Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Tes pack


__ADS_3

Siang ini, Mentari masih berada di jalan. Mentari jalan kaki, untuk sampai ke apotik.


Sesampai di depan apotik, Mentari menghentikan langkahnya. Dia kemudian melangkah dan masuk ke dalam apotik.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya pelayan apotik pada Mentari.


"Aku mau beli testpack,"ucap Mentari lirih.


"Oh. tespack? tunggu sebentar ya Mbak."


Beberapa saat kemudian, pelayan datang dan memberikan sebuah testpack pada Mentari. Setelah Mentari membayar testpack itu, Mentari kemudian pergi meninggalkan apotik.


Mentari menghentikan langkahnya setelah dia sampai di depan pintu rumahnya. Mentari membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.


"Aku harus pastikan, aku hamil atau tidak. Karena bukan hanya sekali Mario memaksaku untuk berhubungan dengannya. Aku benar-benar nggak sanggup jika aku sampai benar-benar hamil. Mending aku mati saja, dari pada menjadi wanita yang hamil tanpa suami. Aku tahu, Mario juga tidak akan pernah mau tanggung jawab dengan kehamilan ini. Aku juga malu, dengan Abi, jika sampai dia tahu, aku hamil. Dan aku hamil anak Mario."


Sejak tadi, Mentari tampak resah. Mentari kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk menggunakan testpack itu.


Beberapa saat kemudian, Mentari menatap benda pipih itu. Dan dia terkejut saat melihat dua garis merah tampak di dalam tes pack itu.


Tangis Mentari langsung pecah, saat dia mengetahui hasilnya.


"Hiks...hiks... kenapa aku bisa hamil kenapa!" teriak Mentari frustasi.


Mentari terduduk lemas. Dia hanya bisa bersimpuh di dalam kamar mandi dengan tangisan yang memecah kesunyian.


"Kenapa! kenapa aku harus hamil. Kenapa aku harus mengandung benih dari lelaki sialan itu. Kenapa Tuhan! ini nggak adil banget buat aku. Seharusnya aku sekarang sudah berbahagia bersama Fabian. Tapi kenapa takdir aku seperti ini," ratap Mentari.


Sejak tadi Mentari hanya bisa sesunggukan menangis di dalam kamar mandi.


Seorang wanita dari luar rumah kontrakan Mentari, mendengar dengan seksama suara orang menangis di dalam.


"Seperti ada orang nangis di dalam rumah," gumam seorang wanita yang tak lain adalah pemilik rumah kontrakan tempat Mentari tinggal.


"Dan pintunya juga kenapa nggak di kunci ya." Bu Sella tampak penasaran dengan Mentari. Dia memanggil-manggil Mentari dari luar rumah.


"Mentari! Mentari ...! kamu lagi ngapain di dalam?"


Mendadak, tangisan itu berhenti. Bu Sella tidak mendengar apa-apa lagi dari dalam rumah Mentari.

__ADS_1


Bu Sella masih diselimuti rasa penasaran yang besar. Tanpa fikir panjang lagi, Bu Sella masuk ke dalam rumah Mentari. Dia cek ke dalam kamar-kamar Mentari. Namun, Mentari tidak ada di dalam kamarnya.


Bu Sella kemudian melangkah ke arah kamar mandi.


"Apa Mentari lagi ada di dalam. Tadi aku dengar dia menangis. Tapi kenapa dia berhenti."


Pelan-pelan, Bu Sella membuka pintu kamar mandi. Bu Sella terkejut saat melihat darah sudah mengalir deras dari pergelangan tangan Mentari.


"Ya Allah Mentari. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa dia bisa mengiris pergelangan tangannya sendiri."


Bu Sella tampak panik.


"Aku harus hubungi Dokter Fadlan. Dia harus tahu kondisi Mentari."


Bu Sella kemudian mengambil ponsel yang ada di saku bajunya. Dia kemudian menekan nomer Fadlan.


Beberapa saat kemudian, suara Fadlan sudah terdengar dari balik telpon.


"Dokter Fadlan. Cepat ke sini dan bawa ambulans juga. Saya menemukan Mentari pingsan. Sepertinya dia mau nyoba bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya."


"Apa! Mematri mau mencoba bunuh diri lagi."


"Baik Bu. Tunggu ya Bu. Saya akan segera ke sana."


