
"Halo..."
"Halo Syanum. Ada apa? ngapain kamu nelpon?"
"Tuan muda. Non Dila. Non Dila sudah siuman Tuan."
"Oh iya? Syukurlah. Tapi maaf Syanum, aku masih sibuk. Belum bisa ke sana sekarang. Aku ada di kantor papa. Sekarang aku mau meeting sama papa."
"Oh."
"Ya udah. Tolong kamu jagain Dimas dan Kak Dila dulu ya."
"Iya Tuan."
Syanum kemudian menutup saluran telponnya. Dia kemudian menelpon ke rumah. Mbak Asih yang mengangkatnya.
"Halo Mbak Asih. Ke mana Nyonya?"
"Nyonya lagi tidur di kamar."
"Oh iya. Tolong nanti kalau Nyonya Reva bangun, sampaikan sama dia. Kalau Non Dila sudah siuman."
"Baik Non Syanum. Mbak akan sampaikan."
Setelah Syanum menelpon suaminya dan pembantunya, Syanum kemudian kembali menemui Dimas di dalam.
"Tante Syanum. Ada apa?" tanya Dimas.
Syanum tersenyum.
"Nggak ada apa-apa Dimas."
Sebenarnya Syanum ingin melihat Dila di ruanganya. Tapi, Syanum juga tidak tega meninggalkan Dimas sendiri. Tidak mungkin untuk Syanum menggendong Dimas ke luar.
'Aku harus tunggu Dimas sampai dia tidur.'
Siang ini Syanum masih menemani Dimas ngobrol. Keadaan Dimas juga semakin membaik. Setelah Dimas sudah mulai terlelap, Syanum bangkit berdiri dan melangkah ke ruang ICU untuk melihat Dila.
"Lho, Mbak Dila ke mana. Kenapa dia nggak ada?" Syanum terkejut saat dia tidak melihat Dila ada di ruang ICU.
Syanum buru-buru melangkah untuk bertanya pada suster.
"Sus, pasien yang tadi ada di sini ke mana ya?" tanya Syanum pada suster itu.
"Oh, pasien atas nama Dila? Dia sudah di pindahkan ke ruang rawat."
"Di mana?"
"Di ruang Melati Mbak."
"Iya. Makasih ya Sus."
Syanum kemudian melangkah pergi ke ruang Melati tempat Dila di rawat.
Syanum buru-buru masuk menghampiri Dila. Dila yang masih berbaring, terkejut saat melihat Syanum.
"Syanum..." ucap Dila dengan suara lemah.
Dengan perlahan-lahan, Syanum masuk ke dalam ruangan Dila. Dia kemudian mendekat ke arah Dila.
"Non Dila sudah sadar?" tanya Syanum.
Dila mengangguk lemah
"Non Dila. Bagaimana keadaan Non Dila?" tanya Syanum.
__ADS_1
"Tubuhku, masih sakit Syanum. Terutama, di bagian perut. Di mana Dimas? dan di mana suamiku?"
Syanum diam. Mungkinkah dia harus mengatakan hal yang sebenarnya pada Dila kalau sekarang Ridho sudah meninggal? itu tidak mungkin. Syanum takut, Dila akan ngedown lagi. Apalagi, Dila itu sudah baru siuman.
"Syanum. Kenapa kamu diam? apa kamu tau di mana anakku dan suamiku? bagaimana kondisi mereka sekarang?"
"Mereka tidak apa-apa Non. Dimas masih ada di ruang rawat. Sementara suami Non..." ucapan Syanum menggantung.
"Suamiku ke mana?"
"Dia sudah di pulangkan."
Dila tersenyum. " Jadi, suamiku selamat?"
Syanum hanya bisa tersenyum kecut. Setetes bening mengalir dari pelupuk matanya. Dia tidak tega melihat Dila.
'Bagaimana, jika aku yang berada di posisi Non Dila. Aku pasti tidak akan pernah sanggup, kehilangan dua orang yang kita sayangi sekaligus. Sulit sekali non Dila menjalani semua ini."
"Syanum. Kenapa kamu menangis?" tanya Dila.
Syanum mendekat dan duduk si sisi Dila.
"Aku tidak apa-apa Non Syanum. Aku cuma kasihan aja melihat Non Syanum seperti ini."
Dila tersenyum.
"Aku mau tanya sama kamu Syanum."
Dila menatap Syanum lekat.
"Apakah kamu sudah menikah dengan adikku?"
"Dari mana Non Dila tahu soal itu?"
Syanum mengangguk.
"Iya. Benar itu Non."
"Selamat ya. Aku seneng dengarnya."
"Makasih Non Dila."
"Jangan panggil aku Non. Panggil aku kakak saja Syanum."
Syanum hanya tersenyum dan mengangguk. Syanum tahu, kalau Dila adalah kakak satu-satunya yang Fabian punya. Dila wanita yang sangat baik. Dia wanita yang lembut, ramah dan perhatian.
