Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Mario koma


__ADS_3

Pak Sofyan kemudian melangkah pergi ke teras depan, untuk mengangkat telpon.


"Halo..."


"Halo. Benar ini dengan keluarga saudara Mario?"


"Iya, saya ayahnya."


"Saya dari pihak rumah sakit, ingin memberitahukan kalau saudara Mario sekarang ada di rumah sakit. Dia kecelakaan dan sekarang kondisinya masih dalam keadaan kritis."


Pak Sofyan membelalakkan matanya. Hampir saja ponsel yang ada ditangannya terjatuh ke bawah.


"Apa! anak saya kecelakaan? dan sekarang kondisinya kritis?"


"Iya Pak."


"Kapan kecelakaan itu terjadi?"


"Barusan Pak."


"Baik. Saya akan segera ke sana."


Setelah bertelponan dengan orang yang mengaku dari pihak rumah sakit, Pak Sofyan kemudian melangkah masuk untuk kembali ke ruang tamu.


"Bun, kita harus ke rumah sakit sekarang," ucap Pak Sofyan.


"Ke rumah sakit? untuk apa Yah?" tanya Bu Adela.


"Mario anak kita, barusan kecelakaan." Pak Sofyan menuturkan.


"Apa! kecelakaan?"


Bu Adela, Bu Novi dan Aira terkejut.


"Iya. Dan Mario sekarang kritis Bun."


Dani hampir saja terjatuh dari pangkuan Bu Adela. Pak Sofyan buru-buru mengangkat Dani dan memberikan Dani ke Bu Novi.


"Bunda nggak apa-apa kan?"tanya Pak Sofyan yang sudah memegangi ke dua bahu istrinya.


"Ayah. Kita harus ke rumah sakit sekarang ayah. Bunda nggak mau terjadi apa-apa dengan anak kita ayah. Dia anak satu-satunya yang bunda punya," ucap Bu Adela.


"Iya Bun."


Pak Sofyan dan Bu Adela kemudian pamit.


"Aira, Bu Novi. Kami pamit dulu ya. Kami mau ke rumah sakit. Mario kecelakaan," ucap Pak Sofyan.


"Iya Pak Sofyan, Bu Adel. Saya doakan semoga Mario baik-baik aja ya," ucap Bu Novi.


Pak Sofyan mengangguk."Iya Bu Novi."


"Kalau ada apa-apa. Nanti kabarin kita Om, Tan,"ucap Aira.


"Iya Aira," ucap Pak Sofyan lagi.


Pak Sofyan dan Bu Adela kemudian melangkah pergi keluar dari rumah Bu Novi.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi untuk ke rumah sakit.

__ADS_1


"Ayah. Cepat ayah! kita harus sampai ke rumah sakit! bunda tidak mau, terjadi apa-apa sama Mario anak kita ayah."


Saat ini, Bu Adela sangat mengkhawatirkan kondisi anaknya. Dia takut akan terjadi apa-apa dengan Mario. Bu Adela tidak mau kehilangan Mario. Karena Mario adalah anak satu-satunya yang dia punya.


"Iya Bun. Sabar Bun. Kita nggak bisa cepat-cepat. Kondisi jalannya juga macet begini," ucap Pak Sofyan di sela-sela menyetirnya.


Hiks...hiks..hiks...


"Mario... semoga kamu tidak apa-apa Nak. Bunda sayang sama kamu Mario. Bertahanlah Nak," ucap Bu Adela di sela-sela tangisannya.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah Bu Novi sampai ke rumah sakit, akhirnya Pak Sofyan dan Bu Adela sampai juga di rumah sakit.


Setelah memarkirkan kendaraannya di tempat parkiran rumah sakit, mereka kemudian turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit.


"Suster, apa di sini ada pasien yang bernama Mario? korban kecelakaan tadi sore?" tanya Pak Sofyan setelah berada di depan resepsionis.


"Oh. Saudara Mario, sekarang ada di ruangan UGD. Dia sekarang sedang mendapatkan penanganan intensif dari dokter," jawab suster.


"Bagaimana keadaan dia sekarang?" tanya Pak Sofyan lagi.


"Yang saya dengar, kecelakaannya cukup parah. Dan saya dengar saudara Mario juga dalam keadaan kritis," jelas suster.


"Makasih infonya Sus. Saya akan memastikan sendiri keadaan anak saya di dalam."


"Iya Pak."


Bu Adela dan Pak Sofyan cepat-cepat melangkah menuju ke ruangan UGD untuk melihat anaknya.


Tidak butuh waktu lama, tiba-tiba saja seorang dokter ke luar dari ruangan UGD.


Bu Adela dan Pak Sofyan melangkah mendekat ke arah dokter.


"Dokter. Bagaimana kondisi anak saya?" tanya Bu Adela.


"Maaf kalau saya harus katakan ini. Kami para medis, sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menangani saudara Mario. Tapi, saat ini, cuma keajaiban yang bisa menyelamatkannya. Karena saudara Mario sekarang dalam keadaan koma," jelas Dokter.


"Apa! koma?" ucap Bu Adela.


Bu Adela tiba-tiba saja terjatuh pingsan. Dia tidak sanggup untuk mendengar pernyataan kalau anaknya sekarang dalam keadaan koma..


Pak Sofyan segera menangkap tubuh istrinya.


