
Hoek...Hoek...
Malam ini, Mentari tidak enak badan. Dari tadi sore, dia masih mual-mual. Tidak karuan rasanya.
Mentari hanya bisa duduk di sisi ranjangnya.
"Kenapa perut aku mual banget begini ya," ucap Mentari sembari memegangi perutnya yang mual.
"Hoek..."
Mentari tidak bisa lagi menahan mualnya. Dia kemudian segera keluar kamarnya dan berlari ke arah kamar mandi. Dia kemudian memuntahkan semua isi perutnya di dalam kamar mandi.
Hoek... Hoek...
Mentari menatap cermin yang ada di dalam kamar mandi. Dia kemudian membasuh wajahnya dengan air. Setelah itu dia mengelapnya dengan tissu.
Di sisi lain, telpon Mentari masih berbunyi. Fadlan sejak tadi menelpon Mentari. Tapi, Mentari juga belum mau mengangkatnya. Karena dia tidak mendengarnya.
Setelah memuntahkan isi perutnya, Mentari kemudian melangkah pergi ke arah kamarnya lagi.
Dia mendekat ke arah ponselnya. Dan Mentari terkejut saat melihat ponselnya. Sudah ada delapan panggilan tak terjawab dari Dokter Fadlan.
"Ya ampun. Dokter Fadlan nelpon. Aku nggak dengar. Aku telpon balik lagi deh," ucap Mentari.
Mentari kemudian menelpon balik Fadlan. Dia menekan nomer Fadlan.
Tut...tut...tut....
"Angkat dong Dokter," ucap Mentari.
Beberapa kali Mentari menelpon Fadlan. Tapi Fadlan tidak mengangkat telpon dari Mentari.
"Ke mana sih Dokter Fadlan ini," gerutu Mentari.
Setelah lelah Mentari menelpon Fadlan, Mentari meletakan kembali ponselnya di atas nakas.
"Mungkin dia sudah tidur," ucap Mentari.
Setelah itu, dia mencoba untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya.
Sudah lebih dari setengah bulan, Mentari tinggal sendiri di rumah kontrakan. Dan selama itu, Fabian belum menghubungi Mentari dan menemuinya. Mungkin Fadlan tidak mau terlalu dekat dengan Mentari lagi karena dia tidak mau membuat Lisa cemburu lagi seperti waktu itu. Dia ingin menjaga perasaan Lisa.
Waktu sudah menunjuk ke angka sembilan. Mentari mulai memejamkan matanya untuk tidur, setelah mualnya mulai mereda.
****
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel, membangunkan Mentari dari tidurnya. Mentari mengerjapkan matanya. Dia kemudian meraih ponselnya dan mengangkat telpon dari Fadlan.
"Halo..."
"Halo Mentari. Kamu sudah tidur ya. Maaf ya kalau aku ganggu."
"Nggak apa-apa Dokter. Aku juga lagi nggak bisa tidur dari kemarin."
"Kenapa? kamu betah kan tinggal di sana."
"Iya. Tapi aku lagi sakit Dokter."
__ADS_1
"Sakit apa?"
"Nggak tahu. Sejak kemarin, perut aku sakit. Aku mual terus Dok. Aku juga nggak tahu kenapa?"
"Ya udah. Begini aja. Nanti besok aku akan ke sana dan aku akan periksa kamu ya."
"Apa nggak bisa sekarang Dok?"
"Nggak bisa Mentari. Aku lagi ada tugas malam di rumah sakit. Di rumah sakit, lagi banyak pasien yang harus aku tangani. Kamu kan tahu, kalau aku dokter bedah. Aku harus selalu siap sedia saat ada pasien yang akan di operasi."
"Oh. Iya, aku tahu itu. Aku fikir kamu ada di apartemen. Ternyata kamu ada di rumah sakit?"
"Iya Mentari."
"Ya udah. Lanjutkan saja kerjaan kamu Dok. Besok jangan lupa ya, ke sini. Aku benar-benar nggak enak banget. Mual terus dan nggak tahu kenapa."
"Mungkin kamu kena asam lambung Mentari."
"Iya. Mungkin. Aku tutup dulu Dok telponnya. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Mentari kemudian menutup saluran ponselnya dan memejamkan matanya kembali dan tidur.
****
Tok tok tok ...
Suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar rumah kontrakan Mentari.
"Assalamualaikum. Mentari...Mentari...!" suara Dokter Fadlan sudah terdengar dari luar.
Hooaammm...
"Jam berapa ini. Dokter Fadlan sudah nyampe ke sini," ucap Mentari.
Mentari buru-buru turun dari tempat tidurnya dan melangkah ke arah ruang tamu untuk membuka pintu.
