
Malam ini, Fabian masih berada di rumah Om Riko ayah Mentari. Sejak tadi sore, Fabian datang dan berbincang-bincang seputar Mentari dengan Om Riko.
"Fabian. Udah malam. Apa kamu tidak mau pulang Fabian?" tanya Om Riko menatap Fabian lekat.
"Nggak Om. Aku lagi malas pulang. Apa aku boleh Om tidur di sini?"
"Fabian, bukannya Om mau melarang kamu untuk tidur di sini. Om boleh aja kamu tidur sini. Tapi, bagaimana dengan istri kamu. Kamu nggak boleh ninggalin dia terus. Kasihan dia."
"Om. Sudah berapa kali sih aku bilang. Aku itu cuma cinta sama Mentari. Walau aku sekarang sudah menikah dengan wanita lain, tapi cinta aku ke Mentari itu tidak akan pernah berubah. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan Mentari di hatiku Om."
"Iya. Om tahu itu. Memang sulit untuk melupakan wanita yang kita cintai. Tapi, sekarang kamu itu sudah menikah. Dan pernikahan kamu itu sudah sah secara hukum agama dan negara. Dan kamu itu sudah berkewajiban untuk memberikan istrimu nafkah. Terutama nafkah batinnya."
Fabian menghela nafas dalam. Fabian sudah sering sekali mendengar nasihat itu. Tapi, Fabian tidak pernah perduli dengan nasihat-nasihat orang. Baginya, dia tidak akan pernah menyentuh seorang wanita tanpa cinta. Dan tidak ada yang bisa memaksa Fabian kecuali jika Syanum sudah bisa meluluhkan hatinya. Dan itu tidak mudah.
"Iya Om. Aku akan pulang. Tapi tolong ya Om. Kalau ada kabar apapun dari Mentari, tolong hubungi aku. Aku sangat mengkhawatirkan dia Om."
"Iya Fabian."
Setelah berpamitan dengan Om Riko, Fabian pun kemudian pergi meninggalkan rumah Om Riko.
Fabian naik ke atas motornya. Setelah itu dia memakai helemnya dan menatap Om Riko.
"Hati-hati di jalan ya."
Fabian mengangguk. Setelah itu Fabian meluncur pergi meninggalkan rumah Om Riko.
Malam ini, dingin sudah mulai menusuk sampai ke ulu hati. Fabian masih mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Fabian tidak tahu akan pergi ke mana lagi sekarang.
"Apa aku cari Mentari aja ya. Siapa tahu, aku akan bisa menemukannya. Tapi, tidak mungkin kan, kalau Mentari malam-malam ini, berada di jalan. Kalau aku pulang ke rumah, aku masih sebel sama papa. Dan aku muak, sama Syanum," gumam Fabian di sela-sela menyetirnya.
***
Syanum masih berada di kamar Fabian. Kamar luas berAC
yang di penuhi fasilitas-fasilitas mewah di dalamnya, seperti sofa, tivi, lemari, tempat tidur, dan kamar mandi.
Syanum sejak tadi hanya bisa menatap ke luar jendelanya kamarnya. Dia sepertinya masih cemas memikirkan Fabian. Karena sampai jam 12 malam, Fabian belum pulang juga.
"Ke mana sih, Mas Fabian? kenapa dia nggak pulang-pulang. Apa dia nggak tahu, kalau aku sangat mengkhawatirkan dia. Gara-gara aku, dia jadi pergi dari rumah. Tapi, aku juga tidak bisa menolak keinginan mertuaku."
Deru suara motor terdengar dari lantai bawah. Syanum membuka gorden kamarnya dan menatap ke bawah.Tampak suaminya sedang memarkirkan motor di depan rumah.
__ADS_1
Syanum tersenyum. Dia kemudian buru-buru melangkah untuk menghampiri suaminya.
Tok tok tok...
Ketukan pintu sudah terdengar dari luar rumah. Syanum yang sudah sampai di ruang tamu, segera membuka pintu depan.
Dilihatnya sosok suaminya dengan wajah kusut dan murung. Syanum tahu, apa yang membuat suaminya seperti itu. Pasti semua karena Pak Damar.
"Mas, kamu dari mana? kenapa malam-malam begini kamu baru pulang? kamu tahu nggak sih, kalau dari tadi aku sangat mencemaskan kamu?"
Fabian melangkah masuk begitu saja melewati Syanum. Dia baik ke atas untuk ke kamar. Sementara Syanum kembali mengunci pintu rumah dan melangkah mengikuti suaminya ke kamar.
