Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kemarahan Fabian


__ADS_3

Malam ini, Syanum masih berada di sisi jendela kamarnya. Sejak tadi, dia masih menatap ke atas langit.


Di langit, bulan tampak bulat sempurna. Cahayanya memancar sampai ke bumi. Sejak tadi, Syanum masih menunggu suaminya pulang. Karena sampai malam, Fabian belum pulang ke rumah.


"Ke mana sih suami aku. Katanya dia mau nebus obat. Tapi dia malah pergi nggak jelas ke mana," gerutu Syanum.


"Apa aku telpon aja ya Mas Fabian. Tapi kalau aku telpon, nanti dia malah marah sama aku. Bilang ganggulah, inilah, itulah."


Syanum memutar tubuhnya dan melangkah untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang.


"Aku harus telpon Mas Fabian. Ke mana aja sih dia."


Syanum kemudian menekan nomer Fabian.


Tut..Tut..Tut..


Syanum benar-benar geram sama suaminya. Sejak tadi, ditelpon tidak pernah diangkat.


"Kemana sih Mas Fabian. Di angkat kek, sebentar. Selalu aja seperti ini."


*


Di sisi lain, Fabian masih berada di rumah Mentari. Dia tampak masih bercakap-cakap dengan Mentari. Fabian menepuk keningnya saat dia teringat dengan ponselnya.


"Kenapa Bi?"


"Ponsel aku, ternyata ketinggalan di mobil."


"Duh, gimana sih Bi."


"Aku ambil ponsel aku dulu ya."


Mentari mengangguk.


Fabian kemudian melangkah pergi ke depan untuk mengambil handphone yang ada di mobilnya. Setelah itu, dia masuk dan duduk kembali di ruang tamu rumah Mentari.


Fabian meletakkan ponselnya di atas meja, sebelum dia kembali bercakap-cakap dengan Mentari.


Ring ring ring...


Suara deringan ponsel Fabian kembali terdengar. Fabian tahu kalau telpon itu dari Syanum. Makanya dia sengaja tidak mau mengangkatnya.


'Syanum. Kenapa kamu harus nelpon sih.'


"Siapa Bi?" tanya Mentari.


"Istri aku."


"Kenapa di diamin aja. Kenapa nggak di angkat?"


"Biarin aja deh. Dia juga pasti akan tanya kenapa aku belum pulang dan di mana aku sekarang. Biarin ajalah. Sebentar lagi juga aku pulang."


Mentari merasa tidak enak sendiri. Karena sudah terlalu lama mengajak Fabian ngobrol, sampai Fabian lupa pulang. Padahal, waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Mereka keasyikan ngobrol sampai lupa waktu.


"Bi. Maaf ya, bukannya aku mau ngusir. Tapi, lebih baik kamu pulang sekarang deh Bi. Istri kamu pasti lagi nungguin kamu di rumah. Kasihan kan Bi."


Fabian menggeleng.

__ADS_1


"Aku belum ingin pulang. Aku masih ingin di sini Mentari."


"Bi. Sebenarnya aku nggak enak kalau dekat-dekat kamu Bi. Karena sekarang kamu itu sudah punya istri. Aku harap, kamu bisa menjaga hati istri kamu dengan jauhin aku."


Fabian meraih tangan Mentari dan menggenggamnya erat.


"Mentari. Walau sekarang kita bukan siapa-siapa lagi, tapi nggak apa-apa kan, kalau kita menjadi sahabat?"


"Nggak apa-apa sih Bi. Tapi, bagaimana dengan istri kamu? dia pasti cemburu kan kalau tahu aku dekat dengan kamu lagi."


"Nggak. Syanum nggak akan cemburu kok kalau kita dekat. Karena istri aku juga tidak pernah cinta sama aku."


"Kamu yakin, istri kamu nggak cinta sama kamu Bi?"


"Iya. Kita kan nikah karena terpaksa."


"Sudahlah Bi. Kamu pulang aja. Udah malam. Dan nggak enak, kalau ada tetangga lihat kamu. Kita itu kan sudah jadi mantan. Dan kamu sudah punya istri. Aku nggak mau jadi cibiran tetangga."


Ring ring ring...


Suara ponsel Fabian lagi-lagi berdering.


"Angkat Bi!"


Fabian akhirnya angkat juga telpon dari Syanum.


"Halo..."


"Halo Syanum."


"Halo Mas, kamu ada di mana sekarang? kenapa udah jam segini kamu belum pulang."


