Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Periksa kandungan


__ADS_3

Hoek...Hoek...


Syanum masih berada di dalam kamar mandi. Sejak tadi dia masih muntah-muntah.


"Kenapa ya, semakin hari aku semakin mual saja. Kapan semua ini bisa berakhir," gumam Syanum sembari menatap pantulan dirinya di depan cermin.


Syanum mengambil tisu. Setelah itu di mengelap mulutnya dengan tisu.


Saat ini Syanum masih berada di butik Luna. Sudah sejak kemarin dia diajak Luna ke butik untuk membantunya. Karena akhir-akhir ini butik Luna sangat ramai pembeli.


Tok tok tok...


"Kak. Kak Syanum...! lama sekali kamu di dalam kak. Lagi ngapain sih? masih mual-mual ya."


Syanum membuka pintu kamar mandi.


"Lun."


"Kak. Kamu kok pucat banget begitu sih. Kamu nggak apa-apa kan? "


"Maafkan aku ya Lun. Aku nggak bisa bantu kamu. Aku malah ngerepotin kamu di sini."


Luna tersenyum.


"Nggak apa-apa. Kalau kakak sakit, kakak istirahat aja di kamar. Aku sih ngajak kakak ke sini, dari pada kakak bengong di rumah kan mending Kakak ke sini yang banyak teman."


"Iya sih."


"Dari pada di rumah, nanti kakak malah kefikiran Kak Abi terus."


Syanum menghela nafas dalam.


"Kepala aku pusing Lun."


"Kak aku telpon Kak Ryan aja ya."


"Untuk apa?"


"Aku akan minta dia, untuk antar Kakak ke rumah sakit."


"Untuk apa ke rumah sakit. Aku nggak sakit kok."


"Lho kok untuk apa sih. Kakak kan belum pernah ke rumah sakit. Kaka harus periksa ke dokter kandungan. Biar Kakak bisa dapat obat mual."


"Iya deh. Emang Ryan nggak lagi sibuk?"


"Ini kan hari minggu Kak. Kak Ryan pasti libur kok."


"Ya terserah kamu Lun. Kalau mau telpon, telpon aja sana."


"Baiklah."


****


Di sisi lain, Ryan masih bersama Aleta pacarnya. Sejak tadi dia masih berada di sebuah taman bersama Aleta. Dia masih mesra-mesraan dengan Aleta.


Ring ring ring...


Tiba-tiba saja, ponsel Ryan berbunyi.


"Hah, Luna. Mau ngapain sih, dia nelepon," gerutu Ryan.


"Siapa sayang yang nelpon?" tanya Ryan.


"Adik aku."


"Angkat aja. Barang kali penting."

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini ya sayang."


Ryan kemudian pergi meninggalkan Aleta untuk mengangkat telpon dari adiknya.


"Halo Lun. Ada apa sih ganggu orang aja."


"Kakak bisa ngga jemput Kak Syanum di butik aku?"


"Nggak bisa. Lagian mau ngapain sih dijemput. Kan ini masih siang."


"Kak. Kak Syanum mual-mual terus. Dan aku mau minta Kak Ryan untuk mengantar dia ke rumah sakit."


"Aku ngga mau. Aku lagi sama pacar aku. Kamu ini sengaja ya mau gangguin aku. Kenapa nggak kamu sendiri aja sih, yang ngantar Kak Syanum."


"Aku nggak bisa Kak. Butik aku lagi rame. Tolong dong Kak. Kakak nggak kasihan sama Kak Syanum."


"Baiklah. Aku ke sana sekarang. Tapi aku mau antarkan Aleta pulang dulu."


"Iya Kak. Makasih banyak ya, kakakku yang paling ganteng."


Ryan buru-buru menutup saluran telponnya. Dia kemudian melangkah ke arah Aleta dan duduk kembali di sisinya.


"Kenapa sayang?" Aleta menatap Ryan lekat.


"Adik aku nyuruh aku pulang. Aku mau ngantar Kakak sepupu aku ke rumah sakit untuk periksa kandungan."


"Oh, gitu ya."


"Iya sayang. Nggak apa-apa kan."


"Ya udah. Nggak apa-apa."


"Aku antar kamu pulang ya."


"Iya sayang."


***


Sejak tadi Syanum masih berada di ruangan kerja Luna. Dia sejak tadi masih beristirahat sembari menunggu kedatangan Ryan.


Beberapa saat kemudian, Luna datang dan menghampirinya.


