Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Malam yang berbuah manis.


__ADS_3

"Kamu bicara apa?" tanya Fabian.


"Kenapa kamu lagi-lagi ngomongin kata cerai!" ucap Fabian dengan nada tinggi.


Fabian sudah mencengkeram dagu Syanum sehingga membuat Syanum tertengadah.


Syanum menangis.


"Kamu tega sekali sama aku Mas," ucap Syanum di sela-sela tangisannya.


Fabian melepaskan cengkeramannya saat melihat Syanum menangis.


"Maafkan aku."


"Apakah tidak ada rasa sedikit pun untuk aku Mas? apakah tidak ada kesempatan untuk aku mendapat cinta kamu Mas? aku ini istri kamu. Aku juga ingin dicintai seperti halnya Mentari. Kenapa kamu harus membahas Mentari di depan aku. Kenapa Mas? jika kamu masih saja ingin mengejar gadis itu. Untuk apa kamu pertahankan pernikahan ini? kenapa kita tidak bercerai aja Mas."


Fabian diam. Sebenarnya dia tidak tega juga melihat Syanum menangis.


"Syanum, kenapa kamu menangis? jangan nangis dong. Gimana nanti kalau papa dan mama dengar kamu nangis, aku bisa dimarahi oleh mereka."


Fabian mengusap air mata Syanum. Dia kemudian memeluk Syanum untuk menenangkannya.


"Syanum, jika kita masih ada jodoh, kita tidak akan pernah bercerai. Tolong Syanum, jangan buat aku serba salah."


Fabian melepas pelukannya.


"Aku nggak suka melihat kamu nangis dan bersedih. Kamu jelek kalau nangis seperti ini. Aku nggak suka melihat kamu nangis. Mana Syanum yang aku kenal sebagai gadis yang pemberani. Katanya kamu tomboi. Kenapa kamu malah nangis. Aku lebih suka melihat kamu marah-marah dari pada melihat kamu menangis seperti ini," ucap Fabian.


"Mas, hiks...hiks... aku nggak sanggup Mas menjalani pernikahan ini. Aku ingin kita cerai. Kita bicara saja sama Mama dan Papa kalau kita akan cerai."


"Nggak Syanum. Aku nggak akan menceraikan kamu. Jangan bilang seperti itu."


'Hati aku sakit Mas. Melihat kamu selalu bersikap cuek sama aku. Dan aku tambah sakit lagi, saat tahu kamu ingin mengejar Mentari. Untuk apa kamu mengejar wanita yang sudah mengecewakan kamu dan membuat malu, pernikahan kamu.' batin Syanum.


Sejak tadi, Fabian selalu berusaha untuk menenangkan Syanum. Dia kasihan saat melihat Syanum menangis.


Setelah Syanum berhenti menangis, Fabian meraih tangan Syanum dan menggenggamnya erat.


"Syanum. Sebelumnya, aku mau minta maaf sama kamu. Karena aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Aku belum bisa mencintai kamu Syanum. Sebenernya aku juga pengin cinta sama kamu dan melupakan Mentari. Tapi aku belum bisa."


"Kapan kamu bisa mencintai aku dan melupakan Mentari Mas. Selama ini saja aku tidak pernah melihat kamu belajar untuk mencintai aku dan melupakan Mentari. Setiap hari, kamu selalu saja memikirkan Mentari. Aku sama sekali tidak pernah kamu anggap."

__ADS_1


Fabian diam. Apakah dia sudah berdosa telah menyakiti hati Syanum. Syanum yang selalu berharap cinta darinya dan selalu Fabian abaikan. Bahkan dia sudah sering kasar sama Syanum dan cuek sekali dengannya.


Malam ini, adalah malam yang begitu sangat pahit, baik itu untuk Syanum dan Fabian.


Syanum sejak tadi, masih mendiami Fabian. Begitu pula dengan Fabian yang sejak tadi, tampak lelah. Karena dia sudah beberapa kali membujuk Syanum agar Syanum mau diam. Tapi nampaknya, Syanum tidak bisa berhenti menangis.


Syanum memang gadis yang pemberani. Tapi walau bagaimanapun juga, dia tetap seorang perempuan yang punya hati dan perasaan. Dia sudah tidak bisa menahan amarahnya. Malam ini, dia luapkan semua emosinya pada suaminya.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar kamar Fabian dan Syanum.


