
"Dil. Kamu mau ke mana? rapi banget?" tanya Bu Reva.
"Aku mau ke rumah mertua aku Ma,"jawab Dila.
"Mau ngapain Nak? kondisi kamu itu kan, belum pulih benar. Lebih baik, kamu jangan pergi ke mana-mana dulu!"
"Ma. Aku ingin melihat kondisi Mas Ridho."
Bu Reva bingung dengan apa yang harus dia katakan pada anaknya.
'Apa aku katakan saja ya sama Dila tentang Ridho. Tapi aku nggak tega untuk ngomongnya. Dila baru sembuh. Dia pasti akan sedih sekali kalau tahu kenyataan , Ridho itu sudah meninggal. Lebih baik, aku biarkan saja dia pergi. Biar mertuanya saja nanti yang akan menjelaskan,' batin Bu Reva.
"Baiklah, terserah kamu saja Nak, kalau begitu. Kalau kamu mau pergi, pergi saja. Mama nggak akan melarang kamu lagi. Kamu ke sana mau naik apa Nak? apa perlu Mama atau Pak Herman antar kamu ke sana?"
"Tidak usah. Dila mau naik taksi aja Ma."
Sebenarnya, Bu Reva sangat mengkhawatirkan kondisi Dila sekarang. Tapi Bu Reva fikir, sudah saatnya Dila tahu semuanya. Dan yang Bu Reva lihat, kondisi Dila juga sudah mulai membaik.
Dila mendekat ke arah ibunya dan mencium punggung tangan ibunya.
"Dila pergi dulu ya Ma," ucap Dila.
"Iya sayang. Hati-hati di jalan ya. Kalau sudah sampai sana, kabarin Mama."
"Iya Ma. Dila pergi dulu ya. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Dila kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Dila melangkah ke luar dari rumah dan melangkah ke jalan raya untuk menunggu taksi.
Beberapa saat kemudian, sebuah taksi berhenti tepat di depan Dila.
Dila kemudian masuk ke dalam taksi dan meluncur ke arah rumah mertuanya. Sebelum Dila sampai ke rumah mertuanya, Dila melihat mobil mertuanya pergi ke arah yang berlawanan.
'Lho. Itu Mama dan Papa mau ke mana. Apa mereka mau ke kantor. Tapi hari ini kan hari minggu. Dan mereka pakai baju hitam-hitam, seperti mau ke makam. Apa aku ikuti aja ya mereka. Barang kali, mereka mau ziarah ke makam,'batin Dila.
"Pak cepat putar balik Pak! kita ikuti mobil itu," pinta Dila.
"Baik Mbak."
Sopir taksi kemudian memutar arah mobilnya untuk mengikuti mobil putih yang di tunjukkan Dila.
"Pak, ikuti mobil itu dan jangan sampai kehilangan jejak!"
Sopir taksi mengangguk. "Baik."
"Aku penasaran sama Mama dan Papa. Sebenarnya mereka mau ke mana sih. Pakai hitam-hitam seperti mau ke makam."
Dila masih mengikuti ke mana arah mobil mertuanya itu melaju. Setelah sampai di makam, ke dua orang tua Ridho turun dari mobilnya.
"Benarkan kalau mereka mau ke makam," ucap Dila.
Dila kemudian buru-buru turun dari taksi untuk mengikuti mertuanya. Mertua Dila sudah masuk ke pemakaman umum. Dan mereka tidak tahu, kalau sejak tadi menantunya itu mengikuti mereka.
Dila menatap tidak percaya saat melihat nisan tertulis nama suaminya. Mertua Dila sudah berjongkok di sisi makan Ridho sembari menabur bunga.
"Ridho. Ini sudah satu bulan sejak kematianmu. Dan maafkan Mama, kalau Mama baru sempat ke sini lagi. Karena Mama sama Papa lagi sibuk banget dengan urusan kantor," ucap ibu Ridho.
__ADS_1
"Iya Ridho. Kamu yang tenang ya di sana. Papa janji, Papa akan ikut merawat Dimas dan istrimu. Karena mereka juga masih tanggung jawab keluarga kita. Tapi maafkan Papa. Karena Papa belum bisa jenguk mereka di rumah mertuamu. Tapi ayah mertua kamu, selalu memberikan kabar tentang kondisi Dila dan Dimas pada Papa."
Hiks...hiks...hiks...
"Ini nggak mungkin. Mas Ridho nggak mungkin meninggalkan aku," ucap Dila sembari terisak.
Orang tua Ridho, menatap ke belakang saat mendengar tangisan Dila. Mereka terkejut saat melihat Dila.
"Dila," ucap Bu Ani ibu mertua Dila.
Bu Ani dan Pak Rudi bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah ke belakang menghampiri Dila.
Dila menatap ke arah mertuanya.
"Mas Ridho ternyata sudah meninggal? dan kenapa, semua orang tidak ada yang ngasih tahu aku. Kenapa semua orang menyembunyikan kematian Mas Ridho dari aku. Kenapa? kalian benar-benar jahat tahu nggak ..!ucap Dila, dengan nada tinggi.
"Dila. Kamu ada di sini?" Pak Rudi melangkah menghampiri menantunya yang masih menangis.
Hiks... Hiks... Hiks...
