Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kegalauan Ryan


__ADS_3

Ryan masih duduk sendiri di kantin kantor. Dia tampaknya sedang galau. Dari kemarin, dia tidak enak makan dan tidak enak tidur. Sejak kematian Aleta, Ryan jadi tidak punya semangat lagi. Dia selalu memikirkan wanita itu.


Dia seperti masih dihantui bayangan-bayangan Aletta. Karena dari sekian banyak wanita yang dekat dengan Ryan, cuma Aletta wanita yang paling dekat dengan Ryan. Aletta juga wanita yang paling tulus cinta sama Ryan dan wanita yang paling lama bertahan dengan Ryan.


Sejak tadi, Ryan masih mengaduk-aduk minumannya dengan sedotannya. Matanya masih menatap ke arah minumannya. Namun, fikirannya masih menerawang jauh entah kemana.


"Hai.Boleh duduk di sini?" tanya Aira.


Ryan hanya diam. Sepertinya dia tidak mendengar ucapan wanita yang ada di sampingnya.


'Kenapa Ryan diam aja sih. Nggak biasanya dia seperti ini' batin Aira.


Aira kemudian duduk di sisi Ryan. Dia kemudian menepuk bahu Ryan dengan keras.


"Woi. Ngelamun aja kamu!" ucap Aira dengan suara keras, yang membuat Ryan terkejut.


Ryan menatap Aira tajam.


"Kamu apaan sih Aira! nganggetin aja!" ucap Ryan kesal.


"Habisnya. Dari tadi kamu diam aja. Kenapa sih?" tanya Aira.


"Aku nggak kenapa-kenapa," ucap Ryan.


"Bohong. Nggak kenapa-kenapa, tapi, wajah kamu kusut banget begitu."


"Mau wajah aku kusut, mau wajah aku ceria. Aku mau tanya sama kamu. Apa urusannya coba sama kamu?" Ryan menatap Aira tajam.


"Yah, nggak ada sih. Tapi aneh aja gitu. Seorang Ryan yang biasanya selalu godain para cewek, bisa sekusut ini tampangnya."


Ryan dan Aira memang tidak terlalu dekat. Tapi mereka sering sekali bertemu di kantin kantor. Ryan sering sekali menggoda dan meledek Aira, setiap kali dia bertemu. Namun, hari ini Aira melihat ada yang beda dari sikap Ryan. Tidak biasanya Ryan itu banyak diam.


Aira melangkah ke arah ibu kantin untuk memesan makanan. Beberapa saat kemudian, Aira melangkah dan membawa bakso dan es teh manis ke arah Ryan.


Dia duduk di samping Ryan. Dia kemudian langsung menyeruput minumannya.


"Haus banget tahu nggak. Entah kenapa, aku merasa hari ini panas banget. Walaupun di ruangan aku ada AC, tapi aku tetap merasa panas banget," ucap Aira.


Ehem...Ehem....


Fabian tiba-tiba saja berdehem dan sudah berada di belakang Aira.


"Boleh gabung?" tanya Fabian tiba-tiba.


Ryan dan Aira menatap ke arah Fabian. Mereka menatap heran pada Fabian. Baru kali ini Fabian mau duduk bareng dengan Aira dan Ryan. Biasanya dia juga suka makan siang di ruangannya.


"Abi. Tumben banget kamu mau makan di kantin. Biasanya kamu juga makan di dalam ruangan?" tanya Aira.


"Ya, cuma ingin ganti suasana aja," ucap Fabian.


Ryan sejak tadi masih menampakkan wajah cueknya pada Fabian. Dia sama sekali tidak menyapa Fabian. Mungkin dia masih kesal saja, karena Syanum ternyata lebih memilih untuk kembali dengan Fabian dari pada cerai dengannya.


Tanpa menunggu waktu lama, Fabian kemudian memesan makanan dan minuman pada ibu kantin. Setelah itu, Fabian pun makan di dekat Aira dan Ryan.


Fabian masih makan. Namun, tatapannya masih sesekali tertuju pada Ryan.


"Yan. Kenapa kamu? kenapa makanannya di diamin aja? makan dong! keburu dingin lho," ucap Fabian.

__ADS_1


"Emang udah dingin dari tadi kok," ucap Ryan dengan wajah jutek.


Ryan bangkit berdiri.


"Mau ke mana?" tanya Fabian.


"Mau kembali kerja," jawab Ryan.


"Lho. Masih setengah jam lagi lho," ucap Fabian.


"Nggak apa-apa. Aku ngantuk. Pengin tidur dulu sebentar," ucap Ryan.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Ryan kemudian pergi meninggalkan Aira dan Fabian. Sepertinya Ryan memang tampak masih kesal dengan Fabian.


Aira dan Fabian saling menatap.


"Kenapa dengan Ryan?" tanya Fabian.


Aira mengedikan bahunya.


"Aku nggak tahu dia kenapa," jawab Aira.


Aira kemudian melanjutkan makannya. Dia sesekali menatap ke arah Fabian.


