Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Melahirkan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Malam ini, Syanum masih merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Sejak kemarin, dia hanya bisa mengurung diri di kamarnya.


"Ya Allah. Kenapa perut aku bisa sakit banget begini. Apa aku mau melahirkan. Tapi nggak mungkin aku mau melahirkan. Usia kandungan aku aja, baru menginjak delapan bulan. Kata dokter Anita, perkiraan kelahirannya masih bulan depan," ucap Syanum.


Sejak tadi dia masih membolak-balikkan tubuhnya. Rasanya tidak enak sekali. Sebenarnya rasa sakit itu sudah dia rasakan sejak kemarin. Namun dia tahan, karena dia tidak mau membuat Luna panik.


Syanum beringsut duduk. Dia kemudian bangkit berdiri. Syanum menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul. 23.00 .


"Aduh, perut aku sakit banget. Aku nggak kuat banget. Ayah...ibu... hiks...hiks..."


Syanum benar-benar tidak sanggup menahan rasa sakitnya. Dia menangis di kesendiriannya.


Syanum kemudian mengambil ponsel yang ada di atas tempat tidurnya. Dia kemudian menelpon Luna.


"Halo Lun."


"Halo Kak. Ada apa?"


"Kamu belum tidur Lun?"


"Belum Kak."


"Bisa kamu ke sini Lun? aku butuh bantuan kamu."


"Iya Kak."


Syanum menutup saluran telponnya.


Beberapa saat kemudian, Luna datang. Dia menghampiri Syanum yang tampak masih duduk di sisi ranjangnya.


"Ya ampun Kak Syanum. Kakak kenapa? kok kakak nangis?" tanya Luna.


"Perut aku sakit banget Lun. Aku benar-benar nggak kuat."


Syanum terkejut.


"Apa! kok kakak nggak pernah bilang ke aku."


"Sebenarnya sudah dari kemarin Lun perut aku sakit. Tapi aku tahan. Karena aku fikir, itu cuma sakit biasa. Bukan kontraksi. Tapi sepertinya ini aku benar-benar mau melahirkan deh."


"Apa! melahirkan? kan kehamilan Kakak baru delapan bulan."


"Nggak tahu Lun. Tapi aku nggak kuat lagi. Sakit banget."


Luna tampak panik. Dia benar-benar bingung. Waktu sudah larut malam. Sementara Ryan kakaknya, baru berangkat ke luar kota dengan Pak Damar tadi pagi.


'Duh. Gimana ini. Nggak ada laki-laki lagi yang mau menemani aku ke rumah sakit. Tapi kalau aku telpon Kak Abi, nanti Kak Syanum marah lagi sama aku. Kalau aku telpon Tante Reva dan Kak Dila, mereka pasti udah tidur.' batin Luna.


Luna membelalakkan matanya, saat melihat darah segera mengalir di kaki Syanum.


"Kakak. Benar apa kata Kakak. Kalau kakak itu mau lahiran. Kita harus ke rumah sakit sekarang Kak," ucap Luna.


Luna dengan sigap, langsung buru-buru menyiapkan keperluan melahirkan untuk Syanum.

__ADS_1


Setelah itu, dia memapah Syanum untuk ke luar dari rumah.


"Ayo Kak. Kakak harus kuat," ucap Luna yang sejak tadi masih memberikan semangat untuk Syanum.


Luna kemudian membuka pintu mobil.


"Masuk Kak. Kita harus segera ke rumah sakit."


"Iya."


Syanum masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Luna yang ikut masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur menuju ke rumah sakit.


Sesampai di parkiran rumah sakit, Luna turun dari mobilnya.


"Kakak. Kakak masih kuat jalan sampai ke dalam kan?" tanya Luna.


"Insya Allah kuat Lun."


Syanum turun dari mobilnya. Luna buru-buru memapahnya sampai ke dalam rumah sakit.


Dua orang suster, melangkah menghampiri Syanum dan Luna.


"Ada apa? ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu dari suster itu.


"Tolong. Tolong kakak saya suster. Sepertinya dia mau melahirkan."


"Oh. Tunggu di sini."


