
Siang ini, Fabian masih berkutat di ruang kerjanya. Dia sejak tadi, masih serius dalam pekerjaannya. Matanya masih tertuju ke arah monitor. Jam istirahat Fabian malah memilih untuk berdiam diri di dalam ruangannya.
Di luar, semua karyawan sudah berlalu lalang beristirahat. Ada yang ke kantin untuk makan, dan ada juga yang melakukan aktifitas lain.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu dari luar ruangan Fabian terdengar.
"Masuk!" seru Fabian.
Beberapa saat kemudian, seorang perempuan masuk ke dalam ruangan Fabian.
"Hai Bi..." suara seseorang yang tak asing di telinga Fabian terdengar.
Fabian mendongak dan menatap ke arah wanita yang memanggilnya.
Fabian terkejut saat melihat Aira sudah berdiri di depannya.
"Aira. Kamu kok bisa ada di sini? siapa yang membiarkan kamu masuk ke dalam ruangan aku?"
Aira melangkah mendekat ke arah Fabian duduk.
"Bi. Boleh aku duduk di sini?" tanya Aira
"Silahkan!" Fabian mempersilahkan Aira duduk.
Fabian masih belum mengerti kenapa Aira tiba-tiba bisa datang dan berada di ruangan Fabian.
"Kamu nggak mau istirahat Bi?" tanya Aira.
"Aku lagi malas ke luar Ra. Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Fabian untuk yang ke dua kalinya.
"Aku kerja di sini Bi. Sekarang aku sudah menjadi karyawan di sini," jawab Aira yang membuat Fabian terkejut.
"Apa! kok bisa sih kamu kerja di kantor aku? siapa yang udah menerima kamu untuk kerja di sini?"
"Kenapa Bi? kenapa kamu seperti terkejut begitu. Kalau aku di sini, kamu jadi punya teman untuk ngobrol kan?"
Fabian menghela nafas dalam. Jangan sampai kehadiran Aira di kantornya akan membuat masalah baru.
"Bi. Kita ke kantin yuk! Aku mau makan. Tapi aku nggak punya teman."
'Duh, Aira ini. Kenapa dia harus ngajak-ngajak aku ke kantin sih. Bagaimana kalau karyawan aku lihat aku berduaan dengan wanita. Mereka pasti akan mikir macam-macam tentang aku.'
"Bi. Ayolah. Kamu serius amat sih. Ayo kita ke kantin. Kerjaan mah, nggak ada habisnya Bi. Yang penting, perut terisi dulu. Baru nanti kita bisa fokus untuk bekerja lagi."
Fabian menutup laptopnya. Setelah itu dia bangkit berdiri.
"Ya udahlah. Ayo kita ke kantin!" ajak Fabian.
Aira melebarkan senyum. Tidak butuh waktu lama untuk Aira membujuk Fabian. Ternyata Fabian mau juga makan siang dengannya.
Aira dan Fabian kemudian melangkah ke luar dari ruangan Fabian. Mereka kemudian melangkah menuju ke kantin.
Sesampai di kantin, Aira dan Fabian kemudian duduk bersama. Mereka kemudian memesan makanan di kantin untuk mereka berdua makan.
****
Di sisi lain, Syanum sudah sampai di kantor suaminya. Dia sudah memasak makanan kesukaan suaminya. Siang ini, Syanum akan membuat kejutan untuk Fabian dengan membawakan dia makanan.
__ADS_1
Syanum melangkah masuk ke dalam kantor. Dia kemudian melangkah ke arah ruangan suaminya.
Syanum mengetuk pintu ruangan Fabian.
Tok tok tok...
"Mas, Fabian...!" seru Syanum.
Namun, tampaknya tidak ada sahutan dari dalam.
Syanum membuka pintu ruangan Fabian. Benar saja, kalau ternyata suami Syanum tidak ada di dalam.
"Ke mana Mas Fabian. Kenapa dia nggak ada di dalam ruangannya. Apa dia sudah makan di kantin," ucap Syanum.
"Eh, Bu Syanum ya. Lagi nyari Pak Fabian?" tanya salah satu karyawan Fabian yang tampaknya sudah mengenal betul siapa Syanum.
Syanum tersenyum.
"Iya. Saya ke sini mau ketemu sama suami saya."
"Tadi Pak Fabian ke luar Bu. Dan sepertinya, dia tadi melangkah ke arah kantin. Samperin aja dia di kantin Bu."
"Makasih ya Pak."
"Sama-sama."
Syanum kemudian melangkah ke arah kantin. Sesampai di kantin, dia terkejut saat melihat suaminya sedang makan berdua dengan cewek.
"Ternyata seperti ini kelakuan Mas Fabian di belakang aku. Dia makan berdua dengan teman kantornya. Tega sekali dia sama aku," geram Syanum.
