
Syanum dan Fabian terkejut, saat melihat Dila dan Bu Reva saling memeluk. Mereka tampak sesenggukan menangis.
"Ma, Kak,ada apa? kenapa kalian nangis?" tanya Fabian. Fabian tampak penasaran. Kenapa kakak dan ibunya menangis? apa yang sebenarnya terjadi?
Fabian dan Syanum mendekat ke arah Kak Dila dan Bu Reva. Sementara Bu Reva dan Kak Dila melepaskan pelukannya. Mereka kemudian menatap Fabian dan Syanum dengan berderaian air mata.
"Ayah aku, baik-baik aja kan?" Syanum menatap ke arah Bu Reva dan Kak Dila.
Bu Reva mendekat ke arah Syanum. Dia memegang ke dua bahu Syanum dan menatap Syanum lekat.
"Sabar ya Nak. Barusan dokter ke sini dan memberi tahu, kalau ayah kamu sudah meninggal dunia," ucap Bu Reva.
Syanum terkejut mendengar ucapan Bu Reva.
"Nggak mungkin. Nggak mungkin ayah aku meninggal..."
Pandangan Syanum tiba-tiba saja menjadi gelap. Fabian terkejut saat Syanum pingsan di depannya. Fabian langsung menangkap tubuh Syanum dan menggendongnya. Dia melangkah untuk mencari suster.
"Suster...! suster...! tolong istri saya suster...!" seru Fabian.
Seorang perawat, menghampiri Fabian."Ada apa Mas?"
"Istri saya pingsan."
"Bawa saja ke sana Mas! nanti saya panggil dokter."
Dila dan Bu Reva masih menatap ke arah Fabian yang membawa Syanum ke sebuah ruangan. Mereka kemudian saling menatap.
"Ya Allah Dil. Kenapa cobaan selalu saja menimpa keluarga kita. Baru kemarin Ridho meninggal. Sekarang ayah Syanum Dil," ucap Bu Reva.
"Aku juga benar-benar nggak nyangka Ma, dengan kejadian ini. Kenapa Pak Herman bisa meninggal secepat ini."
"Dil. Kasihan Syanum Dil. Syanum sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang."
"Iya Ma. Kasihan dia. Kita doakan saja, agar Syanum bisa tabah menerima semua cobaan ini."
"Iya Dil."
****
Fabian tampak cemas dengan kondisi istrinya. Sudah satu jam, Syanum pingsan dan dia belum sadarkan diri. Sejak tadi, Fabian masih menunggu istrinya di ruang rawat.
"Syanum. Bangun dong Syanum! Jangan membuat aku cemas begini!" ucap Fabian.
Ke dua telapak tangan Fabian sejak tadi, masih di usap-usapkan ke tangan Syanum. Fabian mencoba untuk memberikan kehangatan pada Syanum istrinya.
Beberapa saat kemudian, Dila menghampiri Fabian yang ada di ruangan Syanum.
"Bi," ucap Dila.
Fabian menoleh ke arah Dila. Dia kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke arah kakaknya.
__ADS_1
"Syanum belum sadar?" tanya Dila sembari menatap ke arah Syanum.
Fabian menggeleng.
"Bi. Kita harus secepatnya membawa jenazah ayah Syanum pulang," ucap Dila.
"Apa kakak sudah kabari keluarga ayahnya Syanum?" tanya Fabian.
"Sudah. Tapi mereka bilang, terserah Syanum saja untuk memakamkan ayahnya di mana. Mereka juga akan segera ke rumah sakit."
"Kak. Tapi kondisi Syanum sekarang masih pingsan. Dia belum sadarkan diri."
"Ya udah. Kamu temani Syanum aja. Biar Mama dan Kakak yang akan mengurus semuanya."
"Iya Kak. Terus, bagaimana keadaan Papa Kak?"
"Papa kamu nggak apa-apa. Dia cuma luka ringan saja. Tapi, Papa kamu juga masih syok berat akibat kejadian itu."
"Sebenarnya kenapa sih Kak? apa yang sebenarnya terjadi?"
Dila menghela nafas dalam.
"Sebenarnya kejadiannya kemarin. Waktu ayah mertua kamu dan Papa kamu melintas ke sebuah jalan. Dan mereka tertimpa pohon besar yang tumbang karena angin besar dan pohon itu mengenai mereka. Dan kebetulan, pohon itu pas banget menimpa bagian mobil depan. Makanya ayah mertua kamu yang kena Bi."
