
Malam ini, Ryan masih berada di ruang tengah. Dia masih menatap televisi yang ada di depannya. Namun, fikirannya entah ke mana. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
'Kenapa aku merasa kehilangan saat Syanum pergi dari rumah ini. Biasanya, dia ada di sini bersama aku dan Luna. Kenapa hati aku nggak enak banget begini. Hubungan aku dengan Aleta, juga terasa hambar sekali.' batin Ryan.
Ryan menghela nafasnya dalam.
"Aku fikir, Syanum akan benar-benar melupakan Fabian dan bercerai dari dia. Tapi, kenapa dia kembali lagi dengan Fabian. Padahal aku sudah sangat mengharapkan Syanum setelah dia cerai dari Fabian. Kenapa jadi seperti ini," gumam Ryan.
Ternyata selama ini, diam-diam Ryan sudah mulai mencintai Syanum. Dari balik candaan-candaannya pada Syanum, ternyata itu memang isi hati Ryan yang tanpa sengaja dia lontarkan pada Syanum.
Dan di balik sikap cuek Ryan, ternyata Ryan menyimpan rasa yang dalam pada Syanum. Dan baru kali ini, dia menaruh rasa pada seorang wanita.
Sudah hampir satu bulan, Ryan tidak pernah bertemu Syanum. Sejak kepulangannya dari luar kota, Ryan terkejut saat tiba-tiba saja, Syanum melahirkan dan dia harus ikut kembali ke rumah Fabian. Ryan merasa sangat kehilangan sekaligus galau.
Tok tok tok ..
Suara ketukan yang sangat keras dari luar rumah Ryan terdengar.
"Luna...!Luna...!"
Luna yang sejak tadi masih berkutat di dapur melangkah ke arah kakaknya.
"Ada apa Kak?" tanya Luna.
"Sepertinya ada yang mengetuk pintu dari luar rumah. Coba sana, lihat siapa yang datang," ucap Ryan.
"Iya Kak."
Luna buru-buru melangkah ke depan untuk membuka pintu. Luna terkejut saat melihat seorang wanita berpenampilan lusuh, dengan baju compang-camping berada di depan pintu.
"Ka-kamu siapa?" tanya Luna yang tampak tidak mengenali gadis itu.
Gadis itu menangis pilu di depan Luna.
"Aku Aleta. Aku mau ketemu Ryan," ucap Aleta.
Luna terkejut.
"Apa! Aleta. Apa yang terjadi dengan kamu?" tanya Luna.
"Ceritanya panjang Lun. Aku benar-benar takut. Aku butuh Ryan saat ini."
"Ayo masuk! Kak Ryan ada di dalam."
Luna kemudian menggandeng Aleta untuk masuk ke dalam rumahnya.
Sesampai di ruang tengah, Ryan menatap heran ke arah Aleta.
"Aleta. Kenapa dengan dia Lun?" tanya Ryan.
__ADS_1
"Aku juga nggak tahu Kak. Dia sudah tiba-tiba saja seperti ini."
Ryan bangkit berdiri. Dia sudah mengepalkan tangannya geram. Ryan melangkah ke arah Aleta.
"Aleta. Apa yang terjadi dengan mu! siapa yang sudah melakukan ini sama kamu?" tanya Ryan.
Aleta diam. Dia hanya bisa menundukan wajahnya.
"Aleta katakan...!" ucap Ryan dengan nada tinggi.
Ryan tampak iba, pada Aletta wanita yang sudah beberapa bulan ini dia pacari. Ryan tahu masa lalu Aletta yang sangat rumit, dengan seorang lelaki.
"Rei yang sudah membuat aku seperti ini. Hiks...hiks..." Aleta tidak bisa menahan lagi tangisannya
"Apa! kamu telah menemuinya?" tanya Ryan.
"Nggak. Untuk apa aku menemui lelaki jahat itu. Aku nggak sengaja bertemu dengan dia Ryan. Dan dia yang sudah memaksa aku. Dia yang sudah membuat aku seperti ini. Aku takut Ryan..." Tiba-tiba saja, Aleta memeluk Ryan.
Sementara Luna hanya bisa diam mematung melihat ke dua orang itu. Dia sama sekali tidak tahu, dengan masalah apa yang sebenarnya terjadi pada Aleta.
"Kurang ajar kamu Rei...! biadab...! kamu sudah membuat anak orang seperti ini. Aku benar-benar harus kasih dia pelajaran," ucap Ryan tiba-tiba.
Ryan akan melangkah pergi. Namun, Aletta buru-buru mencekal tangannya.
"Jangan Ryan. Kamu jangan pergi sendiri. Sangat berbahaya. Sekarang Rei sedang bersama komplotannya di markas besarnya. Jika kamu ke sana sendiri, itu sama saja kamu akan mencari mati."
