Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Bertemu Aira


__ADS_3

Pagi ini, Fabian sudah siap untuk berangkat ke kantor. Dia sudah tampak rapi dengan baju kantornya.


"Syanum...! Syanum...!" seru Fabian memanggil istrinya yang saat ini, masih berada di kamar mandi.


Syanum buru-buru melangkah menghampiri suaminya.


"Ada apa Tuan muda?" tanya Syanum.


"Di mana sepatu aku Syanum?"


"Sepatu kamu," Syanum menatap ke rak sepatu. Namun, tidak ada sepatu Fabian yang biasa Fabian pakai di sana.


"Ke mana sepatu kamu Tuan muda? biasanya ada di rak." Syanum menghampiri ke arah rak sepatu. Dia kemudian mengambil salah satu sepatu untuk Fabian pakai.


"Aku nggak mau sepatu yang itu. Aku mau sepatu yang kemarin Syanum."


"Tapi nggak ada Tuan. Dan aku nggak tahu sepatu kamu ada di mana."


"Sekarang kamu carikan sepatu aku yang ada di luar. Cepat...!"


"Iya."


Syanum kemudian melangkah untuk mencari sepatu suaminya. Beberapa saat kemudian, Syanum kembali ke kamarnya dan membawa sepatu suaminya.


"Ini sepatumu. Ada di bawah."


"Aku udah telat. Tolong pakaikan sepatu itu di kaki aku!" pinta Fabian.


"Apa," pekik Syanum.


Fabian menatap Syanum tajam.


"Kenapa? mau nolak? dosa lho, nolak perintah suami."


"Baiklah. Aku akan pakaikan sepatu kamu."


Syanum kemudian berjongkok dan memakaikan sepatu suaminya.


'Ih, benar-benar menyebalkan lelaki ini. Kenapa pakai sepatu saja harus aku yang memakaikan. Apa dia memang sengaja ngerjain aku aja,' batin Syanum.


Setelah selesai memakaikan sepatu untuk suaminya, Syanum kemudian bangkit berdiri. Setelah itu, dia menatap suaminya.


"Sudah selesai Tuan muda," ucap Syanum.


Fabian mengikuti Syanum berdiri. Setelah itu, dia melangkah pergi meninggalkan Syanum di kamarnya. Syanum hanya bisa menghela nafas dalam.


"Tuan muda, benar-benar sangat menyebalkan. Kapan penderitaan ini berakhir Tuhan," ucap Syanum.


Setelah itu, Syanum mengikuti suaminya turun ke bawah.


"Pagi Ma, Kak, mana Papa?" Fabian menarik kursinya dan duduk.


"Papa kamu sudah berangkat tadi. Kamu ngapain aja sih di kamar. Dari tadi di tungguin, nggak keluar-keluar," ucap Bu Reva.

__ADS_1


"Aku lagi siap-siaplah Ma." Fabian mengambil roti yang ada di atas meja makan. Setelah itu dia menyuapkan roti itu ke dalam mulutnya.


"Kenapa siap-siap lama sekali," gerutu Bu Reva.


"Ma, maklumlah Ma. Pengantin baru. Mama ini gimana sih. Namanya pengantin baru, kalau malam harus begadang, dan tidurnya juga sampai siang. Mama kayak nggak pernah muda aja sih," ucap Dila sembari cekikikan di dekat adiknya.


Fabian melotot ke arah Dila.


"Sok tahu," ucap Fabian di sela-sela kunyahannya.


"Ya udah. Kalian lanjutkan makan saja. Mama udah kenyang. Mama mau ke kamar dulu ya," ucap Bu Reva.


Bu Reva kemudian melangkah untuk pergi ke kamarnya. Sementara Dila, masih berada di ruang makan.


"Syanum ke mana?" tanya Dila.


Fabian mengedikan bahunya.


"Aku nggak tahu, dia ke mana. Tadi sih dia ada di atas. Mungkin dia masih di atas, atau sudah di dapur," jawab Fabian.


Beberapa saat kemudian, Syanum melangkah menghampiri Dila dan suaminya.


"Lho. Kok udah sepi. Ke mana Mama dan Papa?" tanya Syanum.


"Papa udah ke kantor duluan. Dan Mama tadi pergi ke kamar," jawab Dila.


"Syanum. Ayo sarapan dulu! kakak lihat, sejak tadi pagi, kamu belum sarapan."


"Nggak Kak. Syanum nggak lapar. Syanum mau beres-beres aja di dapur, bantuin Mbak Asih. Lagian, Syanum jenuh kalau nggak ngapa-ngapain."


"Ya udah. Terserah kamu saja."


Selesai makan, Dila kemudian melangkah ke arah kamarnya. Dila sudah tidak perlu kursi roda lagi, karena dia sudah sembuh. Namun, sampai saat ini Dila belum pernah tahu, kalau suaminya itu meninggal. Dan mertua Dila, juga mungkin masih sibuk, dan belum ada waktu untuk nengok Dila dan Dimas ke rumah.


Selesai makan roti dan minum satu gelas susu, tanpa berpamitan pada Syanum, Fabian melangkah pergi ke luar. Dia menuju ke garasi mobilnya untuk mengambil mobil.


