Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Bukan yang pertama


__ADS_3

Fabian menyeret Syanum sampai ke dapur. Dia belum mau melepaskan cengkeramannya.


"Mas, lepaskan aku Mas. Sakit tangan aku Mas," ucap Syanum.


Sejak tadi, Syanum masih memohon agar suaminya mau melepaskannya.


"Aku nggak suka kalau kamu dekat-dekat dengan Ryan."


Syanum menatap lekat suaminya.


"Tapi kenapa? Ryan itu bukan lelaki lain. Dia masih saudara sepupu kamu."


"Tapi kamu itu istri aku. Tidak pantas seorang istri berdua-duaan dengan lelaki lain saat suaminya sedang tidur."


"Tapi Mas. Aku dan Ryan nggak ngobrolin apa-apa kok. Kami ngobrol-ngobrol biasa aja. Dan aku juga baru kenal sama dia. Masa adik sepupu kamu sendiri aja dicemburui sih."


Fabian melepas tangan Syanum.


"Apa! cemburu? cemburu sama kamu dan Ryan? aku nggak pernah cemburu sama kamu Syanum. Aku cuma ingin kamu menghargai aku sebagai suami kamu."


Syanum menatap tajam suaminya


"Kamu mau aku hargai? apa selama ini, kamu sudah bisa menghargai aku sebagai seorang istri?"


"Aku menghargai kamu sebagai istri."


"Tapi mana buktinya kalau kamu mau menghargai aku sebagai istri. Sampai sekarang saja, kamu masih ingat dengan Mentari. Dan selalu mencari-cari keberadaan dia, wanita yang sudah jelas-jelas ninggalin kamu. Apa itu yang namanya menghargai istri. Dengan masih saja mencari wanita masa lalunya?"


"Syanum. Jangan bawa-bawa Mentari dalam masalah kita! dia tidak ada hubungannya dengan kita."


"Mas. Aku capek Mas. Kalau setiap hari aku harus berantem terus sama kamu."


Syanum buru-buru melangkah pergi meninggalkan Fabian. Fabian tidak tinggal diam. Dia kemudian langsung menyusul Syanum ke kamar.


"Syanum. Kamu mau ke mana?" tanya Fabian saat melihat Syanum tampak membawa bantal dan selimut.


"Aku mau tidur di kamar aku aja Mas. Aku nggak betah tidur di kamar kamu."


Syanum akan melangkah pergi. Dia sudah sampai di depan pintu. Namun dia terkejut dan menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara Fabian.


"Kamu tidak boleh pergi dari sini Syanum! satu langkah saja kamu meninggalkan kamar ini, aku benar-benar akan menghukum kamu! " suara Fabian sudah menggema di semua sudut kamar. Membuat Syanum bergidik ngeri.

__ADS_1


'Ih, serem banget sih Mas Fabian. Padahal aku cuma mau ngetes dia aja. Seberapa peduli dia sama aku,' batin Syanum.


Syanum pelan-pelan, menghadapkan tubuhnya ke arah Fabian. Dia memang takut, dengan suaminya. Karena tampaknya Fabian memang sedang marah besar sama Syanum. Walau bagaimanapun juga, Syanum harus tetap menghadapi suaminya.


"Apa! Ka-kamu mau menghukum aku?" ucap Syanum dengan takut-takut.


Dengan tatapan nanar, Fabian melangkah ke arah Syanum. Dengan sekejap, dia sudah mengungkung tubuh istrinya. Membuat Syanum tidak bisa berkutik lagi.


"Jangan pernah ke luar dari sini Syanum!"


"Ke-kenapa? a-aku cuma mau tidur di kamar aku satu malam aja Mas. Aku kangen dengan kamar aku."


"Bohong. Kamu pasti mau menemui Ryan kan. Karena malam ini, dia akan tidur di sini?"


Syanum menggeleng dengan cepat.


"Nggak Mas. Aku nggak mau ketemu sama Ryan."


'Kenapa Ryan lagi sih, yang di bahas. Apa dia memang cemburu sama Ryan. Lalu, apa yang mesti dia cemburui. Aku dan Ryan tidak punya hubungan apa-apa. Kami aja, baru kenal.' batin Syanum.


Keringat dingin sudah mulai membasahi kening Syanum. Tubuh Syanum bergetar hebat, saat sudah tidak ada jarak lagi di antara dia dan suaminya. Rasa benci, dan rasa cinta bercampur menjadi satu. Membuat hati Syanum semakin bergejolak.


