah pergi meninggalkan suaminya. Dia naik taksi dan meluncur pergi dengan taksi itu.
Sementara Fabian masih berdiri mematung.
'Syanum. Andai kamu tahu, kalau aku sudah mulai rindu sama kamu. Andai kamu tahu, kalau aku sudah mulai sayang dan cinta sama kamu. Aku ingin kita bersama lagi Syanum. Aku ingin hidup sama kamu, dan menua bersama mu. Aku ingin memulai hidup baru bersama kamu dan anak-anak kita. Tapi kenapa, kamu menginginkan kita bercerai. Tidak terbersit sedikitpun di fikiran aku untuk bercerai dari kamu Syanum."
Setetes air mata Fabian terjatuh dari pelupuk matanya. Fabian buru-buru mengusapnya kasar. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan apotik dan menuju ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
Fabian masuk ke dalam mobil dan lekas meluncur untuk menuju ke kantornya.
Sesampai di kantor, Fabian turun dari mobilnya. Setelah itu, dia masuk ke dalam ruangannya dan duduk di sana.
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Fabian mengejutkan Fabian dari lamunannya.
"Aira. Mau ngapain dia nelpon aku," gumam Fabian.
Fabian mengangkat telpon dari Aira.
"Halo Bi."
"Halo Ra. Ada apa? kenapa kamu nelpon?"
"Bi. Aku mau izin dari kantor Bi. Aku nggak bisa berangkat ke kantor."
"Kenapa Ra? kamu lagi sakit?"
"Nggak Bi. Aku lagi mau ngurus pemakaman Om Riko dulu."
"Apa! jadi Om Riko meninggal? kapan Ra?"
"Tadi malam Bi. Dan sekarang jenasahnya sudah di pulangkan ke rumah duka."
"Inalilahi wa Inna ilaihi raji'un. Jadi Om Riko meninggal."
"Iya Bi."
"Ya udah Ra. Nanti kalau sempat, aku datang ke pemakaman ayahnya Mentari."
"Iya Bi. Makasih ya."
"Iya."
__ADS_1
Fabian menundukam kepalanya. Dia hanya bisa mengurut keningnya.
"Kasihan Mentari. Aku nggak nyangka, kalau Om Riko, akan meninggal secepat itu. Aku harus ke pemakaman Om Riko nanti siang."
****
Syanum turun dari taksi. Setelah itu dia melangkah masuk ke dalam rumah Luna. Dia berlari sampai ke kamarnya.
"Hiks...hiks... kenapa aku harus ketemu Mas Fabian. Kenapa...!" ucap Syanum di tengah-tengah tangisannya.
Sejak tadi Syanum masih menangis di kamarnya. Membuat Luna penasaran dengan apa yang terjadi dengan Syanum.
Luna melangkah menghampiri Syanum yang ada di kamarnya.
"Kak Syanum. Kamu nangis? kamu kenapa?" Luna mendekat ke arah Syanum.
Dia kemudian duduk di dekat Syanum.
"Ada apa Kak?" Luna menatap lekat wajah Syanum
Syanum mengusap air matanya. Dia kemudian menatap Luna.
"Tadi aku ketemu sama Fabian," ucap Syanum menjelaskan.
Luna membelalakkan matanya.
"Dia nyuruh aku pulang Lun," jawab Syanum.
"Terus kakak bilang apa?" Luna sudah mulai serius.
"Aku bilang sama dia, kalau aku nggak mau pulang. Dan aku bilang sama dia, kalau aku mau gugat cerai dia."
"Apa! kakak bilang kayak gitu ke Kak Abi? kakak yakin untuk cerai dari Kak Abi."
"Aku yakin Lun."
"Kakak nggak mau fikir ulang lagi Kak? Kakak emang udah yakin, dan udah mantap ingin cerai dari Kak Abi. Kenapa kakak nggak kasih kesempatan ke dua untuk Kak Abi?" Sebenarnya Luna menyayangkan Syanum cerai dengan Fabian.
"Sudah terlalu sakit hati aku Lun. Aku memang ingin cerai dari dia," ucap Syanum..