Fadlan menutup saluran telponnya. Dia tidak menyangka, Mentari akan mengulangi perbuatannya, melakukan percobaan bunuh diri.


"Dasar wanita bodoh! sudah berapa kali aku bilang, jangan melakukan bunuh diri. Tapi dia mengulanginya lagi," rutuk Fadlan.


Tanpa banyak fikir panjang lagi, Fadlan menghubungi staf rumah sakit untuk segera membawa ambulans ke rumah kontrakan Mentari.


Setelah itu, Fadlan melangkah ke parkiran rumah sakit untuk mengambil mobilnya. Dia kemudian buru-buru meluncur ke rumah Mentari.


Sesampai di halaman depan rumahnya, Fadlan terkejut saat melihat sudah banyak orang berkerumun di sana.


Fadlan turun dari mobilnya dan melangkah ke arah kerumunan orang-orang itu. Mentari sudah tampak berada di ruang tamu. Darah di lantai rumah kontrakan sudah menetes ke mana-mana.


Beberapa saat kemudian, ambulans datang. Beberapa orang ke luar dari ambulan untuk membawa Mentari ke rumah sakit.


Mereka menggotong tubuh Mentari dan memasukan Mentari ke dalam ambulan. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah kontrakan Mentari.

__ADS_1


Ring ring ring...


Suara ponsel Fadlan tiba-tiba saja berdering. Fadlan buru-buru mengangkatnya.


"Halo..."


"Mas, kamu udah makan belum?"


"Lisa. Aku nggak lagi nafsu makan. Aku lagi ada di rumah Mentari sekarang. Mentari akan mencoba bunuh diri lagi dengan mengiris pergelangan tangannya."


"Astaga, yang benar Mas? terus sekarang gimana keadaan dia?"


"Tadi aku sudah suruh staf rumah sakit untuk membawa Mentari dengan ambulans."


"Ya Allah, kenapa bisa begitu sih Mas. Aku jadi merasa bersalah pada wanita itu. Karena dulu aku sempat cemburu sama dia."


"Lis. Kamu tolong bantu doa ya, untuk wanita itu. Agar nyawanya bisa di selamatkan. Karena darahnya banyak banget Lis. Kamu doakan dia juga, agar dia bisa tegar menghadapi semua masalahnya."


"Iya Mas iya. Ya udah. Kamu tangani dia dulu aja. Aku kasihan sama dia."


"Iya sayang. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Di luar, Fadlan melihat banyak orang yang tampak berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bisikan. Di atas meja ruang tamu, Fadlan melihat sebuah benda pipih tergelak di sana.


Fadlan meraih benda itu.


"Positif. Punya siapa ini? apa jangan-jangan, ini punya Mentari. Apa benar, selama ini dugaanku. Kalau Mentari itu hamil. Astaga, kenapa masalah Mentari bisa sampai serunyam ini. Kasihan kamu Mentari."


Fadlan kemudian melangkah ke luar dari rumah kontrakan Mentari. Dia berbaur bersama orang-orang yang ada di depan teras rumah Mentari.


"Dokter, kasihan Mentari. Tolong Dokter, lakukan yang terbaik untuk Mentari. Kasihan dia. Bagaimana kalau nanti terjadi apa-apa dengan calon bayinya," ucap Bu Sella.


"Ibu tahu kalau Mentari hamil?" tanya Fadlan.


"Tadi ada suara orang menangis di dalam. Dan saat ibu melihat ke kamar mandi, Mentari sudah tergeletak dengan darah yang mengalir deras di pergelangan tangannya. Dan setelah itu, ibu juga menemukan sebuah tes pack ada di dalam genggamannya. Dokter Fadlan. Apa benar kalau Mentari itu sudah hamil di luar nikah. Lalu, siapa yang sudah menghamilinya?"


Fadlan menatap orang-orang yang ada di sekelilingnya.

__ADS_1


"Pak, Bu, tolong, saya mohon. Berita ini, jangan sampai tersebar ke luar. Kasihan Mentari Bu. Dia itu korban pemerkosaan. Cukup kita saja di sini yang tahu keadaan dia. Tolong, izinkanlah Mentari untuk tetap tinggal di sini sampai keadaan jiwanya sudah benar-benar pulih. Dia masih syok dan trauma dengan kejadian waktu itu. Saya harap, kalian mau mengerti."


__ADS_2