
"Jalan Pak," ucap Fabian pada Pak Herman, yang tak lain adalah mertuanya sendiri.
Pak Herman hanya mengangguk. Pak Herman tahu, seperti apa sifat Fabian. Karena dia sudah lama kerja dengan Pak Damar.
"Kita mau langsung ke kantor kan Tuan muda?" tanya Pak Herman.
"Iya," ucap Fabian.
Pak Herman lekas menyalakan mobilnya. Setelah itu dia meluncur untuk pergi ke kantor Pak Damar.
Jarak kantor Pak Damar dengan rumah Pak Damar, memang cukup jauh. Jika tidak macet, mungkin akan memakan waktu setengah jam dari rumah sampai ke kantor.
Sesampainya di kantor, Pak Herman menghentikan laju mobilnya. Fabian kemudian turun dari mobil. Dia melangkah masuk ke dalam kantor.
Pertama yang dia tuju adalah ruangan ayahnya.
"Papa," ucap Fabian yang sudah berdiri di depan ayahnya.
Pak Damar menatap anaknya tajam.
"Dari mana aja kamu Fabian?" tanya Pak Damar dengan nada tinggi.
Sepertinya Pak Damar marah besar pada Fabian, karena Fabian datang tidak tepat waktu.
"Aku dari rumah lah Pa," jawab Fabian asal, yang membuat ayahnya bertambah murka.
"Dari rumah? Kamu tahu tidak Fabian, ini jam berapa?" Pak Damar menunjuk jam tangannya.
"Tahu Pa. Ini jam sebelas siang."
"Kenapa jam sebelas siang kamu baru datang ke kantor heh! papa kan sudah bilang, berlatihlah untuk disiplin Fabian. Kamu sekarang sudah punya istri. Dan sebentar lagi kamu akan punya anak dan menjadi seorang ayah. Berlatihlah untuk bertanggung jawab dengan pekerjaan kamu," omel Pak Damar.
"Apa? punya anak dan menjadi seorang ayah?" Fabian terkejut mendengar ucapan ayahnya.
Bagaimana mungkin, Fabian dan Syanum bisa punya anak, sementara mereka saja tidak pernah tidur bersama.
"Papa, jangan bahas soal anak di depanku. Karena aku tidak suka Pa."
"Lho. Emang kenapa? kamu dan Syanum itu suami istri. Dan wajar saja dong kalau papa menginginkan seorang cucu dari kalian berdua."
Cih, punya anak dari Syanum? mimpi apa aku semalam. Punya anak dari rahim seorang pembantu seperti dia.
Fabian sejak tadi, masih diam. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia membayangkan bagaimana jika dia punya anak dari Syanum.
Fabian tidak mau punya anak dari rahim wanita yang tidak di cintainya. Karena dia sudah memimpikan membangun keluarga kecilnya dengan Mentari dan punya anak dari Mentari.
__ADS_1
Fabian tiba-tiba saja juga teringat Mentari.
Mentari. Bagaimana kabar dia sekarang. Aku akan temui Om Riko lagi dan tanyakan soal keberadaan Mentari. Aku harus ketemu sama Mentari, bagaimana pun caranya. Aku ingin tahu apa alasan dia pergi meninggalkan pernikahan kami, batin Fabian.
Sejak tadi Fabian masih melamun. Ayahnya sudah bicara panjang lebar, tapi tak di dengarnya.
"Fabian." Pak Damar bingung. Kenapa tiba-tiba saja Fabian diam. Pak Damar tidak tahu, apa yang sedang di fikirkan anaknya itu.
"Fabian. Kamu dengar papa ngomong nggak sih?" ucap Pak Damar dengan nada tinggi.
"Eh, Pa. Emang papa ngomong apa?" tanya Fabian.
"Percuma papa bicara panjang lebar, kalau kamu saja tidak mau mendengarkannya. Apa sih yang lagi kamu fikirin?"
"Aku nggak lagi mikirin apa-apa kok Pa."
"Ya sudah. Papa capek ngomong sama kamu. Lebih baik, sekarang kamu kembali ke tempat kerjamu."
Fabian mengangguk. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan ruangan ayahnya.
****
Syanum masih berada di kamar Dila. Siang ini, jadwal Dila untuk makan dan minum obat.
"Kak, kakak makan dulu ya. Dan setelah itu, kakak minum obat."
