
"Sekarang, antarkan saya untuk bertemu putri saya Nak Fadlan. Om sangat merindukan dia. Biar Om saja yang mengurus anak Om sendiri. Karena di rumah ini, Om sendirian dan kesepian tanpa kehadiran Mentari," ucap Pak Riko tiba-tiba.
"Mentari sekarang aman, dan dia ada di rumah Lisa tunangan saya," jelas Dokter Fadlan.
Pak Riko bangkit berdiri.
"Nak Fadlan. Saya akan siap-siap dulu. Saya akan ikut Nak Fadlan."
Fadlan hanya mengangguk. Setelah itu, Pak Riko melangkah pergi meninggalkan ruang tamu dan melangkah masuk ke dalam. Sementara sejak tadi, Fadlan masih menunggu Pak Riko di ruang tamu.
Beberapa saat kemudian, Pak Riko menghampiri Fadlan yang ada di ruang tamu. Pak Fadlan tampak sudah siap untuk pergi dengan Riko.
"Om, Om tidak usah bawa mobil sendiri. Om nanti naik mobil saya saja. Nanti saya akan antar Om dan Mentari pulang."
"Baiklah."
Fadlan dan Pak Riko kemudian melangkah ke luar rumah dan mereka masuk ke dalam mobil untuk meluncur ke rumah Lisa.
****
"Mentari. Kamu nggak kangen sama Papa kamu?" tanya Lisa yang sejak tadi masih duduk bersama Mentari di kamar.
Lisa dan Mentari saat ini memang tinggal satu kamar. Mereka tidur di tempat tidur yang sama. Semenjak kejadian beberapa minggu yang lalu, membawa Mentari ke rumahnya dan Lisa selalu menjadi teman curhat untuk Mentari. Dia selalu menjadi pendengar yang baik untuk Mentari. Dan sekarang, kejiwaan Mentari juga sudah mulai membaik. Dia tidak pernah lagi mengancam untuk bunuh diri ataupun melakukan aborsi.
"Sebenarnya aku juga kangen sih sama Papa aku Lis. Tapi aku belum siap ketemu sama Papa. Aku nggak mau Papa sampai syok kalau melihat perubahan tubuh dan perut aku," ucap Lisa.
"Kenapa kamu tidak bilang langsung aja ke Papa kamu tentang kondisi kehamilan kamu sekarang."
"Aku belum siap. Aku nggak mau Papa aku tahu dulu soal ini Lis."
"Tapi walau serapat apapun kamu menyimpan kehamilan kamu, suatu saat nanti, pasti papa kamu juga akan tahu."
"Iya. Aku tahu itu. Tapi aku belum siap ketemu Papa dengan kondisi aku yang sekarang."
"Aku yakin, Papa kamu juga pasti bisa menerima semua ini Mentari. Mau sampai kapan kamu bersembunyi terus di sini. Kasihan Papa kamu. Pasti sekarang dia sedang mencari-cari kamu."
Tok tok tok...
Di sela-sela Mentari dan Lisa ngobrol, tiba-tiba saja ketukan dari luar rumah Lisa terdengar.
"Tunggu sebentar ya. Aku buka pintu dulu," ucap Lisa.
Lisa bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
"Mama, ada apa?" tanya Lisa
"Lisa. Mana Mentari?" tanya Bu Ratih.
"Mentari ada di dalam," jawab Lisa.
"Lisa. Di depan ada ayahnya Mentari. Fadlan yang sudah membawanya ke sini."
"Oh iya."
"Sekarang, ajak Mentari ke luar. Biar dia ketemu sama ayahnya."
"Di mana mereka sekarang?"
"Sekarang mereka ada di ruang tamu."
"Baik Ma."
"Ya udah. Mama ke sana dulu ya."
Lisa mengangguk.
Bu Ratih kemudian pergi meninggalkan kamar Mentari. Sementara Lisa, melangkah masuk untuk menghampiri Mentari.
__ADS_1
"Mentari," ucap Lisa.
Mentari menatap Lisa.
"Ada apa Lis?" tanya Mentari.
"Ikut aku yuk!" ajak Lisa.
"Mau ke mana?"
"Ada Mas Fadlan di depan."
Mentari tersenyum. "Dokter Fadlan ke sini?"
"Iya."
Mentari bangkit dari duduknya. Setelah itu, dia menghampiri Lisa.
"Kita temui dia yuk!" ajak Lisa.
Mentari mengangguk. Lisa kemudian menggandeng Mentari untuk sampai ke ruang tamu.
Mentari terkejut, saat di ruang tamu, sudah tampak ayahnya ada di depan.
"Papa," ucap Mentari.
Pak Riko menatap anaknya. Anak perempuannya yang sudah tiga bulan menghilang tanpa kabar.
"Mentari," ucap Pak Fadlan.
Pak Fadlan bangkit berdiri. Setelah itu, Pak Fadlan melangkah ke arah Mentari. Dia kemudian buru-buru memeluk anak kesayangannya.
"Hiks...hiks ..papa..." Mentari menangis sesenggukan di pelukan ayahnya.
Mereka berdua menangis haru dalam pelukan.
Pak Riko menangkup wajah anaknya dan menatap lekat Mentari yang sejak tadi masih berderaian air mata.
Pak Riko merangkul Mentari dan melangkah ke arah sofa. Pak Riko kemudian mengajak Mentari duduk di sofa.
Mentari dan ayahnya kemudian duduk di sofa. Begitu juga dengan Lisa yang ikutan duduk di samping suaminya.
"Nak Fadlan, Nak Lisa, terima kasih banyak, karena selama ini kalian sudah mau menjaga putri saya dengan baik. Saya tidak tahu, bagaimana nasib putri saya seandainya tidak ada Nak Fadlan dan Nak Lisa. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan kalian berdua. Saya akan mengajak anak saya pulang ke rumah sekarang. Karena saya sendirian di rumah."
