
Malam ini, Syanum masih berada di ruang rawat rumah sakit. Sejak tadi, dia masih mengobrol dengan Luna.
"Kak Syanum, tadi siang, aku khawatir banget sama kamu tahu nggak. Aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Luna.
Syanum tersenyum.
"Tapi, aku nggak apa-apa kan. Dan bayi aku juga selamat, jadi kamu nggak usah khawatirin aku lagi Lun."
"Iya. Tadi pagi aku panik. Aku sempat telpon Kak Dila," jelas Luna.
"Apa! terus Kak Dila datang ke sini?" tanya Syanum.
"Iya. Tapi karena dia nungguin kamu lama nggak siuman, jadi dia balik lagi ke kantor. Tapi katanya dia mau ke sini lagi malam ini."
"Jadi, Kak Dila ke sini. Terus, apa suami aku tahu kalau aku ada di sini?" tanya Syanum.
"Dia nggak tahu kamu ada di sini. Kamu tenang aja. Karena Kak Dila juga nggak akan bilang apa-apa kok ke Kak Abi."
Ring ring ring...
Suara ponsel Luna tiba-tiba saja berdiring.
"Tunggu sebentar. Ada telpon," ucap Luna.
Syanum mengangguk. "Iya."
"Aku angkat telpon dulu ya."
"Iya."
Luna menjauh dari Syanum untuk mengangkat telpon.
"Halo Kak."
"Kamu dan Syanum ada di mana sekarang? kenapa rumah jadi sepi banget kaya kuburan."
"Kak. Aku lagi ada di rumah sakit nungguin Syanum."
"Apa! Syanum ada di rumah sakit? emang Syanum kenapa?"
"Tadi siang Syanum habis jatuh dari kamar mandi. Terus dia pendarahan."
"Pendarahan? ya ampun, kasihan banget Syanum. Terus, bagaimana kondisinya sekarang?"
"Dia nggak apa-apa Kak."
"Terus, kandungannya gimana?"
"Kandungannya juga baik-baik aja Kak."
"Ya udah. Kakak sekarang ke sana ya. Kakak pengin lihat Syanum. Kakak khawatir banget sama dia."
"Iya Kak."
Tut...
Saluran telpon Luna, tiba-tiba saja terputus.
"Ih, cepat amat di matiin," gerutu Luna. Luna kemudian melangkah mendekat kembali ke arah Syanum.
"Siapa?" tanya Syanum.
"Kak Ryan," jawab Luna.
__ADS_1
"Dia bilang apa?"
"Dia nyariin kita Kak."
"Terus, kamu bilang kita ada di sini?"
"Iya."
Syanum menghela nafas dalam. Dia kemudian menatap Luna lagi.
"Kalau Kak Dila. Dia mau ke sini lagi?" tanya Syanum.
"Katanya sih gitu."
"Kalau dia ke sini, Dimas sama siapa?"
"Di rumah kan banyak orang Kak. Ada Om Damar, Tante Reva dan suami kamu. Masak iya sih mereka nggak mau jagain Dimas."
"Tapi, gimana kalau Mas Fabian tahu aku di sini. Pasti dia akan datang ke sini. Aku malas banget ketemu sama dia."
"Kamu tenang aja. Kak Abi nggak akan tahu kok kamu ada di sini."
***
Setelah selesai makan malam, Dila melangkah ke kamarnya. Dia akan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit nengok Syanum.
"Mama. Mama mau ke mana?" tanya Dimas.
"Mama mau ke..." Dila menggantungkan ucapannya.
'Duh, kalau aku bilang aku mau ke rumah sakit nengokin Syanum, pasti Dimas akan minta ikut. Dan dia juga pasti akan cerita-cerita ke Oma, Opa, dan Omnya. Aku harus beralasan apa ya, agar Dimas nggak minta ikut.'
"Em... mama mau ke kantor sayang."
"Ini kan udah malam Ma."
"Apa Ma, yang ketinggalan di kantor? kan Mama bisa mengambilnya besok."
"Iya sih. Tapi ini penting banget sayang. Mama harus cepat-cepat ke sana sekarang. Dimas nggak apa-apa kan Mama tinggal sendiri?"
"Iya deh, nggak apa-apa."
"Ya udah. Kalau Dimas takut sendirian, nanti Mama panggil Oma, Opa atau Om untuk jagain kamu di sini."
"Jangan! panggil Mbak Fani aja."
"Ya udah deh. Nanti Mama panggilkan Mbak Fani ya."
"Iya Ma."
Setelah siap, Dila kemudian melangkah ke luar dari kamarnya. Dia kemudian melangkah ke dapur untuk memanggil Mbak Fani.
