
Syanum dan Fabian masih saling diam. Tidak ada satupun yang bicara di antara mereka saat Pak Damar berada di tengah-tengah mereka.
Sejak tadi, Pak Damar masih menasihati Syanum dan Fabian. Dan memberikan ultimatum pada Fabian anaknya.
"Fabian. Benarkah, kamu sudah menyesali semua perbuatan kamu?" tanya Pak Damar menatap lekat anaknya.
"Iya Pa. Aku sudah menyesal akan semua hal yang pernah aku lakukan pada Syanum," jawab Fabian yang tampak menyesal dengan semua perbuatannya yang selama ini dia lakukan ke Syanum.
"Kamu janji, tidak akan pernah mengulangi perbuatan kamu lagi? entah itu berbuat kasar, atau yang lainnya pada istri kamu?" tanya Pak Damar lagi.
"Iya Pa. Aku janji. Aku nggak akan pernah lagi menyakiti hati istri aku," jawab Fabian lagi.
"Dengarkan Syanum, Fabian sudah janji, kalau dia tidak akan menyakiti kamu lagi. Dia sudah menyesal dengan perbuatannya. Kalau sampai Fabian menyakiti kamu lagi, Papa nggak akan segan-segan untuk menghukum dia," ucap Pak Damar.
"Syanum. Mama juga nggak mau, ada perceraian di antara kalian. Kalian sudah sama-sama dewasa. Dan kalian sudah punya anak. Lihat bayi yang ada di boks bayi itu. Dia masih sangat membutuhkan kalian berdua untuk menjadi sosok ayah dan ibu untuk dia. Apa kalian tega, jika kalian bercerai, dia yang akan jadi korbannya. Korban keegoisan ayah dan ibunya," ucap Bu Reva.
"Kalau kamu pulang kampung, dan cerai sama Abi, di sana kamu mau sama siapa? nenek kamu sudah tua. Orang tua kamu sudah nggak ada. Dan kamu harus membesarkan anak kamu sendiri tanpa seorang suami," ucap Pak Damar
"Kalau di sini kan, kamu masih punya kami, mertua kamu, yang sudah menganggap kamu anak kandung sendiri. Dan di sini juga ada Fabian ayah dari bayi kamu. Dia akan memberikan apapun untuk kesejahteraan hidup kamu dan anak kamu. Fikirkan lah itu Syanum," lanjut Pak Damar.
"Fikirkan dulu sebelum kamu mengambil jalan yang salah. Yang akan mengakibatkan penyesalan seumur hidupmu," ucap Bu Reva lagi.
Syanum menatap Fabian. Fabian tersenyum dan meraih tangan Syanum.
"Kamu mau kan maafin aku. Aku janji, setelah ini aku akan membahagiakan kamu dan anak kita. Kita akan hidup bersama dengan anak kita selamanya. Kamu mau kan, membuka lembaran baru dengan aku dan anak kita. Kita coba sekali lagi untuk menjalani rumah tangga kita," ucap Fabian penuh harap.
Dia hanya ingin mendengar Syanum bilang iya.
Syanum menghela nafas dalam. Dia menatap Fabian, dan ke dua mertuanya bergantian.
"Bagaimana Syanum. Kamu sudah berubah fikiran, untuk tidak pulang kampung. Dan kamu mau kan tinggal di rumah Mama lagi?" tanya Bu Reva.
"Syanum. Kamu itu baru melahirkan. Dan kamu masih butuh orang lain untuk membantu kamu menjaga bayi kamu. Kalau di rumah kan ada Mbak Asih, ada Dimas, ada Mbak Fani, ada mama, Kak Dila. Kalau di rumah Luna, kamu mau sama siapa? Luna ke butik, dan Ryan ke kantor," lanjut Bu Reva.
Setelah lama berfikir, akhirnya Syanum mengiyakan ucapan mertuanya.
"Iya Pa, Ma, Mas, aku mau tinggal bersama lagi dengan kalian. Aku nggak jadi pulang kampung. Aku akan memberikan Mas Fabian kesempatan sekali lagi. Dan aku juga nggak akan kembali ke ruang lagi. Aku mau kembali ke rumah Papa dan mama aja," ucap Syanum.
Fabian tersenyum bahagia. Akhirnya, Syanum mau juga memaafkan dia dan mau kembali bersama Fabian lagi.
Tiba-tiba saja, Fabian meraih tubuh Syanum dan memeluknya erat.
"Aku janji, aku nggak akan pernah melukai hati kamu lagi. Aku akan menjadi suami seperti apa yang kamu harapkan selama ini," ucap Fabian.
"Aku percaya Mas sama kamu. Kalau sebenarnya, kamu itu lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Maafkan aku juga ya Mas, atas semua kesalahan aku. Hiks..hiks..."
Syanum tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis haru di pelukan suaminya. Sampai-sampai, air matanya membasahi baju Fabian.
Fabian melepaskan pelukannya. Dia kemudian menatap istrinya.
__ADS_1
"Jangan nangis. Kamu nggak cantik kalau nangis. Kamu lebih cantik kalau tersenyum. Mulai sekarang, hapus air mata kamu. Karena aku tidak akan pernah membiarkan kamu sedih lagi.'