Syanum tidak langsung menghampiri Fabian. Dia justru lari dari tempat itu dan melangkah ke luar dari kantor. Rasanya hatinya benar-benar sakit saat melihat suaminya dekat dengan wanita lain.
"Auh..." pekik Syanum saat dia tiba-tiba menabrak seseorang.
"Kak Syanum," ucap Ryan yang sudah ada di depan Syanum.
"Ryan," Syanum terkejut saat melihat Ryan. Dia sejak tadi masih menatap Ryan.
"Maaf Ryan, aku nggak lihat-lihat tadi."
"Nggak apa-apa Kak."
Ryan tersenyum.
"Kak Syanum mau ke mana? kok bawa-bawa rantang?" tanya Ryan.
Syanum tersenyum.
"Oh, aku sengaja bawakan makanan sepesial buat kamu Ryan. Tadi aku nyari kamu ke mana-mana tapi kamu tidak ada."
"Oh, aku baru dari toilet tadi."
"Gimana Ryan. Apa kamu mau kita makan bareng."
"Boleh deh. Kebetulan aku lapar."
"Kita makan di mana ya?" ucap Syanum.
"Kita ke ruangan aku aja Kak Syanum."
__ADS_1
"Jangan. Kita di kantin aja makannya. Gimana."
"Boleh deh. Kita ke kantin sekarang Kak."
Ryan dan Syanum kemudian melangkah ke arah kantin.
Syanum memang sengaja mengajak Ryan ke kantin untuk manas-manasin suaminya. Dia benar-benar marah sama Fabian. Sudah susah-susah Syanum masak untuk bekal makan siang Fabian, tapi di kantin Fabian malah makan sama wanita lain. Benar-benar membuat hati Syanum seperti terbakar. Tapi dia tidak tinggal diam. Dia juga bisa saja membuat suaminya cemburu.
Ryan dan Syanum sudah sampai di kantin. Sementara Fabian sejak tadi masih menikmati makanannya.
"Kita duduk di sini saja ya Yan."
Ryan mengangguk. Sejak tadi, dia masih menatap ke arah rantang yang dibawa Syanum. Sepertinya Ryan memang sudah sangat lapar siang ini.
Syanum buru-buru membuka rantangnya. Dia kemudian menyajikan makanannya di atas meja kantin. Setelah itu, Ryan dan Syanum duduk.
"Hemm... baunya wangi banget makanan kamu Syanum," ucap Ryan.
Syanum tersenyum. Dia bersama Ryan, tapi matanya tidak pernah lepas menguntit suaminya.
' Kenapa Mas Fabian tidak menatap ke sini sih.' batin Syanum.
Ryan dan Syanum kemudian makan bersama di kantin.
"Bi. Gimana Bi? makanan di sini enak-enak ya," ucap Aira.
Fabian mengangguk. Setelah itu dia mengambil minumannya dan menyeruputnya.
Uhuk uhuk uhuk...
Fabian terbatuk-batuk saat melihat Syanum dan Ryan sedang makan di kantin juga.
"Bi. Kamu kenapa Bi?" tanya Aira.
"Pelan-pelan Abi minumnya."
Fabian mengambil tisu dan mengelap mulutnya.
"Aku nggak apa-apa."
Fabian makan bersama Aira. Namun, sejak tadi tatapannya tidak berhenti ke arah Syanum dan Ryan.
"Syanum. Makanan kamu enak banget ternyata. Aku baru pernah lho, makan masakan seenak ini."
"Oh, iya dong. Aku memang sengaja memasak untuk kamu Ryan."
"Makasih banyak ya. Ternyata kamu perhatian banget sama aku. Seharusnya beruntung lelaki yang mendapatkan istri pintar masak seperti kamu. Udah pintar masak, cantik, baik lagi. Boleh lah kapan-kapan aku juga pengin punya istri seperti kamu," ucap Ryan sembari melahap makanannya.
Fabian mengepalkan tangannya geram saat melihat kedekatan Syanum dan Ryan. Sepertinya sejak tadi, dia juga mendengar rayuan- rayuan Ryan pada Syanum.
'Kenapa istriku ada disini sih. Kenapa dia bisa sama Ryan. Dan Ryan....! berani sekali kamu merayu dan memuji istriku...!" batin Fabian.
Sepertinya Fabian sudah merasa sangat geram melihat pemandangan di sampingnya duduk. Fabian tiba-tiba saja bangkit dari duduknya.
"Bi. Kamu mau ke mana? makanan kamu belum habis," ucap Aira.
"Aku ada urusan sebentar. Kalau kamu mau, habiskan saja makanan aku."
Fabian kemudian melangkah pergi meninggalkan meja Aira. Dia menuju ke arah Syanum dan Ryan yang sejak tadi masih bersama.
__ADS_1