Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Tangisan Dila


__ADS_3

Waktu sudah menunjuk ke angka 6. Syanum masih berbaring di atas tempat tidur Fabian. Begitu juga dengan Fabian yang masih nyenyak di atas sofa kamarnya.


Syanum mengerjapkan matanya. Dia kemudian melihat ke arah jam dinding.


"Apa! udah jam enam. Jadi, aku ke siangan," ucap Syanum.


Syanum buru-buru turun dari tempat tidurnya. Dia melangkah ke kamar mandi untuk cuci muka. Tanpa membangunkan Fabian, Syanum buru-buru melangkah turun ke bawah.


"Selamat pagi, pengantin baru..." ucap Dila menyambut Syanum dengan ramah. Dila sekarang sudah berada di dapur. Walau dia masih duduk di kursi roda, tapi dia mau membantu Mbak Asih untuk memasak.


Syanum tersenyum pada Dila.


"Kak Dila. Kok kakak ada di sini?" tanya Syanum.


"Iya. Kakak jenuh di kamar terus Syanum. Kakak pengin bantuin Mbak Asih masak."


"Seharusnya aku Kak yang bantuin Mbak Asih memasak. Bukan Kakak. Tapi, aku malah kesiangan."


Bu Reva melangkah menghampiri anak dan menantunya.


"Mama kemarin udah telpon ke yayasan tempat langganan Mama. Mungkin besok, mereka akan ngantar Mbak baru ke sini."


Syanum dan Dila saling menatap.


"Mama pesan ART baru?" tanya Dila.


"Iyalah. Sekarang di rumah ini kan, sudah nambah anggota baru, seperti Syanum, Dila dan Dimas, jadi harus ada dua ART di sini. Biar pekerjaan Mbak Asih jadi ringan, iyakan Mbak?"


Mbak Asih mengangguk dan tersenyum. "Iya Nya."


"Tapi, Dila nggak akan selamanya kan Ma, tinggal di sini sama Dimas. Dila juga harus ikut papanya Dimas ke luar negeri lagi. Papanya Dimas kan kerjanya di sana. Mungkin kalau Dimas dan aku sudah sembuh, Mas Ridho akan menjemput kami dan membawa kami."


Bu Reva terkejut mendengar ucapan Dila. Memang selama ini, Dila belum tahu kalau suaminya itu meninggal. Karena belum ada dari satupun keluarga yang memberi tahunya.


"Kenapa kalian bertiga malah pada diam?" tanya Dila.


"Dil. Lebih baik, kamu istirahat aja di kamar. Kamu masih sakit Dil. Kamu masih lemas," ucap Bu Reva.


Dila menggeleng.


"Nggak Ma. Aku mau di sini aja. Aku bete kalau di kamar terus. Apalagi Dimas. Dia pasti udah pengin ketemu ayahnya. Begitu juga dengan calon bayiku, yang ada di dalam kandungan." Dila mengelus perutnya. Sepertinya dia masih belum tahu kalau dia keguguran waktu kecelakaan itu.


"Dil. Ada yang mau Mama bicarakan Nak, sama kamu. Ikutlah mama sebentar," ajak Bu Reva.

__ADS_1


Dila mengangguk."Iya Ma."


Bu Reva kemudian mendorong kursi roda Dila, untuk sampai ke teras samping rumahnya.


"Kita duduk di sini aja ya Dil. Sebentar lagi, mentari akan bersinar. Sinar pagi itu, sangat baik untuk kesehatan. Apalagi untuk kesehatan orang yang lagi sakit seperti kita."


Dila tersenyum.


"Emang mama mau bicara apa?apa yang mau mama bicarakan?"


"Dil. Kamu masih ingat dengan kejadian kecelakaan pesawat itu?"Bu Reva menatap lekat anaknya.


"Dila tidak ingat betul kejadian itu Ma. Karena kejadian itu, tiba-tiba saja datangnya. Dan saat Dila sadar, Dila sudah ada di rumah sakit Ma," jelas Dila.


"Nak, ada yang harus kamu tahu tentang kandungan kamu."


Dila menatap ibunya lekat.


"Kenapa emang Ma? kandungan aku baik-baik aja kan? karena suster dan dokter, tidak mengatakan apapun tentang kandungan aku."


"Nak, sebenarnya, calon bayi yang ada di dalam kandungan kamu itu, sudah tidak ada."


Dila terkejut mendengar ucapan ibunya.


"Nak, kamu itu keguguran Nak. Waktu kamu kecelakaan, kamu itu mengalami pendarahan yang sangat hebat. sehingga membuat janin kamu tidak bisa untuk di selamatkan lagi," jawab Bu Reva yang membuat Dila sangat terkejut.