Mentari menatap ayahnya lekat.
"Pa, maafkan aku Pa. Aku sudah mengecewakan Papa. Aku tidak bisa jaga diri aku Pa. Dan sekarang...Hiks...hiks..."
Mentari sudah tidak sanggup berucap. Sepertinya dia ingin menjelaskan semua yang terjadi pada Pak Riko. Namun dia tidak sanggup. Sejak tadi dia hanya bisa menangis dan menangis.
Pak Riko menghapus air mata Mentari.
"Papa sudah tahu semuanya dari Nak Fadlan. Nak Fadlan sudah cerita semuanya sama papa. Kenapa kamu tidak cerita sama Papa Mentari tentang kondisi kamu. Kenapa kamu harus pergi meninggalkan rumah dan tidak mau menghubungi papa. Papa ini orang tua kamu Nak. Apapun kondisi kamu, Papa akan selalu sayang sama kamu dan mendukung kamu," ucap Pak Fadlan panjang lebar.
Mentari menghapus air matanya.
"Mentari. Lebih baik, sekarang kamu ikut Papa kamu pulang. Kasihan Papa kamu Mentari," ucap Fadlan.
"Iya. Aku akan ikut Papa pulang. Aku akan siap-siap dulu ya Pa," ucap Mentari sembari menatap lekat ayahnya.
Pak Riko mengangguk.
Mentari kemudian menatap Lisa.
"Lisa. Aku akan membereskan baju-baju aku. Aku akan ikut Papa aku pulang ke rumah."
Lisa tersenyum.
__ADS_1
"Aku bantuin kamu ya," ucap Lisa.
Mentari mengangguk. Setelah itu, mereka melangkah pergi ke kamar untuk beres-beres.
Mentari kemudian membereskan semua baju-bajunya dan dia kemudian memasukan baju-bajunya ke dalam tas baju.
Mentari kemudian menatap Lisa. Dia segera memeluk Lisa.
"Terimakasih untuk semua bantuan kamu Lisa," ucap Mentari.
Lisa melepaskan pelukannya. Setelah itu dia menatap Mentari.
"Mentari. Aku sekarang adalah sahabat kamu. Walaupun nanti kita sudah pisah rumah, kita akan tetap menjadi sahabat. Setelah kamu kembali ke rumah, kamu janji ya jangan lupakan aku."
Mentari tersenyum.
"Mana mungkin aku akan melupakan kamu dan semua kebaikan kamu Lisa. Kamu dan Fadlan adalah orang-orang yang baik. Semoga Tuhan, selalu membalas semua kebaikan kamu."
Lisa dan Mentari kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar. Mereka menuju ke arah ruang tamu. Mereka kemudian duduk berbaur bersama Fadlan dan Pak Riko.
"Mentari. Kamu sudah siap?" tanya Pak Riko.
Mentari mengangguk.
"Aku sudah siap Pa. Tapi aku mau izin dulu sama Tante Ratih dan Om Bandi."
"Oh. Iya Nak."
Mentari kemudian meminta izin pada ayah dan ibu Lisa. Setelah itu, mereka semua melangkah ke depan untuk mengantar Mentari dan Pak Riko.
"Bu Ratih, Pak Bandi, terimakasih untuk kebaikan kalian pada anak saya," ucap Pak Riko sebelum pergi meninggalkan rumah Lisa.
"Iya sama-sama Pak Riko," ucap Pak Bandi.
Bu Ratih hanya tersenyum. Dia tampak bahagia karena Mentari sudah bertemu ayahnya dan mau pulang ikut dengan ayahnya.
Mentari dan Pak Riko kemudian masuk ke dalam mobil Fadlan. Setelah itu mereka pergi meninggalkan rumah Lisa.
Fadlan menempuh perjalanan yang cukup lama untuk sampai ke rumah Pak Riko. Mungkin hampir memakan waktu setengah jam, dari rumah Lisa sampai ke rumah Pak Riko.
Mentari sejak tadi, masih bersandar di bahu ayahnya. Sementara Fadlan sejak tadi, masih sesekali menatap Mentari dan Pak Riko yang duduk di belakang.
Fadlan ikut bahagia melihat Mentari yang sudah bisa bertemu ayahnya dan berkumpul kembali dengan ayahnya.
Sesampai di depan rumah Pak Riko, Fadlan , Mentari, dan Pak Riko turun dari mobilnya.
"Nak Fadlan, tidak mau masuk dulu ke dalam?" tanya Pak Riko.
"Tidak usah Om. Udah malam. Lain kali saja ya Om mampirnya."
"Ya udah. Kalau begitu, Om masuk dulu ya. Ayo Mentari...!"
"Nanti Pa. Aku mau bicara dulu sama Dokter Fadlan."
"Silahkan!"
Pak Riko kemudian melangkah masuk ke dalam meninggalkan Mentari dan Fadlan..
"Dokter, makasih ya. Karena Dokter sudah mau mengantar aku pulang sampai ke rumah. Siapa yang memberi tahu Dokter rumah Papa aku?"
"Aku tahu dari surat kabar. Ayah kamu, mencari kamu lewat surat kabar di daftar pencarian orang hilang. Apakah kamu tidak merasa, kalau ayah kamu sayang sama kamu."
"Aku tahu itu Dokter. Makasih untuk semua bantuan kamu. Dan maafkan aku, jika aku selalu merepotkan kamu dan pernah berbuat salah sama kamu."
"Iya Mentari. Kamu tidur ya, sudah malam. Kalau ada apa-apa dengan kandungan kamu, kamu langsung telpon aku. Aku akan selalu siap membantu kamu."
"Iya Dokter."
__ADS_1