Syanum memegang dadanya sendiri. Debaran di dadanya semakin terasa saat wajah Fabian semakin dekat ke wajahnya.


"Kamu memang tidak pernah mau menghargai aku sebagai seorang suami Syanum. Dan aku akan mengajari kamu, bagaimana caranya untuk menghargai suami yang sesungguhnya."


Syanum terkejut saat tiba-tiba saja bibir Fabian sudah mulai menyambar bibirnya.


Fabian mencium Syanum dengan kasar. Dia masih memegangi kepala Syanum dan tidak membiarkan Syanum lepas darinya. Syanum hampir saja kehabisan nafas, karena suaminya menciumnya sangat lama.


Syanum ingin memberontak, tapi ke dua kaki Fabian sudah mengunci kaki Syanum dengan menekannya, yang membuat Syanum tidak bisa bergerak apalagi untuk kabur dari suasana sulit itu.


Setelah puas Fabian mencium istrinya, dia melepaskan pelukannya.


"Bukan begitu Mas, cara kamu menghargai seorang istri. Kamu keterlaluan. Kamu jahat Mas. Aku benci sama kamu...!"


Syanum membuka pintu kamarnya dan berlari ke luar dari kamar Fabian. Syanum melangkah ke belakang untuk kembali ke kamarnya yang sekarang di tempati oleh Mbak Fani.


Hiks...hiks..hiks...


"Kenapa Tuan muda melakukan ini," ucap Syanum sembari masih memegangi bibirnya.

__ADS_1


Masih sangat terasa gigitan demi gigitan yang Fabian berikan pada Syanum. Namun, bukan rasa bahagia yang Syanum dapatkan. Tapi rasa kecewa, rasa menyesal, rasa benci, dan dongkol yang kini sedang menyelimuti hatinya.


Syanum menangis di depan kamar Mbak Fani.


Hiks...hiks...


Mbak Fani, yang mendengar suara tangisan Syanum, segera membuka pintu kamarnya. Dia terkejut saat melihat Syanum ada di depan pintu.


"Non Syanum. Apa yang terjadi Non? kenapa Non ada di sini? dan kenapa Non datang ke sini?"


Syanum menatap Mbak Fani dengan lekat.


"Boleh Mbak? aku tidur di sini?" tanya Syanum dengan deraian air mata.


"Non Syanum kenapa nangis? Non lagi berantem sama Tuan muda?"


Syanum mengusap air matanya.


"Aku cuma lagi pengin tidur di sini aja Mbak Fani."


Mbak Fani tersenyum.


"Tapi kamar di sini sempit Non."


"Nggak apa-apa deh, kalau sempit - sempitan sama Mbak. Aku lebih senang tidur sama Mbak."


Mbak Fani tidak mau terlalu banyak bertanya. Dia kemudian mempersilahkan Syanum masuk ke dalam kamarnya.


Syanum duduk di sisi ranjang Mbak Fani.


'Sebenarnya, bukan ciuman seperti ini yang aku inginkan. Tapi, ciuman yang diberikan dengan tulus oleh suamiku. Tapi, kenapa dengan Mas Fabian. Kenapa dia kasar sekali sama aku. Setan apa yang sudah merasukinya saat ini.' batin Syanum.


"Mbak. Aku mau ke kamar mandi dulu."


Mbak Fani mengangguk. Syanum kemudian ke luar dari kamar Mbak Fani dan melangkah ke kamar mandi yang ada di sebelah kamar Mbak Fani.


Syanum membasuh wajahnya dengan air. Dia juga membasuh bibirnya.


Sejak tadi, Syanum masih meraba bibirnya yang sedikit bengkak karena ulah suaminya.


"Kenapa sih, dengan Mas Fabian. Kenapa dia mencium aku. Ini ke dua kalinya bibir aku ternoda karena ciuman dia. Huh, benar-benar menyakitkan."

__ADS_1


Syanum sejak tadi, masih memperhatikan bibirnya. Dia takut, kalau bibirnya berdarah karena Fabian.


"Syukurlah, nggak ada yang luka. Tapi tetap saja masih sedikit bengkak," ucap Syanum yang sejak tadi masih memperhatikan dengan teliti bibirnya.


__ADS_2