Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Prematur


__ADS_3

Fabian menghampiri Luna yang saat ini masih duduk di depan ruang persalinan.


"Luna. Bagaimana kondisi Syanum?" tanya Fabian yang sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.


Luna bangkit berdiri.


"Kak Abi. Aku fikir Kak Abi nggak mau datang ke sini," ucap Luna yang membuat Fabian menatapnya tajam.


"Apa! sempit sekali pemikiran kamu Lun. Aku bela-belain datang ke sini dengan membawa baju-baju Syanum dan baju bayi hanya untuk Syanum."


Luna menatap tas yang ada di tangan Fabian.


"Rupanya, Kakak mau latihan jadi suami siaga?" ucap Luna.


Dia masih bersikap sinis pada Fabian. Setiap kali melihat Fabian, entah kenapa emosi Luna seakan-akan ingin meledak. Dia masih saja teringat dengan kejadian-kejadian beberapa bulan yang lalu.


Sebenarnya Luna masih geram aja sama Fabian dan keegoisannya.


Fabian mengepalkan tangannya geram. Dia kemudian melangkah mendekat ke arah Luna. Tiba-tiba saja Fabian sudah mengangkat dagu Luna dengan salah satu jarinya.


"Kamu rupanya mau macam-macam sama aku? jadi selama ini kamu yang sudah menyembunyikan Syanum dari aku? selama ini, kamu pura-pura tidak tahu keberadaan Syanum. Padahal kamu tau, kalau Syanum itu ada di rumah kamu."


"A-aku, tidak pernah menyembunyikan Kak Syanum Kak. Kak Syanum sendiri yang tidak memperbolehkan aku untuk cerita sama kakak kalau dia ada di rumah aku. Sumpah deh Kak." Tampaknya Luna sudah mulai ketakutan dengan tatapan nanar Fabian.


Fabian menurunkan tangannya. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya duduk di depan ruang persalinan.


"Maafkan aku ya Kak. Kalau aku, sudah menyembunyikan Kak Syanum. Aku cuma nggak mau, Kak Syanum sedih aja, karena dia selalu kefikiran Kak Fabian terus."


Fabian menatap lekat ke arah Luna.


"Maksud kamu apa heh!"


"Kak. Aku tahu, Kak Fabian itu belum bisa move on dari Mentari. Aku tahu kalau Kak Fabian itu masih mencintai Mentari. Makanya aku sebagai seorang perempuan, juga merasa terpukul melihat Kak Syanum. Dia seperti tidak pernah mendapat keadilan dari Kak Fabian. Karena fikiran Kak Fabian itu, tertuju hanya untuk Mentari."


"Kamu itu sok tahu Lun. Kamu sama saja seperti kakak kamu. Si Ryan itu. Kalian berdua kakak beradik, sama saja. Sama-sama sok tahu. Kamu nggak tahu perasaan aku yang sebenarnya Luna. Jadi jangan sok tahu!" ucap Fabian dengan nada tinggi.


'Ih, benar-benar menyebalkan Kak Fabian. Sebenarnya dia itu lelaki yang egois dan nggak mau disalahkan. Dia juga yang sudah membuat Kak Syanum terluka. Tapi malah menyalahkan aku dan Kak Ryan. Dan dia bilang kami sok tahu.' batin Luna.


Oek...oek..oek...


Suara tangis bayi dari dalam ruang persalinan terdengar. Fabian dan Luna saling menatap.


"Kak. Itu sepertinya bayi Kak Syanum udah lahir deh."


"Alhamdulillah. Bayi aku sudah lahir," ucap Fabian.


Dia tampak bahagia saat mendengar suara tangis anaknya.

__ADS_1


"Kamu sudah bawa perlengkapan Syanum Lun?" tanya Fabian.


"Sudah Kak"jawab Luna.


"Aku juga bawa nih. Ada baju-baju bayi juga."


Luna menatap ke arah Fabian.


"Baju bayi? baju bayi punya siapa? punyanya Dimas waktu dia bayi?" tanya Luna.


"Apa! enak aja kamu bilang. Ini tuh baju bayi yang sudah aku persiapkan beberapa minggu yang lalu. Aku beli khusus untuk anak aku."


"Tumben perhatian."


"Apa kamu bilang? tumben? aku sudah perhatian sejak dulu Lun. Sejak anak aku, masih ada di dalam kandungan Syanum."


"Iya deh iya."