Fabian menatap ke arah Syanum yang sejak tadi tidak mau beranjak dari duduknya.


Fabian akhirnya mengalah juga untuk membuka pintu.


"Mama, ada apa Ma?" tanya Fabian.


Bu Reva tersenyum ke arah anaknya.


"Fabian. Mana Syanum? apa dia sudah tidur?" tanya Bu Reva.


"Ini, Mama bawakan dua gelas susu hangat untuk kamu dan Syanum."


Fabian tersenyum.


"Tumben Ma, mau buatkan aku susu hangat."


"Iya. Biar tidur kamu nyenyak nanti malam."


"Makasih ya Ma,"


Fabian kemudian mengambil nampan yang berisi dua gelas susu dan membawa nampan itu masuk ke dalam. Sementara Bu Reva, kembali pergi meninggalkan kamar anaknya.


Bu Reva tersenyum.


"Semoga saja mereka berdua mau minum susu itu. Susu itu, sudah aku kasih obat, biar mereka berdua jadi bersemangat untuk bercinta," gumam Bu Reva sembari menuruni anak tangga.


"Syanum. Ini ada susu dari Mama. Kamu minum ya?" ucap Fabian sembari meletakkan susu itu di atas meja.


Syanum menggeleng.

__ADS_1


"Syanum. Jangan diamin aku seperti itu dong."


Syanum hanya melirik suaminya sekilas.


Fabian kemudian meminum susu itu sampai habis.


Beberapa saat kemudian, Fabian merasakan kepalanya sangat pusing. Dadanya panas seperti terbakar. Entah kenapa dengan tubuhnya. Reaksi yang luar biasa setelah Fabian meminum susu buatan ibunya. Entah obat apa yang sudah Bu Reva berikan pada anaknya.


"Aduh kepalaku," ucap Fabian yang sudah mulai setengah tidak sadar.


"Aku mau ke kamar mandi, panas banget tubuh aku Syanum."


Fabian kemudian melangkah pergi meninggalkan Syanum.


"Kenapa sih dengan Mas Fabian," ucap Syanum.


Syanum kemudian melangkah pergi ke arah tempat tidurnya. Dia kemudian naik ke atas ranjang, dan berbaring di sana.


"Tubuhku kenapa jadi seperti ini. Apa yang terjadi denganku," gumam Fabian yang masih menatap ke depan cermin yang ada di dalam kamar mandinya.


"Aku benar-benar menginginkan Syanum malam ini. Aku nggak bisa menahannya. Tapi, bagaimana jika Syanum tidak mau."


Fabian sejak tadi, masih tersiksa di dalam kamar mandi. Bagaimana caranya dia menuntaskan hasratnya. Fabian tidak pernah seperti ini sebelumnya. Namun karena efek dari obat yang di berikan ibunya, sensasi di dalam tubuhnya menjadi berbeda.


Fabian kemudian ke luar dari kamar mandi. Dia menatap ke arah Syanum yang sudah tertidur pulas.


Fabian tiba-tiba naik ke atas tempat tidur. Dia memeluk istrinya dengan erat. Syanum terkejut.


"Mas, apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu memelukku."


Syanum mencoba untuk menyingkirkan tubuh Fabian. Tapi Fabian semakin erat saja memeluknya.


"Syanum, aku tidak bisa menahan semua ini Syanum. Selama ini, aku tidak pernah minta jatah sama kamu. Berikanlah jatah aku untuk malam ini."


"Hah, jatah apa Mas?" Syanum semakin tidak mengerti.


Fabian sudah tidak bisa menahannya lagi. Sesuatu di bawa sana juga, sudah semakin mengeras. Dia sudah tidak sadar dengan keinginannya itu. Dia kemudian memaksa Syanum untuk berciuman dan dia meminta Syanum untuk melakukan hal yang belum pernah mereka lakukan selama menjadi suami istri.


Syanum yang masih sadar, hanya bisa pasrah dengan apa yang akan Fabian lakukan malam ini. Karena Syanum tahu kalau seorang istri, tidak boleh menolak keinginan suaminya.


'Apa aku harus melepaskan kesucianku pada lelaki ini. Tapi, bagaimana nanti kalau Mas Fabian meninggalkan aku. Tapi, aku juga tidak bisa menolak keinginannya, karena dia suamiku. Mungkin setelah melakukannya malam ini, Mas Fabian mau menerima aku.'

__ADS_1


__ADS_2