Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Pertemuan Mentari dengan Syanum


__ADS_3

Setelah mandi, Mentari ganti baju dan bersiap-siap. Dia akan mengantarkan bayinya dan Bu Novi ke rumah sakit.


Mentari ke luar dari kamarnya dan melangkah ke ruang tengah. Di sana sudah ada Bu Novi yang masih menggendong Dani.


"Ayo Tan! tunggu apa lagi. Katanya mau ke rumah sakit," ucap Mentari.


Bu Novi bangkit berdiri. Dia kemudian menatap Mentari. Mentari tampak sudah rapi.


"Kamu yakin, mau ngantar Tante pergi ke rumah sakit?" tanya Bu Novi.


"Yakinlah Tan."


Bu Novi bangkit berdiri.


"Tante mau ambil tas Tante dulu. Nih, kamu gendong dulu anak kamu."


Bu Novi menyerahkan Dani pada Mentari. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan Mentari.


Beberapa saat kemudian, Bu Novi menghampiri Mentari.


"Kita mau naik apa Mentari?" tanya Bu Novi.


"Ada mobil kan di depan?" tanya Mentari.


"Iya. Ada. Mobilnya Aira," jawab Bu Novi.


"Aira ke kantor nggak naik mobil Tan?"


"Nggak. Dia naik taksi."


"Ya udah. Kita naik mobil aja. Biar aku yang nyetir."


Mentari menyerahkan Dani pada Bu Novi. Setelah itu mereka melangkah pergi meninggalkan rumah. Mentari dan Bu Novi kemudian meluncur pergi ke rumah sakit.


Sesampai di rumah sakit, Mentari memarkirkan mobilnya di tempat parkiran mobil.


"Turun Tan!" pinta Mentari.


Mentari dan Bu Novi kemudian turun dari mobilnya. Mereka kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit.


Pandangan Mentari terpaku pada sosok Dila dan Bu Reva yang ke luar meninggalkan rumah sakit.


'Tante Reva dan Kak Dila kok ada di rumah sakit. Siapa yang sakit ya. Apa Om Damar sakit? atau Fabian yang sakit. Aku jadi penasaran'


"Tari...! ayo Tar...! lelet sekali kamu jalannya...!" seru Bu Novi.


"Iya Tan."


Setelah memeriksakan Dani ke dokter, Mentari dan Bu Novi kemudian ke luar dari ruang pemeriksaan. Mereka melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Mentari tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Dia kemudian menatap Bu Novi.


"Tan."


"Ada apa? kenapa berhenti di sini?" tanya Bu Novi.


"Tante tunggu di mobil dulu ya. Aku mau ke toilet sebentar. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku kebelet Tan."


"Ya udah. Jangan lama-lama ya."


"Iya Tan."


Bu Novi kemudian melangkah ke tempat parkir dan masuk ke dalam mobil. Sementara Mentari yang tadi izin ke toilet, dia tidak benar-benar ke toilet. Tapi dia melangkah ke arah di mana tadi dia melihat Bu Reva dan Dila.


"Aku yakin, pasti salah satu dari keluarga Abi, ada yang di rawat di sini."


Mentari menghentikan langkahnya setelah dia berada di depan ruangan Syanum.


Mentari mengintip dari balik pintu. Dia terkejut saat melihat Syanum.


"Bukankah itu Syanum. Itu kan istrinya Abi. Dia lagi sendiri? jadi ternyata dia sudah melahirkan. Aku akan gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Aku akan bikin Syanum cemburu dan akhirnya membenci Abi."


Mentari buru-buru melangkah masuk ke dalam ruangan Syanum.


"Syanum. Apa kabar Syanum?" basa-basi Mentari saat masuk ke dalam ruangan Syanum.


Syanum terkejut saat melihat Mentari. Mantan pacar suaminya yang tiba-tiba datang tanpa ketuk pintu terlebih dahulu.


"Nggak ada bedanya sama kamu. Wanita yang tidak tahu malu, masuk ke dalam kehidupan kekasihku. Tanpa izin dariku."


"Apa maksud kamu?"


"Kamu sudah merebut Fabian dari ku. Seharusnya Fabian sekarang sudah bahagia denganku. Dia sudah menikah dan punya anak denganku."


"Apa! merebut kamu bilang? kamu bilang aku merebut? kamu salah Mentari. Bukan aku yang merebut Fabian. Tapi kamu sendiri yang sudah meninggalkan dia waktu pernikahan kalian."


"Itu sih cuma alasan klasik yang udah basi. Udah biasa aku dengar. Pasti semua orang akan menyalahkan aku. Padahal aku adalah korban."


"Korban? korban apa Mentari?"


Mentari diam. Tiba-tiba saja Mentari menangis. Entah drama apa yang akan dia mainkan saat ini di depan Syanum.


"Aku meninggalkan Fabian karena suatu alasan. Sebenarnya aku juga tidak ingin meninggalkan Fabian. Karena aku cinta sama dia. Awalnya aku pergi, juga karena aku tidak mau mengecewakan Fabian. Aku juga yakin, kalau Fabian saat ini, juga masih sangat mencintai aku Syanum," ucap Mentari.


