Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Pura-pura


__ADS_3

"Syanum, Ryan, ngapain kalian mesra-mesraan di sini...!" ucap Fabian yang sudah berada di dekat Syanum dan Ryan.


"Mas Fabian. Kamu kok ke sini sih?"


"Syanum. Ikut aku sekarang."


"Mas, ikut ke mana? makanan aku masih belum habis."


Seperti biasa, setiap marah, Fabian tidak bisa mengontrol emosinya. Tanpa banyak basa-basi, Fabian kemudian menyeret istrinya pergi meninggalkan kantin. Dia tidak perduli dengan keadaan sekitar.


Fabian membawa istrinya ke dalam ruangannya. Dia kemudian mengunci Syanum di dalam ruangannya.


Fabian menatap Syanum tajam dan langsung mendorong tubuh Syanum hingga Syanum terjatuh di atas sofa.


"Auh.. Mas. Kamu kasar benget sih Mas sama aku. Apa salah aku sama kamu...!"


"Kamu masih tanya apa salah kamu? untuk apa kamu berduaan dengan Ryan dan makan di kantin bersama Ryan. Untuk apa kamu memasak untuk Ryan dan membawakan Ryan bekal makan siang. Emang siapa yang menjadi suami kamu? aku atau Ryan heh...!"


"Mas. Kenapa jadi kamu yang marah sih. Seharusnya aku yang marah sama kamu. Kenapa kamu makan di kantin sama cewek? dan siapa cewek itu. Apa jangan-jangan dia itu wanita yang sering nelpon kamu dan chatan sama kamu, sampai membuat kamu lupa waktu?"


"Hah, jangan mengalihkan topik pembicaraan. Apa jangan-jangan kamu itu sudah mulai suka sama adik sepupu aku? apa karena dia jauh lebih tampan dari aku dan jauh lebih muda, makanya kamu jadi mulai pehatian sama dia."


Syanum tersenyum sinis.


"Oh aku tahu sekarang. Tuan muda sudah mulai jatuh cinta kan sama aku. Makanya Tuan muda cemburu saat melihat aku dekat dengan Ryan."


"Apa! berani sekali kamu bicara seperti itu? Syanum. Kamu ngaca dulu kalau mau bicara seperti itu denganku. Lihat dulu penampilan kamu. Kamu itu kampungan, aku juga malu kalau ngajak jalan kamu. Karena penampilan kamu nggak banget gitu," ucap Fabian.


"Kalau kamu nggak suka sama aku, nggak usah cemburu dong. Mau aku dekat dengan Ryan kek, dan dekat dengan lelaki manapun, seharusnya Tuan muda nggak perlu marah-marah seperti ini."


"Aku bukan marah karena cemburu Syanum. Tapi aku nggak suka aja kamu dekat dengan Ryan. Dia itu playboy. Aku nggak mau kamu termakan bujuk rayu Ryan."


"Ah, sama aja kali. Apa bedanya cemburu dan nggak suka. Bukan kah kamu pernah bilang Tuan muda, kalau pernikahan kita itu hanya pernikahan di atas kertas.


Dan kita tidak boleh mencampuri urusan kita masing-masing. Apa kamu lupa sama hal itu? kenapa sekarang kamu malah mencampuri urusan aku. Seharusnya aku mau dekat sama siapa aja itu urusan aku dong."


Fabian diam. Dia memang pernah bicara seperti itu dulu. Tapi namanya Fabian. Dia itu lelaki egois yang maunya menang sendiri. Mana pernah dia mikirin perasaan Syanum. Dia lebih mentingin perasaannya sendiri.


Tok tok tok...


Suara ketukan terdengar dari luar ruangan Fabian. Fabian menatap Syanum.

__ADS_1


"Diam di sini! aku akan buka pintu. Jangan macam-macam Syanum!"


Fabian melangkah ke arah pintu dan membuka pintu. Fabian terkejut saat melihat Ryan dan ayahnya sudah berdiri di depan pintu.


"Fabian. Ada apa sebenarnya ini? kenapa kamu marah-marah sama Syanum?" tanya Pak Damar setelah sampai di ruangan Fabian.


"Tadi Papa dapat laporan dari Ryan, kalau kamu menarik paksa tangan Syanum dan menyeret Syanum sampai ke sini."


"Pa, jangan percaya sama dia Pa." Fabian menunjuk ke arah wajah Ryan.