Syanum tersenyum. Dia kemudian mengusap air matanya.
Cup
Satu kecupan sudah mendarat di kening Syanum. Membuat ke dua orang tua Fabian tersenyum dan bernafas lega. Setelah mereka bersusah payah membujuk Syanum, akhirnya Syanum mau juga untuk tinggal bersama Fabian lagi dan melupakan gugatannya.
Syanum juga bingung karena tidak ada lagi yang mau mendukungnya untuk cerai dari Fabian. Begitu juga dengan Luna. Syanum tidak mungkin, mengurus perceraiannya sendiri. Karena Syanum juga tidak pernah punya banyak pengalaman soal itu. Akhirnya Syanum mau kembali lagi dengan suaminya dan tidak jadi pulang kampung.
Oek...oek...oek...
Suara tangis bayi sudah terdengar.
Bu Reva buru-buru melangkah mendekat ke arah bayi itu.
"Uluh uluh...cucu Oma nangis," ucap Bu Reva.
Bu Reva mengambil bayi Syanum dari boks bayi dan menggendongnya.
"Kalian sudah menyiapkan nama untuk anak ini?" tanya Bu Reva menatap Fabian dan Syanum bergantian.
"Sebenarnya aku sudah punya nama Ma. Tapi, kalau Mas Fabian mau ngasih dia nama, nggak apa-apa."
"Kamu mau kasih nama siapa Bi bayi kamu?" tanya Pak Damar.
"Em.. siapa ya. Aku belum punya nama. Aku punya nama bayi cewek. Karena aku fikir, anak aku cewek. Mungkin nama dari Syanum aja, barang kali cocok" ucap Fabian.
"Kok Firendra?" tanya Fabian menatap lekat Syanum.
"Kenapa Mas? nggak suka ya?"
"Terlalu keren menurut aku," ucap Fabian.
Syanum tersenyum. Dia fikir, kalau Fabian akan protes dengan pemberian nama itu.
"Ya udah. Papa tambahin. Firendra Fabiano Rahadian" ucap Pak Damar.
"Aku setuju Pa. Karena ada nama aku dan nama papa juga di dalamnya. Rahadian kan nama panjang papa," ucap Fabian.
Pak Damar mengangguk. "Iya betul."
"Kalau cowok, mama nggak bisa deh nambahin nama mama di sana."
"Haha...ya nggak lah.." Fabian Syanum dan Pak Damar tersenyum.
"Ya udah. Nanti kalau Mama punya cucu lagi, terus cewek, mama yang akan kasih nama untuk dia," ucap Bu Reva.
"Itu sih terserah Mama. Karena Mama juga berhak atas cucu mama."
__ADS_1
****
Pagi ini, Fabian masih menemani istrinya di rumah sakit. Sementara sejak tadi, Firen masih berada di boks bayi.
"Mas, Firennya masih nyenyak kan?" tanya Syanum..
"Iya. Kamu tenang aja. Kamu nggak usah mikirin Firen terus. Kamu juga harus mikirin diri kamu sendiri. Kamu makan yang banyak. Biar ASI kamu lancar," ucap Fabian.
Sejak tadi Fabian masih menyuapi istrinya. Sudah tidak ada kata canggung lagi di antara mereka sekarang. Karena Fabian sudah benar-benar berubah dan mau mengungkapkan isi hatinya pada Syanum istrinya. Saat ini, hanya kebahagiaan yang menyelimuti mereka berdua.
"Udah ah Mas. Aku udah kenyang," ucap Syanum.
"Sekali lagi sayang. Tinggal satu suap lagi."
Syanum menggeleng.
"Ya udahlah. Buat aku aja."
Fabian kemudian menyuap satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
Oek..oek..oek...
"Tuh kan. Firen udah bangun. Aku lihat dulu ya," ucap Fabian.
"Iya Mas."
Fabian kemudian melangkah mendekat ke arah bayinya. Setelah itu dia mengangkat bayinya dan membawanya ke arah Syanum.
"Sepertinya dia juga lapar. Dia belum kamu susui lagi kan?" tanya Fabian.
Syanum menggeleng."Belum Mas."
"Ya udah. Sekarang, kamu susui lagi dia. Kasihan, lihat aja tadi, mulutnya mangap- mangap terus sayang."
"Ya udah. Sini Mas."
Fabian kemudian memberikan Firen ke Syanum. Syanum kemudian menyusui Firen.
"Lahap sekali dia Syanum." Fabian sejak tadi masih memperhatikan Firen menyusu.
"Kata Mama, dia mirip kamu waktu kamu kecil Mas," ucap Syanum yang masih menatap Firen.
"Iya. Aku juga ingin lihat dia tumbuh dewasa. Aku ingin menyekolahkan dia sampai ke luar negeri. Aku ingin melihat dia sukses seperti Papa aku Syanum. Aku ingin dia menjadi seorang pembisnis terkenal di seantero jagat raya ini."
"Amin. Doaku akan selalu menyertai anak kita Mas."
****
Catatan Author.
__ADS_1
Part berikutnya sudah masuk ke season dua ya. Karena masih banyak yang belum terselesaikan dari cerita ini, makanya belum aku tamatkan. Terimakasih yang sudah mau mengikuti sampai part ini.