
"Makasih Mas Adam, untuk makan malamnya kali ini. Maaf, kalau aku sudah banyak merepotkan kamu hari ini," ucap Dila.
Adam tersenyum.
"Nggak apa-apa Dil. Aku seneng kok, udah bisa bantuin kamu," ucap Adam.
Setelah sampai di depan rumah Dila, Adam menghentikan laju mobilnya. Sementara Dila merogoh tasnya untuk mengambil uang. Dia akan mengembalikan uang yang dua juta itu pada Adam.
"Mas, ini Mas. Uang kamu yang tadi. Dan makasih sudah mengantarkan aku ke kantor untuk mengambil dompet dan sudah mau mengantarkan aku pulang," ucap Dila.
"Tidak usah dikembalikan Dil. Buat anak kamu aja," ucap Adam.
Dila terkejut.
"Untuk Dimas? kenapa kamu mau memberikan uang kamu untuk anak saya?" tanya Dila.
"Anggap saja, itu uang sedekah untuk anak yatim. Anak kamu kan anak yatim."
Dila tersenyum.
"Ya ampun Mas. Aku benar-benar nggak enak banget sama kamu Mas. Harusnya sih, kamu nggak usah ngasih uang kamu untuk Dimas. Dimas memang anak yatim. Tapi dia itu kan cucu orang kaya. Dan aku juga kerja. Mestinya, kalau kamu mau sedekah, ke panti asuhan saja, yang jelas-jelas membutuhkan."
"Hehe ... sama saja Dil. Dimas itu sama juga seperti anak lainnya, yang ayahnya sudah meninggal. Sama-sama anak yatim. Jadi, nggak apa-apa kan kalau aku juga sedekah sama Dimas."
Dila kemudian turun dari mobil Adam. Sebelum masuk ke dalam rumahnya, Dila mengambil semua barang-barang belanjaannya yang ada di belakang mobil Adam.
"Makasih banyak ya Mas, untuk semuanya."
"Iya Dil."
"Aku pulang dulu ya. Sampai ketemu lagi."
"Iya Mas. Hati-hati di jalan."
"Iya."
Adam kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Dila. Setelah kepergian Adam, Dila membawa barang-barang belanjaannya satu-satu ke teras depan rumahnya. Setelah itu, Dila mengetuk pintu rumahnya.
Tok tok tok...
Beberapa saat kemudian, Mbak Fani membuka pintu.
"Non Dila. Baru pulang Non? tumben banget pulangnya malam?" tanya Mbak Fani.
"Di mana Dimas? apa dia sudah tidur?" tanya Dila.
"Dia sudah tidur Non. Tadi sih nungguin Non. Tapi setelah Opa dan Omanya menyuruhnya masuk kamar, dia masuk kamar dan sekarang dia sudah terlelap."
__ADS_1
"Oh iya Mbak Fani. Tolong, bantu aku bawa barang-barang itu ya. Itu ada popoknya Firen juga," ucap Dila.
"Baik Non."
"Aku capek banget. Aku mau langsung ke kamar. Tolong, popoknya Firen, bawa aja ke atas . Ke kamarnya Syanum"
"Iya Non."
Dila kemudian melangkah masuk ke dalam. Di dalam, tampak sudah sepi.
"Duh, nggak kerasa, aku ngobrol sama Mas Adam, lama banget. Berjam-jam aku ngobrol. Sampai setengah sepuluh."
Dila menatap ke sekeliling. Dia kemudian melangkah untuk masuk ke dalam kamarnya.
Dila tersenyum saat melihat Dimas. Dia kemudian mendekat ke arah Dimas dan duduk di sisi ranjang.
"Sayang. Maafin Mama ya, sudah membuat kamu menunggu," ucap Dila.
Dila kemudian mencium kening anaknya.
"Tidur yang nyenyak ya sayang. Mama mau ke kamar mandi dulu. Mama mau mandi," ucap Dila.
****
Pagi ini, Ryan tampak masih berada di depan televisi.
Ryan membelalakkan matanya saat melihat sebuah berita mengejutkan di televisi.
"Ada apa Kak?" Luna mendekat ke arah Ryan.
"Kemarin, kamu antarkan Aleta sampai ke rumahnya kan?" tanya Ryan.
"Iya kak. Emang kenapa?" tanya Luna sembari duduk di sisi kakaknya.
"Barusan ada berita di tivi. Kalau ada seorang wanita bunuh diri karena meminum racun. Dan kamu tahu siapa dia?" tanya Ryan.
Luna menatap kakaknya lekat dan menggeleng.
"Emang, siapa dia?" tanya Luna.