"Astaghfirullah. Kenapa bisa seperti itu."
"Kita nggak tahu Bi kapan bencana itu akan terjadi. Kita hanya bisa pasrahkan saja semuanya sama Allah."
"Iya Kak."
Beberapa saat kemudian, Syanum membuka matanya dengan perlahan.
"Mas," ucap Syanum dengan nada yang masih lemah.
Fabian tersenyum.
"Syanum. Kamu udah sadar?"
"Mana ayah? ayah aku nggak mungkin ninggalin aku kan Mas."
"Sabar ya Syanum. Ayah kamu sudah meninggal dunia. Kamu harus tabah menghadapi semua musibah ini."
"Hiks...hiks...hiks..."
Syanum sesenggukan menangis di depan suaminya. Membuat Fabian tidak tega melihatnya.
Fabian kemudian meraih tubuh Syanum dan memeluknya.
"Syanum. Kamu harus sabar ya. Ikhlas kan ayah kamu pergi sayang," ucap Fabian sembari mengusap-usap bahu Syanum.
"Mas, kenapa ayah ninggalin aku secepat itu Mas."
__ADS_1
Fabian melepaskan pelukannya. Dia kemudian mengusap wajah Syanum yang penuh air mata.
****
Syanum dan Fabian, masih berdiri di atas makam Pak Herman. Sementara para pelayat sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Hanya ada Syanum dan Fabian yang ada di sisi makam Pak Herman.
"Syanum. Kita pulang yuk!" ajak Fabian.
"Aku masih ingin di sini Mas. Aku nggak mau meninggalkan ayah sendiri di sini," ucap Syanum yang masih berderaian air mata.
"Mau sampai kapan Syanum kamu menangisi ayah kamu di sini. Dengan menangis, tidak akan membuat ayah kamu itu hidup lagi," ucap Fabian.
"Syanum, ayo kita pulang!" ajak Fabian.
Setelah Fabian berkali-kali mencoba untuk membujuk Syanum, akhirnya Syanum mau pulang juga ke rumah. Sebelum pergi meninggalkan makam, Syanum menabur bunga di atas makam ayahnya.
"Tenang di sana ya Ayah. Syanum janji, Syanum akan sering ke sini untuk nengokin ayah," ucap Syanum sembari mengusap-usap batu nisan ayahnya.
Syanum bangkit berdiri. Dia masih menatap ke makam ayahnya. Fabian merangkul bahu Syanum. Setelah itu mereka melangkah pergi meninggalkan makam Pak Herman.
Fabian membuka pintu mobil untuk istrinya. Syanum kemudian masuk ke dalam mobil diikuti Fabian yang ikut masuk juga ke dalam mobil. Setelah itu, mereka meluncur pergi meninggalkan makam.
Di dalam mobil, Syanum masih diam. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Pandangannya masih ke luar jendela mobil.
Fabian tahu, apa yang sedang Syanum rasakan sekarang. Pasti Syanum sangat sedih sekali dengan kepergian ayahnya.
Fabian tampak sangat iba melihat istrinya. Dia juga merasa ikut sedih, atas kematian ayah Syanum yang mendadak itu.
Beberapa saat kemudian, Fabian sudah sampai di halaman depan rumahnya. Dia turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Syanum.
"Ayo Syanum. Kita turun!" pinta Fabian.
Fabian kemudian merangkul bahu Syanum dan lekas masuk ke dalam rumah. Mereka melangkah ke arah kamar mereka.
Sesampai di depan kamar, Syanum dan Fabian membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar.
"Kamu istirahat saja ya," ucap Fabian.
"Iya Mas."
Syanum naik ke atas tempat tidurnya. Setelah itu dia berbaring di atas tempat tidurnya.
"Kamu mau ke mana Mas?" tanya Syanum saat melihat Fabian melangkah pergi.
"Aku mau ke luar dulu."
"Mas, apa kamu nggak mau temani aku di sini saja Mas. Sebentar saja. Aku lagi butuh kamu."
Fabian mengangguk. Dia kemudian melangkah dan duduk di sisi Syanum.
"Kalau kamu masih butuh bahu aku untuk bersandar, aku akan dengan senang hati untuk meminjamkannya Syanum."
__ADS_1
"Makasih."
Syanum kemudian merobohkan kepalanya di atas bahu suaminya. Rasanya Fabian tidak tega, jika dia harus bicara kasar pada Syanum sekarang. Karena Syanum tampak sangat rapuh sekali.