Dila mengelus perutnya yang rata
"Syanum. Apa kamu sudah tahu, kalau sekarang aku sedang hamil?"
Syanum terkejut saat mendengar ucapan Dila. Dila terlihat sangat bahagia saat memegang perutnya. Mungkin Syanum fikir, anak yang ada dalam kandungannya itu masih ada.
"Oh. Jadi Dimas mau punya adik lagi?" tanya Syanum yang pura-pura tidak tahu dengan kondisi kehamilan Syanum.
Dila mengangguk.
"Aku benar-benar bahagia Syanum. Aku pengin banget punya anak perempuan."
"Iya Kak. Semoga keinginan kakak terkabul ya."
****
Sore ini, Bu Reva suda sampai ke rumah sakit. Setelah turun dari taksi, Bu Reva kemudian melangkah ke ruang rawat tempat Dimas dan Dilla di rawat. Pertama, dia menuju ke ruangan Dila. Dia melihat Dila masih sendiri di ruangan itu. Bu Reva melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
"Dila anakku," ucap Bu Reva.
__ADS_1
Bu Reva sangat bahagia melihat kondisi Dila saat ini. Dila sudah siuman, dan dia sudah bisa di ajak bicara. Tadinya, Bu Reva fikir, dia akan kehilangan anak perempuan satu-satunya itu. Karena lebih dari dua hari, Dila dinyatakan koma di ruang ICU.
Bu Reva mendekat ke arah anaknya. Dia kemudian duduk di samping Dila.
"Nak, bagaimana kondisi kamu Nak? Mama sangat mengkhawatirkan keadaan kamu."
Dila tersenyum.
"Seperti apa yang mama lihat sekarang. Aku baik-baik saja kan. Alhamdulillah Ma, keluargaku selamat dari kecelakaan maut itu."
Bu Reva meraih tangan Dila dan mengecupnya.
"Kamu harus sabar ya sayang," ucap Bu Reva.
Dila hanya mengangguk.
"Iya Ma. Aku akan sabar. Aku nggak mau ketemu sama Dimas dulu. Kata Syanum, dia masih sakit. Dan aku juga belum bisa kemana-mana karena kondisiku yang masih lemah."
"Iya."
Untuk saat ini, Bu Reva belum bisa cerita apa-apa dengan Dila. Dia tidak sanggup untuk cerita pada Dila kalau Ridho sudah meninggal dunia karena kecelakaan itu. Dan Bu Reva juga belum sanggup mengatakan tentang kondisi kehamilan Dila saat ini.
'Lebih baik, Dila tidak usah tahu dulu tentang kematian suaminya dan keguguran janinnya. Lebih baik, aku ceritanya nanti saja kalau Dila sudah di rumah.' batin Bu Reva
Bu Reva dan Dila masih berbincang-bincang di ruangan Dila. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan Dila terbuka. Fabian dan Pak Damar sudah sampai di ruangan Dila. Setelah meeting selesai, mereka langsung ke ruang sakit untuk melihat kondisi Dila.
"Dila. Kamu sudah siuman?" tanya Pak Damar.
Dila hanya mengangguk. Sementara Pak Damar segera melangkah menghampiri Dila dan sejenak memeluknya.
"Papa. Aku senang, bisa ketemu sama papa lagi. Sudah lama aku nggak pulang ke Indonesia. Aku kangen, tinggal di sini "
"Iya sayang." Pak Damar mengelus-elus rambut Dila.
"Ke mana Syanum?" tanya Fabian yang menyadari kalau istrinya tidak ada di ruangan itu.
"Syanum ada di ruangan Dimas Fabian," ucap Dila.
"Papa akan bilang ke dokter, Dimas dan Dila harus ada dalam satu ruangan. Nggak boleh di pisahkan begini."
"Iya Pa. Mama juga setuju."
"Ya udah. Aku akan ke ruangan Dimas dulu." Fabian kemudian melangkah pergi ke ruangan Dimas.
Sesampai di depan ruangan Dimas, Fabian membuka pintu ruangan itu. Fabian terkejut saat melihat istrinya tertidur di sisi Dimas. Sementara sejak tadi, Dimas masih berdiam diri.
Dimas tersenyum saat melihat keberadaan Omnya.
"Om Abi..." seru Dimas.
"Ssstttt. Jangan berisik. Nanti Tante Syanum ke bangun."
Fabian melangkah mendekati ponakannya.
"Om. Dari aman aja sih Om? kenapa cuma Tante Syanum yang temani aku di sini."
"Iya. Om sama Opa lagi sibuk banget di kantor sayang. Makanya Om ke sininya terlambat. Gimana keadaan Diam? apa masih ada yang sakit?"
"Aku udah nggak sakit kok Om."
"Ya syukurlah kalau begitu. Om seneng dengarnya."
"Aku ingin ketemu sama mama dan papa."
"Iya. Nanti Dimas akan ketemu sama mama dan papa kok."
__ADS_1