"Dia Aleta Lun," jawab Ryan yang membuat Luna terkejut.
Luna membelalakkan matanya.
"Apa! Aletta bunuh diri. Kakak serius?"
Ryan hanya bisa membasuh wajahnya dengan kasar. Dia tampak sedih dan merasa bersalah dengan kejadian itu.
__ADS_1
"Aku nyesel banget Lun. Kenapa aku nggak bisa menjaga gadis itu. Dia sudah dinodai oleh lelaki itu," lirih Ryan.
"Siapa Kak? siapa yang sudah membuat Aleta seperti itu?" tanya Luna penasaran.
"Rei. Dia itu mantan pacarnya Aleta. Entah punya dendam apa dia sama Aletta. Dia sekarang lagi buron," jelas Ryan.
"Buron?" ucap Luna.
"Iya. Dia seorang buronan. Dia itu, pemakai dan pengedar obat-obatan terlarang. Kemarin dia sempat di tangkap polisi. Dan sekarang dia sudah berhasil kabur dari penangkapan itu. Dan sekarang dia masih buron."
"Astaga. Kenapa Aletta bisa kenal dengan lelaki seperti itu. Terus, apa yang akan kakak lakukan sekarang?" tanya Luna.
"Sekarang ikut aku Lun! Kita akan ke rumah Aletta. Kita harus memastikan benar atau tidak berita ini."
"Iya Kak."
Luna dan Ryan kemudian melangkah pergi meninggalkan rumahnya. Mereka akan ke rumah Aletta sekarang untuk memastikan, benar atau tidaknya berita yang dilihatnya di tivi itu.
****
Seorang wanita masih bersimpuh di sisi makam anaknya. Dia Sarah, ibu kandung Aleta.
Bu Sarah, masih tampak menangis di pemakaman Aletta anaknya. Sementara ayah Aleta, masih mencoba untuk menenangkan istrinya.
"Saya selaku sahabat dekat Aleta, turut berduka cita yang sedalam-dalamnya Tante, atas kematian Aletta," ucap Ryan.
Ayah dan ibu Aleta, bangkit berdiri. Dia kemudian menatap Ryan dan Luna.
"Kamu yang kemarin sempat mengantar Luna ke rumah kan?" tanya Bu Sarah menatap Luna tajam.
"Iya Tante," jawab Luna.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada anak saya?" tanya Bu Sarah.
Luna menatap kakaknya. Ryan langsung menggeleng. Memberi isyarat agar Luna jangan buka mulut mengenai kejadian kemarin. Kemarin Aleta diperkosa oleh mantan pacarnya sendiri. Dan sepertinya, Aleta merasa hidupnya hancur karena semua itu. Sehingga membuat dia frustasi dan melakukan bunuh diri.
Ryan tahu, Bu Sarah pasti akan syok berat jika dia tahu dengan kondisi anaknya kemarin. Makanya Ryan tidak mau cerita tentang kejadian sebenarnya pada ibu dan ayahnya Aleta sekarang. Apalagi, saat ini kondisinya masih dalam keadaan berduka.
"Saya tidak tahu, kenapa dengan Aletta Tante," jawab Luna.
Bu Sarah menatap ke arah Ryan.
"Saya juga, tidak tahu Tan. Kenapa dengan Aletta. Kemarin malam, dia nangis-nangis datang ke rumah saya. Tapi, dia tidak mau menceritakan masalahnya pada saya," ucap Ryan.
"Benarkah begitu? kamu Ryan. Kenapa kamu tidak tahu dengan masalah anak saya. Katanya kamu dekat sama dia dan sudah pacaran sama dia. Aletta sudah sering cerita sama kamu tentang kamu Ryan. Tapi Aletta bunuh diri, kamu tidak tahu, dengan masalah yang sedang Aletta hadapi?" Papa Aletta menatap tajam ke arah Ryan.
"Aku benar-benar nggak tahu Om. Masalah yang sedang Aletta hadapi."
__ADS_1
Ryan menghela nafas dalam.
'Aku sebenarnya tahu kejadian yang sebenarnya, tapi aku tidak bisa menjadi saksi, karena waktu Aletta terkena musibah itu, aku sedang berada di rumah sama adik aku. tapi untuk apa aku ceritakan masalah ini ke Tante Sarah. Toh, Aletta saja sudah meninggal. Dan untuk apa masalahnya harus di besar-besarkan. Lebih baik aku diam aja. Nggak usah cerita apa-apa tentang masalahnya Aletta. Nanti, masalahnya akan semakin melebar dan Tante Sarah akan semakin sedih. Dan urusannya akan semakin ribet,"