Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Bertemu lagi


__ADS_3

Sore ini, waktunya untuk para karyawan kantor Dila pulang. Begitu juga dengan Dila. Dila yang merasa kalau waktu sudah cukup sore, mematikan saluran komputernya. Dia kemudian bersiap-siap untuk pulang.


Dila kemudian mengambil tasnya dan melangkah ke luar dari ruangannya. Dia menuju ke arah depan kantornya untuk menunggu taksi.


Beberapa saat kemudian, taksi pun datang. Dila buru-buru masuk ke dalam taksi. Taksi itu kemudian meluncur pergi meninggalkan kantor Dila.


Dila masih dalam perjalanan pulang ke rumahnya.


Dila masih berada di dalam taksi. Beberapa saat kemudian, telpon Dila tiba-tiba saja berdering.


Dila langsung mengangkat telponnya saat dia tahu, kalau panggilan itu dari Syanum adik iparnya.


"Halo..."


"Halo Kak. Kak Dila masih di kantor?"


"Kakak udah ke luar kantor sejak tadi. Ini Kakak masih ada di dalam taksi. Ada apa Syanum?"


"Kak. Popok Firen habis. Apa kakak mau mampir dulu ke supermarket untuk beli popok?"


"Kenapa kamu nggak telpon Fabian saja."


"Mas Fabian katanya pulang malam Kak. Karena masih banyak kerjaan yang harus dia selesaikan. Dan dia nyuruh aku nelpon kakak."


"Oh. Gitu ya. Ya udah deh. Nanti kakak mampir ke supermarket. Sekalian mau beli kebutuhannya Dimas."


"Makasih ya Kak."


"Iya, sama-sama."


"Ya udah. Aku tutup dulu ya Kak telponnya. Aku mau tenangin Firen nih. Firennya nangis. Baru aku mandikan."


"Oh. Iya. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Dila mematikan saluran telponnya dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Pak kita putar balik aja Pak. Aku mau mampir ke supermarket sebentar. Ada yang mau aku beli," ucap Dila.


"Baik Bu."


Sopir taksi itu kemudian memutar arah untuk ke supermarket seperti apa yang Dila perintahkan.


Sesampai di depan supermarket, Dila kemudian turun.


"Pak. Tunggu sebentar ya. Saya masuk dulu ke dalam."


"Iya Bu."


Dila kemudian ke luar dari taksi dan melangkah masuk ke dalam supermarket. Dia kemudian melangkah untuk mencari popok bayi pesanan Mentari. Sekalian dia akan membeli kebutuhan perlengkapan sekolah Dimas. Seperti pulpen buku dan lainnya.


Seseorang dari kejauhan tampak sedang menatap ke arah Dila. Sejak tadi dia masih memperhatikan Dila dari kejauhan.


"Itu kan Dila. Dia ada di sini juga ternyata. Dila lagi ngapain ya di sini. Apa jangan-jangan dia lagi belanja. Tapi mana anaknya. Apa anak lelaki itu tidak ikut dengannya," ucap Adam yang masih belum berkedip saat melihat Dila.


Tiba-tiba saja, seorang wanita menabrak tubuh Adam, sampai membuat barang-barang yang di pegang Adam terjatuh.


"Eh, maaf Pak," ucap wanita itu.


"Makanya Mbak. Kalau jalan itu hati-hati. Harus lihat kanan kiri depan belakang," ucap Adam yang tampak kesal dengan wanita itu.


"Sekali lagi saya minta maaf Pak. Saya benar-benar tidak melihat bapak tadi," ucap wanita itu.


"Ya udah nggak apa-apa."


"Iya Pak."


Wanita itu kemudian memungut barang-barang Adam yang terjatuh di lantai. Setelah itu, dia memberikan barang-barang itu pada Adam.


"Sekali lagi saya minta maaf Pak. Tadi saya jalan tidak lihat-lihat," ucap wanita itu.


"Iya."

__ADS_1


Wanita itu kemudian pergi meninggalkan Adam. Sementara Adam masih tetap berdiri dengan mata yang melirik ke sana sini mencari Dila.


"Ke mana Dila. Cepat banget dia perginya," gumam Adam.


Adam kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


****


Setelah berbelanja, Dila melangkah mendekat ke arah kasir dengan membawa barang-barang belanjaannya.


"Berapa totalnya Mbak?" tanya Dila pada pelayan kasir.


"Dua juta Mbak," jawab pelayan kasir.


Dila kemudian mengambil dompetnya yang ada di dalam tasnya.


Dila terkejut saat tidak mendapati dompetnya ada di dalam tasnya.


"Ya ampun, ke mana dompet aku," gumam Dila.


Dila mencari dompetnya di dalam tas. Dia tampak panik saat tidak menemumkan dompetnya. Dompet itu nampaknya tidak ada di dalam tas Dila.


"Kemana ya dompet aku. Apa jangan-jangan, dompet aku ketinggalan di kantor ya," ucap Dila.


"Mbak. Gimana? jadi bayar nggak? Itu di belakang anda sudah banyak orang mengantre," ucap pelayan kasir.


"Duh, Mbak. Maaf. Kayaknya dompet aku ketinggalan deh," ucap Dila.


"Gimana sih Mbak. Niat belanja apa nggak sih? " gerutu pelayan kasir itu.


Adam yang masih berdiri di belakang Dila, mengambil dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang.


"Saya yang akan bayar belanjaan wanita ini. Berapa total semuanya?" tanya Adam pada kasir.


"Dua juta Mas," jawab pelayan kasir itu.