Salah satu suster, pergi untuk mengambil kursi roda. Beberapa saat kemudian, suster itu datang dengan membawa kursi roda. Setelah itu dia menyuruh Syanum untuk duduk di kursi roda. Mereka kemudian mendorong Syanum sampai di ruang persalinan.


"Oh. Iya Sus."


Ke dua orang suster itu, masuk dengan membawa Syanum ke dalam. Sementara Luna menunggu di luar ruangan.


Luna sejak tadi masih tampak cemas. Dia masih mondar-mandir di depan ruang persalinan.


Luna mencoba untuk menghubungi Bu Reva dan Kak Dila. Namun, tidak ada jawaban dari ke dua orang itu.


"Apa aku telpon Kak Abi aja ya. Kak Abi harus tahu kalau istrinya mau melahirkan. Aku nggak mau disalahkan oleh Kak Abi. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Kak Syanum," gumam Luna.


Luna kemudian menelpon nomer Fabian.


"Halo. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam. Kak Abi belum tidur?"


"Belum. Ada perlu apa? kenapa malam-malam nelepon?"


"Kak Abi. Gawat Kak."


"Gawat kenapa. Apanya yang gawat?"


"Aku sekarang lagi ada di rumah sakit. Kak Syanum mau melahirkan. Kak Abi mau ke sini kan temani aku?"


"Apa! kamu serius Lun?"

__ADS_1


"Iya Kak. Kakak sayang nggak sih, sama Kak Syanum dan anak kakak?"


"Iya iya. Aku akan segera ke sana. Kamu tunggu ya Lun."


"Iya Kak."


Luna mematikan saluran telponnya. Setelah itu dia duduk di depan ruang persalinan untuk menunggu Syanum melahirkan.


****


Fabian tampak panik saat mendengar kabar kalau istrinya mau melahirkan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang. Apa Luna sudah menyiapkan baju-baju bayi dan baju-baju Syanum ya."


Fabian kemudian melangkah ke arah lemari untuk mengambil kerpeluan untuk bayinya dan untuk istrinya. Tanpa butuh waktu lama lagi, Fabian melangkah ke luar dari kamarnya.


"Aku bangunin Mama dan Kak Dila, atau nggak usah ya," gumam Fabian.


"Nggak usah deh. Kasihan mereka kalau harus di bangunin. Aku kan suami Syanum. Aku yang harus tanggung jawab atas semuanya."


Fabian buru-buru melangkah ke depan. Dia ke luar dari rumahnya dan menuju ke garasi mobilnya.


Fabian masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


Di tengah-tengah perjalanan, Fabian menelpon salah satu pembantu rumahnya.


"Halo.."


"Mbak Asih. Tolong ya. Nanti kunci pintu depan. Aku lagi perjalanan menuju ke rumah sakit ini Mbak."


"Tuan muda pergi?"


"Iya. Tolong kunci semua pintu. Takut ada yang masuk."


"Tuan muda mau ngapain ke rumah sakit?"


"Oh iya. Tolong bilang ke Kak Dila dan Mama kalau mereka bangun. Aku ke rumah sakit. Sekarang Syanum ada di ruang sakit dan mau lahiran."


"Oh iya? jadi Non Syanum udah mau lahiran. Kok Tuan muda bisa tahu kalau Non Syanum mau lahiran? bukankah Tuan muda tidak tahu keberadaan Non Syanum sekarang."


"Syanum ada di rumah Luna Mbak. Dan aku sudah tahu semua."


"Oh. Jadi Non Syanum nggak pulang kampung ya. Dia masih ada sama Non Luna."


"Iya. Aku tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam. Mbak doakan semoga non Syanum di beri kelancaran ya dalam perjalanannya."


"Iya."


Fabian menutup saluran teleponnya.


Beberapa saat kemudian, Fabian sudah sampai di depan rumah sakit. Dia kemudian memarkirkan kendaraannya di parkiran mobil.


Fabian turun dari mobil dan membawa barang-barangnya masuk ke dalam rumah sakit. Dia kemudian buru-buru melangkah ke arah ruang persalinan.

__ADS_1


__ADS_2