Pak Rudi segera menangkap tubuh Dila, saat tubuh Dila hampir ambruk.
"Dil, Dila," Pak Rudi menepuk-nepuk pipi Dila.
"Ma. Bagaimana ini Ma. Dila pingsan."
"Ya ampun. Kita bawa Dila pulang aja Pa."
"Menurut Mama, kita harus bawa Dila ke mana? ke rumah kita, atau ke rumah orang tuanya." Pak Rudi meminta pendapat istrinya.
"Kita ke rumah Pak Damar aja. Sekalian kita tengokin Dimas. Sudah lama kita nggak ketemu mereka. Mama juga kangen sama Dimas."
"Tolong buka pintunya Ma," pinta Pak Rudi.
Bu Ani kemudian membuka pintu belakang mobilnya. Setelah itu, Pak Rudi membaringkan menantunya di jok belakang mobil.
Pak Rudi dan istrinya kemudian masuk ke dalam mobil dan mereka mulai meluncur meninggalkan makam. Mereka akan pergi ke rumah Pak Damar dan Bu Reva untuk mengantar Dila pulang.
"Pa. Apa kita bawa Dila ke rumah sakit aja Pa," Bu Ani mengusulkan.
"Nggak usah Ma. Kita bawa Dila ke rumah orang tuanya aja. Sekalian kita ketemu sama Dimas. Papa yakin, Dila pingsan cuma karena syok aja kok."
"Iya Pa."
Sesampai di halaman depan rumah Pak Damar, Pak Rudi turun dari mobilnya.
"Pak Rudi," ucap Pak Herman.
Pak Rudi tersenyum.
"Pak Herman. Apa Pak Damar ada di rumah?"
"Ada Pak Rudi. Kebetulan, semuanya lagi pada kumpul di dalam."
"Pak Herman. Bisa bantu saya, untuk angkat tubuh Dila?" tanya Pak Rudi.
Pak Rudi tampak terkejut.
__ADS_1
"Non Dila kenapa?" tanya Pak Herman.
"Dia pingsan," jawab Pak Rudi.
"Baiklah. Kita bawa ke dalam aja," ucap Pak Herman.
Pak Herman dan Pak Rudi kemudian menggotong tubuh Dila sampai masuk ke dalam rumah.
Pak Damar dan Bu Reva terkejut saat tiba-tiba saja, Pak Herman dan Pak Rudi membawa Dila masuk ke dalam rumah, dalam keadaan pingsan.
"Dila. Kenapa dengan Dila?" tanya Pak Damar.
"Pak Damar. Dila pingsan Pak," jawab Pak Rudi.
"Ya udah. Bawa langsung aja ke kamarnya!" pinta Pak Damar.
Pak Herman dan Pak Rudi kemudian menggotong Dila sampai ke kamarnya. Pak Damar hanya bisa mengikuti mereka di belakang.
"Oma. Mama kenapa?"
tanya Dimas yang sekarang masih ada di samping Bu Reva.
"Kamu tunggu di sini ya. Biar Oma lihat. Kenapa dengan Mama kamu."
"Iya Oma."
Bu Reva kemudian melangkah untuk masuk ke dalam kamar Dila.
Dila sudah di baringkan di atas ranjangnya. Bu Reva dan Pak Damar tampak sangat cemas.
"Apa yang terjadi sebenarnya dengan anak saya?" tanya Pak Damar menatap Pak Rudi.
Pak Rudi bangkit dari duduknya. Dia kemudian menatap kearah Pak Damar.
"Dila pingsan di makam," ucap Pak Rudi menjelaskan.
Bu Reva dan Pak Damar saling menatap.
"Apa! pingsan di makam? kok bisa?" tanya Pak Damar.
"Saya dan istri saya, barusan ke makam Ridho. Kami tidak tahu kalau ternyata Dila mengikuti kami. Dan dia sudah menangis di sana."
"Ma, apa mama yang udah kasih izin Dila pergi?"tanya Pak Damar pada istrinya.
Bu Reva mengangguk.
"Iya Pa. Katanya dia mau pergi ke rumah mertuanya. Dan Mama nggak bisa melarang Dila. Karena Dila maksa Pa," ucap Bu Reva.
Pak Damar menepuk keningnya.
"Begini kan Ma, jadinya kalau Dila kita biarkan pergi," ucap Pak Damar.
"Tapi mau sampai kapan kita bohongin Dila Pa. Dila juga harus tahu semuanya. Dan sekarang atau nanti, dia juga pasti akan tahu kan Pa," ucap Bu Reva.
"Benar apa yang di katakan Bu Reva. Lebih baik Dila tahu sekarang dari pada nanti," ucap Bu Ani menimpali.
"Tapi, bagaimana kalau nanti kondisi jiwa Dila terganggu. Kalau sudah seperti ini, saya nggak tahu deh harus berbuat apa," ucap Pak Damar cemas.
__ADS_1
"Benar apa yang di katakan Bu Reva. Dila harus tahu yang sebenarnya tentang kematian suaminya. Dan seharusnya, kita itu tidak boleh membohonginya. Seharusnya kita kasih tahu Dila sejak awal kematian suaminya," ucap Pak Rudi membenarkan ucapan Bu Ani dan Bu Reva.