"Mbak Fani lagi sibuk apa?" tanya Dila.
"Oh, ini Non Dila. Lagi mau nyuci piring."
"Bisa nggak Mbak Fani ke kamar Dimas. Aku mau pergi. Tolong jagain Dimas ya. Dimas nggak berani sendirian."
"Udah sono Fan. Ke kamar Dimas dulu, kasihan dia sendirian. Biar aku aja yang cuci piringnya," ucap Mbak Asih.
"Iya Mbak."
Mbak Fani kemudian melangkah untuk ke kamar Dimas. Sementara Dila melangkah ke ruang tamu. Sebelum sampai di ruang tamu, Bu Reva memanggilnya.
__ADS_1
"Dila," ucap Bu Reva.
"Kamu mau ke mana?" tanya Bu Reva.
"Aku mau ke rumah teman Ma. Ada urusan sebentar," bohong Dila.
Padahal, sebenarnya Dila itu mau ke rumah sakit. Tapi dia tidak mau menceritakan semua itu pada orang tuanya. Dia takut, kalau Pak Damar dan Bu Reva itu akan syok dan kefikiran dengan Syanum.
'Maafin aku ya Ma. Aku harus bohongin Mama. Sebenarnya aku mau ke rumah sakit nengokin Syanum.'
"Tapi ini kan udah malam Dil."
"Ma. Tolong izinin aku ya. Aku sebenarnya mau nengokin teman. Teman aku itu ada di rumah sakit. Kalau siang, aku kan harus kerja. Nggak ada waktu."
"Baiklah." Akhirnya Bu Reva mengizinkan setelah tadi, dia melarang.
Dila melangkah ke luar dari rumahnya. Dia tidak melihat adiknya ada di teras.
"Kak Dila mau ke mana malam-malam begini. Udah jam setengah sembilan. Kalau ada apa-apa dengan dia di jalan gimana," gumam Fabian.
Dila melangkah ke garasi. Dia kemudian mengambil mobilnya.
"Ah, aku ikutin ah. Kak Dila kan cewek. Kenapa dia harus pergi sendiri sih. Kenapa nggak ajak aku aja."
Dila masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia meluncur ke luar dari halaman rumahnya dengan mobilnya. Fabian tidak tinggal diam. Dia juga masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya untuk mengikuti mobil Dila.
"Kak Dila mau ke mana sih malam-malam gini. Nggak biasanya dia ke luar malam-malam sendiri," gumam Fabian di sela-sela menyetirnya.
Fabian masih mengikuti kakaknya.
"Untuk apa Kak Dila malam-malam begini ke rumah sakit. Siapa yang sakit."
Dila ke luar dari mobilnya. Fabian juga ke luar dari mobilnya. Fabian tampak penasaran dengan seseorang yang akan ditemui Dila di rumah sakit malam ini.
Dila melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Begitu juga dengan Fabian yang masih mengekor dibelakang Dila.
Dila melangkah ke salah satu ruangan di mana Syanum berada. Setelah itu, dia masuk ke dalam ruangan itu.
"Syanum, kamu nggak apa-apa?" tanya Dila tiba-tiba, sembari mendekat ke arah Syanum.
Dila duduk di samping Syanum.
"Kakak khawatir banget tahu nggak sama kamu Syanum," ucap Kak Dila.
Syanum hanya tersenyum.
"Maafin aku ya Kak, sudah membuat kakak khawatir."
"Nggak apa-apa Syanum. Lain kali, kamu hati-hati dong. Jangan sampai kamu jatuh lagi kayak tadi siang. Bagaimana kalau kandungan kamu kenapa-kenapa. Kakak nggak mau, nasib kamu sama seperti kakak. Harus kehilangan anak yang ada di dalam kandungan."
"Kakak nggak usah khawatirkan aku. Aku udah nggak apa-apa kok. Bayi aku juga selamat.'
"Tapi Kakak tetap khawatir Syanum."
"Aku janji, aku akan hati-hati Kak. Mas Fabian nggak tahu kan kalau aku ada di sini?" tanya Syanum.
"Kakak belum bilang apa-apa sama mama dan papa. Apalagi sama Fabian. Kakak nggak mau mereka khawatir sama kamu Syanum."
"Mendingan nggak usah di kasih tahu Kak. Kalau mereka tahu, aku takut Mas Fabian juga akan tahu dan dia akan datang ke sini."
"Emang kenapa kalau dia tahu."
"Aku nggak mau ketemu sama dia lagi."
__ADS_1
"Kamu belum memaafkan dia ya?'"
"Aku udah maafin dia kok. Tapi aku masih malas aja untuk ketemu dia" ucap Syanum..