Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Minta tebusan


__ADS_3

Fabian masih menatap kosong ke arah jalanan. Sejak tadi, dia masih berdiam diri di dalam mobilnya sembari matanya sesekali menatap mobil-mobil yang lewat di jalanan.


Sudah seharian dia mencari keberadaan Firen anaknya. Namun, sampai malam hari tiba, Firen belum juga ditemukan. Membuat Fabian lelah, lelah hati,lelah tenaga dan juga lelah fikiran.


Fabian menggenggam kuat-kuat setir mobilnya. Dia tiba-tiba saja berteriak sembari memukul-mukul setir mobilnya.


Aaagghhhh...


"Siapa yang sudah menculik anakku. Siapa...!" ucap Fabian dengan nada tinggi.


Fabian terlihat sangat frustasi malam ini. Fabian sudah muter-muter mencari keberadaan anaknya, namun sampai sekarang, dia belum bisa menemukan keberadaan anaknya. Padahal dia sudah berjanji pada Syanum kalau dia akan membawa Firen kembali.


"Maafkan aku Syanum. Aku tidak bisa membawa Firen pulang," ucap Fabian.


Ring ring ring...


Suara ponsel Fabian tiba-tiba saja berdering. Membuyarkan lamunan Fabian. Fabian buru-buru mengangkat telpon dari Kak Dila.


"Halo Kak"


"Halo Bi. Kamu lagi ada di mana Bi? kenapa udah malam kamu belum pulang?"


"Aku lagi mencari Firen Kak."


"Bi. Lebih baik, besok aja kamu mencari Firen lagi. Kasihan istri kamu Bi. Sekarang kamu pulang ya Bi. Ini udah malam."


"Kak, aku harus cari Firen dan bawa Firen pulang. Aku udah janji sama Syanum kalau aku akan bawa Firen pulang."


"Bi. Kamu mau cari Firen ke mana? kita saja tidak tahu siapa orang yang sudah membawanya. Pulang Bi, temani Syanum di rumah. Dia saat ini sedang terpuruk Bi. Dan dia lagi butuh kamu. Dia masih sangat sedih."


"Iya Kak. Aku akan pulang sekarang."


"Ya udah. Kakak tunggu ya."


"Iya Kak. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Fabian kemudian menutup saluran telponnya. Setelah itu, dia menyalakan mesin mobilnya dan dia pun meluncur untuk pulang ke rumahnya.


Sesampai di depan rumahnya, Fabian menghentikan laju mobilnya. Setelah itu, dia turun dari mobilnya. Fabian melangkah ke teras dan dia membuka pintu untuk masuk ke dalam rumahnya.


Fabian terkejut saat melihat seorang lelaki sedang mengobrol dengan Kak Dila di ruang tamu.


"Abi," ucap Dila saat melihat Fabian.


"Mana Syanum Kak?" tanya Fabian mendekat ke arah kakaknya.


"Ada di dalam Bi," jawab Dila.


"Oh." Fabian hanya ber Oh ria.


Fabian menatap ke arah Adam.


"Siapa dia Kak?" tanya Fabian yang sepertinya belum pernah melihat Adam.


"Bi. Kenalkan Bi. Ini, Adam. Teman kakak," ucap Dila memperkenalkan Adam pada Fabian.


"Oh. Teman kakak ya?"


Dila tersenyum dan mengangguk.


"Mas Adam. Kenalkan. Ini, Fabian adik aku," ucap Dila.


Adam tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Fabian.


"Saya Adam. Temannya Dila."


Fabian langsung membalas uluran tangan Adam.


"Saya Fabian adiknya Kak Dila."


Adam dan Fabian kemudian bersalaman.


"Bi, kami juga baru pulang mencari Firen Bi. Seharian ini, kami juga mencari Firen. Tapi kami tidak bisa menemukannya. Dan Lili, dia juga belum pulang ke rumah Bi. Entah dia ke mana sekarang," ucap Dila menjelaskan.


"Hah, biarkan saja wanita itu. Dia aja nggak becus menjaga Firen. Aku akan pecat dia," ucap Fabian yang masih kesal saja dengan Lili.


"Bi. Jangan gitu dong Bi. Ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Lili kan."


"Tapi aku malas kalau harus mempekerjakan wanita yang ceroboh seperti dia Kak."