Sesampainya di kamar, Fabian duduk di sisi ranjang.
"Mas, apa kamu sudah makan?"
"Cukup! jangan sok baik kamu Syanum. Aku capek. Aku lelah. Dan ini semua gara-gara kamu!" Telunjuk Fabian sudah mengarah ke wajah Syanum.
"Maaf." Hanya itu yang bisa Syanum ucapkan sekarang. Sejak tadi Syanum masih takut untuk menatap wajah suaminya.
"Syanum. Tolong, jangan panggil aku Mas. Aku muak dengarnya Syanum."
"Tapi, papa menyuruh aku memanggilmu Mas."
"Terus kamu mau?"
Syanum mengangguk "Maaf, Tuan muda. Karena aku tidak bisa menolak keinginan ayahmu."
"Ya ampun Syanum. Kamu itu kenapa sih, bodoh banget. Terus, kalau ayahku minta kamu untuk terjun ke sungai, kamu juga mau?"
"Em, ya nggaklah."
"Syanum. Kenapa sih, kita harus menikah. Kita itu tidak saling mencintai Syanum. Seharusnya waktu itu kamu nolak Syanum. Apa kamu tidak bisa menolak permintaan ayahku?"
"Tuan muda. Aku bisa saja menolak. Tapi, ayahmu yang maksa aku untuk menikah denganmu. Aku tidak enak, untuk menolaknya. Karena waktu itu, situasi dalam kondisi darurat. Dan tidak ada pilihan lain."
"Ya seharusnya kamu bisa menolak Syanum. Kita itu tidak akan pernah bahagia dengan pernikahan ini Syanum."
"Tapi kita bisa kan Tuan muda, memulai dari awal lagi. Kita bisa kan untuk belajar saling menerima dan saling mencintai."
Fabian terkejut mendengar ucapan Syanum.
__ADS_1
"Apa! belajar saling mencintai? jangan harap Syanum, aku bisa mencintaimu. Karena selamanya, cinta aku itu hanya untuk Mentari."
"Aku tahu itu Tuan muda. Tanpa kamu ucapkan itu pun, aku juga sudah tahu."
Fabian bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah ke arah lemari untuk mengambil selimut.
"Kamu mau ke mana?" tanya Syanum.
"Aku mau tidur di kamar tamu."
"Tapi, bagaimana kalau papa tahu? kita kan di suruh tidur satu kamar."
"Papa kan tahunya aku pergi dan belum pulang."
Fabian mengambil bantal yang ada di atas ranjangnya. Setelah itu dia pergi meninggalkan kamarnya dan melangkah untuk ke kamar tamu.
Sesampainya di kamar tamu, Fabian membuka pintu. Namun, ternyata pintu itu terkunci.
"Ah, pasti papa ini yang udah ngunci pintu di sini."
"Papa yakin, kalau kamu pasti akan ke sini, makanya papa sengaja ngunci pintu kamar ini. Papa yakin, kalau kamu tidak akan sanggup hidup di luar Fabian. Kamu itu masih butuh papa. Kamu tidak akan bisa hidup tanpa fasilitas yang kamu miliki."
Fabian menatap tajam ayahnya. Dia semakin murka saja pada ayahnya. Tapi, apa yang bisa Fabian perbuat sekarang. Mau tidak mau, dia harus tidur satu kamar dengan Mentari.
"Sana, sekarang kamu tidur di kamar kamu. Atau kamu bisa tidur di sofa ruang tengah, atau ruang tamu."
Dengan wajah di tekuk, Fabian kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar tamu. Dia melangkah kembali ke kamarnya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, Fabian muncul dari balik pintu. Syanum terkejut saat melihat suaminya.
"Mas, kamu kok kembali lagi sih? katanya kamu mau tidur di kamar tamu?" tanya Syanum yang sudah berada di atas tempat tidur Fabian.
"Kamarnya di kunci."
"Di kunci?"
"Iya. Barusan papa yang ngunci."
"Ya udah. Kamu tidur di sini aja sama aku Mas. Nggak akan terjadi apa-apa kok di antara kita. Biar aku tidur di sofa aja. Dan kamu tidur di sini."
__ADS_1
Syanum akan turun dari tempat tidurnya. Namun, Fabian buru-buru melarangnya.
"Tetaplah di situ. Biar aku yang tidur di sofa," ucap Fabian, sembari melangkah ke arah sofa. Setelah itu dia berbaring di atas sofa dan langsung terlelap. Sepertinya dia memang sangat lelah malam ini. Sementara Syanum, dia lekas berbaring di tempat tidur Fabian.