Fabian masuk ke dalam mobilnya dan lekas meluncur meninggalkan rumah untuk sampai ke kantor.


Fabian masih mengendarai mobilnya di jalan raya. Dia sudah merasa enjoy kerja di kantor ayahnya selama beberapa hari ini. Karena ayahnya selalu memberikan banyak bonus selama Fabian kerja.


Pak Damar sebenarnya ingin melatih Fabian untuk menjadi seorang pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab. Selama Fabian masih menurut dengan Pak Damar, Pak Damar akan selalu memberikan apa yang Fabian minta. Termasuk mobil baru, handphone baru, dan fasilitas apa saja yang Fabian butuhkan.


"Lho...lho lho...mobilku," ucap Fabian yang merasakan mobilnya ada yang aneh.


Tiba-tiba saja, mobil Fabian berhenti mendadak.


"Ah, ini mobil. Pakai acara mogok lagi," gerutu Fabian sembari memukul setirnya.


Fabian kemudian buru-buru turun dari mobilnya. Fabian terkejut saat melihat ban mobilnya kempes.


"Duh, jangan-jangan bocor lagi ini mobil. Aku harus bagaimana ini."


Sejak tadi, Fabian masih mondar-mandir kebingungan. Biasanya Fabian selalu sama Pak Herman. Dan setiap ada sesuatu yang terjadi pada mobilnya, Pak Herman yang selalu menanganinya.

__ADS_1


"Hai..." sapa seorang wanita yang tiba-tiba saja sudah berada di sisi Fabian.


Fabian menatap wanita berkaca mata hitam dan berambut lurus yang ada di sisinya.


Wanita itu tersenyum.


"Fabian," ucap wanita itu.


Fabian mengernyitkan alisnya bingung.


"Kamu siapa? kok kamu bisa kenal sama aku?" tanya Fabian.


Wanita itu membuka kaca mata hitamnya. Dia kemudian tersenyum.


"Kamu masih ingat sama aku Bi? atau kamu sudah lupa sama aku?" tanya Aira.


"Kamu..."


Fabian mencoba mengingat siapa wanita yang ada di depannya.


"Em... siapa ya?" Fabian tampak masih berfikir.


"Aku Aira Bi. Sepupu Mentari. Teman masa SMP kamu. Masa kamu lupa sih. Aku jadi sedih deh, kamu lupa sama aku."


Fabian tersenyum. "Aira. Ya ampun, kamu jadi berubah banget tahu nggak. Kamu sekarang jadi semakin cantik. Tubuh kamu jadi seksi banget. Bahkan, sampai membuat aku pangling."


"Ah, Fabian. Bisa aja kamu. Kalau Mentari dengar kamu muji aku seperti itu, bisa marah dia sama kamu."


Fabian diam. Jika di singgung soal Mentari, Fabian jadi teringat kembali pada Mentari. Dia jadi merasa sedih.


"Aku udah nggak sama Mentari lagi sekarang."


"Lho. Kenapa Bi? maksud kamu apa? bukankah kamu udah nikah sama dia?" tanya Aira yang pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Fabian dan Mentari. Padahal dia sudah tahu semuanya dari ibunya.


"Ceritanya panjang Ra. Dan aku, belum bisa menceritakan semuanya sama kamu. Karena aku lagi buru-buru banget mau ke kantor. Tapi, mobil aku..." Fabian menunjukan ban kempesnya pada Aira.


"Lihatlah... ban aku bocor Ra."


"Ya ampun, kasihan banget kamu Bi. Kamu sekarang kerja? kerja di mana emang ?" tanya Aira.


"Aku kerja di kantor Papa aku Ra. Yah, cuma bantu-bantuin Papa aja sih."


"Wah, keren dong. Sebentar lagi, kamu pasti akan jadi direktur untuk gantiin Papa kamu Bi. Kamu juga jadi keren banget sekarang. Apa lagi, kamu pakai baju kantor seperti ini. Tambah ganteng aja. Pasti Mentari kalau lihat kamu seperti ini, akan tambah cinta sama kamu."


"Sudahlah, jangan bahas Mentari. Aku saja nggak tahu di mana dia berada sekarang. Karena dia kabur waktu pernikahan kita."


"Oh, benarkah itu Bi. Sebenarnya, aku juga udah tahu dari Mama aku soal itu. Jadi ternyata benar, kalau Mentari udah ninggalin kamu? aku ikut sedih Bi dengarnya. Yang aku tahu selama ini, Mentari itu cinta banget sama kamu. Tapi, kenapa dia bisa kabur ya."


"Entahlah. Aku tidak tahu kenapa dengan Mentari Ra.


Fabian sejak tadi, masih memperhatikan sosok wanita seksi yang ada di sampingnya.


Aira sekarang memang sangat jauh berbeda. Berbeda dari Aira yang dulu. Sebelum kuliah di luar negeri, Aira itu gemuk. Tapi sekarang, tubuhnya sudah langsing seperti model papan atas saja. Membuat Fabian jadi pangling dan sedikit terpesona saat melihat Aira.

__ADS_1


__ADS_2