"Iya Syanum," ucapnya.
Syanum menatap Dimas yang ada di samping Dila.
"Dimas juga ya. Dimas yang nurut ya, sama mama. Kasihan mamanya Dimas masih sakit."
Dimas hanya mengangguk.
Dila makan, setelah Syanum membawa makanan ke kamar untuk Dila dan Dimas. Sementara Syanum, lekas menyuapi Dimas.
"Dimas harus makan yang banyak. Agar Dimas bisa cepat sembuh dan kuat. Kak Dila juga ya," ucap Syanum.
"Iya. Aku juga ingin cepat-cepat ketemu sama Mas Ridho." Dila berucap yang membuat Syanum sedih.
Syanum hanya bisa tersenyum kecut. Sebenarnya dia ingin menceritakan pada Dila kalau sebenarnya Ridho itu sudah meninggal. Namun, Syanum tidak tega melihat Dila. Dila masih sakit. Untuk jalan saja, kakinya masih lemas.
Aku nggak boleh, mengatakan jujur pada Kak Dila. Biarlah dia tahu dari keluarganya sendiri. Ya Allah, ampunilah dosa hamba yang sudah selalu berbohong. Ini semua aku lakukan demi kesembuhan Kak Syanum.
"Iya Kak." Syanum hanya mengiyakan saja ucapan kakak iparnya.
__ADS_1
"Syanum. Kamu tahu di mana suamiku? Apa benar kalau suamiku ada di rumah orang tuanya?" tanya Dila.
"Iya Kak Dila. Kak Ridho juga sakit seperti kakak. Dia belum boleh banyak bergerak dan pergi jauh. Kalau pergi juga harus di kawal. Karena dia masih lemas."
"Iya. Biarkanlah suamiku di sana dulu. Di sana ada mama mertua yang mau mengurusnya. Kalau dia di bawa ke sini juga, siapa yang mau ngurus dia. Aku saja, nggak bisa apa-apa seperti ini."
"Nah, itu Kak Dila tahu."
Di sela-sela Dila dan Syanum ngobrol, tiba-tiba saja Bu Reva membuka pintu kamar Dila. Dia melangkah menghampiri Dila.
"Eh, mama. Kok mama ke sini? katanya mama lagi sakit?" tanya Dila.
"Mama malah tambah sakit, kalau di bawa rebahan terus. Mama pengin lihat kondisi cucu mama," ucap Bu Reva.
Syanum bangkit berdiri. Dia ingin menyediakan ruang untuk mertuanya itu duduk.
"Duduk sini Ma," ucap Syanum.
Bu Reva mengangguk. Setelah itu dia pun duduk di sisi Dila.
"Bagaimana kondisi kamu Dil?" tanya Bu Reva.
"Yah, seperti yang mama lihat. Aku sudah mulai membaik."
"Syukurlah kalau gitu."
Syanum menatap ibu mertuanya.
"Mama udah makan dan minum obat?" tanya Syanum.
"Sudah Syanum."
"Maaf ya Ma. Syanum nggak bisa fokus ngurusin mama. Karena Syanum juga harus ngurus Dimas dan Kak Dila."
"Nggak apa-apa Syanum. Mama cuma sakit biasa aja kok. Ini juga udah hampir sembuh."
"Syukurlah Ma," ucap Syanum.
Bu Reva menatap Syanum.
"Terimakasih banyak ya Syanum. Kamu sudah mau menjaga Dila dan Dimas waktu di rumah sakit. Dan sekarang kamu juga masih mau merawat anak dan cucu saya."
"Ma, itu memang sudah kewajiban aku, sebagai bagian dari keluarga mama."
Sudah salah aku menilai Syanum. Sejak awal dia menikah dengan anak ku, aku tidak pernah suka sama dia. Padahal dia wanita yang sangat baik. Seandainya Mentari yang ada di posisi Syanum. Mana mungkin dia bisa telaten mengurus aku dan anakku.
__ADS_1
Bu Reva tersenyum. Syanum memang wanita yang baik. Dia baik sama semua orang. Walau orang itu pernah jahat pada Syanum. Tapi, Syanum tidak pernah punya dendam pada orang yang menjahatinya. Dan Fabian belum melihat ketulusan itu. Karena dia masih di butakan cintanya oleh Mentari.