Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kebersamaan Ryan dan Syanum


__ADS_3

Malam ini, Syanum masih berada di dapur. Dia tampak sedang menyiapkan makan malam untuk makan malam Luna, dia, dan Ryan.


Ryan yang sejak tadi masih duduk di ruang tengah, melangkah ke dapur untuk mengambil minum.


"Ke mana Luna? tumben dia nggak bantu-bantu kamu di dapur?" tanya Ryan.


Syanum menoleh ke arah Ryan.


"Dia lagi sakit Yan. Tadi pagi, aku sudah belikan dia obat di apotik," jelas Syanum.


"Tumben banget Luna sakit. Sakit apa?" tanya Ryan sembari mengambil gelas.


"Sakit kepala."


"Terus sekarang dia ada di kamar?" tanya Ryan lagi.


"Iya."


"Pantas saja sejak tadi aku nggak ngelihat dia ke luar dari kamar," ucap Ryan sembari menuangkan air ke dalam gelas.


Selesai minum, Ryan kemudian melangkah ke ruang makan. Dia menghempas tubuhnya di atas kursi. Tatapannya, sejak tadi masih tertuju ke Syanum.


Sejak tadi, Ryan hanya bisa mencuri pandang ke arah Syanum. Entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini.


'Sebenarnya, Syanum itu wanita yang sangat sempurna. Wajahnya cantik, hatinya juga cantik. Bodoh banget kalau ada lelaki yang menyia-nyiakan dia. Wanita sebaik Syanum, memang nggak pantas untuk di sakiti. Tapi, kenapa Fabian selalu menyakiti dia.' batin Ryan.


Syanum membalikan tubuhnya. Ryan buru-buru membuang wajahnya ke arah lain. Dia tidak mau Syanum tahu kalau sejak tadi dia memperhatikan Syanum.


Syanum melangkah membawa mangkuk ke arah Ryan.


"Masak apa?" tanya Ryan.


"Aku nggak masak Yan. Cuma ngangetin makanan tadi siang aja. Tadi pagi, aku masak sop buntut. Katanya Luna ingin makan nasi pakai kuah yang banyak," ucap Syanum sembari meletakan mangkuk itu di atas meja.


"Oh. Gitu Kak. Enak dong. Aku jadi pengin makan lagi." Ryan menatap ke arah SOP yang ada di atas meja.


"Emang kamu udah makan?" tanya Syanum.


"Udah. Tadi sebelum pulang ke rumah, aku mampir ke cafe dulu dan makan di sana."


"Sama Aleta?"


"Tahu aja kamu Syanum."


"Hehe... tahu lah. Emang aku nggak tahu apa jadwal kamu jalan sama pacar-pacar kamu. Aku tahu semuanya Yan."


"Yap, tapi kamu nggak akan pernah tahu isi hati aku yang sebenarnya Syanum."


Syanum menghempas tubuhnya di atas kursi. Setelah dia menyajikan semua makanannya di atas meja.


"Emang apa isi hati kamu yang sebenarnya?" Syanum menatap lekat Ryan.


"Itu rahasia dong. Dan nggak akan ada yang tahu, kecuali Tuhan dan aku."

__ADS_1


"Ya udah. Kamu tunggu di sini ya. Aku mau panggil Luna dulu."


Syanum bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah ke kamar Luna, dan masuk ke dalam.


"Luna. Kamu tidur ya?" tanya Syanum pada Luna yang sudah memejamkan matanya.


Luna membuka matanya.


"Aku ngantuk banget Kak," jelas Luna.


"Udah di minum belum obatnya?"


"Belum Kak."


"Kenapa belum di minum?"


"Kan aku belum makan Kak. Aku lagi nggak nafsu banget makan Kak."


Syanum duduk di dekat Luna.


"Sekarang kamu mau makan atau tidak? kalau mau makan, aku ambilkan makanan untuk kamu. Kalau nggak, ya udah. Aku akan beresin meja makan."


"Bawa ke sini saja deh Kak."


"Ya udah. Tapi tunggu aku makan dulu ya. Aku juga udah lapar. Maklumlah, sekarang kan bayi aku, sudah semakin besar di perut. Jadi dia ikut makan juga di dalam. Makanya aku cepat lapar."


"Iya Kak. Kakak duluan aja yang makan."


Syanum kemudian melangkah pergi ke luar dari kamar Luna untuk menuju ke ruang makan.


"Aku lagi nunggu kamu. Nggak enak, makan sendiri," ucap Ryan.


Syanum tersenyum. Setelah itu dia duduk di dekat Ryan.


