Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Pertemuan Bu Adela dengan Mentari


__ADS_3

"Sebenarnya, ada keperluan apa Nak Aira datang ke sini? dan untuk apa Nak Aira datang ke sini?" runtutan pertanyaan sudah terlontar dari bibir Bu Adela.


"Begini Tan. Sebenarnya aku nggak enak ngomongnya. Tapi, aku juga harus ngomong ini," ucap Aira.


"Ada apa Nak Aira?" tanya Bu Adela tampak penasaran.


"Ini tentang Mario dan Mentari sepupu aku."


"Mentari? sepertinya Tante kenal dengan wanita itu." Bu Adela tampak mengingat tentang Mentari.


"Mentari itu, adalah wanita yang selama ini Mario suka Tan. Dan Mario, sudah menghamili Mentari sampai dia hamil dan punya anak," jelas Aira.


Bu Adela tampak terkejut saat mendengar ucapan Aira.


"Kamu yakin? Mario anak saya yang sudah menghamili sepupu kamu itu?"


"Aku yakin Tan. Karena Mario itu cinta sama Mentari. Dan aku nggak tahu persis bagaimana kejadiannya sampai-sampai sepupu aku itu hamil." Aira tampak masih meyakinkan Bu Adela.


"Astaghfirullah. Apa yang sudah Mario lakukan. Terus, bagaimana dengan kehamilan sepupu kamu itu?" tanya Bu Adela menatap Aira tajam.


Dia tampak penasaran dengan masalah yang diceritakan Aira. Karena itu masalah yang sangat besar. Mengenai aib Mario dan bisa berpengaruh besar, dalam kehormatan keluarganya.


"Dia sekarang sudah melahirkan Tan. Dan bayinya lelaki," jawab Aira.


"Terus, di mana sekarang wanita itu?"


"Dia ada di rumah saya Tan."


"Dia tinggal di rumah kamu? dengan bayinya juga?"


"Iya Tan. Tante bisa ke rumahku. Kalau Tante mau lihat cucu Tante."


"Kamu nggak lagi bohongin Tante kan?" Bu Adela tidak akan percaya begitu saja sebelum dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Mentari dan bayinya itu ada.


"Nggak Tan. Untuk apa aku bohongin Tante. Nggak ada untungnya kan Tan. Kalau Tante masih kurang percaya, Tante bisa kok tes DNA bayi itu."


Bu Adela tampak berfikir. Dia saja sekarang tidak tahu keberadaan Mario. Tapi, dia juga kasihan dengan wanita yang sudah Mario hancurkan kehidupannya.


"Apa boleh, Tante ikut kamu ke rumah kamu? Tante ingin melihat Mentari dan bayinya."


"Boleh banget Tan."


"Ya udah. Kalau begitu, Tante siap-siap dulu ya."


"Iya Tan. Aku tunggu."


Bu Adela kemudian melangkah untuk ke kamarnya. Dia akan ikut dengan Aira ke rumah Aira. Dia ingin memastikan kalau ucapan Aira itu benar. Kalau Mentari dan bayi Mentari memang ada.


Sebelum pergi, Bu Adela menelpon suaminya yang masih ada di kantor.


"Halo Yah..."


"Halo Bun. Ada apa?"


"Bunda mau pergi dulu ya Yah. Ada urusan penting yang harus bunda selesaikan."


"Iya Bun."


"Ayah mau pulang jam berapa?"


"Sebentar lagi Bun."


"Ya udah. Bunda cuma mau izin aja sama ayah."


"Iya Bun."


"Ya udah ya Yah. Bunda pergi dulu. Nanti kalau perlu apa-apa, Ayah bisa perintah Bik Minah."


"Iya."


"Assalamualaikum Yah."


"Wa'alakiumsalam."


Bu Adela menutup saluran telponnya. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan kamarnya.


Bu Adela melangkah ke arah Aira.


"Gimana Tan. Udah siap?" tanya Aira.


Bu Adela mengangguk.


"Ya udah. Naik mobil aku aja ya Tan."

__ADS_1


"Iya. Tapi tunggu sebentar. Aku mau bicara dulu dengan bik Minah."


"Iya Tan. Silahkan."


Bu Adela kemudian melangkah untuk ke dapur memanggil Bik Minah.


"Bik Minah...!" seru Bu Adela.


Bik Minah buru-buru melangkah ke arah Bu Adela.


"Iya Nya. Ada apa?" tanya Bik Minah.


"Nanti, kalau Tuan pulang, tolong ya bilang saya pergi, karena ada urusan yang sangat penting."


"Iya Nya."


"Nanti, tolong seperti biasa. Siapkan makan malam."


"Iya Nya. Emang nyonya mau lama?"


"Nggak tahu Bik. Nanti aku hubungin lagi deh ya kalau mau lama."


Bik Minah hanya mengangguk.


Setelah berpamitan dengan pembantunya, Bu Adela kemudian melangkah ke arah Aira.


"Ayo Aira!" ajak Bu Adela.


"Iya Tan."


Bu Adela dan Aira melangkah ke arah mobil Aira yang terparkir di depan rumah Bu Adela.


Bu Adela dan Aira kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur menuju ke rumah Aira.


"Aira. Di mana rumah kamu? masih jauh?" tanya Bu Adela yang sesekali menatap Aira yang ada di sampingnya duduk


"Nggak juga kok Tan," jawab Aira di sela-sela menyetirnya.


Sejak tadi, Bu Adela masih *******-***** jari jemarinya. Bu Adela kelihatan tampak resah.