"Kamu yakin kalau Fabian masih sangat mencintai kamu? kalau kalian masih saling mencintai, kenapa kalian tidak nikah saja."


"Bagaimana mungkin aku akan nikah. Sementara kamu aja masih ada di dalam kehidupan Fabian."


"Kamu tenang aja. Sebentar lagi kami juga akan bercerai."

__ADS_1


Mentari mengusap air matanya. dia kemudian menatap Syanum lekat.


"Kamu yakin Fabian mau menceraikan kamu?"


"Bukan Fabian yang akan menceraikan aku. Tapi aku yang akan menggugat cerai dia. Aku akan kembali ke kampung."


"Bagus deh kalau kamu sadar diri. Kamu itu orang kampung. Sudah seharusnya kamu itu berada di kampung. Dan wanita kampung sepertimu itu sangat jauh perbedaannya dengan Fabian. Tidak pantas bersanding dengan Fabian lelaki yang menurutku, sangat sempurna. Karena cuma aku wanita yang pantas untuknya."


"Iya. Silahkan saja ambil Fabian dariku. Aku juga nggak butuh sama Fabian kamu itu."


"Yah, seharusnya kamu itu sudah dari dulu pergi. Harusnya dari dulu kamu itu sudah sadar diri. Dan seharusnya kamu itu tidak usah punya anak dari Fabian!" ucap Mentari dengan nada tinggi.


Jari telunjuknya sudah menunjuk-nunjuk ke arah Syanum. Benar-benar membuat Syanum kesal dan muak saat melihatnya.


Seandainya Syanum sehat dan tidak dalam keadaan sakit. Ingin sekali rasanya Syanum untuk membungkam mulut Mentari yang ucapannya selalu pahit bak empedu.


Ingin rasanya Syanum mencakar-cakar wajah Mentari yang sok cantik itu


"Kalau soal anak, itu sudah takdir Mentari. Kalau Allah sudah menghendaki, semuanya bisa terjadi."


"Iya. Aku tahu itu. Makanya jauh-jauh lah dari Fabian. Cepat-cepat saja urus perpisahan kalian. Percuma kamu mengemis cinta pada Fabian. Karena dia itu cinta mati sama aku. Buktinya, kemarin aja, dia bela-belain menemani aku di rumah sakit saat aku melahirkan. Apa namanya kalau bukan cinta."


Deg.


Syanum terkejut saat mendengar ucapan terakhir Mentari.


"Apa! Fabian menemani kamu lahiran?"


"Iya. Kenapa? kamu cemburu? aku tahu Syanum. Fabian itu tidak cinta sama kamu. Dia cuma cinta sama aku. Buktinya, kamu lahiran aja dia tidak datang ke sini. Dan dia malah pergi. Dia nggak pernah perduli sama kamu."


Syanum tahu, perdebatan dengan Mentari tidak akan pernah usai. Karena semakin Syanum meladeni wanita itu, Mentari akan semakin merendahkan dia dan dia akan berbuat semakin gila saja. Karena Mentari tahu, kalau sekarang Fabian tidak menginginkan dia lagi.


Mentari sengaja membuat hati Syanum semakin panas agar Syanum semakin membenci Fabian.


Mentari akan sangat bahagia seandainya Fabian dan Syanum bercerai. Karena Mentari masih punya kesempatan untuk mendekati Fabian lagi.


"Mentari. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini Mentari! Nggak usah kamu bicara macam-macam di depan aku. Karena pembicaraan kita itu tidak ada manfaatnya. Aku nggak mau buang-buang waktu dan tenaga untuk meladeni kamu."


Mentari masih berdiri di sisi Syanum. Dia belum mau beranjak pergi dari ruangan Syanum.


"Mentari aku mohon Mentari. Pergi kamu dari sini...! pergi ...!"


Syanum sudah mulai kesal dengan Mentari. Sejak tadi Mentari sudah membuat hatinya tidak nyaman.


"Baik. Aku akan pergi dari sini. Aku cuma mau ingatkan aja sama kamu Syanum. Selamanya aku ini akan menjadi satu-satunya wanita yang ada di hati Fabian. Dan tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Apalagi wanita kampung seperti kamu."


"Aku bilang pergi kamu dari sini Mentari...!"


Syanum sudah meninggikan nada suaranya mengusir Mentari. Akhirnya Mentari melangkah pergi meninggalkan ruangan Syanum.

__ADS_1


Mentari terkejut saat ada yang mencekal tangannya dari belakang. Mentari buru-buru menoleh ke belakang. Mentari terkejut saat dibelakangnya berdiri, Fabian sudah menatapnya tajam.


"Apa yang sudah kamu bicarakan di dalam dengan istriku Mentari ..! kamu nggak bicara macam-macam kan hah..!" Fabian terlihat sangat kesal.


__ADS_2