Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Perasaan Aira


__ADS_3

Sepulang kantor, Fabian tidak langsung pulang ke rumahnya. Sore ini, dia ada janji, untuk mengajak jalan Aira.


Saat ini, Fabian masih berada di jalan raya. Dia akan menuju ke rumah Aira.


Ring ring ring...


Suara deringan ponsel Fabian berbunyi. Fabian buru-buru mengangkat ponselnya.


"Halo Ra."


"Halo Bi. Kamu di mana sekarang? kita jadi nggak ke luar?"


"Iya. Ini aku lagi ada di perjalanan. Aku mau ke rumah kamu nih."


"Kok lama amat ya Bi, nggak nyampe-nyampe. Katanya kamu udah ke luar kantor sejak tadi."


"Jalanan macet banget Ra. Aku aja ini masih ada di lampu merah."


"Oh gitu. Ya udah. Aku tunggu di rumah ya Bi. Aku udah siap dari tadi nih."


"Iya. Sabar ya. Sebentar lagi aku nyampe kok."


"Ya udah deh. Aku tunggu ya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Setelah melewati jalanan yang begitu macet sore ini, akhirnya Fabian sampai juga di depan rumah Aira.


Fabian membunyikan klakson mobilnya setelah dia sampai di depan rumah Aira. Beberapa saat kemudian, Aira keluar dari rumahnya.


Dia menatap lelaki tampan yang ada di dalam mobil.


"Masuk!" pinta Fabian.


Aira buru-buru masuk ke dalam mobil Fabian. Setelah Aira masuk, Fabian kemudian mengemudikan kendaraannya dan melanjutkan perjalanannya.


****


Jam tujuh malam, Aira dan Fabian masih berbincang-bincang di dalam cafe. Mereka masih menikmati makan malam mereka, malam ini.


"Bi. Kok kamu diam aja? kenapa? di makan dong makanannya. Apa makanannya nggak enak?" tanya Aira.

__ADS_1


"Enak kok."


"Kamu sebenarnya lagi mikirin apa sih Bi? dari tadi, aku lihatin kamu seperti orang bingung gitu."


"Aku cuma lagi capek aja Ra. Kerjaan di kantor aku juga lagi banyak banget."


Aira tersenyum.


"Itu sih hal yang wajar Bi. Namanya juga orang kerja ya pasti gitu. Aku juga pengin kerja Bi. Apa di kantor kamu ada kerjaan?"


Fabian mengernyitkan alisnya bingung.


"Kamu mau kerja? di kantor aku?"


"Iya Bi. Terserah sih, mau jadi apa aja. Kan aku sekarang sudah lulus kuliah di luar negeri. Jadi aku sudah bisa dong ngelamar kerja di tempat kamu?"


"Yah, boleh aja sih. Tapi sepertinya untuk sekarang ini, di kantor aku, belum membutuhkan karyawan deh."


"Oh iya. Bi, kalau di kantor kamu butuh karyawan, kamu tinggal hubungi aku aja ya Bi. Aku bingung nih mau cari kerja di mana."


"Iya Ra."


"Ya udah. Di makan yuk Bi!"


Aira sejak tadi, masih mencuri pandang ke arah Fabian. Lelaki yang masih sangat dicintainya sampai saat ini.


"Ra. Sebenarnya, aku masih ke ingat sama Mentari. Aku benar-benar tidak punya semangat hidup lagi sejak wanitaku pergi dari kehidupanku."


"Kamu masih cinta sama dia?" Aira menatap Fabian dalam.


"Iya. Aku masih cinta sama dia. Demi apapun, aku tidak akan pernah bisa melupakan dia," ucap Fabian.


Wajah Aira tiba-tiba saja berubah menjadi sedih.


'Kenapa sih, di saat kita sedang berdua begini kamu masih saja memikirkan Mentari. Apa tidak ada kesempatan untuk aku ada di dalam hati kamu Bi,' batin Aira.


"Bi. Seharusnya kamu itu sadar. Kalau Mentari itu sudah meninggalkan kamu. Dia sudah tidak perduli lagi sama kamu. Kenapa sih kamu itu masih saja mikirin dia. Mungkin saja kan, kalau sekarang Mentari sedang berbahagia dengan kehidupan barunya. Bisa jadi kan dia meninggalkan kamu, karena dia sudah punya lelaki lain yang lebih dia cintai," ucap Aira.