'Sekarang aja dia mau perhatian. Dari mana aja dia sejak dulu. Waktu Kak Syanum ngidam dia nggak pernah ada di sampingnya. Malah Kak Ryan yang ada di samping Syanum.' batin Luna.


Beberapa saat kemudian, seorang suster ke luar dari ruangan persalinan.Fabian dan Luna buru-buru mendekat ke arah suster itu.


"Suster. Bagaimana dengan kondisi istri saya?" tanya Fabian.


"Anda suaminya?"


"Iya Sus. Saya suaminya."


"Jadi benar, kalau bayi Kak Syanum itu laki-laki?" ucap Luna.


Suster hanya mengangguk.


"Sus. Boleh saya bertemu istri saya?" tanya Fabian. Nampaknya dia sudah ingin bertemu dengan isrtinya. Dia sangat merindukan istrinya itu. Lama sekali Fabian tidak bertemu Syanum.


"Maaf Pak. Untuk saat ini, bapak tidak bisa masuk dulu ke dalam. Karena kondisi Bu Syanum juga masih pingsan. Dia pendarahan dan harus kehilangan banyak darah. Dan bayi anda juga lahir prematur. Jadi, kami harus memberikan dia perawatan secara intensif."


"Apa! sekarang istri saya pingsan? dan anak saya lahir kurang bulan. Terus mereka masih bisa diselamatkan kan Sus?"


"Bapak tenang saja. Dokter akan memberikan penanganan yang terbaik untuk Bu Syanum dan bayi anda. Untuk sementara, bayi anda ada di inkubator. Dan anda bisa melihat dari jauh bayi anda yang ada di ruangan bayi."


"Oh. Iya Sus.Lakukan yang terbaik untuk istri dan bayi saya Sus."


"Iya. Kami para medis, akan melakukan penanganan yang terbaik untuk Bu Syanum dan bayi anda."


"Makasih ya Sus."


"Iya. Kalau begitu, saya permisi dulu."

__ADS_1


"Iya Sus."


Suter kemudian pergi meninggalkan ruang persalinan. Sementara Fabian dan Luna kembali duduk.


Bayi aku, lahir prematur. Aku nggak bisa melihat detik-detik perjuangan istriku saat melahirkan. Padahal aku ingin sekali ada di samping Syanum. Aku kangen banget sama Syanum. Aku ingin banget meluk dia dan mencium dia. Aku juga pengin segera menggendong bayi aku.'


"Kak. Kenapa malah bengong. Bukannya berdoa malah ngelamun."


"Apaan sih Lun. Dari tadi aku lihat kamu sinis banget sama aku. Punya dendam apa kamu ke aku Lun?" tanya Fabian menatap tajam ke arah Luna.


Luna diam.


"Kalau kamu tidak suka aku ada di sini, kenapa tadi kamu telpon aku," lanjut Fabian.


"Siapa juga yang nggak suka Kak Abi ada di sini. Sudah kewajiban Kak Abi sebagai seorang suami menemani istrinya melahirkan," ucap Luna.


"Iya. Aku tahu itu Lun."


Ring ring ring...


Ponsel Fabian tiba-tiba saja berdering. Fabian buru-buru mengangkat telponnya.


"Halo Mbak."


"Tuan muda. Mbak nggak bisa tidur semalaman. Mikirin Non Syanum. Bagaimana dengan Non Syanum. Apa bayinya sudah lahir?"


"Alhamdulillah sudah Mbak. Dan bayinya laki-laki."


"Alhamdulillah. Terus, bagaimana kondisi Non Syanum?"


"Syanum masing pingsan karena kehilangan banyak darah. Dan bayinya masih ada di ruangan bayi. Dia masih harus berada di inkubator, karena bayi aku lahir prematur."


"Oh. Jadi Non Syanum itu melahirkan bayinya prematur? dan dia masih pingsan karena pendarahan?"


"Iya Mbak."


"Ya udah. Mbak nggak bisa ke sana Tuan muda. Tolong titip salam buat Non Syanum aja ya. Mbak bantu doa dari sini."


"Iya Mbak. Tolong nanti bilang ke mama dan Kak Dila. Suruh dia datang ke sini."


"Iya Tuan muda."


"Ya udah. Aku tutup dulu ya telponnya Mbak."


"Iya."


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alakiumsalam."


Fabian kemudian menutup saluran teleponnya.


__ADS_2