"Dia bohong Pa. Dia yang udah ganggu istri aku. Makanya aku bawa Syanum ke sini."


"Fabian. Mana mungkin Ryan ganggu Syanum. Jangan ngarang kamu. Orang tadi Ryan ada di kantin, dan kamu langsung menarik Syanum. Dan bukan cuma Ryan yang lihat. Semua karyawan Papa di sini juga lihat."


"Pa, aku dan Syanum baik-baik aja."


Fabian duduk di sisi Syanum.


Dia kemudian merangkul bahu Syanum.


"Kami baik-baik aja. Masalah tadi, nggak usah diperpanjanglah Pa."


"Nggak Pa. Aku sayang kok sama Syanum. Iya kan sayang," ucap Fabian. Fabian kemudian mencium pipi Syanum di depan Ryan dan ayahnya.


Ryan hanya tersenyum tanpa menunjukan ekspresinya saat melihat Fabian mencium Syanum. Hal ciuman pipi, itu sudah biasa dilakukan Ryan bersama mantan-mantan pacarnya. Dia sama sekali tida terkejut melihat kakak sepupunya mencium istrinya. Apa Fabian fikir, Ryan akan cemburu?


Ryan melangkah ke meja dan meletakan rantang Syanum.


"Makasih Kak Syanum, untuk makanannya. Lain kali, aku minta lagi ya Kak bekal makan siang," ucap Ryan sebelum pergi meninggalkan ruangan Fabian


'Sialan si Ryan ini. Apa dia memang sengaja mau mengacau ku.' batin Fabian.


Ryan kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Fabian. Sementara Pak Damar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya.


"Ya udah. Papa akan kembali ke ruangan."


Pak Damar kemudian kembali ke ruangannya.


Fabian langsung melepas pelukannya. Setelah itu dia melangkah ke meja kerjanya dan duduk kembali di kursinya.


Fabian membuka layar monitornya dan dia lekas bekerja kembali. Sementara Syanum masih duduk di sofa.

__ADS_1


Syanum mengambil tasnya. Setelah itu dia bangkit berdiri.


"Kamu mau ke mana?" tanya Fabian.


"Mau pulang," jawab Syanum.


"Untuk apa pulang?"


"Lalu, aku mau ngapain di sini?"


"Duduk!" sentak Fabian.


"Aku mau pulang."


"Kamu nggak boleh pulang. Sebelum suami kamu mengizinkan kamu untuk pulang."


"Tapi Mas, aku nggak betah di sini terus."


"Aku bilang duduk ya duduk Syanum! mau aku hukum lagi seperti kemarin?"


Syanum bergidik ngeri saat mengingat kejadian yang dulu dan yang kemarin. Suaminya memang benar-benar mesumnya tidak ketulungan. Setiap kali marah, dia akan tiba-tiba saja mencium Syanum. Dan tidak ada penolakan untuk itu.


'Kamu itu memang lelaki yang sangat menyebalkan Mas Fabian. Kenapa aku harus punya suami seperti kamu. Udah pencemburu, munafik, mesum lagi. Nggak tahu deh, kalau bukan aku yang menjadi istri kamu. Bisa bertahan berapa lama jika wanita lain yang menjadi istri kamu' batin Syanum.


Syanum kemudian duduk. Dia benar-benar jenuh jika saja dia harus menemani suaminya kerja sampai seharian. Fabian bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah dan kembali mengunci pintu ruangan yang membuat Syanum terkejut.


Syanum berdiri dan melangkah untuk mendekat ke arah suaminya.


"Jangan macam-macam kamu Tuan muda. Apa yang mau kamu lakukan! buka pintunya. Aku nggak mau kamu melakukan hal yang kemarin."


Fabian tersenyum. Dia kemudian mendekat ke arah Syanum.


"Ini aku lakukan biar kamu tidak ke mana-mana. Karena malam ini, aku akan ngajak kamu dinner."


Syanum terkejut mendengar ucapan suaminya.


"Dinner? kamu yakin mau ngajakin aku dinner?"


"Iya. Kita kan belum pernah dinner."


Sebenarnya dalam hati Syanum sangat bahagia. Kapan lagi sih, suaminya itu mengajaknya dinner. Tapi Syanum harus pura-pura tidak membutuhkan.

__ADS_1


__ADS_2