"Sini, biar aku ambilkan!" Syanum mengambil piring Ryan. Setelah itu dia mengambilkan Ryan nasi dan lauk.


"Jangan banyak-banyak Kak. Takut perutnya nggak muat. Soalnya aku sudah makan tadi di cafe."


"Iya iya iya."


Setelah itu, Syanum dan Ryan makan bersama di ruang makan.


Sejak tadi… mereka masih saling diam. Syanum masih menikmati makanan malamnya kali ini. Begitu juga dengan Ryan.


"Kak, gimana kondisi kandungan kamu. Maaf ya, kemarin aku nggak bisa ngantar kamu periksa kandungan," ucap Ryan di sela-sela kunyahannya.


"Nggak apa-apa Yan. Kondisi bayi aku, sehat kok. Dia juga sekarang udah bisa nendang-nendang," jawab Syanum.


"Oh iya. Wah, senengnya. Bayi kamu, pasti nanti sangat aktif. Kalau udah lahir."


"Iya."


"Terus, gimana kabarnya suami kamu? kamu nggak kangen sama dia?" tanya Ryan. Mencoba mencari tahu, perasaan Syanum pada Fabian saat ini.

__ADS_1


"Apa! kangen? untuk apa aku kangen sama dia. Dia aja belum tentu kangen sama aku. Dan aku juga nggak pernah mikirin dia lagi. Karena dia juga belum tentu mikirin aku."


"Bagus deh kalau begitu. Aku dukung kamu. Lelaki seperti itu, memang pantas di kasih pelajaran."


"Iya Yan."


"Terus, kamu mau benar-benar cerai sama dia?"


"Iya."


"Kamu yakin, nggak mau ngasih dia kesempatan."


"Nggak. Selama Mentari masih ada di kehidupan dia, aku nggak akan pernah ngasih kesempatan Fabian untuk kembali lagi sama aku. Karena aku tahu, selama masih ada Mentari di kehidupan dia, dia tidak akan pernah bisa melupakan Mentari. Dan aku, ingin punya suami yang benar-benar mencintai aku Yan. Aku ingin punya suami yang menjadikan aku ratu di hatinya. Dan tidak membagi cintainya ke wanita lain."


"Iya, contohnya yang seperti aku kan?" Ryan menatap Syanum dan menyeringai.


"Apaan sih. Kamu dan Fabian, justru lebih parah kamu Ryan. Fabian itu cuma sama satu wanita. Sementara kamu, banyak wanita."


"Eh. Jangan salah Syanum. Aku kalau udah punya istri, akan berhenti jadi playboy. Aku pasti bisa lebih baik dari Fabian. Dan aku juga bisa membahagiakan kamu dan anak kamu."


Syanum diam. Entah kenapa dia merasa ada yang berbeda dengan Ryan. Ucapan Ryan, seakan-akan menjurus ke arah ungkapan perasaan Ryan ke Syanum. Dia berucap seakan-akan, kalau dia ingin menerima Syanum dan anak Syanum nanti setelah anak itu lahir.


"Aku akan sayang sama kamu dan anak kamu. Aku akan bahagiain kalian."


"Tunggu, tunggu, tunggu, maksud kamu apa ya? kamu lagi membicarakan siapa?"


"Oh, hehe...lupain saja lah apa yang aku ucapkan tadi. Ayo, kita lanjutkan makan aja."


Ryan kemudian melanjutkan makannya. Begitu juga dengan Syanum.


"Kapan kamu kontrol kandungan kamu lagi Syanum?" tanya Ryan.


"Bulan depanlah. Kan kemarin udah."


"Doain aja, semoga bulan depan aku bisa ngantar kamu periksa kehamilan kamu ya."


"Kamu mau ngantar aku lagi?" tanya Syanum.


"Iya. Dengan senang hati."


"Tapi, aku nggak mau ngerepotin kamu Yan. Aku mau sama Luna aja. Kamu kan harus ke kantor."


"Nggak apa-apa Syanum. Lagian, kalau ada apa-apa di jalan, Luna mana bisa berantem. Kalau aku kan jago berantem. Kalau ada yang mau macam-macam sama kamu, aku kan bisa lindungi kamu."


"Hehe... bisa aja kamu Ryan."


Setelah selesai makan malam, Syanum bangkit berdiri.


"Kamu masih mau di sini?" tanya Syanum.


"Iya. Nggak apa-apa kan?" Ryan menatap Syanum lekat.


"Nggak apa-apa sih. Tapi aku mau beresin makanannya. Dan aku mau ngantar makanan ke kamar Luna."

__ADS_1


"Luna belum makan?" tanya Ryan.


"Belum."


__ADS_2