
"Kak Dila ke mana sih. Kok lama banget," ucap Syanum.
Sejak tadi Syanum masih menunggu Dila pulang. Namun, sampai jam tujuh malam, Dila juga belum pulang. Sepertinya, Dila memang masih asyik ngobrol dengan Adam sampai lupa waktu.
"Tante, mama ke mana sih? kenapa dia nggak pulang-pulang?" tanya Dimas pada Syanum yang saat ini masih menggendong bayinya.
"Tante juga nggak tahu ke mana Mama kamu Dim. Katanya sih dia mau belanja. Tapi belanja kok lama amat begini ya," ucap Syanum.
"Mungkin mama masih di kantor Tan. Biasanya kan mama ikut Opa dan Om lembur," terka Dimas.
"Nggak sayang. Mama kamu udah pulang tadi sore. Tapi dia katanya mau mampir dulu ke supermarket untuk belanja. Tapi, entahlah Mama kamu sekarang ke mana," jelas Syanum.
Bu Reva melangkah ke arah cucu dan menantunya dan duduk di dekat mereka.
"Mungkin jalanan masih macet. Fabian dan Opa juga belum ada yang pulang," ucap Bu Reva menimpali.
"Iya mungkin," ucap Syanum.
Deru mobil sudah terdengar dari luar rumah.
"Mungkin itu mama kamu pulang," ucap Syanum menatap Dimas.
Bu Reva mendekat ke arah Syanum.
"Sini. Biar Mama gendong bayi kamu, sana kamu bukain pintu. Barang kali,itu suami kamu. Atau Dila," ucap Bu Reva.
Syanum mengangguk. "Iya Ma."
Syanum kemudian menyerahkan Firen pada ibu mertuanya. Setelah itu dia melangkah ke depan untuk membuka pintu.
Syanum tersenyum saat melihat suaminya sudah berada di depan pintu. Fabian langsung merentangkan tangannya dan memeluk Syanum dengan erat.
"Aku kangen sayang. Sehari aja nggak ketemu kamu, rasanya seperti setahun," ucap Fabian di dalam pelukan Syanum.
Tatapan Syanum masih ke depan. Sejak tadi, dia masih menatap ke arah ayah mertuanya yang masih berdiri di dekat mobil.
"Mas, lepasin. Malu ada papa. Dan meluknya jangan kencang-kencang Mas. Aku nggak bisa nafas nih," bisik Syanum.
Fabian kemudian melepaskan pelukannya. Dia kemudian tanpa permisi langsung mencium kening dan ke dua pipi Syanum. Dan saat bibir Fabian akan mendarat ke bibir Syanum, Syanum langsung mengarahkan telapak tangannya ke arah bibir Fabian.
"Stop. Jangan mesum di sini Mas. Ada Papa. Sekarang kamu masuk! mandi dan ganti baju dulu," pinta Syanum.
"Siap sayang." Fabian kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Sementara Syanum mendekat ke arah ayah mertuanya. Syanum langsung mencium punggung tangan Pak Damar.
"Biar aku bawakan barang-barang papa ya," ucap Syanum.
"Tidak perlu. Papa nggak punya barang-barang yang di bawa."
__ADS_1
Pak Damar tersenyum.
"Nah gitu dong. Suami istri itu harus akur. Papa harap, kamu dan Abi akan romantis terus sampai kakek nenek."
"Amin," ucap Syanum mengaminkan doa mertuanya.
Syanum dan Pak Damar kemudian masuk ke dalam rumahnya.
"Papa, Abi, kalian baru pulang? kalian udah makan apa belum?" tanya Bu Reva pada anak dan suaminya.
Pak Damar menghempaskan tubuhnya duduk di atas sofa, di dekat istrinya.
"Kalau papa sih sudah makan Ma, tadi di luar. Kalau Fabian, entahlah dia sudah makan atau belum,"ucap Pak Damar.
Pak Damar masih menatap ke arah cucunya yang masih berada di dalam gendongan Bu Reva.
"Aduh, cucu Opa. Cakep amat sih. Boleh Opa gendong Firen?" tanya Pak Damar pada Bu Reva.
"Jangan. Papa itu kan baru dari luar. Belum mandi. Masih banyak virusnya. Kalau Papa mau ngajak Firen, ke kamar dulu. Mandi dan ganti baju. Terus, nanti Papa bisa ajak Firen"
"Baiklah."
Pak Damar bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah untuk pergi ke kamarnya.
Sementara Fabian sudah berada di kamar sejak tadi. Dia masih menunggu istrinya masuk ke dalam kamar.