"Kak Syanum. Gimana Kak. Apa Kaka sudah siap?" tanya Luna.


Syanum menatap Luna.


"Emang Ryan sudah datang?"


"Sudah Kak. Kak Ryan ada di depan nungguin kakak."


"Ya udah. Aku pergi dulu ya."


"Iya Kak. Hati-hati ya Kak di jalan."


Syanum kemudian ke luar untuk menemui Ryan. Syanum tersenyum saat melihat mobil Ryan. Dia kemudian mendekat ke arah mobil Ryan.


"Ryan."


"Udah siap Kak?"


"Udah."


"Masuk Kak."


Syanum kemudian masuk dan duduk di depan bersama Ryan. Setelah itu, mereka berdua meluncur pergi menuju ke rumah sakit.


Sejak tadi, Ryan diam. Dia sama sekali tidak mau mengajak Syanum mengobrol. Biasanya, Ryan yang lebih banyak mengobrol dari pada Syanum. Mungkin Ryan merasa terganggu juga. Karena lagi asyik-asyiknya pacaran, malah disuruh mengantar Syanum periksa ke rumah sakit.

__ADS_1


"Tumben diam aja. Lagi sakit gigi? atau sariawan?" tanya Syanum.


Ryan menggeleng.


"Terus kenapa? kenapa dari tadi diam aja?"


"Aku nggak apa-apa kok. Cuma lagi bete aja."


"Bete kenapa?"


"Luna. Dia nyebelin banget."


"Nyebelin kenapa?"


"Sudahlah. Nggak usah dibahas."


Syanum diam. Dia tidak berani lagi untuk bicara. Karena sepertinya saat ini, Ryan lagi bad mood. Syanum juga tidak tahu kenapa.


Beberapa saat kemudian, mobil Ryan sudah berhenti tepat di parkiran rumah sakit.


Ryan dan Syanum kemudian turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke rumah sakit.


Mereka melangkah ke arah ruang USG untuk menemui dokter kandungan. Hari ini, adalah hari pertama Syanum memeriksa kandungannya ke rumah sakit, sekalian USG.


Syanum dan Ryan melangkah masuk ke dalam ruangan dokter itu.


"Silahkan duduk!"


Dokter mempersilahkan Syanum dan Ryan duduk.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter.


"Saya ke sini, mau periksa kandungan saya."


"Oh iya."


"Kemarin saya sudah periksa ke dokter, dan saya di suruh USG kandungan saya."


"Baiklah. Kalau begitu, ayo ikut saya."


Sejak tadi Ryan masih diam. Dia masih menatap layar ponselnya. Entah apa yang sedang dia lakukan sekarang.


Beberapa saat kemudian, Syanum dan dokter kembali duduk di dekat Ryan.


"Mas, kenapa dari tadi anda mainan hape saja. Apa anda tidak ingin melihat calon anak anda?" tanya Dokter pada Ryan yang membuat Ryan terkejut.


"Ha, apa?"


"Mas, Mbak, saya tahu kalian itu pasangan suami istri yang masih sangat muda. Makanya, saya cuma mau bilang sama Masnya. Tolong jaga kehamilan istri anda dengan baik. Apalagi ini kehamilan istri anda yang pertama dan usia kandungan yang masih muda juga masih sangat rawan."


"Tapi dia..." ucap Ryan.


"Saya mohon untuk Masnya, jangan cuekin istri anda terus. Anda harus fokus memperhatikan istri anda. Jaga pola makan, tidur teratur, dan olah raga harus seimbang."


Ryan bingung dengan dokter yang selalu menganggap Ryan itu suaminya Syanum. Tapi Ryan malas untuk menjelaskan panjang lebar ke dokter kalau dia cuma adik sepupunya Syanum. Jadi, Ryan iyakan saja ucapan dokter.


"Oh, iya Dok, iya. Saya akan jaga istri saya dengan baik. Karena saya sangat mencintai istri saya Dok."


Syanum menatap Ryan tajam. Dia kemudian menginjak kaki Ryan.


"Auh..."


"Kenapa Mas?" tanya Dokter itu.


"Nggak apa-apa. Kaki saya tadi di injak istri saya. Mungkin bawaan wanita hamil kali ya Dok. Istri saya jadi galak banget setelah hamil."


'Apa Ryan sudah gila. Apa susahnya sih dia jujur sama dokter kalau dia buka suamiku.' batin Syanum.

__ADS_1


__ADS_2