'Ya Allah. Apa yang sudah Mario lakukan sebenarnya. Dan di mana dia sekarang. Sejak Ayah mengusir Mario dari rumah, aku tidak tahu di mana keberadaan anak aku sekarang.' batin Bu Adela.


"Tante kenapa sih? dari tadi kelihatan cemas begitu?" tanya Aira.


"Oh. Begitu ya Tan. Emang ke mana Mario?" tanya Aira.


"Mario, udah diusir oleh ayahnya sendiri. Dan sampai sekarang, Mario belum mau kembali pulang ke rumah. Tante benar-benar bingung," jelas Bu Adela.


'Oh iya. Aku lupa. Waktu itu aku pernah ketemu Mario di jalanan. Mario juga pernah cerita kalau dia di usir dari rumah'


Aira tiba-tiba saja teringat dengan kejadian beberapa waktu yang lalu saat dia ketemu Mario di jalan. Mario pernah cerita kalau dia di usir ayahnya dari rumah.


Beberapa saat kemudian, Aira menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di depan rumahnya.


Oek..oek...oek...


Bu Adela dan Aira saling menatap.


"Seperti ada tangisan suara bayi di dalam rumah itu Aira," ucap Bu Adela.


"Iya. Itu ponakan aku. Anaknya Mentari. Dan ini ruang ibu aku Tan."


"Oh."


"Ayo Tan. Turun. Kita masuk di dalam."


"Iya Aira."


Bu Adela dan Aira kemudian turun dari mobil. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah.


Di dalam, tampak Bu Novi sedang menenangkan bayi Mentari.


"Cup cup cup...sayang. Jangan nangis ya..."


"Assalamualaikum," ucap Aira dan Bu Adela bersamaan.


Bu Novi menatap ke arah Aira dan Bu Adela.


"Wa'alakiumsalam. Eh, ada tamu," ucap Bu Novi.


Bu Adela tersenyum. Dia kemudian menatap ke arah bayi mungil itu.


"Kenapa bayinya nangis? ke mana ibunya?" tanya Bu Adela.

__ADS_1


"Oh, ibunya ada di kamar," jawab Bu Novi.


"Mentari ada di kamar? dia baru pulang Ma?" tanya Aira.


"Iya. Mentari baru pulang. Mama nggak tahu, Mentari itu dari mana."


"Sekarang dia di mana Ma? di kamar ya?"


"Iya Ra."


"Duduk dulu Tan. Aku akan panggilkan Mentari!" Aira mempersilahkan Bu Adela untuk duduk.


Aira buru-buru melangkah pergi meninggalkan Bu Adela dan ibunya di ruang tengah. Dia melangkah untuk ke kamar Mentari.


Tanpa mengetuk pintu, Aira masuk ke dalam kamar Mentari.


"Aira. Ngagetin aja sih kamu. Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Mentari menatap Aira tajam.


Aira melangkah ke arah Mentari.


"Sekarang kamu temui Tante Adela."


"Tante Adela? siapa?" Mentari tampak bingung.


"Nggak usah pura-pura lupa. Tante Adela itu neneknya Dani."


"Apa!" Mentari terkejut bukan main saat mendengar ucapan Aira.


"Mak... maksud kamu... ibunya Mario?"


"Nah itu kamu tahu. Kenapa sih kamu harus tutup-tutupi semua ini dari aku hah. Apa susahnya kamu ngaku kalau itu anak Mario." Aira terlihat sangat kesal dengan Mentari.


Mentari bingung dengan apa yang akan dia katakan pada ibunya Mario.


"Ayo kita ke luar."


"Aku nggak mau Ra."


"Ayo ikut. Dia cuma mau bicara sebentar sama kamu."


Aira menyeret Mentari untuk ke luar dari kamarnya. Dia memaksa Mentari untuk bertemu dengan Bu Adela.


Mentari terkejut saat Dani sudah berada di pangkuan ibunya Mario.


'Ha, kenapa anak aku, ada sama Tante Adela.' batin Mentari.


"Tante, Mama." Aira menggandeng Mentari untuk mendekat ke arah Bu Adela dan ibunya.


Mentari mencium punggung tangan Bu Adela.


"Tante baru datang?"


"Iya."


Aira juga menyuruh Mentari untuk duduk.


"Duduk Mentari...!"


"Iya."


Mentari kemudian menurut untuk duduk.


Bu Novi, tampak bingung dengan kehadiran Bu Adela.


"Aira. Siapa Bu Adela ini?" tanya Bu Novi berbisik dengan anaknya.


"Bu Adela ini, ibunya Mario Ma," jelas Aira.


"Mario? siapa lagi Mario itu?"


"Mario itu teman SMA aku. Dia ayah biologisnya Dani Ma."


"Apa!" Bu Novi tampak terkejut mendengar penuturan Aira.


"Jadi, Bu Adela ini, ibu dari lelaki yang sudah menghamili Mentari. Dan lelaki itu namanya Mario?" ucap Bu Novi dengan nada suara tinggi. Saling syoknya sampai terdengar di telinga Bu Adela.


"Iya Bu. Saya ibunya Mario."


"Terus, kenapa anda datang sendirian?" tanya Bu Novi.


"Saya di jemput Aira ke rumah. Saya ke sini sama Aira. Karena suami saya masih ada di kantor."


"Oh. Kalau Mario?kenapa dia nggak ikut ke sini?" tanya Bu Novi

__ADS_1


__ADS_2