Mentari tersenyum saat melihat Fadlan sudah berdiri di depan pintu.
"Selamat pagi!" Senyum Dokter Fadlan mengembang saat melihat Mentari dengan rambut yang masih acak-acakan.
"Kamu baru bangun ya?" tanya Dokter Fadlan.
Mentari mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Masuk yuk!" Mentari mempersilahkan Dokter tampan itu masuk.
"Duduk Dok!"
"Iya. Makasih."
Dokter Fadlan kemudian duduk di sofa ruang tamu sembari meletakan sesuatu di atas meja.
"Apa itu?" Mentari menatap bungkus plastik yang ada di atas meja.
"Aku bawa sarapan buat kamu. Kamu pasti belum sarapan kan? dan di mobil, aku juga bawa parcel buah. Barang kali kamu pengin buah-buahan."
"Makasih banyak Dok. Maaf udah ngerepotin."
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Aku sama sekali tidak ngerasa direpotin kok."
"Oh iya. Sejak kapan kamu mulai mual-mual?" tanya Fadlan.
"Sejak kemarin," jawab Mentari.
Fadlan tampak berfikir. Sudah lebih dari satu bulan Fadlan membawa Mentari bersamanya. Dan mungkinkah, mual-mual Mentari karena gejala kehamilan. Karena Mentari pernah cerita kalau dia sudah diperkosa seseorang.
'Apa jangan-jangan Mentari hamil. Tapi, ini cuma tebakan aku saja. Mudah-mudahan dia nggak hamil beneran. Aku kasihan melihat dia depresi lagi seperti kemarin," batin Fadlan.
"Dok. Kenapa kamu ngelamun? apa yang lagi kamu fikirkan? kamu lagi mikirin Lisa ya?" terka Mentari.
Fadlan menggeleng.
"Nggak kok."
"Gimana hubungan kamu dengan Lisa?" tanya Mentari.
"Kita sudah baikan," jawab Fadlan.
"Oh. Syukurlah kalau gitu. Jadi, dia sudah nggak salah faham lagi kan sama kamu?"
Fadlan menggeleng.
"Nggak. Aku udah jelasin semuanya sama dia. Kalau di antara kita itu, tidak ada hubungan apa-apa lagi."
"Syukurlah kalau gitu Dok."
"Ya udah. Sekarang aku akan periksa kamu dulu. Mumpung aku bawa peralatan Dokternya. Nanti, aku akan kasih kamu resep obat."
"Iya Dok."
"Kita periksa di kamar ya."
Mentari mengangguk.
Dokter Fadlan kemudian memeriksa Mentari di kamar Mentari. Setelah itu, dia menulis resep vitamin untuk Mentari.
"Sekarang aku akan tulis resepnya dulu."
"Dokter. Apakah aku harus Nebus resepnya di apotik? kenapa nggak langsung beri aku obat aja."
"Tapi aku nggak bawa obat-obatan Mentari. Mungkin di klinik pribadi aku, banyak obat. Tapi jauh untuk ngambilnya. Dan lagian, dia depan kan ada apotik. Kamu bisa menebus obatnya di sana."
"Ya udah deh."
'Maafkan aku Mentari. Aku cuma ngasih kamu vitamin dan obat anti mual untuk orang hamil. Aku takutnya gejala kamu itu gejalanya orang hamil. Orang hamil itu kan tidak boleh sembarangan dengan obat-obatan. Tapi aku nggak mau ngomong ini sama kamu. Karena aku takut, kamu akan depresi lagi. Dan aku nggak mau sampai melihat kamu ingin mengakhiri hidup lagi. Bisa saja, kamu nanti akan gugurkan kandungan kamu. Jika tahu kamu hamil,' batin Fadlan.
Setelah memeriksa Mentari, Fadlan dan Mentari kemudian keluar dari kamar. Mereka kembali duduk di ruang tamu.
"Mentari. Kamu makan dulu ya. Aku mau ke luar sebentar untuk tebus resep obat kamu di apotik depan sana."
Mentari mengangguk. Setelah itu, Fadlan bangkit berdiri dan melangkah ke luar dari rumah kontrakan Mentari untuk pergi ke apotik.
Setelah Fadlan pergi, Mentari membuka bungkus makanan itu.
"Yah, nasi uduk. Untuk apa Dokter itu ngasih aku nasi. Aku kan lagi nggak suka makan nasi. Mana ada orang sakit suka makan nasi. Tapi katanya dia bawa buah. Tapi mana buahnya?" Mentari mencari-cari parcel buah.
"Nggak ada buah. Mungkin masih ada di mobil kali ya. Mobilnya juga di bawa lagi. Padahal aku lagi pengin makan apel. Bukan nasi uduk atau bubur ayam."
__ADS_1