Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Syoknya Aira


__ADS_3

"Syanum..! Syanum...! siapkan aku baju Syanum...! Aku harus berangkat pagi nih..."seru Fabian dari dalam kamar mandi.


Sepertinya Fabian lupa, kalau Syanum sudah tidak ada lagi di rumahnya.


Fabian melangkah ke luar dari kamar mandi. Dia teringat kalau ternyata Syanum dari kemarin memang pergi meninggalkannya.


"Syanum benar-benar menyebalkan. Dia pergi begitu aja. Minimal, dia ninggalin surat kek. Dan bilang mau pergi ke mana. Jadi semua orang kan nggak khawatir," ucap Fabian.


Fabian duduk di sisi ranjang.


"Ke mana sebenarnya wanita itu. Dia benar-benar istri menyusahkan. Suka sekali membuat repot semua orang. Kalau dia mau pergi, kenapa dia tidak pergi aja dari dulu. Kenapa baru sekarang saat dia hamil, dia baru mau pergi. Sekarang siapa yang disalahin orang-orang rumah. Aku kan."


Sejak tadi, Fabian masih menggerutu sendiri. Dia bingung dengan apa yang akan dia lakukan saat ini. Setelah kepergian Syanum, semua jadi berbeda.


Fabian harus menyiapkan baju kerjanya sendiri, memakai dasi sendiri, makan juga harus ambil sendiri. Dan tidak ada yang bisa dia suruh-suruh lagi setelah Syanum pergi meninggalkannya.


Fabian melangkah ke arah lemari untuk mengambil baju kerjanya. Dia menatap ke dalam lemari. Baju Syanum masih tertata rapi. Tidak ada satupun dari baju-baju itu yang dibawanya. Fabian sejak tadi masih diam di depan lemari.


"Syanum kemana ya sebenarnya. Apa dia sekarang lagi ngerjain aku. Dia pasti lagi sembunyi di suatu tempat. Dia pasti sengaja pergi untuk ngerjain aku. Dia ingin melihat semua orang menyalahkan aku."


Fabian mengambil kemeja, celana dan dasinya dari dalam lemari. Setelah itu dia pun memakainya.


Saat ini, Fabian telah siap untuk pergi ke kantor, Fabian melangkah ke luar dari kamarnya dan turun ke bawah. Dia menghampiri ruang makan dan duduk berbaur bersama keluarganya.


"Kamu mau ke kantor?" tanya Bu Reva.


"Iya Ma." Fabian menghempaskan tubuhnya dan duduk di ruang makan.


"Bi. Kamu nggak usah ke kantor dulu. Urusan kantor, serahkan saja sama Ryan. Kamu fokusin saja mencari Syanum,"ucap Pak Damar.


"Tapi Pa."


"Biar Papa yang akan ke kantor Bi. Sekalian mau ngecek kondisi kantor selama Papa tinggal."


"Tapi kaki Papa udah sembuh? apa Papa sudah bisa nyetir sampai kantor?" tanya Fabian.


"Iya. Papa sudah sembuh. Kemarin cek ke dokter, katanya sudah normal semua Bi."


"Ya syukurlah kalau begitu."


Fabian mengambil roti dan mengolesinya dengan selai. Setelah itu, dia menyuapkan roti itu ke dalam mulutnya.


"Bi. Kamu harus temukan Syanum segera," ucap Pak Damar.


"Iya Pa, iya. Aku akan cari Syanum sekarang."


Dengan malas, Fabian bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia mencium punggung tangan ayah dan ibunya.

__ADS_1


****


Satu minggu setelah kepergian Syanum. Membuat Fabian sama sekali tidak punya semangat kerja. Sejak tadi, Fabian masih malas-malasan di dalam ruangannya. Bukannya kerja, dia malah main game yang ada di ponselnya.


Waktu sudah menunjukkan jam 12 . Siang ini, Fabian merasa sangat lapar. Dia kemudian bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruangannya.


Dia pergi ke kantin untuk membeli makan. Dia duduk di kantin dan memesan makan pada ibu kantin.


Beberapa saat kemudian, ibu kantin menghampiri Fabian sembari membawa makanan pesanan Fabian. Dia kemudian menghidangkannya di atas meja.


"Makasih ya Bu."


"Iya Pak. Sama-sama."


Ibu kantin kemudian kembali ke tempatnya. Fabian lekas menyuap nasi ke dalam mulutnya. Di sela-sela kunyahannya, tiba-tiba saja Aira datang dan duduk di sampingnya.


"Hai Bi. Sendiri aja. Aku temani ya."


