
"Ryan tunggu...!"
Ryan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Fabian.
"Ada apa?" tanya Ryan.
"Ryan. Aku mau jelasin. Kalau kejadian tadi, itu tidak seperti apa yang kamu fikirkan. Aku nggak punya hubungan apa-apa sama Aira. Tadi Aira masuk ke ruangan aku, dan membawa berkas-berkas penting. Dia mau terjatuh tadi."
Ryan mengangguk. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia kemudian pergi.
"Ah, sial. Kenapa sih dengan Aira. Kenapa dia harus pakai acara terjatuh segala. Benar-benar bikin pusing."
Fabian kemudian melangkah pergi dan kembali ke ruangannya. Di sana, tampak masih ada Aira.
'Hah, kenapa sih wanita menyebalkan itu masih ada di sini.' batin Fabian.
Fabian melangkah untuk menghampiri Aira.
"Aira. kenapa kamu masih ada di sini heh...!"
"Aku mau nunggu kamu Bi. Kamu kan belum selesai, menandatangani berkas-berkas ini," gumam Fabian.
"Ra. Seharusnya bukan kamu yang mengantar berkas-berkas ini ke sini...!" ucap Fabian dengan nada tinggi.
"Iya iya Bi. Aku mau pergi."
Aira kemudian pergi meninggalkan ruangan Fabian.
****
Syanum masih berada di teras samping. Sejak tadi dia masih terdiam. Matanya masih menatap ke air yang ada di dalam kolam renang.
'Aku kangen sama ibu. Sudah lama aku nggak ke makam ibu.' batin Syanum.
Syanum sejak tadi, masih membayangkan kenangan-kenangan bersama ibunya.
Bu Reva menatap ke arah Syanum dan mendekati menantunya.
"Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Bu Reva.
Syanum menoleh ke arah Bu Reva dan tersenyum.
"Mama."
"Kamu kenapa kelihatan sedih gitu? apa yang membuat kamu sedih?" tanya Bu Reva.
"Aku nggak apa-apa Ma. Aku cuma lagi ingat saja sama almarhumah ibu aku. Aku kangen sama dia. Sudah lama aku nggak ke makam dia."
Bu Reva tersenyum.
"Kamu pengin ziarah ke makam ibu kamu?"
"Iya Ma. Sebenarnya sih kepengin."
"Ya udah. Besok kamu pergi aja ke kampung kamu bersama Fabian. Nanti, biar Mama yang akan bilang ke Papa, agar Fabian bisa cuti."
Syanum tersenyum.
"Mama yakin?"
"Iya. Sekalian kamu dan Fabian bulan madu."
"Hah, bulan madu. Bulan madu kan udah Ma waktu di Bali."
"Syanum...!" seru Dila dari arah ruang keluarga.
"Eh itu, Kak Dila manggil. Sana kamu temui dia."
"Iya Ma."
Syanum bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah pergi untuk menghampiri Dila.
"Kak, ada apa?" tanya Syanum.
"Tuh. Ada Luna di depan. Dia nyariin kamu."
__ADS_1
"Oh."
Syanum melangkah untuk ke ruang tamu. Dia terkejut saat melihat Luna.
"Hai Kak Syanum," sapa Luna.
"Hai Lun."
"Udah siap Kak?" tanya Luna.
"Siap apa?"
Luna mendekat ke arah Syanum.
"Nggak perlu ke salon. Aku udah bawa semua alat-alat make up. Aku akan permak wajah kamu biar nanti, saat suami kamu pulang, dia pangling saat melihat kamu."
"Oh, gitu?"
Luna mengangguk.
"Iya. Ayo sekarang kita ke kamar! dan bawa barang-barang itu ke kamar kamu."
Syanum menatap beberapa bingkisan yang dibawa Luna
"Apa itu?"
"Ada deh... nanti kamu juga tahu sendiri kok."
Luna dan Syanum kemudian melangkah untuk pergi ke kamar Syanum.
"Kamu mau apa sih sebenarnya?" tanya Syanum.
"Aku mau...make up in kamu."
"Make up?"
"Ya."
Awalnya Syanum tidak mau. Namun Luna memaksanya. Akhirnya Syanum mau juga di make up.
"Tapi kan kamu nggak akan bisa make up sebagus aku."
"Iya sih."
Setelah make up selesai, Luna kemudian membuka beberapa bingkisan yang dibawanya.
"Ini aku bawa baju-baju untuk kamu. Dan khusus untuk kamu pakai di kamar waktu sedang berdua dengan suami kamu."
Syanum penasaran dengan apa yang Luna bawa.
"Tara..." Luna memperlihatkan baju yang dibawanya yang membuat Syanum terkejut.
"Hah...! baju apaan itu Lun?"
"Ini baju seksi yang akan membuat suamimu klepek-klepek saat berada di kamar berdua bersamamu."
Syanum meraih baju yang di pegang Luna. Dia kemudian menatap baju itu.