Tanpa banyak berkata, Fabian kemudian melangkah naik ke atas untuk melihat istrinya di kamar.


Fabian masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian menatap ke sekeliling.


"Ke mana istriku," ucap Fabian.


Syanum tak nampak ada di kamarnya.


Gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi. Fabian tersenyum setelah tahu kalau isrtinya itu ada di kamar mandi.


"Ternyata istri aku, lagi ada di kamar mandi. Aku fikir, dia pergi ke mana." Fabian menghela nafas dalam.


Fabian kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi tempat tidurnya.

__ADS_1


Di ruang tamu, Dila dan Adam masih tampak berbincang-bincang. Tiba-tiba saja, Adam memutuskan untuk pulang.


"Saya pulang dulu ya Dil. Udah malam," ucap Adam.


"Mau pulang sekarang ya?" tanya Dila. "Ini kan belum malam banget Mas."


"Aku kan punya anak di rumah. Kasihan anak aku. Pasti dia sudah nungguin aku."


"Oh iya ya. Aku sampai lupa Mas."


"Kalau kamu lagi butuh bantuan, nanti kabarin aku lagi ya."


"Iya Mas. Sekali lagi, terimakasih ya, karena kamu sudah bantu aku cari ponakan aku."


"Iya."


Adam bangkit berdiri. Setelah itu, dia melangkah ke luar dari rumah Dila diikuti Dila di belakangnya. Dila ikut mengantar Adam ke luar.


Sebelum pergi, Adam menatap Dila. "Aku pergi dulu ya Dil."


"Iya Mas. Hati-hati di jalan ya."


Adam kemudian masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, dia pergi meninggalkan rumah Dila.


Setelah kepergian Adam, Dila masuk kembali ke dalam rumahnya dan menutup pintu rumahnya.


Ring ring ring...


Suara ponsel Dila tiba-tiba saja berdering.


"Siapa sih, yang nelepon" ucap Dila sembari melangkah untuk mengambil ponselnya.


Dila kemudian mengangkat telponnya.


"Halo. Siapa ini?"


"Halo Non. Ini Mbak Asih Non."


"Oh. Mba Asih. Aku fikir siapa? ada apa Mbak?"


"Non. Saya cuma mau ngabarin, kalau saya, sekarang sudah sampai di kampung Non."


"Oh, ya syukurlah kalau begitu. Mau berapa lama Mbak di kampung?"


"Mungkin setengah bulanan lah Non, Mbak kembali lagi ke rumah Non."


"Mbak. Ada kabar buruk Mbak."


"Kabar buruk apa Non?"


"Apa! ada yang menculik Firen? siapa?"


"Saya juga nggak tahu. Tadi pagi kejadiannya."


"Duh, kasihan banget ya Firen. Kenapa penculiknya tega begitu sih."


"Nggak tahu siapa yang sudah menculik Firen."


"Udah ngabarin Nyonya dan Tuan apa belum Mbak?"


"Mereka belum bisa dihubungi."


"Duh, Mbak doain semoga Firen baik-baik aja ya."


"Iya Mbak. Sejak pagi, kami semua juga lagi nyari Firen. Tapi aku dan Abi, belum ada yang berhasil menemukan Firen."


"Mbak ikut prihatin dengarnya Non. Ya udah ya Non. Maaf, kalau Mbak udah ganggu Non, malam-malam begini."


"Iya Mbak. Nggak apa-apa."


"Mbak tutup dulu telponnya ya Non. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Setelah bertelponan dengan Mbak Asih, Dila kemudian melangkah untuk ke kamarnya. Dila juga tampak sudah lelah dan mengantuk.


Di sisi lain, Syanum membuka pintu kamar mandinya. Syanum tersenyum saat melihat suaminya sudah pulang ke rumah.


Syanum melangkah dan duduk di sisi suaminya.


"Mas, kamu kenapa? kamu kelihatannya lesu banget?" tanya Syanum.


Fabian meraih tangan Syanum.


"Maafkan aku sayang. Aku sudah membuat kamu kecewa. Aku nggak bisa bawa Firen pulang," ucap Fabian dengan tampang sedih.


"Nggak apa-apa Mas. Kita serahkan saja semuanya sama polisi. Biar polisi yang bertindak."


"Iya sayang. Besok, aku akan ke kantor polisi."


Ring ring ring ...


Suara ponsel Fabian tiba-tiba saja berdering. Fabian mengambil ponselnya yang ada di sisinya.