"Kamu udah beli vitamin aku?"


"Belum."


"Kenapa?"


"Nanti habis ini, aku mampir ke apotik. Ini juga aku udah mau pulang kok."


"Ya udah. Cepat pulang ya Mas."


"Iya Syanum."


Setelah mematikan saluran teleponnya, Fabian kemudian menatap Mentari.


"Mentari. Aku pulang dulu ya."


Mentari mengangguk.


Fabian dan Mentari bangkit dari duduknya. Setelah lama mereka ngobrol, sudah banyak sekali sesuatu yang mereka obrolkan, termasuk kehamilan Mentari. Dan mereka sudah bisa menerima apa yang sudah menjadi garis takdir mereka.


Fabian menatap perut Mentari.


"Mentari. Jaga kandungan kamu baik-baik ya. Kamu harus tetap semangat untuk membesarkan anak kamu."


"Iya Bi."

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Mentari, Fabian kemudian melangkah ke luar dari rumah Mentari, diikuti Mentari di belakangnya.


Mentari mengantar Fabian sampai ke depan.


"Papa kamu sudah tidur ya?" tanya Fabian.


"Iya Bi. Dia kan lagi sakit. Jadi dia jarang ke luar. Dan dia sekarang juga jarang ke kantor."


"Ya udah. Titip salam ya untuk Om Riko."


Mentari mengangguk. Setelah itu, Fabian masuk ke dalam mobilnya. Fabian melambaikan tangannya ke arah Mentari.


"Hati-hati di jalan Bi."


"Iya Mentari."


***


Sesampai di depan rumahnya, Fabian menghentikan laju mobilnya. Dia mencengkeram setirnya dengan kuat setelah itu dia memukul setir itu dengan salah satu tangannya.


"Dasar Mario brengsek...! lu benar-benar lelaki biadab Mario! Lu udah menghamili wanita yang sangat gue cintai. Awas aja lu Mario. Gue akan bikin perhitungan sama Lu. Gue akan habisi lu Mario...!" geram Fabian.


Fabian mencoba untuk meredam emosinya. Dia menghela nafasnya dalam. Setelah itu, dia turun dari mobilnya dan melenggang pergi masuk ke dalam rumahnya.


Fabian menaiki anak tangga dan melangkah ke kamarnya. Sesampai di depan kamarnya, Fabian buru-buru membuka pintu kamarnya.


Bruuaaak...


Syanum yang baru terlelap, tersentak saat mendengar suara bantingan pintu yang sangat keras di pintu kamarnya.


Syanum mengucek matanya dan buru-buru beringsut duduk. Dia terkejut saat melihat Fabian sudah duduk di sofa.


"Mas, kamu baru pulang? kamu udah bawa vitamin buat aku?" tanya Syanum.


Fabian yang ditanya hanya diam. Dia tidak menatap Syanum sedikitpun. Dia masih kesal dengan Mario. Mario yang sudah menghancurkan hidup Fabian dan Mentari. Dia yang sudah merusak hubungan mereka.


Syanum duduk di sisi suaminya. Dia kemudian memegang bahu suaminya.


"Kamu kenapa Mas? kenapa kamu banting-banting pintu kamar? apa kamu marah sama aku?"


Fabian menatap Syanum tajam. Setelah itu dia melangkah ke arah cermin riasnya.


Bruaaak... bruaak...


Fabian membuang benda apa saja yang ada di atas meja rias.


"Mas. Kamu kenapa?" Syanum tampak ketakutan saat melihat kemarahan Fabian.


"Ha...! brengsek kamu Mario...! aku benar-benar akan membalas semua kejahatan kamu Mario. Tunggu saja...!"


Fabian tidak berhenti di situ. Dia mengacak-acak tempat tidurnya. Dia membuang semua bantal yang ada di atas kasurnya.


Syanum bingung dan ketakutan. Kenapa tiba-tiba saja Fabian mengamuk. Setan apa yang sudah merasukinya sekarang.


Prang...!


Fabian membanting foto pernikahannya dengan Syanum, sehingga bingkai foto itu pecah menjadi berkeping-keping.

__ADS_1


Syanum menangis. Dia takut dan tidak tahu, apa yang membuatnya suaminya marah. Memang bukan kali pertama Syanum melihat Fabian marah. Tapi kali ini, Fabian mengamuk. Dan Syanum tidak bisa untuk menghentikannya.


__ADS_2