Ryan membelalakkan matanya. Dia kemudian melangkah mendekat ke arah Aleta.
"Kalian kenapa? apa yang sebenarnya terjadi? dan siapa Rei yang kalian bilang itu?" tanya Luna penasaran.
Ryan tidak langsung menjawab pertanyaan adiknya.
"Kakak tidak suka kamu banyak tanya dan banyak ikut campur urusan kami. Sekarang bawa Aleta ke kamar dan pinjami dia baju kamu. Besok Kakak akan antar dia pulang."
"Baiklah. Ayo Aleta."
Aleta kemudian melangkah untuk ke kamar Luna. Luna masih bertanya-tanya dalam hati. Ada apa sebenarnya dengan Aletta. Apa yang sedang kakaknya sembunyikan darinya.
***
Fabian masih tampak duduk di atas sofa kamarnya. Dia masih menggenggam ponselnya dan pandangannya masih terarah ke istrinya yang sedang memangku Firen bayinya.
"Mas. Kamu kenapa? dari tadi, kamu ngelihatin aku kayak gitu banget? ada apa Mas? seperti ada yang kamu fikirkan?" tanya Syanum yang tidak biasa melihat tatapan suaminya.
Syanum melihat ada kecemasan di mata suaminya.
"Aku sebenarnya kasihan sama kamu sayang. Karena kamu harus mengurus bayi kamu sendiri. Pasti kamu capek banget," ucap Fabian.
Syanum tersenyum.
__ADS_1
"Nggak juga kok Mas. Kan Mama juga bantuin aku. Begitu juga dengan Mbak Asih, Mbak Fani, dan Kak Dila. Mereka juga sering gantian gendong Firen kalau dia nangis. Dan aku juga merasa nggak kerepotan kok," ucap Syanum.
"Iya. Tapi aku pengin cari baby sitter untuk bayi kita sayang. Untuk meringankan beban kamu," ucap Fabian.
"Nggak perlu Mas. Aku juga bisa kok ngurus anak aku sendiri. Lagian, baby sitter itu juga kan bayarnya mahal. Dan belum tentu juga dia telaten ngurus Firen."
"Bulan depan Mama dan papa mau ke luar kota. Aku nggak tahu mereka akan lama atau nggak di sana. Aku dan Kak Dila juga harus fokus lagi kerja di kantor. Dan Mbak Asih, katanya dia mau cuti ke kampung. Dan Mbak Fani, sekarang dia itu kan harus antar jemput sekolah Dimas. Lalu, bagaimana dengan kamu? aku nggak tega jika aku harus membiarkan kamu sendirian di rumah."
Syanum tersenyum. Dia meletakan Firen di atas boks bayi. Setelah itu, dia kemudian melangkah dan duduk di sisi suaminya.
"Mas, sudahlah. Itu kan masih jauh. Satu bulan lagi kan? ya udahlah. Santai aja. Aku nggak apa-apa kok jika di tinggal kamu sendirian di rumah. Udah biasa kan," ucap Syanum sembari mengelus bahu suaminya.
Fabian tersenyum.
"Tapi aku tetap akan pekerjakan pembantu baru saat Mbak Asih pulang kampung."
"Itu sih, terserah kamu Mas."
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu sudah terdengar dari depan kamar Fabian.
Syanum bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah ke pintu depan untuk membuka pintu.
Tampak di depan pintu, Mbak Fani sudah berdiri.
"Eh ada apa Mbak?" tanya Syanum.
"Non Syanum, dan Tuan muda, di tunggu di bawah oleh Nyonya dan Tuan."
"Oh. Iya. Sebentar lagi saya turun."
Mbak Fani mengangguk. Setelah itu Mbak Fani melangkah pergi meninggalkan kamar Syanum. Sementara Syanum melangkah mendekat ke arah suaminya.
"Mas, kita makan dulu yuk. Kamu belum makan malam kan?" tanya Syanum.
Fabian menggeleng.
Fabian bangkit berdiri dan menatap ke arah Firen.
"Apakah kita akan biarkan anak kita sendirian di sini? " tanya Fabian.
"Nggak apa-apa Mas dia sendiri. Dia juga udah gede kan. Udah hampir satu bulan. Nggak akan ada apa-apa kok."
Semenjak Firen hadir dalam kehidupannya, Fabian sangat menyayangi Firen lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri. Dia tidak mau kehilangan anaknya. Dia sangat menjaga sekali Firen dari hal-hal yang membahayakannya.
'Kenapa, akhir-akhir ini, perasaan aku jadi sering nggak enak ya,' batin Fabian.
"Ayo Mas...!"
__ADS_1
Syanum menggandeng tangan suaminya dan mereka menuju ke ruang makan.