"Siapa Mas?" tanya Syanum.

__ADS_1


"Nomer nggak dikenal sayang," jawab Fabian.


"Angkat aja Mas! siapa tahu penting." pinta Syanum.


Fabian mengangguk.


Fabian kemudian mengangkat nomer yang tak dikenalnya itu.


"Halo..."


Tak ada jawaban dari dalam telpon.


"Halo...siapa ini?"


"Halo... Fabian, apa kamu pengin tahu di mana anak kamu sekarang ? anak kamu sekarang sedang bersamaku."


"Apa! siapa kamu heh! apa kamu orang yang sudah menculik anak aku?"


"Ha..ha...ha..."


Suara tawa itu benar-benar membuat Fabian muak.


"Heh, jangan macam-macam ya sama anak saya. Kembalikan anak saya sekarang?"


"Ha...ha...ha... kamu ingin anak kamu kembali? siapkan dulu uang untuk tebusannya."


"Apa! kamu minta tebusan?"


"Ya."


"Berapa uang yang kamu minta hah!"


"Satu milyar. Kamu harus menyediakan uang satu milyar untuk menebus anak kamu."


Tut Tut Tut..


Sambungan telpon, tiba-tiba saja terputus. Lelaki yang ada di balik telpon, tiba-tiba saja memutuskan saluran telponnya.


"Ah, sial. Di matiin lagi." gerutu Fabian. Dia masih menatap ponsel kesal.


"Kenapa Mas?" tanya Syanum.


"Aku belum selesai bicara, sudah di matiin."


"Apa benar, tadi orang yang sudah menculik anak kita Mas?" tanya Syanum.


"Iya. Dia penculiknya."


"Kamu tahu Mas, siapa dia? dan apa tujuan dia menculik ana kita?" tanya Syanum.


"Aku juga nggak tahu kenapa."


"Mas, aku takut Firen kenapa-kenapa. Coba Mas, kamu hubungin dia lagi."


"Iya."


Fabian kemudian mencoba untuk menghubungi nomer itu lagi. Tapi, nomernya sudah tidak aktif.


Fabian menatap Syanum lekat.


"Dia nggak bisa dihubungi lagi sayang. Dia sudah menonaktifkan telponnya."


"Mas, aku takut banget Mas. Aku takut dia akan mencelakai Firen anak kita" Syanum tampak panik.


"Kamu tenang aja sayang. Firen nggak akan kenapa-kenapa. Kita berdoa saja ya. Aku yakin, penculik itu tidak akan berani menyakiti Firen. Dia cuma menginginkan kita menebus anak kita."


"Benarkah Mas. Kita lapor polisi saja Mas."


"Jangan sayang. Aku takut itu akan membahayakan nyawa Firen. Kita lebih baik, tunggu dia nelpon lagi."


"Iya Mas."


Syanum mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia bersandar di sisi suaminya.


"Kamu tenang ya sayang. Semuanya akan baik-baik saja kok" ucap Fabian menghibur istrinya.


Di sisi lain, Lili masih duduk di teras depan rumah majikannya. Dia takut untuk masuk ke rumah majikannya.


"Duh, gimana ya. Aku takut, sama kemarahan Tuan muda. Ini semua salah aku. Aku takut di pecat dari sini. Aku sudah membuat kesalahan yang fatal," ucap Lili.


Sejak tadi, Lili masih berdiri dan duduk di teras depan rumah Fabian. Dia sangat gelisah. Dia takut untuk masuk ke dalam rumah majikannya. Lili takut di pecat dan di usir karena sudah menyebabkan Firen pergi.


Beberapa saat kemudian, Mbak Fani membuka pintu. Dia terkejut saat melihat Lili.


Mbak Fani menghampiri Lili.


"Ngapain malam-malam kamu masih di sini. Ayo masuk! nanti gimana kalau kamu di sangka maling."


"Tuan muda masih marah ya?"


"Nggak tahu aku. Yang penting, kamu harus masuk ke dalam. Jangan tidur di sini."


"Tapi, aku takut di marahi Tuan muda."


"Tenang saja. Tuan muda sudah tidur."

__ADS_1


Mbak Fani kemudian mengajak Lili untuk masuk ke dalam. Dia mengunci pintu depan dan melangkah untuk ke kamar pembantu.


__ADS_2