"Syanum ke mana sih. Kenapa dia nggak masuk-masuk ke kamar. Aku udah kangen banget sama dia. Aku pengin meluk dia sama cium dia," gumam Fabian.
"Mas, kamu kenapa? kenapa kamu ngelihatin aku seperti itu?" tanya Syanum.
Fabian mendekat ke arah Syanum.
"Kapan kamu berhenti nifas sayang. Kapan aku bisa minta jatah?" tanya Fabian.
Syanum tersenyum malu-malu. Ternyata beberapa hari ini, Fabian terlihat cemas karena hasratnya dari kemarin belum terpenuhi.
"Jujur, aku masih penasaran sama kamu sayang. Kita baru melakukannya cuma beberapa kali saja. Dan aku ingin..."
Fabian sudah mendekat kan wajahnya ke wajah Syanum.
"Mas, sabar dong Mas. Kamu itu apaan sih. Ini semua salah kamu sendiri. Kenapa juga kamu harus menyia-nyiakan kesempatan bulan madu kita. Dan kita tidak akan pernah bebas untuk melakukannya. Karena sekarang kita sudah punya anak."
"Nggak apa-apa sayang, nggak ada kata terlambat untuk melakukannya."
Tiba-tiba saja, Fabian sudah menggendong tubuh Syanum dan membawa ke atas tempat tidur.
Syanum beringsut duduk. Dia tampak gugup. Sejak tadi, dia hanya bisa menelan ludahnya saat melihat suaminya membuka kancing bajunya satu persatu.
"Mas, apa yang kamu kamu lakukan? jangan macam-macam Mas."
__ADS_1
"Nggak sayang. Aku nggak akan macam-macam. Aku cuma mau minta satu macam saja."
Tok tok tok
Suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar kamar Fabian.
Fabian menghela nafasnya dalam dan langsung melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
"Mama. Ada apa Ma?" tanya Fabian tampak sedikit kesal.
"Kalian berdua lagi ngapain sih di dalam? dan Syanum mana? ini anak kalian nangis. Sepertinya dia haus atau mungkin lapar," ucap Bu Reva.
Bu Reva menatap anaknya yang saat ini, masih bertelanjang dada.
"Kamu mau mandi Bi?" tanya Bu Reva.
"Iya Ma. Aku mau mandi," jawab Fabian.
Syanum yang masih berada di atas tempat tidur, menghela nafas dalam, setelah dia merasa terselamatkan dari serangan suaminya.
"Untunglah, mama datang tepat waktu. Kalau nggak,nggak tahu deh, apa yang akan suamiku perbuat padaku," ucap Syanum.
Syanum melangkah ke arah Bu Reva. Dia kemudian mengambil anaknya dari tangan Bu Reva.
"Sini Ma, Firennya," ucap Syanum.
"Syanum. Kamu susui dia. Siapa tahu, dia lapar. Atau kamu gantikan popoknya. Siapa tahu udah basah."
"Iya Ma. Tapi popok Firen habis. Dan Syanum lagi titip ke Kak Dila."
"Kak Dila belum pulang?" tanya Fabian.
"Belum Bi. Mama, istri kamu, dan Dimas, juga tadi lagi nungguin Dila. Entah kenapa dia belum. pulang," ucap Bu Reva
"Terus kemana Kak Dila. Apa dia izin Mama mau kemana? atau mama telpon aja dia kalau khawatir."
"Iya. Mama akan telpon Dila sekarang. Oh iya Bi. Kamu sudah makan belum? kalau belum makan, di meja makan masih ada makanan. Kamu makan gih bi, mumpung belum di beresin Mbak Asih."
"Iya Ma. Nanti aku turun kalau udah mandi. Aku mau mandi dulu sekarang."
Setelah memberikan Firen pada Syanum, Bu Reva kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Fabian.
Fabian kemudian menutup pintunya kembali dan duduk di dekat Syanum.
"Du du duh... anak papa. Lahap amat ya, mimi cucunya. Bikin papa jadi iri aja," ucap Fabian yang masih menatap Firen.
"Auh..." Fabian berteriak, saat tiba-tiba saja, Syanum mencubit perut Fabian dengan keras.
"Sana, katanya kamu mau mandi. Kenapa kamu masih di sini aja. Sana mandi dulu. Jangan godain aku terus."
__ADS_1
"Yee.. geer. Siapa yang mau godain kamu. Orang aku lagi mau ngobrol Ama Firen kok."
Fabian kemudian bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan Syanum. Fabian mengambil handuk dan melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.