Fabian tidak merespon. Dia masih hikmat dalam bersantap.


"Bi. Kamu kenapa sih, aku perhatikan akhir-akhir ini kamu itu sering sekali melamun? kamu lagi punya masalah?"


Fabian menghentikan kunyahannya dan menatap Aira.


"Banyak," jawab Fabian singkat.


Fabian menghela nafas dalam. Sebenarnya, dia pun ingin punya tempat untuk curhat, dari pada dia punya masalah harus dipendam sendiri.


"Istri aku, kabur dari rumah. Udah seminggu dia belum pulang. Dan aku juga belum berhasil untuk menemukannya."


"Oh ya. Istri kamu pergi dari rumah? emang kenapa? kalian berantem?"


Fabian menggeleng.


"Nggak. Kami nggak berantem. Dia pergi begitu aja."


"Kok bisa?"


"Aku juga nggak tahu Syanum kenapa."


Aira tersenyum. Dalam hatinya dia bahagia. Karena jika istri Fabian pergi, itu artinya sudah tidak ada penghalang lagi untuk Aira mendekati Fabian.


'Wah, kesempatan bagus nih buat gue untuk deketin Abi. Sekarang, Abi juga sepertinya lagian sedih banget.'


Aira meraih tangan Fabian dan menggenggamnya erat.


"Bi. Mungkin, Syanum itu bukan jodoh kamu Bi. Mungkin Syanum pergi meninggalkan kamu, karena dia tidak pernah mencintai kamu Bi."

__ADS_1


Fabian menatap lekat Aira.


"Apa benar begitu?"


"Iya Bi. Seorang wanita pergi meninggalkan seorang lelaki, karena dia sudah tidak cinta lagi sama lelaki itu. Kalau seorang istri pergi, meninggalkan suaminya, itu artinya istri itu sudah tidak cinta lagi sama suaminya. Faham kan maksud aku Bi?"


"Jadi maksud kamu, Syanum pergi karena dia tidak bisa mencintai aku. Dan dia pergi karena dia tidak pernah bahagia bersama aku?"


"Iya. Bisa jadi itu Bi. Sama halnya Mentari. Dia pergi juga karena dia tidak cinta lagi sama kamu."


Aira mencoba untuk menambah suasana panas di hati Fabian.


"Nggak. Mentari nggak seperti apa yang kamu bilang. Dia masih cinta sama aku."


Aira mengernyitkan alisnya bingung.


"Lho. Kok jadi Mentari Bi. Kita kan lagi bahas istri kamu."


"Tapi kamu tadi bilang Mentari. Mentari itu pergi bukan karena dia tidak cinta sama aku. Dia pergi karena dia tidak ingin membuat aku kecewa."


"Maksud kamu apa Bi? Katanya kamu nggak tahu alasan Mentari pergi."


"Aku udah ketemu sama Mentari. Dia sudah cerita semuanya sama aku."


"Emang Mentari cerita apa aja ke kamu Bi?"


"Sebenarnya Mentari pergi, karena dia sudah diperkosa. Dan sekarang Mentari hamil karena si pemerkosa itu."


Glek.


Aira menelan ludahnya saat mendengar berita mengejutkan itu.


'Soal sebesar ini, kenapa aku bisa ketinggalan berita ya.' batin Aira.


"Apa! kamu serius Bi? kamu tahu dari mana soal ini? kok aku nggak tahu ya masalah ini. Mentari itu kan sepupu aku. Harusnya aku yang tahu lebih dulu Bi ketimbang kamu."


Aira tampak syok mendengar hal itu. Dia baru tahu kalau ternyata sekarang Mentari itu sedang hamil hasil dari hubungan pemerkosaan.


"Om Riko mungkin sengaja menyembunyikan soal ini dari siapapun. Karena dia malu, jika ada orang yang tahu anaknya itu hamil di luar nikah."


"Terus Bi. Siapa lelaki yang sudah memperkosa Mentari itu?" tanya Aira sudah mulai kepo dengan berita itu.


"Maaf. Kalau itu, aku nggak bisa mengatakannya. Aku udah janji sama Mentari. Kalau aku, tidak akan pernah membuka rahasia ini. jadi kamu cukup tahu aja Ra. Kalau Mentari itu sedang hamil sekarang."


Aira diam.


'Kenapa sih, Mentari harus kembali di kehidupan Fabian. Seharusnya dia tidak usah pulang lagi ke rumah Om Riko. Aku tahu Fabian itu bucin banget sama Mentari. Pasti nanti, dia akan ngejar-ngejar Mentari terus,' batin Aira.

__ADS_1


__ADS_2