"Ya Allah... benarkah itu Ma? Tapi, kenapa semua orang tidak memberi tahu aku, kalau aku keguguran. Dan Mama, kenapa baru memberi tahu aku sekarang? kenapa Ma?" ucap Dila dengan suara yang semakin meninggi.


Dila menang sedikit kesal pada ibunya. Karena ibunya tidak pernah memberitahu sejak kemarin, tentang keguguran itu.


Bu Reva meraih tangan anaknya.


"Maafkan Mama Nak, karena Mama baru memberi tahu kamu sekarang."


Hiks...hiks...hiks...


Dila tidak bisa menahan tangisnya. Dila menangis sejadi-jadinya di depan ibunya. Dila benar-benar tidak menyangka, kalau dia akan kehilangan calon anaknya.


"Kenapa Ma. Kenapa aku harus kehilangan calon anakku. Padahal, aku sudah menjaganya. Dan Dimas juga sudah sangat menginginkan punya adik," ucap Dila di sela-sela tangisannya. Dia sejak tadi juga masih mengelus-elus perutnya.


"Sabar ya sayang. Mungkin, semua ini sudah takdir kamu Nak." Bu Reva mencoba untuk menenangkan anaknya.


Bu Reva menatap Dila lekat. Dia kemudian mengusap air mata Dila.

__ADS_1


"Jangan nangis ya Nak. Ini semua musibah. Musibah tidak ada yang tahu, kapan datangnya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah, belajar ikhlas dan sabar menerima semua ini," ucap Bu Reva yang masih menenangkan tangisan anaknya.


"Tapi Ma. Apakah Mas Ridho tahu tentang ini? kalau dia tahu dengan semua ini, pasti dia akan sangat kecewa Ma," ucap Dila yang masih menganggap Ridho itu ada.


"Sayang. Sabar ya. Kamu harus sabar. Kamu jangan nangis lagi ya."


Dila benar-benar sedih sekali saat mendengar kabar kalau dia keguguran, dan bayinya tidak bisa di selamatkan. Dila begitu sangat terpukul karena kehilangan janinnya. Dia sejak tadi belum bisa menghentikan tangisannya. Dia masih sesenggukan menangis di sisi Bu Reva.


Bu Reva hanya bisa membiarkan Dila menangis.


'Kasihan Dila. Dia pasti sangat sedih sekali. Aku baru cerita tentang kandungannya saja dia sudah sedih seperti ini. Bagaimana kalau aku cerita kalau suaminya sudah meninggal. Dia pasti akan sangat sedih sekali. Aku nggak sanggup harus cerita semuanya pada Dila.'


Dila mengusap air matanya.


"Tapi, aku masih bisa untuk hamil lagi kan Ma?" tanya Dila sembari menatap ibunya lekat.


Bu Reva hanya diam. Dia benar-benar sedih sekali melihat anaknya yang tampak sangat rapuh.


Awalnya, Bu Reva ingin menceritakan semuanya pada Dila. Tapi melihat Dila serapuh itu, Bu Reva tidak sanggup jika harus cerita kalau suami Dila itu sudah meninggal dalam kecelakaan pesawat itu.


'Dila, maafkan ibu, karena ibu belum bisa cerita kalau suami kamu itu sudah meninggal. Maafkan ibu Nak, karena ibu sudah membohongi kamu. Tapi, ibu tidak sanggup untuk cerita semuanya sama kamu sekarang'


Bu Reva meneteskan air matanya. Dia tidak tega melihat anaknya serapuh itu. Bu Reva kemudian meraih kepala Dila dan menenggelamkan kepala Dila di pelukannya.


"Sayang, kalau kamu ingin menangis, menangislah. Mama akan selalu ada buat kamu Nak. Mama yakin kamu pasti kuat Nak."


Syanum sejak tadi masih memperhatikan ibu mertua dan kakak iparnya.


"Kasihan Kak Dila. Dia pasti sedih banget karena kehilangan calon janinnya. Bagaimana ya, kalau dia tahu suaminya itu sudah meninggal. Aku tidak tahu, bagaimana perasaanku, jika aku ada di posisi Kak Dila. Pasti sangat hancur," gumam Syanum


Syanum melangkah mendekat ke arah mertua dan kakak iparnya.


"Mama, Kak Dila. Kalian kenapa masih ada di sini? Papa, Dimas, dan Mas Fabian sudah menunggu kalian di ruang makan."


Bu Reva dan Dila melepaskan pelukan mereka. Mereka kemudian menatap ke arah Syanum.


"Iya Syanum. Kita akan ke sana sekarang," ucap Bu Reva.


Bu Reva kemudian mendorong kursi roda Dila.


"Biar Syanum aja Ma," ucap Syanum.


Syanum kemudian mendorong kursi roda Dila sampai ke ruang makan.

__ADS_1


__ADS_2