'Hah, apa reaksi Mas Fabian kalau pulang kantor, dia melihat aku pakai baju seksi seperti ini? pasti dia akan bilang, apa-apaan ini. Kenapa kamu pakai baju seperti ini' batin Syanum.
Syanum tidak bisa membayangkan reaksi suaminya nanti. Pasti Fabian akan mentertawakannya.
"Kenapa kamu diam?"
"Nggak ah. Aku nggak mau pakai baju seperti ini. Ini terlalu seksi menurut aku."
"Hei... ini lingerie. Baju ini, memang bajunya pengantin baru. Dan sangat cocok di pakai sama kamu."
"Tapi aku nggak mau pakai baju itu."
"Ya udah kalau nggak mau. Apa kamu tahu Kak Syanum. Kalau Kak Mentari itu sudah kembali ke rumahnya. Kalau kamu nggak mau dengerin saran dari aku, siap-siap aja deh, kamu akan kehilangan suamimu."
Syanum menatap ke arah Luna.
"Aku udah tahu soal itu."
__ADS_1
"Kamu tahu nggak sih. Kalau Kak Fabian itu sangat cinta sama Kak Mentari. Sulit Kak, untuk lelaki bucin seperti Kak Fabian melupakan begitu aja kenangan dengan Kak Mentari."
"Makanya, mulai dari sekarang, Kak Syanum belajarlah untuk mencuri hati Kak Fabian. Kak Syanum belajarlah untuk mengerti Kak Fabian. Cari tahu apa saja kesukaannya. Mulai dari makanan favoritnya dan banyak hal yang disukai Kak Fabian,harus kamu pelajari. Kalau kamu ingin mendapatkan cinta dari Kak Fabian."
"Iya. Aku akan pakai baju ini nanti malam."
"Nah, gitu dong"
****
Malam ini, Fabian pulang agak terlambat. Semua keluarganya sudah selesai makan malam dan mereka sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Fabian melangkah ke atas untuk menuju ke kamarnya. Namun, sesampai di kamar, ternyata Syanum sudah mengunci kamarnya dari dalam.
Tok tok tok ..
"Syanum...! Syanum..!"
Beberapa saat kemudian, Syanum membuka pintu. Fabian terkejut saat melihat Syanum.
'Apa-apaan ini istri aku. Kenapa dia pakai baju kayak gituan. Apa dia mau mencoba menggodaku. Hah, lagi capek-capek begini.'
Fabian melangkah masuk. Sementara Syanum buru-buru menutup pintunya kembali.
Syanum kembali naik ke atas tempat tidurnya. Dia kemudian menutup tubuhnya dengan selimut.
'Hah, Mas Fabian sama aja cueknya. Kata Luna, dia bakal langsung terpesona saat melihat aku pakai seperti ini. Tapi dia malah jadi ilfil kan. Bodohnya kamu Syanum. Kamu udah malu-maluin diri kamu sendiri di depan suami kamu dengan pakai baju ini.'
Syanum tiba-tiba saja menjadi sedih. Fabian bukan menyambutnya dengan baik, dia malah cuek banget seperti itu.
Fabian membuka dasinya. Dia kemudian mengambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara Syanum hanya bisa berbaring dan menangis.
"Kenapa sih. Apa aku sangat tidak ada harganya di mata suamiku. Pulang-pulang, bukannya menciumku , tapi dia masa bodoh gitu sama aku. Bagaimana caranya aku bisa meluluhkan hati sedingin salju itu.' batin Syanum.
Syanum menangis sampai air matanya, membasahi bantalnya.
"Hiks...hiks...hiks..."
Beberapa saat kemudian, Fabian ke luar dari kamar mandi. Syanum langsung memejamkan mata dan pura-pura tidur.
"Syanum. Bisa ambilkan aku baju?" tanya Fabian.
Syanum yang mendengar pura-pura tidak mendengar.
"Syanum...! kamu nggak dengar aku ngomong?"
Lagi-lagi Syanum tidak menyahut. Membuat Fabian penasaran dan langsung mendekat ke arah istrinya.
"Benarkan kalau dia udah tidur. Cepat amat dia tidurnya."
Fabian kemudian membuka lemarinya untuk mengambil baju. Selesai berganti baju, Fabian menyibak selimut dan berbaring di sisi Syanum.
Syanum membuka matanya. Dia kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya.
"Kamu ngapain di sini? " tanya Syanum.
Fabian menatap ke arah istrinya.
"Kenapa? nggak boleh aku tidur di samping kamu? " tanya Fabian.
"Nggak apa-apa sih. Tapi biasanya kamu juga nggak mau tidur sama aku. Biasanya kamu tidur di sofa."
"Tapi aku lagi pengin tidur di sini."
"Ya udah. Aku nggak ngelarang kamu tidur di samping aku."
"Kamu pura-pura tidur ya tadi?"
'Yah, ketahuan kan kalau aku pura-pura tidur.' batin Syanum.
"Tadi aku beneran tidur kok. Nggak pura-pura."
"Alah. bohong."
"Aku nggak bohong."
__ADS_1