Dila menoleh ke belakangnya berdiri. Dia terkejut saat melihat Adam.


"Mas Adam. Nggak usah repot-repot Mas. Aku bisa kok, ambil dompet aku di kantor," ucap Dila yang masih merasa tidak enak dengan Adam.


Dila tersenyum setelah pelayan kasir menyerahkan barang-barang belanjaan Dila.


"Makasih Mbak," ucap Dila.


"Iya. Sama-sama."


Dila kemudian melangkah menjauh dari kasir. Begitu juga dengan Adam. Dia melangkah mendekat ke arah Dila.


"Mas Adam. Makasih banyak lho, atas bantuannya. Aku janji, nanti aku akan kembalikan uang kamu."


Adam tersenyum.


"Oh iya. Kamu sendirian aja?" tanya Adam.


"Iya. Lalu aku mau sama siapa? aku kan baru pulang kerja."


"Kamu kerja? anak kamu sama siapa?"


"Di rumah kan ada dua ART. Ada mama aku, dan ada juga adik ipar aku yang perempuan," jelas Dila.


"Kamu kerja bareng suami kamu?"


"Oh. Nggak Mas. Aku sama seperti Mas Adam. Single parents."


"Oh." Adam manggut-manggut.


"Suami kamu emang di mana?"


"Suamiku juga sama seperti istrinya Mas Adam. Sudah meninggal," jawab Dila.


"Maaf ya Dil. Aku nggak tahu."


"Nggak apa-apa Mas. Santai aja."

__ADS_1


"Jadi, kalau kita ngobrol-ngobrol berdua begini, nggak ada yang cemburu dong. Atau mungkin calon kamu nanti yang cemburu?" ucap Adam.


Dila terkekeh.


"Hehe... aku belum punya calon Mas. Masih jomblo."


"Oh. Hehe..." Adam terkekeh.


"Oh iya Dil. Gimana kalau aku ajak kamu makan? kamu ada acara lain nggak setelah ini?" tanya Adam.


"Boleh. Emang Mas Adam lagi nggak ada acara lain?" Dila balik bertanya.


"Nggak. Kebetulan, aku juga sama seperti kamu. Baru pulang dari kantor. Katanya di dekat sini kan, ada cafe yang makanannya lumayan enak. Gimana kalau sekarang kita ke sana saja."


"Em...gimana ya." Dila gamiak berfikir.


"Tenang aja. Aku yang akan traktir kamu makan. Kamu bawa mobil atau naik taksi?" tanya Adam.


"Naik taksi Mas. Malah, taksinya aku suruh tunggu di depan."


"Ya udah. Suruh taksinya pulang. Nanti, aku yang akan antar kamu, dan barang-barang belanjaan kamu pulang. Gimana?"


"Yang benar Mas. Apa nggak ngerepotin?"


"Oh. Tentu saja tidak."


"Ya udah deh." Tanpa berfikir lama, akhirnya Dila mengiyakan juga ajakan Adam.


Dila tidak bisa menolak ajakan Adam. Karena Adam sudah baik banget sama dia. Adam sudah membayarkan barang-barang belanjaan Dila yang totalnya dua juta. Dan sekarang dia malah akan mentraktir makan.


Dila dan Adam kemudian naik ke dalam mobil Adam dan meluncur meninggalkan super market untuk ke cafe tempat langganan Adam yang ada di dekat situ.


Kebetulan di dekat supermarket ada sebuah cafe langganan Adam yang menunya sangat spesial. Adam kemudian mengajak Dila untuk makan di cafe itu.


Sesampai di cafe, Dila dan Adam kemudian masuk ke dalam cafe. Mereka mencari tempat duduk dan duduk di tempat duduk yang sudah di siapkan.


"Kamu mau pesan apa Dil?" tanya Adam.


"Nasi sama sup buntut aja kalau ada. Soalnya, perut aku dari tadi siang belum aku isi," ucap Dila.


"Lho kenapa? kamu nggak makan siang?" tanya Adam.


"Nggak. Aku memang lagi ikut program diet. Jadi nggak begitu ingin banyak makan. Takut tambah gendut."


Adam tersenyum.


"Menurut aku, tubuh kamu segitu sudah pas Dil. Nggak terlalu gendut juga. Dan nggak juga terlalu kurus," ucap Adam.


"Hehe.. iya sih."


Adam kemudian memanggil pelayan dan memesan makanan untuk Dila dan dirinya.


Beberapa saat Dila dan Adam menunggu, akhirnya pesanan pun datang juga.


Seorang pelayan cafe, membawakan pesanan untuk Dila dan Adam dan meletakannya di atas meja.


"Silahkan Mas, Mbak, selamat menikmati," ucap pelayan


"Makasih ya Mbak," ucap Adam


"Sama-sama."


Pelayan itu kemudian pergi meninggalkan meja Dila dan Adam.


"Di makan Dil. Pasti kamu lapar kan. Aku akan temani kamu makan," ucap Adam sebelum dia makan.


"Makasih ya Mas. Jadi ngerepotin begini. Udah di pinjamin uang untuk aku bayar belanjaan, sekarang di traktir makan lagi. Kamu baik banget sih Mas."


"Nggak usah segitunya kali mujinya. Bukannya sesama manusia itu harus saling bantu membantu. Apalagi sesama teman seperti kita."


"Iya iya. Sekali lagi makasih ya Mas."


"Iya Dil. Ayo kita makan!" aja Adam.

__ADS_1


"Iya Mas."


Dila dan Adam kemudian makan bersama di cafe itu.


__ADS_2