"Aku tidak percaya kalau Mentari pergi karena cowok lain. Mentari itu cinta sama aku. Begitu juga dengan aku, yang masih sangat mencintai dia. Aku masih mengharapkan dia kembali dalam kehidupan aku Ra."


Aira menghela nafas dalam. Dia kemudian meraih tangan Fabian dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Bi. Di luar sana, masih ada wanita baik yang sedang menunggu kamu. Masih ada wanita yang mau mencintai kamu dengan tulus. Dan dia rela pergi dari kehidupan kamu, demi kebahagiaan kamu dengan Mentari."


Fabian mengernyitkan alisnya bingung. Dia tidak tahu wanita siapa yang Aira maksudkan itu. Mungkinkah, selain Mentari ada wanita lain yang mencintai Fabian. Fabian sama sekali tidak tahu.


"Siapa wanita itu Ra?" tanya Fabian penasaran..


Aira diam.


"Aku. Aku Bi wanita itu," ucap Aira yang membuat Fabian terkejut.


"Kamu? kamu mencintai aku?"


Aira mengangguk.


"Iya Bi. Aku itu masih cinta sama kamu. Selama ini, aku belum bisa melupakan kamu."


Fabian tidak menyangka kalau Aira ternyata masih mencintai Fabian.


"Bi. Sejak dulu, aku memang tidak berani untuk mengatakan ini sama kamu. Karena aku tahu, keterbatasan aku. Aku tidak pantas untuk kamu. Aku tidak secantik Mentari, aku tidak seanggun Mentari, dan aku tidak secerdas Mentari. Makanya kamu lebih memilih Mentari dibanding aku. Aku tahu, kamu putusin aku karena kamu lebih memilih Mentari sepupu aku wanita yang jauh lebih sempurna dari pada aku."


Setetes air mata Aira tiba-tiba menjatuhi pipi mulusnya.


"Tapi perlu kamu ingat Bi. Cinta aku, lebih besar dari cinta Mentari. Aku tulus mencintai kamu. Dan aku rela mengorbankan perasaan aku, untuk sepupu aku dan untuk kebahagiaan kamu. Karena aku tahu, kamu itu cuma cinta sama Mentari."


Fabian terkejut saat melihat Aira menangis.


"Aira. Kamu kenapa nangis?" tanya Fabian.


Fabian mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus air mata Aira.


"Maaf kan aku Aira. Aku tidak tahu, kalau cinta kamu sedalam ini sama aku. Aku tahu perasaan kamu Aira. Maafkan aku. Karena aku tidak bisa membalas cinta kamu."


"Nggak apa-apa Bi. Aku sudah bisa sedekat ini sama kamu aja, aku sudah bahagia."


Fabian merasa iba pada Aira. Dia baru tahu, kalau Aira ternyata masih mempunyai perasaan cinta yang besar untuknya. Padahal, sudah bertahun-tahun Aira pergi dari kehidupan Fabian.


"Jujur, dalam hati aku, aku cuma mencintai Mentari. Aku juga nggak tahu, kenapa aku selalu mencintai dia. Bahakan sampai Mentari meninggalkan aku dan mengecewakan aku. Aku juga masih tetap mencintai dia Aira. Dan sampai saat ini, aku selalu berharap Mentari akan kembali dalam kehidupan aku."


"Aku tahu Bi. Tapi, kamu harus belajar untuk melupakan dia Bi. Karena dia sudah pergi dalam kehidupan kamu. Itu sudah pilihan dia. Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Jika dia lebih bahagia hidup tanpa kamu, biarkan saja dia Bi. Cinta itu tidak harus saling memiliki kan Bi?"


"Iya Ra. Aku tahu itu. Tapi, aku tetap harus mencari dia. Dia menghilang dengan misterius. Dan aku khawatir sama dia Ra. Aku tidak ingin, hal-hal yang tidak aku inginkan terjadi pada Mentari."

__ADS_1


Aira tersenyum getir. Sebesar itukah cinta Fabian untuk Mentari. Adakah kesempatan untuk Aira singgah di hati Fabian. Dan Aira akan tetap menunggu sampai Fabian mau membuka hatinya untuk wanita lain.


__ADS_2