"Bunda...Bunda...jangan pingsan Bun.." ucap Pak Sofyan sembari menepuk-nepuk pipi istrinya.


"Bapak bisa bawa istri anda ke ruangan yang ada di sebelah situ. Nanti saya akan periksa kondisi istri anda," ucap Dokter.


"Iya Dok."


Pak Sofyan menggendong istrinya untuk ke ruangan pemeriksaan. Setelah itu dia ke luar untuk menunggu istrinya di depan. Sementara dokter memeriksa Bu Adela di dalam.


Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar.


"Bagaimana Dok keadaan istri saya?" tanya Pak Sofyan khawatir.


"Dia cuma pingsan karena syok. Tidak ada masalah serius. Tidak ada masalahkan dengan jantung istri anda?" tanya Dokter.


Pak Sofyan menggeleng."Tidak ada Dokter."


"Em, begini Pak, saya mau kasih tahu hal yang serius pada bapak," ucap Dokter.

__ADS_1


"Tentang Mario?" tanya Pak Sofyan.


Dokter mengangguk."Iya."


"Kenapa sebenarnya dengan Mario?" Pak Sofyan sudah mulai serius.


"Kemungkinan Mario untuk sembuh, itu sangat kecil Pak. Mungkin cuma 20 persen. Karena benturan yang sangat keras dikepalanya, membuatnya mengalami gegar otak," ucap Dokter.


"Astaghfirullah. Kenapa bisa seperti itu.Bagaimana sebenarnya kronologi kecelakaannya?" tanya Pak Sofyan.


"Kalau menurut laporan yang saya dengar dari polisi, saudara Mario itu tabrakan motor dengan motor yang berlainan arah. Dan kedua motor itu melaju sangat kencang, sehingga tidak ada korban yang selamat. Kecuali saudara Mario."


"Jadi yang lainnya?" Pak Sofyan menatap lekat ke arah dokter.


"Ketiga pengendara lain, tewas di tempat kejadian."


Pak Sofyan menghela nafas dalam. Dia tidak menyangka kalau Mario akan mengalami nasib tragis seperti ini.


"Dokter. Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya. Saya akan mengobati Mario agar dia cepat sembuh. Berapapun biayanya, saya akan tanggung Dok. Bila perlu, saya akan bawa anak saya ke luar negeri."


"Umur manusia tidak ada yang tahu Pak. Dan ini bukan masalah biaya. Tapi masalah takdir. Seandainya Tuhan mentakdirkan Mario untuk hidup, insya Allah dia akan bisa melewati masa kritisnya."


"Iya. Benar itu Dok."


"Kalau sekarang, yang harus kita lakukan cuma berdoa Pak. Agar saudara Mario bisa melewati masa kritisnya. Karena sekarang dia masih koma, dan kemungkinan untuk hidup dan sembuh kembali, hanya sedikit. Tapi anda tenang saja. Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien."


"Tolong ya Dok. Mario itu anak saya satu-satunya. Saya tidak mau kehilangan dia. Tapi jika takdir berkata lain, dan Mario harus kembali ke penciptanya, saya pun ikhlas."


"Iya. Kalau begitu, saya permisi dulu Pak."


"Iya Dok."


Dokter kemudian melangkah pergi meninggalkan Pak Sofyan. Sementara Pak Sofyan hanya bisa terduduk dengan lemas menunggu istri dan anaknya yang masih pingsan.


Ring ring ring...


Suara ponsel dari tas Bu Adela terdengar. Pak Mario segera mengambil ponsel istrinya yang ada di dalam tas istrinya. Dia kemudian mengangkat telpon dari Bu Novi.


"Halo..."


"Halo Pak Sofyan. Bagaimana kondisi Mario sekarang?"


"Mario kritis. Dia masih dalam keadaan koma. Dan istri saya, sekarang pingsan dan belum sadarkan diri."


"Inalilahi wa inna ilaihi raji'un. Saya turut berduka ya Pak Sofyan atas musibah yang sedang menimpa bapak.Jadi Mario koma Pak?"


"Iya. Kata dokter, karena benturan keras yang menimpa kepalanya, membuat Mario gegar otak. Dan sekarang, cuma keajaiban yang bisa menyelamatkannya."


"Astaghfirullah. Kenapa bisa jadi seperti ini sih."


"Tolong ya Bu Novi. Doakan anak dan istri saya. Agar mereka semua cepat sembuh dan bisa kembali kumpul bersama saya."


"Iya. Saya akan doakan. Semoga Mario bisa cepat melewati masa kritisnya. Dan Bu Adela, semoga cepat siuman dan diberi ketabahan."


"Makasih ya Bu Novi. Saya titip Dani ya Bu Novi. Nanti kalau dia udah besar, saya ingin bawa Dani untuk tinggal bersama saya dan istri saya. Karena rumah saya sepi . Saya cuma punya Mario saja."


"Iya Pak Sofyan. Kalau saja Mentari dan Mario mau, kita nikahkan saja mereka setelah Mario sembuh."


"Saya setuju kalau itu Bu Novi. Biar Dani mempunyai orang tua yang lengkap."

__ADS_1


"Ya udah Pak. Saya cuma mau tahu aja kondisi Mario. Nanti kalau ada waktu, saya akan ke sana untuk menjenguk Mario. Besok atau lusa."


"Iya Bu Novi."


__ADS_2