'Duh. Aku fikir, itu cuma ancaman Kak Syanum saja untuk Kak Abi. Tapi ternyata, Kak Syanum benar-benar ingin cerai dari Kak Abi. Aku harus bagaimana ini. Aku sebenarnya nggak ingin Kak Abi cerai dari Kak Syanum. Kalau masih ada cara untuk memperbaiki hubungan mereka, kenapa harus ada perceraian di antara mereka' batin Luna.
"Ya udah Kak. Terserah kakak aja. Tapi, kenapa kakak malah nangis?"
"Aku cuma kesal aja Lun. Masak dia memaksa aku untuk ikut dia. Dan dia peluk aku lagi di depan umum," Syanum menuturkan membuat Luna terkejut.
"Apa! Kak Abi melakukan hal itu? dia peluk Kak Syanum? terus dia cium Kak Syanum nggak?" tanya Luna.
__ADS_1
"Apaan sih Lun. Kok jadi ke situ-situ sih fikiran kamu. Aku itu malu Lun di lihatin orang-orang."
' Wah, ini bisa jadi awal yang bagus dong untuk hubungan mereka. Jangan-jangan, Kak Abi sudah mulai cinta lagi sama Kak Syanum. Aku tahu, kalau Kak Abi itu bukan tipe cowok yang suka pamer kemesraan di depan umum.'
"Kak Syanum tahu nggak? kalau Kak Abi itu tipe cowok yang cuek banget saat di depan umum. Setahu aku ya, waktu dia pacaran sama Kak Mentari, dia belum pernah tuh, pelukan di depan umum. Kalau dia udah berani meluk kakak di depan umum, jangan-jangan dia udah mulai cinta lagi sama Kak Syanum."
Syanum menghela nafas dalam.
'Kenapa sih Luna harus nyebut nama Mentari di depan aku. Membuat aku nggak nyaman aja. Tapi, nggak. Aku nggak boleh cemburu. Aku kan lagi belajar untuk melupakan Fabian.'
"Maksud kamu apa ya Lun?"
"Em, maksud aku, kak Fabian itu tidak mau kehilangan Kak Syanum."
"Nggak mungkin Lun. Dia itu cuma cinta sama Mentari. Aku yakin kok. Dia mau bertahan dengan aku, bukan karena cinta. Tapi karena anak ini. Dia kasihan dengan anak yang ada di dalam kandungan aku."
"Ya udah deh. Kenapa kita harus bahas Kak Abi sih. Mana obat untuk aku?" tanya Luna
"Oh iya aku sampai lupa Lun."
Syanum mengambil obat yang ada di tas kecilnya. Setelah itu dia memberikannya ke Luna.
"Makasih ya Kak."
"Iya."
****
Suasana di pemakaman siang ini begitu sangat ramai. Fabian masih menatap dari kejauhan prosesi pemakaman Pak Riko.
Mentari masih menangis di pelukan Bu Novi. Sementara Dani, Mentari titipkan ke tetangga dekat rumahnya.
"Sabar ya sayang. Semua ini sudah takdir," ucap Bu Novi sembari menepuk-nepuk bahu Mentari.
Setelah selesai, semua orang pamit untuk pulang. Tinggal Mentari, Aira dan Bu Novi yang ada di pemakaman saat ini.
Fabian melangkah mendekat ke arah ke tiga orang itu.
"Mentari," ucap Fabian. Dia mendekat ke arah Mentari.
Bu Novi dan Aira saling menatap. Begitu juga Mentari yang terkejut saat melihat kedatangan Fabian.
"Abi. Hiks...hiks..."
Bu Novi dan Aira terkejut, saat tiba-tiba saja mereka melihat Mentari memeluk Fabian dengan erat.
"Abi. Papa aku Abi. Papa aku sudah meninggal."
__ADS_1
Fabian bingung saat mendapat pelukan dari Mentari. Dia bingung untuk membalas pelukan itu. Karena di depannya ada Bu Novi dan Aira. Fabian benar-benar tidak enak.