"Gimana keadaan istri dan anak kamu?" tanya Aira


"Alhamdulillah mereka baik," jawab Fabian.


Aira menghela nafas dalam. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Aku lagi mikirin Mentari," jawab Aira.


"Mentari? kenapa dengan Mentari?" tanya Fabian


"Aku bingung sama Mentari Bi. Dia itu sudah ketemu sama Mario. Dan Mario juga udah mau tanggung jawab dengan semua perbuatannya pada Mentari. Tapi Mentari masih saja sok jual mahal. Dia tidak mau dinikahi oleh Mario. Padahal udah jelas kalau anak yang dikandung Mentari itu anak Mario. Karena ibunya Mario, sudah tes DNA anak itu," jelas Aira.


"Oh. Gitu? yah aku sih cuma bisa mendoakan yang terbaik aja untuk Mentari."


"Dan yah, aku sekarang semakin bete aja sama Mentari. Dia itu tidak mau mengurus anaknya. Dia selalu melempar urusan tentang anaknya itu ke mama aku Bi. Sementara dia cuma bisa pergi-pergi aja nggak jelas. Dia juga nggak mau, menyusui bayinya. Sampai sekarang Dani aja, cuma di berikan susu formula aja."


'Hah, untunglah, istriku itu Syanum, bukan Mentari. Bagaimana jika aku yang menjadi suami Mentari dan punya istri yang cuek banget dengan anaknya seperti Mentari. Nggak tahu deh, akan jadi gimana hidup aku andai aku menikahnya dengan Mentari.' batin Fabian.


"Bi. Kamu kenapa?" tanya Aira yang melihat sejak tadi Fabian melamun.


"Eh. Ra. Aku nggak apa-apa," ucap Fabian.


"Kenapa sih? di ajak ngobrol kok malah ngelamun. Persis banget tuh, seperti sepupu kamu si Ryan itu."


"Ya udah deh Ra. Aku mau masuk dulu ya, ke ruangan aku."


Aira mengangguk.


Setelah itu, Fabian kemudian pergi meninggalkan Aira, dan melangkah ke ruangannya.


Fabian menghempaskan tubuhnya dan duduk di kursi meja kerjanya. Tiba-tiba saja, dia teringat dengan Syanum.


"Lagi ngapain ya Syanum sekarang. Mudah-mudahan aja, Lili kerjanya bagus. Biar Syanum nggak kerepotan ngurus Firen sendiri."

__ADS_1


Fabian mengambil ponselnya.


"Aku video call aja deh."


Fabian kemudian menelpon Syanum dengan video call.


Beberapa saat kemudian, gambar Syanum sudah muncul di layar ponsel Fabian.


Syanum tampak tersenyum dengan menggendong Firen.


"Halo sayang," ucap Fabian tersenyum dengan Syanum.


"Halo Papa..." ucap Syanum sembari melambaikan tangannya ke arah Fabian.


"Lagi ngapain anak papa? sama mamanya? kangen nggak sama Papa?"


"Kangen nggak ya?" ucap Syanum.


"Harus kangen dong. Kalau nggak kangen, nanti Papa nggak mau memberikan kado untuk kalian. Kalau kangen, nanti pulang papa mau bawa sesuatu untuk kalian."


"Bawa apa?" tanya Syanum penasaran.


"Ada deh ... ini kan rahasia. Nanti Papa akan bawakan hadiah untuk Firen dan untuk mamanya juga. Biar nggak ngambekan dan curigaan."


"Ish! lagi ngomongin siapa sih? ngomongin aku ya? siapa juga yang ngambekan dan curigaan Kamu kali Mas yang suka curigaan dan ngambekan."


"Iya deh iya iya. Istriku itu memang nggak pernah mau disalahkan."


Fabian sejak tadi masih video callan dengan istrinya. Tiba-tiba saja, dari luar ruangan Fabian, ketukan pintu terdengar.


"Syanum sayang. Sudah dulu ya. Nanti mas telpon lagi. Itu ada orang," ucap Fabian


"Oh iya Mas. Semangat ya kerjanya. Ingat, sekarang kamu udah jadi ayah. Kamu harus belajar dewasa."


"Iya sayang iya. Aku tutup dulu ya telponnya. Emmmuah... I love you."


"Emmmuah.. I love u too Mas."


Setelah mematikan saluran telponnya, Fabian kemudian berseru.


"Masuk ..!"


Seorang wanita datang menghampiri Fabian.


"Selamat siang Pak."


"Ada apa?" tanya Fabian.


"Ditunggu Pak Damar di ruang meeting Pak. Meeting akan segera di mulai."


Fabian menghela nafas dalam.


"Perasaan meeting melulu dari kemarin. Nggak ada hari tanpa meeting," gerutu Fabian.


"Saya permisi dulu Pak. "


Wanita itu kemudian pergi meninggalkan ruangan Fabian. Sementara Fabian bangkit berdiri dan melangkah ke luar dari ruangannya untuk ke ruang meeting.

__ADS_1


__ADS_2